Pendengar bersama kami di jalur, seorang
seniman dari Indonesia, Jayanto Tan,
berbincang dengan kami tentang pameran
yang diikutinya di Sydney Craft Festival
baru-baru ini. Selamat siang, Jay. Terima
kasih atas waktu yang diberikan.
-Selamat siang.
-Kami mendengar bahwa Anda diundang untuk
berpartisipasi dalam Sydney Craft Festival
baru-baru ini.
-Betul.
-Nah, dapatkah anda memberi sedikit
-penjelasan tentang festival itu?
-Jadi saya diundang di pameran di namanya
dengan juga kombinasi dengan eh para-para
partisipasi gitu dari dari ada dari
Melbourne, dari Adelaide, dari Brisbane
juga begitu. Mungkin juga ada. Saya kurang
jelas tapi kayaknya seluruh Australia
-gitu.
-Festivalnya ini apakah diadakan setiap
-tahun?
-Itu setahun sekali
eh Australian Design Center melakukan
aktivitis atau
ya festival exhibition menggabungkan
artis-artis melakukan aksi
pameran. Jadi tahun ini sepertinya sangat
besar
karena mereka mengundang para seniman
tidak hanya di Sydney juga ada
yang dari kayaknya seperti di regional
gitu.
Jadi temanya apa ini yang akan dipamerkan?
Mereka tema itu katanya intelligent
materials. Jadi saya pikir saya memamerkan
karya saya habis sekolah sampai saya
sekarang sudah mempraktiskan sampai
sekarang gitu. Jadi seperti lima belas
tahun gitu. Jadi skill-nya ini,
intelligent skill-nya ini adalah dari yang
seperti orang bilang pemula sampai ahli
-gitu.
-Dan apa latar belakang dari karya yang
-Anda pamerkan di situ?
-Eh, family saya dari, bapaknya dari China
gitu. Jadi saya juga lagi belajar
mendalamkan kebudayaan tradisi dari
China. Waktu saya kuliah master, esai
saya ini tentang family, tradition dari
Sumatra. Jadi tema itu yang saya yang saya
bahas kan itu adalah tentang offering.
Karena waktu saya waktu kecil itu saya
nggak pernah lihat dengan ibu saya membuat
offering kepada bapak saya begitu. Jadi
saya pikir kalau saya membuat karya ini
mungkin akan unik di Australia karena
waktu itu saya lagi kuliah banyak murid
tidak betul-betul ngerti apa itu offering.
Jadi menurut saya mungkin ini ide yang
bagus, mengaktifkan kembali sejarah
keluarga yang saat ini saya lupakan.
Karena saya hanya membayang-bayangkan
masa-masa kecil gitu. Jadi tim saya ini,
esai saya ini yang meluluskan saya dari
master ini adalah timnya tuh saya tulis No
Friends But The Ghost. Jadi ada
hubungannya dengan dunia musical tentang
hantu-hantu begitu. Jadi karena kan mereka
nggak mengerti apa itu Seng Beng, saya
-jelaskan apa itu Seng Beng gitu.
-Dari gambar-gambar yang saya lihat itu
karya yang Anda pamerkan berbentuk keramik
ya. Bisa anda memberi penjelasan lebih
-detail tentang karya anda itu?
-Yak. So, jadi itu keramiknya itu dari
tahun 2019 saya dapat rezeki. Saya--
karena saya itu di-funding sama dari
Art Australia. Itu domisilinya di
Paramata. Jadi saya
di-dipamerkan juga di ...
waktu itu setelah masa pandemic
tahun 2021 karena saya dipamerkan di 4A
itu Asian Australian Contemporary
Art. Jadi tahun 2019, tahun 2021
terus tahun 2025 saya diundang lagi
katanya, "Oh, karena kamu tuh bagus itu.
