Pendengar, sebuah kolaborasi antara
Australia dan Indonesia di bidang
kesehatan digital telah dilangsungkan.
Sembilan tenaga ahli kesehatan senior
Indonesia melalui program Australia Awards
Fellowship telah bekerja sama dengan para
peneliti dari Monash University untuk
mengembangkan sebuah toolkit baru bernama
VDHIC atau Value Based Digital Health
Innovation Canvas. Nah, sebelum kita
membahas tentang apa toolkit atau alat
digital yang telah dibuat ini dan apa
fungsinya, mari saya perkenalkan dulu dua
narasumber yang sedang bersama saya, yaitu
Profesor Juliana Sutanto dan Bapak Ahmad
Hidayat. Halo-halo, apa kabar?
-Baik, baik, Mbak.
-Baik, baik, Bu.
Nah, sebelum kita masuk ke topik utama,
saya ingin pendengar SBS Indonesian
mengenal dulu nih Profesor Juliana dan Pak
Ahmad. Jadi boleh diceritakan sedikit
tentang latar belakang dan peran Anda
masing-masing saat ini?
Ya, kalau saya sekarang di Faculty of IT
di Monash University di
Australia. Saya profesor di bidang
Information Systems, departemen saya Human
Center Computing dan saya sebagai
researcher itu Sociotechnical dan untuk
posisi administrasi saya sekarang
Associate Dean of International dari
-Faculty of IT.
-Kalau saya sendiri adalah sehari-hari saya
adalah konsultan manajemen kesehatan.
Kebetulan saya juga adalah ketua dari
Technical Working Group Satu Sehat di mana
Technical Working Group ini dibentuk oleh
Kementerian Kesehatan yang terdiri dari
para ahli, akademisi, profesional,
kemudian asosiasi profesi, juga lembaga
internasional yang memfasilitasi
implementasi dan pengembangan sistem
-informasi kesehatan nasional.
-Jadi nih, apa itu sebenarnya VDHIC itu ya?
Jadi VDHIC itu kependekan dari Value Based
Digital Health Innovation Canvas. Ini
adalah canvas atau blueprint yang bisa
digunakan oleh inovator ataupun oleh
pemerintah dan vendor untuk pemetaan dari
pathway atau perjalanan dari Digital
Health Innovation dan starting point dari
perjalanan ini di Canvas adalah health
challenge atau health needs. Jadi
perbedaannya dengan pendekatan Digital
Health Inovasi yang saat ini adalah kita
bertumpu ke challenge-nya apa dulu,
needs-nya apa dulu, bukan bertumpu ke
teknologi karena pendekatan yang selama
ini dilakukan biasanya tuh tumpuannya
-teknologi.
-Jadi challenge yang ada atau tantangan
yang ada selama ini di Indonesia itu apa
ya?
Di Indonesia saat ini Kementerian
Kesehatan itu sudah menerapkan apa yang
disebut dengan sandbox. Sandbox itu adalah
lingkungan yang aman
yang diberikan kepada para innovator untuk
mengembangkan solusi digital
kesehatannya. Namun demikian, kami melihat
bahwa sandbox yang sudah disiapkan oleh
Kementerian Kesehatan ini perlu untuk
mendapatkan dukungan, yaitu bagaimana para
innovator itu bisa lebih lagi mendapatkan
satu blueprint yang tadi sudah
disampaikan oleh Prof Juliana agar
inovasinya itu bisa mendapatkan panduan
atau arah sehingga nanti bisa memberikan
satu inovasi yang benar-benar bermanfaat
yang sesuai dengan health challenge yang
tadi disampaikan oleh Prof Juliana.
Mungkin bisa dijelaskan terlebih dahulu
siapa saja yang terlibat dalam
-pengembangan toolkit ini?
-Yang terlibat di pengembangan toolkit ini
adalah para fellows dari Australia Awards
Fellowship, sembilan orang fellows dan
juga mentors dari Faculty of IT Monash
University. Jadi kami sebagai mentors
memberikan materi, memfasilitasi
kunjungan-kunjungan ke rumah sakit atau ke
dinasnya Victoria di sini dan kemudian
para fellows ini brainstorm together untuk
menciptakan Value Based Digital Health
Innovation Canvas ini yang sesuai dengan
-kebutuhan di Indonesia.
