Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Komunitas Sepak Bola Diaspora Kemukus FC Jaga Kebersamaan, Silaturahmi selama Ramadan

Kemukus FC players gather for their weekly kickabout at Clifton Park in Brunswick, Melbourne on Sunday, 8 March 2026. Credit_ Supplied_Augi Jelita.jpg

Kemukus FC players gather for their weekly kickabout at Clifton Park in Melbourne's Brunswick on Sunday during Ramadan. Credit: Supplied/Augi Jelita

Komunitas sepak bola diaspora Indonesia di Melbourne, Kemukus FC, tetap aktif bermain di bulan Ramadan sebagai sarana menjaga kesehatan, melepas penat, dan mempererat hubungan.


Berdiri sejak 2019, Kemukus FC rutin mengumpulkan sekitar 20 orang setiap akhir pekan di lapangan sepak bola Clifton Hill, di Brunswick, Melbourne. Tanpa tuntutan bermain secara kompetitif, kelompok ini terbuka untuk siapa saja, termasuk mahasiswa, pasangan mereka, dan pemegang visa Working Holiday. Konsep mereka: yang penting hadir, bersenang-senang, dan bertemu sesama orang Indonesia.

Di bulan Ramadan, Kemukus FC tetap menggulirkan bola dengan strategi khusus: jadwal digeser mendekati magrib dan permainan diselingi jeda agar peserta yang berpuasa tetap nyaman. Anggota non-muslim pun ikut mendukung penyesuaian ini. Seusai bermain, peserta berbagi takjil sederhana untuk buka puasa bersama.

Lebih dari sekadar olahraga, Kemukus FC menjadi ruang saling berbagi, mulai dari tips perkuliahan, informasi lowongan kerja, hingga curahan hati soal kehidupan di perantauan. Bagi para anggotanya, komunitas ini menghadirkan kembali semarak kebersamaan yang mereka rindukan dari Indonesia, terutama di bulan Ramadan.

Kemukus FC
Abrian Duta Firmansyah (L) and Ulil Albab from Kemukus FC at Clifton Park in Brunswick, Melbourne. Credit: SBS Indonesian/Anne Parisianne

Simak perbincangan kami dengan Abrian Duta Firmansyah, anggota Kemukus FC, dan Ulil Albab, salah satu pendiri Kemukus FC, tentang bagaimana sepak bola menjadi perekat komunitas diaspora Indonesia di Melbourne, khususnya di bulan suci Ramadan.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Bersama dengan SBS Indonesian kali ini pendengar, kita akan membahas mengenai

komunitas sepak bola diaspora Indonesia di Melbourne yang bernama Kemukus FC. Grup

yang terdiri dari para mahasiswa, pemegang working holiday visa, dan keluarga ini

hadir sebagai wadah bagi diaspora Indonesia di Melbourne untuk berkumpul

sambil berolahraga. Dan di bulan Ramadan pun mereka tetap turun ke lapangan. Untuk

mengetahui apa arti kelompok sepak bola ini bagi komunitas Indonesia, khususnya di

tengah bulan puasa jauh dari tanah air, saya sempat datang ke lapangan sepak bola

Clifton Park di Brunswick di Melbourne dan berbincang dengan Abrian Duta Firmansyah

atau Abi dan Ulil Albab dari Kemukus. Berikut perbincangan kami.

Perkenalkan nama saya Abrian Duta Firmansyah.

-Nama saya Ulil Albab. -Dan ini sudah berapa lama nih ikut

-komunitas sepak bola ini? -Sejak awal karena kebetulan salah satu

yang mendirikan Kemukus FC ini. Mengingat dulu banyak teman-teman Indonesia juga

yang suka main bola dan kepikiran lah bikin wadah yang non-formal, maksudnya

yang biar semua orang bisa main yang entah bapak-bapak, yang entah mas-mas, yang

sekedar cuman cari hiburan lah, nggak, nggak serius gitu. Jadi biar ngisi waktu

sama sosial ketemu teman-teman, ngobrol, cari-cari info gitu.

Sudah berapa tahun jadi Kemukus ini terbentuk?

