Kecerdasan buatan (AI) sudah sejak lama digunakan di dunia medis untuk membaca hasil pencitraan seperti rontgen dan CT scan. Kecerdasan buatan tersebut berbeda dengan AI jenis LLM seperti ChatGPT. Dua dokter di Australia membahas fungsi AI di bidang kesehatan dan seberapa jauh masyarakat bisa mengandalkan LLM untuk urusan kesehatan mereka.
Catatan: Informasi yang diungkapkan dalam wawancara ini bersifat umum dan mungkin tidak sesuai dengan situasi pribadi Anda. Hubungi tenaga kesehatan atau dokter Anda untuk mendapatkan saran yang jelas mengenai situasi Anda.
Perkembangan AI di bidang medis berlangsung sangat cepat, kata Dr. Anthony P. Sunjaya, dokter spesialis jantung dan paru sekaligus Co-Lead Digital Health and AI Hub di School of Population Health, UNSW Sydney. Namun AI yang digunakan sehari-hari di klinik saat ini sebagian besar bukan berbasis LLM, melainkan model yang dibangun dengan pendekatan deep learning konvensional yang dilatih menggunakan data gambar berlabel, ujar Dr. Sunjaya.
Salah satu penerapan AI yang semakin umum adalah AI scribe, yaitu perangkat yang membantu dokter mendokumentasikan dan merangkum diskusi dengan pasien ke dalam rekam medis elektronik. Menurut Dr. Sunjaya, teknologi ini tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi beban kognitif dokter sehingga mereka bisa mempertimbangkan lebih banyak opsi diagnosis saat memeriksa pasien.
Kendati demikian, Dr. Sunjaya mengatakan, LLM masih memiliki kelemahan. Penelitian menunjukkan sekitar 25 hingga 30 persen output LLM tidak akurat, dan sekitar 15 persen berpotensi berbahaya, ujarnya. Karena itu, peran tenaga medis dalam menginterpretasikan hasil yang dihasilkan AI sangat penting, tambah Dr. Sunjaya.

Bagi masyarakat yang sudah memiliki diagnosis dari dokter, LLM cukup berguna untuk memahami penyakit atau mengetahui efek samping obat, sepanjang pengguna tetap kritis dan membandingkan informasi dengan sumber terpercaya seperti Health Direct, ujar Dr. Sunjaya. Untuk mereka yang belum mendapat diagnosis, LLM bisa membantu mempersiapkan pertanyaan sebelum bertemu dokter, ujarnya. Namun Dr. Sunjaya mengatakan, LLM tidak boleh digunakan sebagai alat diagnosis mandiri.
Pandangan serupa disampaikan oleh Dr. Helmut Gosal, dokter umum yang berpraktik di Chatswood, Sydney. Dr. Gosal mengatakan, proses diagnosis melibatkan observasi langsung, wawancara riwayat penyakit, hingga pemeriksaan fisik, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh LLM. Dr. Gosal mengatakan ia pernah menangani pasien muda yang datang dengan keyakinan kuat bahwa dirinya mengidap pembesaran prostat berdasarkan hasil penelusuran di ChatGPT, bahkan langsung meminta resep obat.

Dr. Gosal tidak langsung menolak kemungkinan itu, tetapi tetap menjalankan prosedur standar, yaitu dengan menggali riwayat gejala dan meminta pemeriksaan lanjutan, ujarnya. Hasilnya, prostat pasien tersebut normal, tambah Dr. Gosal.
Dr. Gosal mengatakan, LLM masih berguna sebagai sumber informasi dan edukasi untuk gejala ringan, atau bagi penderita penyakit kronis yang ingin memahami cara menjaga gaya hidup. Jika gejala tidak kunjung membaik atau semakin parah, konsultasi ke dokter tetap menjadi langkah yang tidak bisa dilewati, ujar Dr. Gosal.
Simak perbincangan lengkap SBS Indonesian dengan Dr. Anthony P. Sunjaya dan Dr. Helmut Gosal untuk mengetahui lebih lanjut.





