Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Dulu Diam-diam Belajar Akting, Kini Verdi Sulaeman Berdiri di Dua Sisi Kamera

Verdi Sulaeman as Soedjagad in the hit series Gadis Kretek.

Verdi Sulaeman as Soedjagad in the hit series Gadis Kretek. Credit: Supplied/Verdi Sulaeman

Bagi Verdi Sulaeman yang keturunan Tionghoa, menjadi aktor berarti melawan stereotip, membangun jalur sendiri tanpa bayang-bayang sang ayah, dan membuktikan bahwa wajah Indonesia tidak pernah hanya satu bentuk.


Verdi Sulaeman belajar akting secara diam-diam dari sang ayah, aktor legendaris Hengky Solaiman. Ia sengaja memilih sekolah akting yang tidak dikenal oleh ayahnya agar bisa belajar tanpa diketahui. Ia mengaku merasa tidak enak karena sudah dibiayai kuliah jauh-jauh ke Amerika Serikat dengan jurusan berbeda, lalu tiba-tiba ingin menjadi aktor, ungkap Verdi kepada SBS Indonesian.

Sebagai aktor keturunan Tionghoa, Verdi menghadapi tantangan tersendiri di industri film Indonesia. Di awal karirnya, wajahnya tidak dianggap sebagai wajah Indonesia, dan banyak pihak produksi secara terang-terangan mengatakan tidak ada peran untuknya.

Alih-alih menunggu, ia memilih mengejar karakter-karakter yang tidak diminati aktor lain, yang membutuhkan kemampuan akting kuat. Strategi itu justru membuatnya dikenal dengan keberagaman peran yang luar biasa, termasuk antagonis, komedi, dan aksi. Hingga kini ia telah membintangi sekitar seratus judul film termasuk The Raid, Gadis Kretek, Buya Hamka, dan Susana.

Kini Verdi juga berdiri di balik kamera sebagai sutradara. Debut penyutradaraannya adalah serial Code Helix di Vidio.com, dan ia tengah menggarap film layar lebar Ronggeng Kematian.

Verdi mengaku kecintaannya bukan pada satu profesi tertentu, melainkan pada dunia film itu sendiri. Sejak kecil, rumahnya sering dipakai syuting dan ia kerap dijadikan figuran. Istrinya juga seorang aktris, dan anaknya baru-baru ini ikut bermain dalam sebuah film pendek. Di awal tahun 2025, ia mengikuti Australia Awards Short Course di Brisbane untuk bidang screenwriting dan directing guna melengkapi ilmunya.

Verdi Sulaeman reviewing a scene during production.
Verdi Sulaeman reviewing a scene during production. Credit: Supplied/Verdi Sulaeman

Simak perbincangan lengkap SBS Indonesian dengan Verdi Sulaeman untuk mengetahui lebih lanjut tentang perjalanannya di dunia perfilman.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Verdi Sulaeman, Anda sudah sangat lama ya di dunia perfilman. Salah satu film yang

Anda bintangi adalah The Raid yang sampai saat ini masih tayang di SBS On Demand dan

banyak lagi nih film lainnya. Salah satu juga yang terkenal adalah Gadis Kretek.

Mungkin bisa ceritakan terlebih dahulu kepada pendengar sudah berapa film yang

Anda bintangi kalau Anda masih ingat nih ya.

Oke [tertawa] sudah berapanya ya? Oke saya sambil bantu cek di IMDb ya [tertawa].

Jadi gini, waktu pertama kali masuk ke dunia film itu ayah kan sudah dari tahun

70-an ya, udah tiga puluh tahun. Jadi waktu saya iseng search di Google ternyata

ayah tuh udah enam puluh empat, enam puluh lima film gitu. Jadi waktu itu saya

cuman targetin, oke saya mesti nyusul ayah saya nih jumlah filmnya gitu. Tapi kan

pada saat saya masuk ke dunia film, ayah juga masih aktif gitu, jadi dia jumlahnya

nambah terus. Jadi waktu itu saya sempat ngitung pada saat saya udah sama atau

melewati ayah enam puluh, tujuh puluh judul gitu. Itu udah be-berapa tahun lalu.

Kalau sekarang mungkin udah seratusan ya kira-kira.

