Dari menjadi petugas kebersihan hingga menjadi pemilik kafe di Sydney, ini cerita Wilbert Tandiono.
Wilbert Tandiono tiba di Australia sesaat sebelum pemberlakuan lockdown Covid pada tahun 2019. Berusaha bertahan hidup di negara ini di tengah situasi pandemi yang sulit dengan dana terbatas, ia menerima tawaran pekerjaan apa pun yang datang padanya.
"Pada saat itu covid coming, lockdown, mau gak mau aku harus kerja sebagai apa pun, yang penting punya penghasilan, dikarenakan once sudah memutuskan untuk tinggal di Australia, saya sudah nggak bisa move back," ungkapnya pada SBS Indonesian, menggarisbawahi bahwa saat itu ia sudah mengeluarkan banyak biaya untuk keperluan visa dan perjalanan.
Wilbert kemudian menerima pekerjaan sebagai petugas pembersih apartemen di Sydney, dengan "spesialisasi" mencuci tong sampah.
"Pada saat itu, divisi itu gak ada yang mau [mengerjakan]," ujarnya.
Apapun kondisinya, tetap ada kesempatan.Wilbert Tandiono, pemilik San Java 2.0

Meski demikian, mimpi Wilbert yang konstan adalah untuk menjadi pemilik usaha di bidang F&B. Berbekal pengalaman sebelumnya sebagai pemilik bisnis di Medan dan motivasi yang besar, ia bertekad mengumpulkan modal dan mempelajari alur bisnis di Australia dengan bekerja di negeri ini.
Dari gaji yang $14 hingga $50 per jam, dari pekerjaan sebagai kitchen hand hingga kitchen head, Wilbert mencatat pelajaran dari semua pengalamannya dan kemudian menerapkannya untuk membuka bisnis pertamanya di Australia: Cafe San Java.


Kini, tujuh tahun kemudian, Wilbert memposisikan dirinya sebagai pemilik salah satu kafe dengan pertumbuhan cepat di jantung kawasan Sydney yang ramai. Bagaimana perjalanannya mengembangkan bisnis hingga tercipta San Java 2.0? Apa mimpi Wilbert untuk bisnisnya ini?
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





