Proses perwujudan karya "The Upside Down Garden" ini memakan waktu sekitar enam tahun, mulai dari pengajuan proposal sebelum pandemi COVID-19 hingga akhirnya berhasil dipasang.
Karya yang terbuat dari material baja seberat beberapa ton ini menampilkan visualisasi taman bonsai yang terbalik, seolah-olah penonton sedang melihat ekosistem dari bawah atau dasar laut.

Inspirasi utama karya ini berasal dari kekayaan sejarah lokal di kawasan pelabuhan Sydney, mulai dari sejarah alam bawah laut, narasi masyarakat adat (Aborigin), hingga jejak sejarah kolonial seperti fenomena Hungry Miles—masa di mana banyak pekerja mengantre pekerjaan di pelabuhan.
Jumaadi menjelaskan kepada SBS Indonesian bahwa ia ingin menciptakan sebuah kontradiksi di tengah pusat ekonomi Sydney yang serba cepat. Ia menghadirkan karya ini sebagai "kuil kecil" atau ruang refleksi yang memberikan sentuhan kemanusiaan dan kelembutan di antara kerasnya bangunan beton dan hiruk-pikuk transaksi bisnis.

Proses pembuatannya melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara seniman, arsitek, dan insinyur untuk menerjemahkan ekspresi seni ke dalam hitungan matematis yang presisi. Selain visual, instalasi ini juga dilengkapi dengan elemen audio hasil kolaborasi dengan komposer Michael Toisuta.
Bunyi-bunyian musik tersebut dijadwalkan berbunyi pada waktu-waktu spesifik—seperti fajar, tengah hari, dan senja—yang terinspirasi dari tradisi panggilan ibadah di Indonesia.
Saat ini, tanggung jawab pemeliharaan karya tersebut telah diserahkan kepada Departemen Infrastruktur New South Wales untuk jangka waktu 25 tahun ke depan.



