Pameran seni cetak grafis "Pasar Malam" kini digelar di Walyalup Fremantle Arts Centre, Perth, menampilkan karya 15 seniman dari Indonesia dan Australia.
Pameran "Pasar Malam" digelar di Walyalup Fremantle Arts Centre, Perth, mulai 9 Mei hingga 8 Agustus 2026.
Sukma Smita, salah satu pendiri dan program director Krack Printmaking Collective, kolektif seni rupa asal Jogja yang menginisiasi pameran ini, mengatakan ide pameran berangkat dari pengalaman pasar malam yang dekat dengan masyarakat di kedua negara.
Pasar malam menurut kami sebagai ide selalu menjadi ruang yang penuh dengan pertemuan, hiburan, jual beli, perdagangan, penuh dengan makanan, kulineran, permainan dan terutama cerita.Sukma Smita, salah satu Pendiri dan Direktur Program Krack Printmaking Collective.
Di balik keramaiannya, kata Smita, tersimpan juga nostalgia, mimpi, dan lapisan masyarakat yang jarang bertemu di tempat lain.
Dari situlah 15 seniman diajak merespons ide pasar malam lewat pengalaman masing-masing, ujar Smita.
Pameran ini menghadirkan 15 karya cetak saring berukuran besar di atas kertas, kata Smita. Karya-karya tersebut dibuat oleh sembilan seniman Indonesia dan enam seniman Australia, katanya. Tiga di antaranya adalah seniman diaspora Indonesia—Leyla Stevens, Ida Lawrence, dan Jumadi, tambahnya.

Salah satu karya berwujud tiga dimensi, yaitu miniatur kertas dari wahana tong setan, permainan pasar malam yang akrab bagi banyak orang Indonesia, kata Smita.
Pada pembukaan, kata Smita, tiga seniman hadir langsung dari Indonesia—Malcolm Smith, Tamarra, dan Rudi Hermawan.
Tamarra memandu sesi karaoke bersama band asal Indonesia, ujar Smita. Esoknya, tambahnya, Tamarra tampil dalam pertunjukan berjalan dari Fremantle Arts Centre menuju pusat kota Fremantle, dilanjutkan perbincangan seniman bersama Rudi dan Malcolm.

Smita berharap pameran ini bisa memperlihatkan sisi lain seni kontemporer Indonesia yang selama ini kerap dipahami lewat gambaran stereotipe, katanya. Ia tidak ingin menjelaskan Indonesia kepada penonton Australia, melainkan membuka ruang percakapan lewat karya, ujarnya.
Pameran ini didukung oleh Visions of Australia, program pendanaan seni pemerintah Australia, serta 16albermarle, lembaga seni di Sydney.
Dukungan itu membawa unsur diplomasi budaya, meski bukan dalam bentuk kerja sama formal antarnegara, kata Smita. Sejumlah perwakilan kedutaan diundang hadir, berbaur dengan seniman dan masyarakat, bahkan ikut bernyanyi saat karaoke di malam pembukaan, ujar Smita. Ia menyebutnya sebagai bentuk "soft diplomacy" lewat praktik seni.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesia.





