


Rainbow Miniature series - a book abaout Jayanto Tan journey by Harold Legaspi Credit: Jayanto Tan


Speaker 1
Bersama saya di jalur saat ini, Jayanto Tan.
Selamat pagi, Pak.
Speaker 2
Selamat pagi.
Speaker 1
Saya mendengar Bapak telah merilis salah satu buku.
Betul.
Buku ini tentang apa, Pak?
Speaker 2
Sepertinya buku ini menceritakan tentang perjalanan.
Sepertinya journey dari kampung Halaman sampai ke Sydney,
Australia.
Jadi penulisnya ini, Harol Legasvi, dia menarik.
Dia ingin menelitih bagaimana tentang kehidupan saya, terutama
tentang ibu saya.
Juga dengan atraksi saya di sini.
Speaker 1
Apakah yang menyebabkan Anda setuju untuk membuat buku
ini?
Speaker 2
Oh, bagus sekali pertanyaannya itu.
Memang betul, ya.
Saya juga ragu waktu itu, ketika penulisnya mengusulkan,
oh, saya ingin membuat sedikit cerita tentang kamu.
Saya juga waktu itu masih begitu ragu.
Saya berpikir, kan juga ada baiknya sharing saya
punya journey ke Sydney.
Jadi setelah saya memikirkan lebih dalam lagi, saya
menerima usul dia begitu.
Dia ini juga penulis yang sangat bagus karena
saya sudah meriset dia.
Dia juga ada berapa banyak buku di library.
Karena dia topiknya juga tentang diaspora.
Dia itu, penulisnya itu adalah asli dari orang
-orang Filipina.
Dia juga ingin mengeluaskan komunitinya dengan Asian Diaspora
di Australia.
Jadi saya pikir, oke dah, saya menerima usul
dia untuk menulis.
Sepertinya journey kehidupan saya dari Kampung Halaman sampai
ke Sydney.
Speaker 1
Oke, dalam buku ini, apa yang dibicarakan tentang
diri Anda?
Apakah hanya perjalanan itu atau juga karya-karya
Anda?
Speaker 2
Oke, di buku ini Pak ya, penulisnya ini
itu sangat sensitif sekali.
Tentang kehidupan seseorang yang dia merasa itu saya
itu, heritagenya itu sangat berbeda dengan orang lain.
Karena berbeda, menurut dia itu ya, menurut penulisnya
itu, kayaknya dia ingin melihat atau mendalamin bagaimana
kehidupan orang yang menurut dia itu berbeda.
Kenapa saya bilang berbeda?
Karena saya lahir di tempat yang tidak memungkinkan
sebagai diri saya sendiri.
Jadinya dia itu melihat kenapa saya di Australia
begitu.
Jadi dalam buku ini, dia itu menulis tentang
dia punya ide dengan art saya.
Juga dia ingin mendalamin atau meresearch dari mana
asal-usul ibu saya.
Terus juga ada beberapa contribution dari beberapa penulis
atau guru.
Guru Indonesia, juga ada guru Chinese, juga ada
Filipino.
Jadi dalam buku ini, setelah yang menceritakan tentang
ibu saya, juga tentang art saya dari empat
orang yang berbeda-beda.
Raisnya juga dia menuliskan tentang apa yang diharapkan
di future.
Sepertinya homemaking di Sydney begitu.
Jadi dalam buku ini, sepertinya ada beberapa keempatnya
begitu.
Tidak hanya menuliskan tentang karya saya, juga menuliskan
tentang kehidupan yang tidak dilihat orang lain, tapi
men-challenge untuk kehidupan di masa depan.
Buat generasi yang mau study atau anak-anak
sekolah gitu yang ingin mendalamin kehidupan diaspora Asia
di Australia begitu.
Jadi dalam buku ini sebenarnya adalah kisah pribadi
keluarga Anda dan isu sosial.
Betul sekali, Pak.
Begitulah sepetiknya.
Jadi buku ini menceritakan tentang yang sangat pribadi
sekali yang tidak pernah diceritakan.
Terus sekarang mau dipubliskan, men-share cerita ini
yang dari pribadi, membuat orang akan memahami bahwa
kita itu sebetulnya semua adalah manusia, sama saja.
Jadi sepertinya tujuan buku ini menunjukkan kita itu
berbeda-beda, tapi kita satu gitu, Pak.