-Saya tambahkan sembilan fellows ini
terdiri dari lima orang dari di level
pemerintah pusat di Technical Working
Group Satu Sehat dan juga ada representasi
dari Kementerian Kesehatan dua orang,
satu orang dari Pusat Data dan Teknologi
Informasi dan satu orang lagi dari Badan
Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Dan empat
orang fellows adalah para klinisi yang
berasal dari Indonesia Timur, tiga orang
dari Manado dan satu orang dari Gorontalo,
-Sulawesi.
-Berarti ini toolkit-nya khusus akan
-digunakan di Indonesia begitu ya?
-Saat ini iya. Memang ini adalah satu
bentuk kolaborasi dari Australian Awards
Fellowship di mana kami mengikuti program
masterclass dilakukan oleh Faculty of IT
Monash University. Kemudian kami melakukan
kunjungan-kunjungan tadi seperti Prof
Juliana sampaikan. Kemudian kami
mensintesis dan mengkontekstualisasi apa
yang menjadi kebutuhan di Indonesia dan
Value Based Digital Health Innovation
Canvas ini memang diharapkan spesifik
-untuk kebutuhan Indonesia.
-Dan ini siapa yang mendanai?
Yang mendanai adalah Australia Awards
Fellowship. Jadi dari Australia DFAT
-yang mendanai ini.
-Sebagai hubungan bilateral begitu ya,
-Prof?
-Ini sebenarnya Australia Awards Fellowship
Jadi ini adalah funding yang ditawarkan
untuk kita apply.
Nah, jadi waktu Australia Awards
Fellowship ini dibuka, waktu itu saya
berkomunikasi dengan Pak Ahmad untuk
menjabarkan apakah pertama apakah ada
ketertarikan untuk kita masukin proposal
ke DFAT untuk Australia Awards Fellowship.
Kemudian kita juga berdiskusi mengenai
apa kebutuhan yang dibutuhkan di Indonesia
yang kita bisa jabarkan di proposal ke
Australia Awards Fellowship ini. Jadi ini
-prosesnya itu competitive process.
-Dan ini kan toolkit ini menyebutkan lima
tujuan utama begitu ya, kesehatan
populasi, pengalaman pasien, kepuasan
tenaga kesehatan, efisiensi biaya, dan
kesetaraan kesehatan, betul ya?
Iya betulMengapa nih kelima hal ini yang
dipilih?
Ya jadi kalau kita lihat di Value Based
Digital Health Innovation Canvas itu di
bagian atasnya ada governance spine
yang memberikan arahan kepada para
innovator agar ketika memulai inovasi para
innovator sudah mempertimbangkan aspek
regulasi, aspek clinical, kemudian
teknologi dan juga data. Tapi yang kita
harapkan adalah sebagai output daripada
solusi inovasinya itu adalah memberikan
value yang lima yang tadi Ein sudah
sebutkan. Kita harapkan setiap inovasi
berdasarkan health challenge yang ada itu
memang mempunyai output yang memang
berdasarkan value berbasis nilai. Nah,
kita tidak harapkan adalah inovasi itu
hanya berbasis untuk teknologi yang maju
atau canggih tapi kemudian kita kehilangan
arah ke mana value yang akan diperoleh
-dari teknologi ini.
-Mungkin saya tambahkan ya. Jadi untuk
Digital Health Innovation itu tidak semua
Digital Health Innovation itu harus cover
semua lima values tersebut. Jadi bisa aja
ada Digital Health Innovation Canvas yang
bertumpu ke dua dari lima values. Gak
apa-apa, tapi yang paling penting mereka
tumpuannya adalah value dan itu juga
sebenarnya ini canvas-nya juga bisa
digunakan oleh Kemenkes untuk melihat
Digital Health Innovation selama ini di
Indonesia dihubungkan dengan value itu ada
gaps di mana. Mungkin banyak banget
Digital Health Innovation Canvas yang
berkontribusi ke beberapa value tertentu,
tapi mungkin ada beberapa value yang agak
kurang untuk di-mapping ke inovasi-inovasi
-sekarang ini.
-Ya, sehingga bisa diperkuat lagi kalau
memang ada value yang mungkin bisa
dikembangkan atau dieksplor lebih lanjut.
