Bagi Verdi Sulaeman yang keturunan Tionghoa, menjadi aktor berarti melawan stereotip, membangun jalur sendiri tanpa bayang-bayang sang ayah, dan membuktikan bahwa wajah Indonesia tidak pernah hanya satu bentuk.
Verdi Sulaeman belajar akting secara diam-diam dari sang ayah, aktor legendaris Hengky Solaiman. Ia sengaja memilih sekolah akting yang tidak dikenal oleh ayahnya agar bisa belajar tanpa diketahui. Ia mengaku merasa tidak enak karena sudah dibiayai kuliah jauh-jauh ke Amerika Serikat dengan jurusan berbeda, lalu tiba-tiba ingin menjadi aktor, ungkap Verdi kepada SBS Indonesian.
Sebagai aktor keturunan Tionghoa, Verdi menghadapi tantangan tersendiri di industri film Indonesia. Di awal karirnya, wajahnya tidak dianggap sebagai wajah Indonesia, dan banyak pihak produksi secara terang-terangan mengatakan tidak ada peran untuknya.
Alih-alih menunggu, ia memilih mengejar karakter-karakter yang tidak diminati aktor lain, yang membutuhkan kemampuan akting kuat. Strategi itu justru membuatnya dikenal dengan keberagaman peran yang luar biasa, termasuk antagonis, komedi, dan aksi. Hingga kini ia telah membintangi sekitar seratus judul film termasuk The Raid, Gadis Kretek, Buya Hamka, dan Susana.
Kini Verdi juga berdiri di balik kamera sebagai sutradara. Debut penyutradaraannya adalah serial Code Helix di Vidio.com, dan ia tengah menggarap film layar lebar Ronggeng Kematian.
Verdi mengaku kecintaannya bukan pada satu profesi tertentu, melainkan pada dunia film itu sendiri. Sejak kecil, rumahnya sering dipakai syuting dan ia kerap dijadikan figuran. Istrinya juga seorang aktris, dan anaknya baru-baru ini ikut bermain dalam sebuah film pendek. Di awal tahun 2025, ia mengikuti Australia Awards Short Course di Brisbane untuk bidang screenwriting dan directing guna melengkapi ilmunya.

Simak perbincangan lengkap SBS Indonesian dengan Verdi Sulaeman untuk mengetahui lebih lanjut tentang perjalanannya di dunia perfilman.