Itu banyak sekali. Dan kita tahu nih Anda bermain kan di film The Raid, terus ada

Gadis Kretek, terus ada Buya Hamka, terus ada juga Susana ya?

-He eh. -Ini genrenya sangat beragam. Apakah ini

sengaja nih untuk tidak terjebak di satu kotak genre atau bagaimana?

Ini menarik karena memang salah satu strategi saya pada saat masuk ke industri

adalah tidak terstereotype gitu. Karena waktu saya masuk itu tahun

2004, 2005 saya baru mulai tertarik kepada dunia acting, itu saya udah terlambat

hitungannya udah mau tiga puluh tahun gitu. Jadi dengan

di awal tahun 2000-an dengan wajah Asia seperti ini, Chinese look seperti ini itu

sebenarnya agak sulit untuk mendapatkan karakter-karakter di film Indonesia atau

series karena pada saat itu belum ada drakor, belum ada K-pop, belum ada apa,

jadi masih dianggap kayak bukan warga negara Indonesia gitu. Kalau ada film

Indonesia yang mau dibuat dianggap yang, "Oh ini nggak ada peran Chinese atau nggak

ada peran Asia", jadi nggak ada gitu. Muka saya nggak dianggap muka Indonesia

[tertawa]. Rasanya kayak African American kalau lagi di Amerika, "Oh ini nggak ada

peran orang hitam" gitu. Itu yang saya rasakan di awal tahun 2000. Jadi pada saat

itu karena umur saya udah hampir tiga puluh, saya menentukan bahwa sebagai

produk jangan sampai saya hanya bermain di peran-peran yang mencari karakter Chinese

atau karakter Asian.

Saya harus mencari karakter yang orang Indonesia apapun itu gitu. Tapi saya sadar

karena wajah saya juga bukan yang ada bulenya, nggak ganteng dan ini saya harus

belajar untuk mempunyai leverage. Jadi saya belajar acting itu dan pada saat itu

emang institusi pendidikan acting di Indonesia belum terlalu besar. Jadi saya

pikir, oh itu saya punya leverage gitu bahwa dari sekian sepuluh aktor misalnya

mencoba satu karakter, paling nggak saya bisa menerapkan ilmu acting di situ

dibanding mereka yang mungkin tidak belajar gitu. Dan akhirnya dengan saya

tidak mau di stereotipe kan dalam tiap cast saya malah mencari karakter-karakter

yang aneh, karakter-karakter yang orang tidak mau, karakter-karakter yang memang

membutuhkan ilmu untuk memerankannya seolah-olah seperti itulah. Eh yang ada

itu saya jadi terjebak di peran yang sangat beragam akhirnya. Entar jadi

antagonis di sini, entar jadi komedi di sini, entar di sini juga jadi action, ada

yang bilang saya aktor action, ada yang bilang saya aktor komedi, ada yang bilang

saya aktor antagonis gitu. Jadi akhirnya terjebak di film-film yang nggak sama

gitu. Jadi ya sengaja nggak sengaja sih, tapi termasuk strategi itu.

Iya tapi ini sebagai aktor keturunan Tionghoa di industri film Indonesia nih

seperti yang tadi Anda bilang, apakah identitas ini sebenarnya malah jadi

-kekuatan sekarang nih? -Mungkin ya sekarang akhirnya wajah-wajah

yang agak-agak ke Korea-Koreaan dicari ya. Tapi pada saat itu, itu menjadi suatu

kesulitan. Bahkan even sekarang pun ada beberapa pihak produksi atau casting

director atau sutradara yang masih melihat itu gitu. Misalnya, "Aduh sorry nih

kemarin gua syuting nggak ngajak lu soalnya nggak ada peran Chinese", gitu.

Saya kadang-kadang bingung sama pertanyaan itu. Film, film Anda film Indonesia kan

ya. Ini, ini muka Indonesia kayak gini gitu. Indonesia itu beragam mukanya ada

yang kayak orang Timur, ada yang kayak matanya sipit, ada yang kulitnya putih,

ada yang kulitnya coklat sawo matang, itu tuh semua Indonesia gitu. Jadi aneh kalau

ada masih jaman sekarang yang merasa oh orang Indonesia tuh bentuknya cuman satu

gitu. Sama aja kayak being politically correct in America gitu. Oh kalau dia

mukanya Asian atau Indian seolah-olah dia bukan orang Amerika. Kan udah nggak

seperti itu.