Baik, tapi mungkin saya agak mungkin juga
pendengar mungkin agak kurang mengerti
kalau tidak ada contoh konkrit. Boleh
tidak nih Profesor Juliana atau Pak Ahmad
menjelaskan misalnya katakanlah ada rumah
sakit bisa menggunakan toolkit ini gitu ya
untuk menyelesaikan masalah mereka yang
hadapi sehari-hari itu bagaimana ya
bentuknya? Iya mungkin saya bisa
memberikan dua contoh konkrit yang tadi
kan Pak Ahmad mengatakan bahwa ada
beberapa value yang datang dari Indonesia
bagian timur dan mereka menggunakan canvas
ini untuk real health challenge yang
mereka hadapi. Jadi misalnya ada health
challenge untuk neonatal, jadi bayi-bayi
yang lahir prematur terus di rumah sakit
kemudian balik ke rumah. Nah, itu tuh ada
loss of komunikasi dari bagian dokter
kesehatan ya untuk kesehatan bayi ini
begitu dia sudah pulang ke rumah. Jadi itu
health challenge-nya di situ. Nah, jadi
health challenge-nya itu dan kemudian
value itu menggunakan canvas ini untuk
men-design apa possible solution untuk
address health challenge tersebut dan
value-nya dari possible solution itu
tentunya adalah dari lima value itu adalah
yang patient health, patient experience
dan juga secara besar itu bisa meng-cover
juga population health. Ada juga contoh
yang kedua mungkin Pak Ahmad bisa share
-contoh yang kedua.
-Ya jadi ini contoh dari kolega dokter
spesialis saraf yang domisilinya di
Gorontalo. Mereka melihat ada satu
kebutuhan bagaimana pasien stroke yang
misalnya terjadi serangan strokenya di
rumah kemudian bisa segera untuk bisa
ditangani di rumah sakit. Penanganan
stroke itu perlu ditangani dengan cepat
dan kita harapkan informasi yang diperoleh
ketika pasien diketahui mendapatkan
serangan stroke itu sudah bisa disampaikan
ke rumah sakit sedini mungkin sehingga di
rumah sakit bisa membantu ketika
mobilisasi pasien dari rumah ke rumah
sakit tapi juga di rumah sakit bisa
dipersiapkan segala hal yang dibutuhkan
untuk penanganan pasien lebih lanjut
ketika pasiennya sampai di rumah sakit.
Nah, hal-hal ini bisa dipenuhi dengan
solusi digital hanya kita perlu
betul-betul meletakkan health challenge
ini secara jelas betul sehingga nanti
ketika kita mengembangkan teknologinya
kita sudah melihat apa saja yang perlu
diperhatikan ketika membangun solusi untuk
-inovasi teknologinya.
-Wah ini sepertinya memang sangat penting
sekali ini toolkit ini ya. Ini akan
menjadi breakthrough ke depannya. Tapi ada
yang menarik nih, tadi kan Pak Ahmad
sempat bilang juga nih ada perwakilan dari
Indonesia Timur. Mengapa penting dari
Indonesia Timur itu untuk berada di dalam
-proses kolaborasi?
-Ya tadinya kita ini hanya lebih kepada
persyaratan dari fellowship program ini
bahwa harus ada representasi daripada
Indonesia Timur. Namun dalam perjalanan
kami selama program fellowship kami
melihat ternyata value-nya sangat penting
karena kita tidak boleh hanya melihat dari
satu sisi karena Indonesia sangat luas
dari pertimbangan geografisnya dan juga
ketersediaan teknologi. Jadi kita harus
melihat sejauh mana teknologi yang
tersedia di daerah-daerah yang katakan
tiga T gitu ya, terpencil, terluar dan
tertinggal ya. Nah, di mana teknologi di
situ mungkin tidak tersedia jaringan
internet yang memadai atau perangkat
komputer yang canggih begitu ya. Nah,
semua ini harus menjadi pertimbangan kita
dan itu salah satu value daripada Value
Based Digital Health Innovation Canvas
adalah health equity ya. Jadi ketika kita
mengembangkan inovasi kita harus
mempertimbangkan health equity. Nah, kita
harus melihat Indonesia ini sebagai negara
kepulauan yang sangat luas, kita harus
mempertimbangkan itu semua dan keberadaan
teman-teman dari Indonesia Timur dan
program fellowship ini sangat membantu
kami untuk melihat aspek-aspek pemerataan
health equitykarena digital health di
Indonesia ke depannya
Jadi ke depannya yang diharapkan kesehatan
masyarakat Indonesia itu bisa meningkat
-lebih jauh ya
-Ya kita lihat saat ini mungkin digital
health hanya di daerah-daerah perkotaan
gitu. Tapi kita juga dengan melalui
program fellowship ini kemudian kami mau
mengembangkan VDHIC ini ada hal-hal yang
perlu kita lihat lebih jauh yaitu health
equity dan itu menjadi hal yang sangat
penting untuk bagaimana digital health
bisa memberikan manfaat yang lebih luas
-kepada masyarakat di Indonesia
-Bagaimana kalau kita berbicara tentang
keamanan dan privasi? Bagaimana memastikan
bahwa inovasi digital tetap aman dan
-sesuai regulasi?