Jadi kita itu men-expose tentang keluarga saya
yang pribadi itu, terutama ibu saya.
Karena ibu saya itu adalah seorang yang pertani,
juga orang yang zaman-zaman dulu, zaman-zaman
Belanda, zaman-zaman Jepang, mereka itu tidak dikasih
edukasi.
Jadi mereka ini sepertinya kayaknya hidupnya sudah begitu
-begitu saja, jadi tidak ada pengetahuan.
Jadi ibu saya ini adalah orang yang, apa
istilahnya ya, ada tantangan dengan delaksia.
Jadi ibu saya ini nggak bisa membaca, nggak
bisa menulis.
Jadi apa-apa itu melalui simbol, melalui komunikasi.
Juga, karena dia kan dari North Sumatera ya,
juga ada mix-nya dengan Fujian Province.
Jadi bahasa dia itu di rumah itu bahasa
-bahasa daerah yang sudah dicampur.
Sepertinya dia berbahasa Melayu, berbahasa Hokkien, juga ada
berbahasa sedikit Batak.
Karena dia sudah mix di situ, daerah region
itu.
Terus saya hanya mengeruset itu.
Karena waktu kecil saya juga kaget.
Karena kan sekolah, saya kan ke sekolah.
Jadi waktu di sekolah kok saya dengar orang
berbahasanya berbeda.
Karena kita semua di sekolah kan berbahasa Indonesia.
Tapi kalau di rumah saya lihat ibu saya
berbahasanya berbeda.
Jadi dari situ saya mulai mengerti, oh, kayaknya
kita orang berbeda begitu.
Jadi saya melihat kembali masa-masa kecil saya
itu, terus ingin membahaskan, terus mendokumentasikan ibu saya
siapa itu orangnya.
Jadi di buku ini ada sedikit biografi tentang
ibu saya.
Speaker 1
Dalam proses menulisnya ini berapa lama, Pak?
Speaker 2
Oh, waktu dia mengusulkan saya itu kayaknya satu
tahun setengah gitu ya.
Terus saya kan belum langsung menerima usulnya penulis
itu.
Terus kita memulai riset juga.
Saya memulai riset juga ke koko saya, ke
cicik saya di Sumatera.
Saya ingin tahu sedikit bagaimana storenya begitu.
Juga saya ingin surat-surat ibu saya ada
nggak begitu.
Ternyata mereka sudah buat 45 tahun kemudian.
Jadi seperti surat ini surat apa gitu.
Saya juga kurang mengerti.
Jadi kayaknya kita membuat ini setahun setengah deh
gitu, Pak ya.
Karena kan saya juga ingin akurat gitu ya.
Tetangga meninggalnya benar, nama juga benar.
Jadi di story ini, di buku ini yang
di-capture ini, dia bilang itu in memory
of mother.
Itu semua dari dokumentasi yang saya terima dari
saya punya saudara di Sumatera.
Terus menceritakan bagaimana dia bisa menghidupkan anak dia
yang 13 orang, seorang diri.
Karena dia, ayah saya meninggal waktu saya berumur
5 tahun.
Ibu saya waktu itu berumur 43 tahun.
Jadi dia itu widow, umur sudah 43 tahun.
Tapi dia bisa membesarkan anaknya yang 13 orang.
Speaker 1
Jadi judul bukunya apa, Pak?
Speaker 2
Judul bukunya sepertinya dia cuma nama saya aja
gitu.
Karena dia itu, idenya itu membuat mini-seri
gitu.
Jadi di depan coveritu, Jayanto Tan, Rainbow
Miniature Series.
Jadi di dalam buku itu tuh ada banyak
bab gitu ya.
Yang judul masing-masing.
Kalau orang ingin membaca hanya satu bab saja,
juga ada di dalamnya itu, di kontennya gitu.
Jadi dalam konten yang in memory of mother
itu, menceritakan tentang bagaimana ibu saya waktu zaman
-zaman Belanda, sampai dia meninggal umur 71.
Jadi disitu diceritakan bagaimana pengalaman ibu saya itu,
sampai dia meninggal.
Speaker 1
Dalam buku itu apakah ada juga bab tentang
karya-karya Anda?
Speaker 2
Menurut saya itu interesting dengan karya-karya saya.
