Buku yang berjudul "Jayanto Tan - Rainbow Miniature Series" ini bukan sekadar catatan harian, melainkan sebuah riset mendalam mengenai identitas, sejarah keluarga, dan seni yang menjembatani kerinduan akan kampung halaman dengan realitas kehidupan dari seniman Jayanto Tan.
Perjalanan hidup seorang seniman diaspora seringkali menyimpan lapisan cerita yang mendalam, melampaui sekadar perpindahan geografis.
Jayanto Tan, seorang seniman asal Sumatera Utara yang kini menetap di Australia, menuangkan fragmen-fragmen kehidupannya melalui sebuah buku biografi kolaboratif yang ditulis oleh Harold Legaspi, seorang penulis asal Filipina yang memiliki minat besar pada isu diaspora Asia di Australia.
Proses penyusunan buku ini memakan waktu sekitar satu setengah tahun, melibatkan riset mendalam hingga ke keluarga besar Jayanto di Sumatera untuk memastikan akurasi sejarah, termasuk mencari dokumen-dokumen lama dan surat-surat keluarga yang telah tersimpan selama puluhan tahun.
Salah satu inti utama dari buku ini adalah penghormatan kepada sosok ibunda Jayanto.
Melalui bab "In Memory of Mother", pembaca diajak mengenal sosok perempuan tangguh yang hidup melewati zaman kolonial Belanda dan Jepang tanpa mendapatkan pendidikan formal.
Sang ibu, yang memiliki tantangan disleksia dan berkomunikasi melalui simbol-simbol, merupakan sosok luar biasa yang mampu membesarkan 13 orang anak seorang diri setelah menjadi janda di usia 43 tahun.
Identitas sang ibu yang merupakan perpaduan etnis Melayu, Hokkien (Fujian), dan Batak juga menjadi sorotan penting, menggambarkan betapa kayanya keberagaman budaya yang mengalir dalam darah Jayanto.

Selain aspek personal, buku ini mendokumentasikan perjalanan artistik Jayanto, mulai dari karya pertamanya hingga pameran-pameran di universitas dan galeri ternama.
Karya-karya seperti "Ritual My Beautiful Curse", "Ritual Cheng Beng", hingga instalasi berbahan pandan berjudul "Fairytale from this Little Garden" dibahas secara mendalam.
Seni bagi Jayanto adalah media untuk mengekspresikan hibriditas budayanya yang kompleks. Ia tidak hanya menggunakan bahasa visual, tetapi juga menggabungkan elemen bahasa daerah dan simbol-simbol tradisi yang menantang pemahaman audiens Australia terhadap seni diaspora.
Melalui bab penutup yang bertajuk "Homemaking with Immortals", buku ini menawarkan perspektif filosofis bahwa kehidupan manusia adalah sebuah lingkaran yang tidak terputus.
Ia berharap buku yang kini tersedia di berbagai perpustakaan nasional dan universitas di Australia ini dapat menginspirasi generasi muda untuk tidak terburu-buru menghakimi identitas seseorang hanya dari penampilan luar.

Baginya, identitas bukanlah tentang satu warna tunggal, melainkan sebuah pelangi yang harmonis, sebuah representasi dari keberagaman yang menyatukan manusia melampaui sekat-sekat rasial dan budaya.