Amerika sekarang malah kalau di film-filmnya itu kayak semua ras harus ada

gitu. Harus ada African American-nya, harus ada Asian-nya, harus ada Indian

American-nya gitu. Nggak bisa semuanya whitewash putih semua gitu kan. Nah

Indonesia tuh lumayan sudah mulai beragam tapi masih ada satu dua [tertawa] orang

yang merasa kalau Indonesia tuh yang dari Pulau Jawa aja ya, lebih dari itu enggak,

-itu masih ada. -Apa yang Anda katakan itu betul sekali

karena kita Indonesia memang sangat beragam tidak sama semua. Jadi itu harus

direpresentasikan kalau dibilang tidak ada satu peran etnis tertentu sepertinya

gimana ya [tertawa] kenyataannya kita semua beragam.

Karena yang lucu seperti ini pada saat di jaman even di awal ya, kalau muka kamu

misalnya Jawa dan Melayu gitu, oke orang Indonesia. Begitu Chinese atau Timor

mereka harus berpikir, aduh saya perlu nggak ya karakter yang ada Timornya atau

ada Asian-nya gitu. Tapi pada saat mukanya bleket-blek bule Jerman gitu, bleket-blek

bule Inggris gitu, itu orang Indonesia gitu, gapapa gitu. Kan aneh ya [tertawa].

Sangat bermanfaat informasi dari Anda. Jadi kita bisa melihat semua bagaimana

perjuangan Anda di jaman dahulu ya.

-Betul. -Dan ini mari nih kita coba nih kita mundur

sedikit nih. Kan Anda dulu menghabiskan sepuluh tahun di Amerika ya kuliah dan

bekerja di bidang desain periklanan betul? Di Columbus, Ohio.

Betul

Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan pulang ke Indonesia? Apakah ketika sebelum

pulang sudah kepengen menjadi aktor seperti almarhum ayah Anda, aktor

-legendaris Henky Solaiman? -Tidak sih, jadi sama sekali waktu itu

tidak ada rencana untuk menjadi aktor atau bekerja di dunia film.

Pada saat saya lulus tahun '97

itu saya langsung kecemplung di advertising industri. Saya kerja di

advertising agency, terus setelah tujuh tahun, perang Irak 2003, sehingga saya

harus pulang ke Indonesia dan Amerikanya sendiri juga 2003 perang. Padahal tahun

2000 ke 2001 saya bikin company sama temen-temen advertising agency di Chicago

pada saat itu. Sempat kena 9/11 turun dikit tapi udah naik, tapi 2003 begitu

perang Irak udah kita kayak perusahaan semua langsung menurun. Jadi saya

memutuskan untuk pulang. Nah, sampai di Indonesia saya masih di advertising

awalnya, lalu saya diperkenalkan dengan dunia film karena saya memegang creative

director untuk kampanye promo film, pertama di situ.

Dan karena memang saya suka nonton film, jadi saya pada saat itu suka sekali

memegang kampanye-kampanye promo film Indonesia pada saat itu khususnya yang

diproduksi oleh Sinemart Pictures. Nah, di situlah saya ditawarkan sama salah satu

teman SD saya, "Eh ada sekolah acting nih, mau

jadi aktor nggak?" Seolah-olah ayah saya aktor, anaknya juga mau jadi aktor. Pada

saat itu saya menolak gitu, ngapain saya mau jadi aktor. Tapi dia bilang, "Udah

coba aja dulu, siapa tahu suka", gitu. Dan benar aja waktu saya cobain ternyata

kelasnya yang diarahkan oleh Bang Eka Sitorus yang juga sekolah lulusan dari

American Academy of Dramatic Arts San Francisco, jadi kita nyambung tuh western

minded-nya. Dan akhirnya saya jatuh cinta dengan acting dan saya langsung diam-diam