Seingat saya tuh 2019 ya. Seingat saya karena kami meneruskan teman yang

berinisiatif sejak awal itu, terus mewujudkan dengan benar-benar ada Kemukus

-ini. -Dan lokasi Kemukus ini kalau main di mana

-nih di Melbourne-nya? -Kita biasa main di Clifton, Clifton Hill

-di daerah Brunswick. -Ini berarti anggotanya seluruh diaspora

Indonesia boleh bergabung ya, siapa saja ya?

Ya, semuanya boleh termasuk kayak student biasanya, terus spouse, terus WHV juga ada

dari teman-teman yang jaraknya tuh kadang satu jam dari sini mereka naik kereta

cuman pengen main bola bareng Sabtu gitu mungkin memang hobi gitu ya. Yang city

pasti banyak anak-anak S1 gitu-gitu banyak.

Nah sekarang kan nih kita lagi ngobrolin main bola di bulan Ramadhan nih. Ini Mas

-Abi dan Mas Ulil puasa kah? -Insyaallah puasa.

-Kenapa nih tetap main bola sambil puasa? -Kalau saya pribadi yang pertama untuk

refreshing dari dunia perkuliahan ya karena di perkuliahan itu kan sangat

intens dan sangat cukup stressful juga. Jadi kadang pengen nih kayak bersosial

dengan teman-teman Indo gitu. Kita bisa ngomong bahasa daerah juga dan di sini

saya juga mengajak keluarga, saya mengajak anak-anak saya jadi kita bisa kumpul

bersama orang-orang Indonesia. Jadi kayak stress release lah untuk saya pribadi main

bola ini gitu. Selain juga tentu terkait dengan faktor kesehatan juga.

Nah, ini ada strategi khusus nggak nih supaya kuat tetap di lapangan?

Ya karena kita mainnya fun football ya, jadi kayak cuma lima menit stop, terus--

ya maksudnya nggak, nggak terlalu harus fokus banget, yang penting fun-nya, yang

-penting itu fun-nya. -Betul, kumpul-kumpulnya.

Kumpul-kumpulnya. Jadi nggak harus kita full empat puluh lima yang full itu, yang

penting kita main, lima menit berhenti, lima menit berhenti nggak apa-apa.

-Kita bukan PSSI. -Kita bukan PSSI. [tertawa]

Ini sangat istimewa sih karena tetap melanjutkan main bola. Jadi kan semuanya

-berpuasa atau nggak semua puasa? -Nggak semua yang berpuasa karena ada

teman-teman yang non-muslim juga ikut. Maksudnya kayak yang pasti kami tahu itu

ada teman-teman dari Bali yang lumayan banyak juga yang ikut main bola yang

mereka semangat banget setiap satunya juga. Jadi ya muslim ada, non-muslim ada

juga, jadi nggak semua puasa. Makanya kami membuat yang khusus untuk bulan puasa ini

agak mepet ke maghrib. Jadi kita kesepakatan dari semua teman-teman yang

non-muslim pun sepakat bahwa oke mainnya agak sore biar teman-teman yang puasa bisa

-ngikutin. -Dan berarti nih biarpun puasa kalian tetap

semangat untuk menjaga kesehatan dengan berolahraga begitu ya?

-Betul. -Buat Anda pribadi nih, apa makna Ramadan

di perantauan? Apakah justru terasa lebih dalam ketika jauh dari keluarga besar

-begitu? -Kalau saya pribadi betul karena semarak

Ramadan di Indonesia tuh sangat meriah ya Mbak ya. Apalagi kita ngabuburit bareng,

tarawih bareng, dan itu hampir di-- rata di semua daerah. Sedangkan di sini kita

bisa dikatakan sebagai minoritas. Jadi kayak suasana Ramadan itu benar-benar kita

maknai betul-betul tuh Mbak. Jadi karena kita sebagai minoritas jadi kita itu

sangat bersyukur gitu masih bisa melaksanakan Ramadan dan kita di sini bisa

bermain bola bareng. Nah di situlah esensinya dari main bola di sini tuh Mbak.

Literally dua belas tahun saya nggak

pernah puasa di Indonesia. Sejak 2013 saya keluar dari Indonesia, sampai sekarang

tuh setiap puasa dan lebaran itu selalu di luar negeri. Cuman terbantunya karena ada

komunitas-komunitas muslim di Melbourne kayak MICV, terus masjid-masjidnya yang

selalu mengadakan buka bersama di weekend. Ya kami datang buka bersama di sana.

