Jurnalis Irene Sarwindaningrum ingin melihat bagaimana Australia dan Indonesia dapat memperdalam hubungannya, terutama di tengah tantangan geopolitik dan teknologi yang semakin berkembang.
Irene Sarwindaningrum, seorang jurnalis senior dari harian Kompas di Indonesia, menjadi salah satu penerima Elizabeth O'Neill Journalism Award dari pemerintah Australia untuk tahun ini. Berpengalaman di dunia jurnalisme selama hampir 19 tahun, Ms Sarwindaningrum mengaku awalnya ia menduga tidak akan lolos seleksi.
"Pengumumannya baru tahun ini bahwa saya lolos. Akhirnya ya dengan sangat bahagia pergi ke Australia," ujarnya, menceritakan bahwa aplikasi untuk award ini sudah diajukannya pada tahun lalu.
Reporter penerima Anugerah Jurnalistik Adinegoro untuk laporan investigasinya terkait masker palsu saat pandemi COVID-19 ini saat ini bertugas di desk internasional, dengan ketertarikan menulis antara lainnya tentang geopolitik, hubungan Australia-Indonesia, dan teknologi kritis seperti AI dan media sosial.

Mary Powter dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia termasuk salah satu yang terlibat dalam proses penilaian aplikasi untuk penghargaan ini. Ia mengatakan bahwa proses penentuan pemenangnya sangatlah kompetitif.
“Proses seleksinya sangat kompetitif dan kami menerima banyak sekali aplikasi dari jurnalis Indonesia dan Australia. Saya ingat aplikasi Irene sangat menonjol,” ungkap Ms Powter. “Dia memiliki ide yang sangat bagus untuk liputan yang ingin dia lakukan di Australia.”
Bagaimana Ms Sarwindaningrum melihat perbedaan dunia jurnalisme di Australia dan Indonesia? Apa pandangannya tentang komunitas-komunitas yang ditemuinya di Australia? Dan apa saja yang ingin disorotnya dari kunjungannya ke Melbourne, Sydney, dan Canberra ini?
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