akhirnya belajar acting sambil tetap bekerja di advertising gitu sebelum

-akhirnya fully pivot ke aktor. -Jadi ini dari keinginan Verdi sendiri dan

kebetulan saja ayah adalah aktor ya. Dan tapi akhirnya tidak pengaruh terbesar

-almarhum terhadap Anda di dunia film? -Nah, justru sebenarnya pada saat itu

karena saya kuliah di luar dan istilahnya dibiayai sekolahnya dengan jurusan yang

berbeda, saya tuh agak nggak enak sama ayah saya pada saat saya mau jadi aktor

karena udah sekolah yang jauh-jauh ngapain jadi aktor juga gitu. Jadi saya waktu itu

belajar acting tuh backstrip dari ayah sebenarnya, jadi diam-diam saya

belajarnya. Ada tiga pilihan waktu itu di tempat Bang Eka, di Safir Actor Studio, di

Teater Populer tempat Om Slamet Rahardjo, sama di tempat Ratu Sarumpaet di Teater

Merah Putih. Nah, Om Slamet, Teater Populer itu kan tempat asalnya ayah ya,

jadi pasti itu saya ketahuan, pasti, "Oh ini anaknya Hengky, ini anaknya Hengky".

Teater Merah Putih juga Ratu Sarumpaet kenal ayah juga, jadi saya memilih oke

saya masuk di Bang Eka aja deh, nggak ada temen ayah atau siapapun yang kenal saya

di situ, jadi saya benar-benar bisa belajar. Dan pada saat empat bulan pertama

saya harus ujian, baru saya ngomong, "Pap, saya belajar acting, mau nonton

nggak?", gitu. "Ujiannya nih ada, ada lima belas menit short play". Dia nonton, tapi

habis itu dia tidak marah atau tidak komentar gitu, diam aja gitu. Ya saya

anggap, oh gapapa nih, saya teruskan lagi ambil intermediate enam bulan, terus saya

mentas lagi dua jam, naskah dua jam bahasa Inggris, Max Peal. Terus saya undang

lagi, "Mau nonton gak nih, ini naskah dua jam nih, kita jual tiket". Ternyata ayah

saya bawa temen pada saat itu nonton bareng Garin Nugroho. Nah, itu saya anggap

sebagai simbol, oh udah boleh nih kayaknya

bekerja sebagai aktor. Nah, akhirnya itulah yang habis itu saya mencoba jalur

path saya sendiri di dunia film gitu, tetap nggak mau pakai nama bokap atau

tidak mau menggunakan koneksi dari ayah, jadi saya coba cari jalur sendiri.

Aduh itu ceritanya unik sekali karena justru kebalikan.

Dan sekarang selain menjadi aktor, Anda adalah juga sutradara. Dan ini apa nih,

kok bisa sih jadi beralih gitu, jadi sutradara?

Jadi sebenarnya menjadi sutradara itu malah keinginan pertama. Pada saat saya

memegang kampanye promosi film, itu kan saya sebagai creative director, creative

director untuk promo filmnya. Tapi sebenarnya pada saat itu waktu di

Sinemart, saya sudah sempat ditawarkan untuk menjadi sutradara film gitu, karena

mungkin kecintaan saya sama dunia filmnya itu sendiri dan mungkin mereka juga

ngelihat latar belakang saya, ayah saya itu sebenarnya yang paling diturunkan

adalah ilmu directing-nya sebenarnya, bukan acting-nya, acting-nya kita beda

guru gitu ya. Pada saat itu cuman mungkin ya pengalaman saya juga belum banyak, jadi

beberapa kali mencoba mau jadi sutradara tuh masih gagal-gagal gitu ya, belum,

belum ketemu ininya. Tapi mungkin itu ada baiknya juga karena saya butuh

pengalamannya. Jadi setelah dua puluh tahun kemudian, saya sempat bukan menjadi

sutradara dulu, sebenarnya jadi produser dulu untuk film Anak Garuda yang

diproduksi oleh Butterfly Pictures dan Lingkar Merah. Itu sebenarnya saya tadinya

tidak mau jadi produser, saya maunya jadi co-director, saya ingin belajar jadi

sutradara dari sutradara Fauzan Rizal. Cuman Fauzan Rizal bilang sama saya, "Fer,

kalau kamu mau produserin, kamu boleh co-director di samping saya". Jadi

akhirnya saya oke, saya ambil posisi produsernya supaya saya bisa belajar dari

Om Fau, saya manggilnya Om Fauzan, Om Fau.