Kebetulan ini hari Sabtu juga karena kalau di sab-- hari Minggu, karena Sabtu

kemarin di MICV Surakita ngadain buka bersama. Jadi Sabtu yang kemarin kami ke

sana, terus Minggu baru main bola barengnya.

-Menunya Indonesia. -Menunya Indonesia itu yang penting tuh

-karena sebagai bukan kopi- -Lidah Jawa.

Lidah Jawa. [tertawa] Jadi selalu merindukan masakan-masakan Indonesia.

-Betul. -Tapi kenapa pilih bola untuk olahraga di

saat Ramadan? Kenapa misalnya bukan lari atau bulu tangkis atau gimana?

Karena yang pertama sepak bola itu kan salah satu olahraga yang paling favorit di

Indonesia. Jadi kayaknya semuanya itu hampir bisa paling nggak nendang bola. Kan

kita biasa main di jalan, di gang gitu kan. Jadi sepak bola ini kayaknya tuh

paling merakyat lah, semua orang bisa gitu. Terus yang kedua karena ini itu

pertandingan tim Mbak. Jadi semua datang dan kebanyakan memang dua puluh orang.

Tadi Mas Ulil sampaikan ada yang dari Clayton, ada yang dari Werribee misalnya

itu jauh-jauh datang untuk, untuk main bola gitu. Jadi kita silaturahim dan

sepertinya memang bola ini karena dia tim jadi salah satu yang paling cocok dan

karena ini juga favorit juga di Indonesia.

Jadi kan tadi mendengar nih sepertinya nih berarti Kemukus ini selain soal olahraga

nih, apa sih artinya untuk komunitas diaspora Indonesia begitu?

Kalau saya pribadi ya untuk sarana silaturahim ya Mbak ya. Karena tadi

misalnya di Ramadan ini kan di Indonesia tuh semaraknya sangat meriah gitu. Nah di

sini kan Kemukus ini salah satu kesempatan buat kita para diaspora yang ada di

Melbourne ini khususnya untuk kumpul bareng nih Mbak, main bola bareng. Karena

kan Indonesia itu kan salah satu negara yang main bolanya itu sangat favorit gitu

Mbak. Jadi di sini biasanya sekitar dua puluh orang-an datang ke sini kita main

bola bareng, kita bercanda bareng. Nah ini masa-masa atau suasana-suasana inilah

yang kadang itu kita rindukan ketika kitaJauh dari tanah air

Apakah grup ini juga jadi tempat saling support gitu misalnya soal kuliah, kerjaan

-atau kehidupan di Australia secara umum? -Ya betul banget Mbak tentunya misalnya

saya di sini sebagai student itu jadi kayak tempat curhat gitu Mbak kayak aduh

kuliah susah banget ya gimana ya gitu kan di sini kita juga ketemu para senior juga

gitu terus kita juga kasih kayak tips dan trik ke para student yang baru juga ini

jadi tempat ajang ngobrol secara informal itu Mbak dan juga di sini juga kan kayak

Mas Ulil sampaikan itu kan ada kayak para pekerja juga dari WHV dan lain sebagainya

itu juga kasih oh di sini nih ada lowongan pekerjaan dan sebagainya. Jadi ini tempat

ajang ngobrol nggak, nggak hanya untuk main bola aja tapi juga untuk sharing yang

kiranya sesuatu hal yang sangat bermanfaat untuk kehidupan di Melbourne

-ini Mbak. -Dan untuk hari ini apakah ada kegiatan

lain seperti buka puasa bareng atau bagaimana?

Tidak wajib tapi kami sudah, sudah sepakat ya silakan yang mau bawa buat takjil

minimal air minum buat nanti kita karena selesainya itu kemungkinan besar akan pas

maghrib kita pastikan selesai terus habis itu untuk teman-teman yang bawa takjil

bisa saling berbagi lah untuk buka puasa bersama meskipun bukan makanan berat tapi

-setidaknya bisa buat buka takjil. -Mas Abi dan Mas Ulil terima kasih ya sudah

-berbincang dengan SBS Indonesian. -Terima kasih, terima kasih.

Terima kasih banyak, Mbak.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now