Apakah mau jadi ongoing?" gitu. Jadi buat
Seni Craft Festival ini saya gabungkan
dari tahun yang 2019 sampai tahun 2025
saya pilih yang topiknya masih,
apa namanya, masih hangat gitu seperti
untuk tahun-tahun sekarang itu. Jadi
dalam pameran itu saya kombinasikan
tradition yang Indonesia zaman-zaman dulu
itu, zaman-zaman ibu saya itu yang lagi
sangat suka membuat kue-kue tradition
Indonesia itu dikeluarkan kembali jadi
digabungkan dengan tradisi Australian.
Contohnya seperti Pandan Lamington karena
kan Lamington itu kan biasanya kan coklat.
Jadi saya kasih warna hijau itu
flavor-nya jadi pandan. Jadi ada ada
hubungannya, ada kaitan dengan Indonesia
dari North Sumatra di Australian Sydney
sekarang itu. Terus ada juga Mooncake.
Karena Mooncake kan biasanya saat ini kan
hanya one color gitu ya. Jadi saya buat
warna-warni Mooncake-nya gitu. Terus ada,
di Australia kan tuh anak-anak tuh suka
tuh sama Fairy Bread. Terus saya buat juga
Fairy Bread supaya ada kombinasinya. Ada
banyak warna-warninya, menunjukkan
identitas saya saat ini yang diekspresikan
begitu. Terus ada Fortune Cookies, jadi
kan menunjukkan keberuntungan buat semua
orang gitu. Ada Macaroon. Jadi sepertinya
saya dalam pameran ini ingin
mengharmonikan segala bangsa dari
Indonesia, ke Europe jadi ke Australia, ke
Amerika. Ada kayaknya ada donatnya juga
deh. Kan donat kan selalu diasosiasikan
dengan American culture gitu ya. Jadi saya
maksudnya itu kita bersama-sama
menunjukkan masa depan yang bahagia
begitu, tanpa didiskriminasi.
Selain dari faktor keluarga itu, apakah
ada latar belakang lain yang mempengaruhi
-Anda untuk memilih karya anda itu?
-Kalau lebih gampang dimengerti kayaknya.
Saya juga tinggal di Bali dua tahun. Saya
juga merasa, oh ini seperti yang kayak
family saya begitu. Karena ada
incense-nya, ya. Ada bunga-bunganya
terkadang juga ada ini um, seperti kue-kue
begitu di di di pinggir jalan begitu.
Jadi menurut saya ini seperti eh,
inspirasi. Jadi saya memikirkan sepertinya
mirip-mirip banget nih, seperti eh,
keluarga saya begitu yang selalu buat
offering. Eh, tidak, tidak tiap hari sih
tapi kan dia mereka ada eh, ada
bulan-bulannya begitu. Tapi saya
memfokuskan ke tradition dari, dari bapak
saya begitu. Jadi setiap tahun itu
kayaknya kita tuh melakukan
atau melakukan hormat dengan leluhur
begitu. Jadi ya saya pikir saya akan
membuatkan karya keramik saya yang theme
nya seperti itu. Menghubungkan seperti
dari Sumatra ke Bali begitu. Ah, terus
saya kira karena kan saya sekarang tinggal
di Australia. Jadi saya pikir saya
menghubungkan tradisi yang di keluarga
saya yang tidak begitu saya pahami waktu
kecil. Sekarang saya mau mencari
apa yang sama saya kecil itu yang tidak
dibicarakan, saya mau membicarakan
menurut saya mungkin ini menghubungkan
mereka kembali yang di alam dialam yang
lain secara spiritual karena saya waktu
kecil juga disarankan ibu saya tuh
-menghormati leluhur jadi
-[tertawa]
Leluhur sudah enggak seperti kayak hantu
begitu apa mungkin ya kan saya waktu kecil
kan sangat enggak enggak mengerti
maksudnya apa cuma takut juga mana mungkin
hati saya begitu jadi sekarang udah mulai
ya gimana ya udah mulai ngerti udah mulai
dewasa dan memahami tentang leluhur...
keluarga.
Baiklah Mas Jayanto Tan, terima kasih atas
informasinya.
END OF TRANSCRIPT