Sejak pertama kali diumumkan pada tahun 2021, lebih dari 150 negara, termasuk Australia, telah menandatangani Ikrar Metana Global.
Namun, hanya dua persen dari pendanaan iklim yang digunakan untuk memangkas emisi metana.
Para peneliti di University of Sydney mengatakan mereka telah mengembangkan cara untuk mengubah emisi metana dari tempat pembuangan sampah menjadi sumber energi berkelanjutan.
Menangkap dan mengekang emisi metana sangat penting untuk memperlambat dampak perubahan iklim, demikian peringatan sekelompok ilmuwan iklim internasional.
Para ilmuwan mengatakan peningkatan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.

Industri limbah, bahan bakar fosil, dan pertanian termasuk sumber utama emisi metana manusia.
Metana bertanggung jawab atas sekitar sepertiga pemanasan global - penyumbang terbesar kedua setelah karbon dioksida, yang lebih umum dan bertahan lebih lama di atmosfer.
Namun metana lebih efektif dalam mengurung panas, menghangatkan atmosfer lebih dari 80 kali lipat dari karbon dioksida selama periode 20 tahun.