Nah, dari situ baru kemudian PH saya Lingkar Merah bersama Arifin Putra

memproduksi series Code Helix di video.com. Nah, itu kita mencoba mencari,

tadinya sutradaranya bukan saya gitu, selama empat bulan waktu habis Covid tuh,

sutradara tuh tiba-tiba langsung sibuk semua tuh setelah gate-nya dibuka boleh

produksi. Akhirnya gak ada sutradara yang, udah deh sebagai creative producer, saya

udah paling paham materi nih, mau nggak nyutradarain? Oh ya udah, itu akhirnya

saya debut penyutradaraan pertama adalah series Code Helix di video.com. Baru

setelah itu, sebenarnya pas lagi Code Helix belum mulai pun saya sempat

ditawarin untuk menyutradarai kayak enam judul

film OTT oleh Pak Sukdev. Nah, salah satunya adalah Ronggeng Kematian gitu.

Jadi pada saatRonggeng itu ditawarkan tadinya hanya sebagai film buat di

aplikasi, buat di OTT streaming, tapi pada saat kita kembangin, eh ini kenapa nggak

jadi layar lebar aja ya gitu dan akhirnya di situlah kita memutuskan, oke ini akan

tayang bioskop dan akhirnya kita produksi di Ronggeng ini untuk tayang bioskop.

Jadi nih kalau boleh dibilang nih, apa bedanya melihat film dari sisi sutradara

-dibanding sebagai aktor? -Kalau sutradara jadi gini ya, mungkin saya

itu dari, dari mulai dari saya sebagai advertising designer, creative director

kampanye, promosi dan segala macam,

saya selalu ingin punya kendali di produk akhirnya gitu, di end product-nya. Dan

pada saat saya menjadi aktor, sayangnya saya hanya bisa mengontrol performance

saya aja gitu. Dan itu pun nanti setelah diediting dan segala macam, itu udah bukan

dikontrol saya lagi. Pada saat saya menjadi sutradara, saya punya kendali itu

benar-benar dari awal sampai akhirnya film jadi.

Nah, itu yang sangat nikmat. Stressful, jauh lebih apa ya istilahnya, lebih berat,

tapi kenikmatannya itu bahwa hasil akhirnya itu kita punya kontrol ceritanya

boring-nya di mana, bisa diedit, mana yang works, mana yang gak works, itu tuh

benar-benar kita punya kontrol. Pada saat kita hanya menjadi aktor, kita hanya bisa

bertanggung jawab sama performance kita aja gitu. Nah, itulah bedanya kalau saya

bilang kalau ditanya apa bedanya jadi aktor sama sutradara. Kalau aktor pada

saat syuting tidurnya nyenyak gitu. Kalau sutradara pada saat syuting produksi

tidurnya gak nyenyak [tertawa] karena dia mikirin keseluruhan produk dari awal

-sampai akhir. -Dan ini kan

di awal tahun 2025, saya tahu Anda juga sempat mengikuti Australia Awards Short

Course di Brisbane untuk screen writing dan directing. Ini kan juga sejalan dengan

menjadi sutradara ya, apa yang paling berharga dari program itu untuk karir Anda

-ke depan? -Jadi memang karena saya waktu itu

sekolahnya acting, untuk directing saya hanya belajar dari ayah saya, terus saya

sempat ada berapa quick course juga gitu yang sempat waktu itu ada sutradara untuk

para bintang dan segala macamnya. Tapi saya kayak butuh akademik gitu, sehingga

waktu ada screen directing dari Australian Award itu saya daftar karena saya ingin

belajar directing secara akademik dan juga saya pengen belajar screen writing gitu.

Karena posisi saya sekarang selain sebagai aktor, director, dan producer, saya juga

sebagai pengajar, sebagai acting instructor lah, acting coach dan

instructor.

