Peter Susanto, mahasiswa S2 Kedokteran termuda di kampusnya dan UNICEF Young Ambassador untuk Northern Territory, meraih banyak prestasi. Bagaimana Peter bisa sampai di titik ini dan bagaimana pengalamannya menjadi korban perundungan karena usia mudanya?
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa S2 Kedokteran, Peter Susanto tetap menyempatkan waktu untuk hal-hal yang ia sukai––bermain piano, menonton YouTube, mendukung tim bulutangkis Indonesia, dan membaca novel. Namun, perjalanan hidupnya jauh dari biasa.
Di usia 17 tahun, Peter menerima penghargaan Northern Territory Young Australian of the Year 2024. Pemuda berdarah Indonesia ini lulus SMA di usia 14 tahun setelah melompat tiga tingkat kelas, kemudian memulai kuliah kedokteran di usia 15 tahun. Kini di usia 19 tahun, ia telah menyelesaikan Bachelor of Clinical Sciences dengan IPK sempurna (7 dari 7) dan sedang menempuh pendidikan S2 kedokteran di Charles Darwin University.
Di luar kelas, Peter juga meraih juara untuk National Australian Brain Bee Challenge 2019–sebuah kompetisi neuroscience–dengan dirinya menjadi pemenang pertama dari NT, dan medali perunggu di International Brain Bee Olympiad 2021––medali pertama untuk Australia sejak 2015.
Pengabdian masyarakat juga menjadi bagian penting dalam hidup Peter. Sejak 2015, ia dan adiknya menggalang dana untuk berbagai badan amal melalui penjualan makanan Indonesia. Kini, ia menjabat sebagai UNICEF Young Ambassador untuk Northern Territory.
Di balik setiap keputusan dalam perjalanan akademiknya, kata Peter, ada orang tua yang mengadvokasi akselerasi pendidikannya, mendukungnya sepanjang masa belajarnya, dan memprioritaskan kesejahteraannya.
SBS Indonesian berbincang dengan Peter Susanto tentang bagaimana ia meraih seluruh pencapaiannya, tantangan perundungan yang pernah dihadapinya sewaktu masih SD sebagai siswa termuda, peran keluarga dalam kesuksesannya, dan rencana masa depannya untuk berkontribusi bagi Indonesia dan Australia.




