Industri konstruksi sedang menghadapi krisis yang di sebabkan oleh runtuhnya beberapa perusahaan bangunan besar dalam beberapa bulan terakhir. Kekurangan tenaga kerja dan meningkatnya harga material disebut sebagai faktor utama keruntuhan itu. Namun, ada juga seruan untuk mereformasi kontrak bangunan saat ini, yang menurut beberapa pakar industri sudah ketinggalan zaman.
Industri bangunan telah terpukul dalam beberapa bulan terakhir, dengan runtuhnya beberapa perusahaan besar termasuk salah satu perusahaan bangunan terbesar di Australia, Porter Davis.
Ini terjadi hanya beberapa jam sebelum perusahaan infrastruktur Lloyd Group, yang berspesialisasi dalam proyek pemerintah negara bagian dan lokal, juga runtuh.
Runtuhnya Porter Davis menyebabkan 1.700 properti dalam bahaya di seluruh Victoria dan Queensland, sementara status lebih dari 50 proyek di bawah Lloyd Group masih belum jelas.
Data dari Komisi Sekuritas dan Investasi Australia ((ASIC)) menunjukkan sejauh ini pada tahun keuangan 2022 hingga 2023 terjadi hampir 1.500 ((1495)) perusahaan di sektor konstruksi yang telah dilikuidasi, di bawah pengelolaan kurator, atau administrasi.
Ini dibandingkan dengan total 1.284 untuk seluruh tahun keuangan 2021-22.
Sejumlah faktor yang harus disalahkan atas keruntuhan berulang kali, tetapi apa artinya bagi mereka yang memiliki proyek yang belum selesai di bawah perusahaan ini?





