Rangga Purbaya, seniman visual berbasis di Yogyakarta menggunakan karyanya untuk meneriakkan isu kerusuhan politik tahun 1965 di Indonesia.
Dengan latar belakang fotografinya, Rangga - yang keluarganya sangat terdampak dengan kejadian berdarah tersebut - berfokus pada isu tersebut sejak tahun 2014 setelah sebelumnya menekuni karir sebagai fotografer profesional.


Tahun 1965 merupakan tahun pelanggaran HAM berat di Indonesia, dimana Komisi Orang Hilang negeri itu - Kontras - menyebutkan bahwa lebih dari dua juta orang yang dianggap terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) mengalami penangkapan, penyiksaan hingga pembunuhan.
Rangga menyebutkan bahwa karena terlibat sebagai anggota partai sayap kiri pada saat itu, kakek dan nenek dari pihak ibunya pernah ditahan. Sementara kakek dari pihak ayahnya ditangkap dan tidak pernah kembali.
Kakek saya hilang di tahun '65. Dia ditangkap dan tidak pernah kembali ke rumah.Rangga Purbaya - Visual artist
Pada SBS Indonesian, Rangga menceritakan bagaimana perjalanan pribadi dan keluarganya terkait trauma akibat tragedi 1965 mempengaruhi karya-karyanya, serta harapannya untuk rekonsiliasi.
Rangga Purbaya dijadwalkan akan memberikan kuliah umum terkait karir dan karyanya pada 25 Mei di University of Melbourne.




