Watch FIFA World Cup 2026™

LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Sejauh mana pemahaman Anda tentang virus Ebola dan bakteri penyebab difteri?

Image 1:  A graphic illustration highlighting diphtheria cases across Australian states and territories in 2026. (AAP Image-Susie Dodds).
Image 2: Medical staff carry an Ebola patient to a treatment centre in Rwampara, Congo (AP Photo-Moses Sawasawa).

Image 1: A graphic illustration highlighting diphtheria cases across Australian states and territories in 2026. (AAP Image-Susie Dodds). Image 2: Medical staff carry an Ebola patient to a treatment centre in Rwampara, Congo (AP Photo-Moses Sawasawa).

Petugas kesehatan berpacu untuk menahan strain Bundibugyo dari virus tersebut di Republik Demokratik Kongo, yang saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui. Dan Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sementara itu diAustralia, wabah difteri terburuk di Australia dalam beberapa dekade telah menyebar dari Wilayah Utara ke Australia Barat, Queensland, dan Australia Selatan, dengan lebih dari 230 kasus (per 21 Mei) yang dilaporkan sejauh tahun ini. Para ahli mengatakan kemunculan kembali penyakit ini mengungkap kesenjangan serius dalam sistem kesehatan masyarakat. Asosiasi Medis Australia mengatakan penurunan tingkat vaksinasi anak berkontribusi pada kemunculan kembali penyakit ini.


Published

Updated

By sri dean

Presented by sri dean

Source: SBS




Share this with family and friends


Petugas kesehatan berpacu untuk menahan strain Bundibugyo dari virus tersebut di Republik Demokratik Kongo, yang saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui. Dan Organisasi Kesehatan Dunia telah menyatakan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Sementara itu diAustralia, wabah difteri terburuk di Australia dalam beberapa dekade telah menyebar dari Wilayah Utara ke Australia Barat, Queensland, dan Australia Selatan, dengan lebih dari 230 kasus (per 21 Mei) yang dilaporkan sejauh tahun ini. Para ahli mengatakan kemunculan kembali penyakit ini mengungkap kesenjangan serius dalam sistem kesehatan masyarakat. Asosiasi Medis Australia mengatakan penurunan tingkat vaksinasi anak berkontribusi pada kemunculan kembali penyakit ini.


Epidemiolog dr. Dicky Budiman PhD adalah pakar keamanan kesehatan global dan kesiapsiagaan pandemi yang diakui secara internasional, yang juga berafiliasi dengan Universitas Griffith di Brisbane dan Universitas Yarsi di Jakarta.

Dr Dicky Budimn percaya bahwa meskipun virus Ebola adalah virus yang mematikan, namun peluang penyebarannya ke benua lain sangat kecil.

Namun dalam kasus difteri, untuk mencegah penyebaran penyakit ini kita perlu dapat mengidentifikasi gejalanya.

Meskipun difteri memiliki gejala spesifik, secara umum gejalanya mirip dengan gejala flu biasa. Oleh karena itu, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter umum untuk memastikannya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcasts kami.

Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now