Dari pertama kali saya membuat karya itu, waktu
jaman-jamannya pandemiknya, jaman-jamannya virus COVID-19,
sampai sekarang gitu.
Jadi dalam buku itu ada yang karya saya
yang pertama kali saya pamerkan di University of
Sydney.
Nama itu sepertinya, Ritual My Beautiful Curse.
Atau saya reketin namanya Cap Gomez.
Waktu itu karya saya yang pertama kali, saya
juga sedikit khawatir, karena saya tidak begitu yakin
seluruh penonton kalau mengerti apa itu bahasanya.
Karena saya juga berbahasa yang campur-campur, karena
saya dari Sumatera, saya berbahasa yang sudah diadaptasi
dengan bahasa Indonesia.
Jadi itu karya saya yang pertama.
Terus karya saya yang kedua, waktu saya lagi
pameran di Brisbane, saya kasih judul Ritual Cheng
Beng.
Ritual Ritual Cheng Beng.
Juga saya sedikit khawatir, karena saya ingin berbagi
cerita keluarga saya di Brisbane.
Lagi, bahasanya ada sedikit dari keluarga.
Terus bahasa Inggris, ada bahasa Indonesia.
Terus dia juga tertarik dengan karya saya yang
tidak lama ini.
Cuma yang kayaknya tahun lalu ada dua karya
yang dia suka itu.
Yang pertama di Sydney, di Semen Fondue, namanya
Tea Ceremony in this Little Garden.
Jadi karena ini juga menjelaskan, waktu ibu masih
ada, jadi kita kumpul bersama, minum teh, seperti
apa namanya?
Lesehan gitu ya, yang duduk di lantai gitu.
Orang berkumpul, kita minum, kita ngobrol, kita gossiping,
we're very cool like that.
Jadi orang ini semuanya bersama, sambil berbahagia begitu.
Terus karya yang terakhir ini adalah karya yang
di Melbourne, yang kemarin saya buat namanya Fairytale
from this Little Garden.
Jadi karya ini karya yang paling baru, yang
idenya itu menggabungkan dari Sungai Daly sampai ke
Cook Rivers.
Karena saya tinggalnya dekat Cook Rivers di sini,
menceritakan bagaimana perjalanan itu melalui media, terus juga
melalui pandan.
Pandan kan di Sumatera Utara itu, atau di
negara Asia juga sangat autentic.
Jadi bagi Australian, mungkin satu hal yang medium
yang baru, jadi saya mengekspresikan melalui media tanpa
menjelaskan lebih detail begitu.
Itu yang karya yang empat itu, yang penulisnya
sangat berkenan, mendetailkan maksud karya itu apa gitu.
Jadi banyak penjelasannya, hanya di summary-nya saja,
tapi juga detail tentang karya itu.
Juga karena itu ditranslesikan dalam bahasa Indonesia, juga
bahasa romantis Mandarin.
Bab-bab spesial apa lagi yang ada di
situ?
Yang terakhir kali, bab-nya itu sepertinya sangat
bagus kalau mau dibaca, namanya Homemaking with Immortals.
Saya waktu membaca juga kaget, ini seru banget,
ini namanya Homemaking with Immortals.
Menurut saya itu sepertinya kehidupan kita itu seperti
lingkaran.
Bagaimanapun kita itu sepertinya nggak akan dilupakan.
Kayaknya menurut saya begitu.
Immortals kan bahasa yang sangat gimana.
Penulisannya sangat romantis sekali.
Mengubah tentang bagaimanapun pahitnya kehidupan kita zaman-zaman
dulu itu, kayaknya di masa depan itu pasti
cerah.
Karena kita kan belajar dari masa-masa lalu.
Ide-nya kayaknya seperti begitu.
Jadi menciptakan tempat yang harmoni, tempat yang baru,
tapi tidak melupakan masa-masa lalu.
Menurut saya sangat bagus sekali karena sepertinya penulis
ini bisa membaca pikiran saya.
Karena menurut praktis saya itu yang saya lakukan
itu sepertinya saya berpikir sejauh-jauh ini kamu
pergi, tapi harus tetap ingat sama orang tua
kamu walaupun mereka tidak ada.
Jadi kayaknya penulis ini juga bisa membaca saya
punya pikiran.
Jadi menurut saya wow ini hebat sekali.
Ada mistik-mistiknya begitu.
Jadi saya kagum sekali.