Nah, saya punya kelas itu sangat script foundation-nya itu sangat script based

banget gitu. Dan saya ingin juga, oke kalau saya memang bisa memahami script

dari kacamata aktor, saya juga ingin memahami script dari kacamata

scriptwriter. Dengan begitu ilmunya jadinya lengkap nih gitu. Saya bisa jagain

script daripada saat sebelum syuting,

saya bisa jagain performance untuk dari para pemain, dan sebagai sutradara saya

bisa jagain juga kulit produksinya gitu. Finishing polish-nya itu sampai akhir itu

juga bisa dijagain. Jadi untuk melengkapi ilmu-ilmu yang udah ada gitu.

Tapi lebih cinta mana nih, jadi aktor atau jadi sutradara?

[tertawa] Sebenarnya akhirnya saya menentukan kecintaan saya bukan di salah

satu profesi, tapi kecintaan saya sama dunia film gitu ya. Karena dari dulu

mungkin hidup saya udah sangat film banget gitu. Dari kecil ayah bekerja di film,

kadang-kadang rumah dipakai syuting, saya suka dijadiin figuran dan segala macam

gitu. Terus pada saat saya menikah juga istri saya juga aktor film gitu kan,

kadang-kadang kita main film bareng, anak saya kemarin juga tiba-tiba nyemplung ke

short film gitu. Jadi kayak dunia film itu gak akan pernah pergi dari saya dan saya

akan selalu cinta dunia film sebagai penikmat atau sebagai filmmakers gitu.

Jadi di mana pun saya berada di situ mau jadi producer, acting coach, aktor,

sutradara, itu gak masalah yang penting masih berhubungan dengan film. Gak tahu

juga ya tiba-tiba saya nanti buka restoran atau [tertawa] atau jualan lele, saya gak

tahu, tapi sebenarnya kalau kecintaan saya itu udah saya tentuin di industri

-film, jadi di mana pun di industri film. -The love tentang perfilman itu sudah

-ingrained dari masa kecil berarti ya? -Betul.

Dan Anda kan berarti sudah lama sekali ya di dunia perfilman ya, dua dekade lebih

ya.

Perubahan apa sih yang paling signifikan yang Anda rasakan sendiri sebagai aktor

-dan sutradara? -Sebenarnya jadi kesadaran mungkin di awal

saya melihatnya masih the art side of that gitu sebagai karya seninya.

Tapi makin kelamaan saya ada di bisnisnya, terutama waktu itu saya harus memikirkan

bagaimana memasarkan produknya kan, apalagi saya latar belakangnya

advertising. Dan makin saya pada saat jadi produser dan sutradara sampai akhirnya

saya menjadi acting coach dan yang lain, itu saya jadi mulai melihat bahwa film ini

tuh sisi bisnisnya tuh sangat penting banget khususnya di Indonesia yang memang

secara apa ya istilahnya, industri itu belum dewasa gitu, belum mature. Kita

masih hitungannya Indonesia tuh jauh lah kayak sama Hollywood atau Bollywood yang

atau Korea yang sudah ada studios, investasinya sudah jelas dan segala macam.

Indonesia tuh masih hitungannya kayak rumahan sebenarnya gitu, karena setiap

kali mau bikin harus baru cari investasinya, begitu mau produksi baru

cari kekuatan financial-nya gitu. Itu kadang-kadang belum mikir lagi nanti buat

distribusinya gimana, apalagi dengan exhibition kita juga yang terbatas ya, di

sini cuman ada tiga apa empat exhibitor besar. Jadi makin lama itu saya mulai

melihat film gak cuman dari, oh kayaknya ceritanya bagus atau kita mau bikin film

apa, tapi kita juga jadi ngelihat pasarnya. Indonesia tuh pasarnya seperti

apa, film Indonesia di dunia tuh pasarnya seperti apa. Jadi akhirnya menjadi

filmmakers yang lebih mature deh gitu. Kalau mau bikin film atau bikin produksi,

itu kita udah harus mikir udah jauh dari apa yang kita mau buat, tujuannya apa,

segmen targetnya apa, gimana nanti distribusinya, marketingnya, dan segala

macam. Jadi itu sih yang makin lama makin belajar gitu. Makin lama ternyata makin

-rumit gitu, tapi jadi makin tahu gitu. -Baik. Verdi, terima kasih ya atas waktunya

-sudah berbincang dengan SBS Indonesian. -Terima kasih sekali untuk waktunya dan

undangannya.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now