-Ya itu hal yang sangat penting yang kami
pikirkan dari awal tentang keamanan data
dan perlindungan data pribadi yang saat
ini di Indonesia sudah mulai didorong
melalui Undang-Undang Perlindungan Data
Pribadi di mana itu harus menjadi
perhatian kita sehingga itu menjadi bagian
daripada governance spine yaitu
technology governance dan data governance.
Nah kita harapkan para innovator sudah
mempertimbangkan aspek keamanan data dan
perlindungan data pribadi dari awal. Jadi
tidak ketika inovasinya sudah dikembangkan
kemudian baru lihat lagi oh ternyata kami
perlu memperbaiki perlindungan data
pribadinya misalnya. Nah itu yang perlu
dipertimbangkan dari awal. Mungkin ketika
tahap awal atau saat dini ya dalam bentuk
ide mungkin belum terbayang itu apa yang
perlu mereka lakukan. Tapi paling tidak
dengan adanya governance spine di VDHIC
ini para innovator dapat terbantu untuk
bisa mengantisipasi ada hal-hal yang perlu
mereka pertimbangkan ketika mengembangkan
inovasi digital kesehatannya
Nah boleh mungkin diceritakan sedikit nih
kepada pendengar bagaimana sih proses
kolaborasinya itu seperti apakah Profesor
Juliana terbang ke Indonesia atau Pak
Ahmad terbang ke sini atau bagaimana atau
online nih?
Jadi tadi yang saya katakan awalnya juga
bahwa Australia Awards Scholarship ini kan
bersifat kompetitif. Jadi kita sudah
berkolaborasi dari awal, dari awal
perumusan proposal dan kemudian kami
berhasil mendapatkan Fellowship Awards ini
dan kemudian aktivitasnya itu awalnya itu
semua fellow itu datang ke
Melbourne. Kami memberikan materi di
Melbourne dan juga kami membawa fellows
untuk visiting, visiting
hospital-hospitals dan mereka juga visit
juga semacam dinas kesehatannya di
Victoria. Jadi mereka bisa mendapatkan
knowledge dan insights dari-- bukan hanya
dari kami tapi juga dari orang-orang yang
dari hospital ataupun di government di
Victoria sini untuk mengetahui digital
health innovation-nya itu apa dan proses
mereka itu apa. Jadi kira-kira seperti itu
-proses dari fellowship tersebut
-Tim dari Monash juga datang ke Indonesia
untuk melihat bagaimana perkembangan
kesehatan digital di Indonesia dan kami
mengunjungi ke Kementerian Kesehatan
kemudian juga ke beberapa fakultas
kesehatan, keperawatan, kedokteran,
kemudian beberapa rumah sakit dan juga
mengunjungi BPJS Kesehatan. Nah dari
kunjungan itu kami bersembilan bersama
dengan para pakar di Faculty of IT Monash
University kita mendiskusikan apa yang
terbaik dan kemudian kami bisa merumuskan
tentang Value-Based Digital Health
Innovation Canvas ini sebagai output dari
program fellowship
-Berapa lama seluruh prosesnya?
-Empat bulan
Jadi ini pertanyaan terakhir saya, apa nih
langkah konkret selanjutnya dari
Kementerian Kesehatan untuk bisa
mengimplementasikan VDHIC ini?
Kementerian Kesehatan sedang-- saat ini
sedang berlangsung program sandbox dalam
beberapa bulan ke depan ini ada tiga
sandbox yang saat ini dijalankan oleh
Kementerian Kesehatan yaitu Innovation
Sandbox, Industrial Sandbox dan Regulatory
dan Value-Based Digital Health Innovation
Canvas ini digunakan sebagai tools untuk
para innovator dan regulator untuk melihat
bersama-sama tentang apa inovasi yang
sedang dikembangkan dan juga kemarin kami
diberikan kesempatan untuk
mempresentasikan Value-Based Digital
Health Innovation Canvas ini kepada para
implementing partner Kementerian Kesehatan
yang menjalankan sandbox ini
Profesor Juliana, Pak Ahmad terima kasih
ya atas waktunya sudah berbincang dengan
-SBS Indonesian
-Sama-sama
Sama-sama senang sekali bisa berdiskusi.
Makasih.
END OF TRANSCRIPT