Waktu membaca juga sangat emosional karena buku ini
ide-nya itu tidak hanya memberikan orang pelajaran
juga memahami tentang kehidupan.
Jadi sangat bagus buat para murid-murid atau
siswa-siswa yang ingin mendalami kehidupan juga bercerita
tentang Indonesia yang zaman-zaman Belanda, zaman-zaman
Jepang itu tidak menilai gitu ya.
Seperti yang saya bilang tadi itu kita itu
walaupun kita kelihatan berbeda kita adalah sama gitu
loh.
Speaker 1
Oke, untuk kedepannya apa yang Anda harapkan dari
buku ini?
Speaker 2
Ini buku ini ada di library di University
of Sydney, ada di library di State Library,
juga dia ada di National Library of Australia,
ada kemungkinan ada di City of Sydney Library,
juga ada di Museum of Brisbane, ada juga
kemungkinan di Bathurst, mungkin juga nanti di University
Council Library.
Jadi harapan saya ini buku ini mungkin menyebar
ke universiti atau library-library sehingga orang bisa
membaca tanpa membeli gitu loh.
Jadi orang bisa mempelajari tentang buku ini yang
memberi sebuah manfaat buat Australia.
Aku harapkan mungkin nanti ditranslate di Indonesia jadi
bisa masuk ke Gramedia Book ya.
Seru ya.
Jadi ya begitulah sepertinya.
Jadi saya juga sangat terharu ya bisa tercapai
ada buku di Australia jadi sebagaimanapun jadi saya
ada dokumentasinya di Library Australia tapi aku mengharapkan
juga nanti ada kemungkinan ditranslate di Indonesia mungkin
masuk di library di Indonesia, di Jakarta, atau
di Sumatera Utara.
Speaker 1
Jadi apa yang Anda harapkan dari pembaca setelah
membaca buku ini?
Speaker 2
Saya mengharapkan setelah orang membaca buku ini akan
mengerti tentang kehidupan orang itu tidak menjudgementalkannya, tidak
menilai orang terlalu cepat seperti orang bilang, don't
judge from the cover.
Karena sepertinya orang, contohnya gitu ya, contoh yang
paling gampang itu orang selalu melihat saya itu
seperti orang Cina.
Tapi mereka tidak menilai bahwa kita juga ada
Indonesian roots.
Karena saya kan lahir di Indonesia dengan mixed
race from my mother.
Ibu saya itu adalah sudah campur dengan orang
Malay, dengan orang Chinese, dengan orang Batak.
Jadi darahnya itu sudah, jadi setelahnya itu, yang
kebanyakan itu kita dengar itu, oh saya kulit
putih, saya kulit coklat latte, saya kulit brown,
saya kulit, apa lagi namanya, kulit hitam.
Jadi menurut saya itu bagaimanapun kalau saya mengekspresikan
melalui warna-warna itu, saya tidak masuk dengan
warna semua itu.
Karena saya itu warnanya sudah berwarna-warna.
Jadi saya itu sepertinya kalau mau di ekspresikan
dengan warna-warna itu, saya itu adalah rainbow
family, rainbow community.
Itulah yang saya, yang saya, apa namanya, yang
saya mengharapkan, orang tidak menjudging terlalu cepat, tapi
analis dulu tentang kehidupan orang itu, bagaimana prinsip
hidupnya.
Jadi tidak menilainya terlalu cepat begitu.
begitu deh Pak.
Ya meskipun kelihatannya Cina, tapi ternyata bukan gitu
ya.
Iya.
Walaupun kelihatan warna saya coklat latte atau bagaimana,
walaupun kelihatan putih atau kelihatannya yellow, atau bagaimana
juga, tapi di dasar itu, bukanlah orang yang
seperti satu warna saja.
Jadi sudah berwarna-warni.
Jadi, mengharapkan untuk generasi muda ke depan itu,
akan menerima, menerima, tidak pasti.
Atau saat ini lagi fokus ke multi-culture.
Jadi kita tidak meng-boxkan satu orang.
Kamu di situ, kamu di situ, kamu di
situ.
Jadi kita bergabung jadi satu, jadi harmoni.
Gitu ide-nya Pak.
Speaker 1
Oke Pak Jayanto, terima kasih atas penjelasannya dan
waktunya.
Semoga bukunya sukses Pak.
Speaker 2
Terima kasih.