Membesarkan Anak Berbakat dengan Budaya Indonesia di Australia

Lenny and her husband Henry with their children Peter and Eva Susanto (centre).Credit_ Supplied_Lenny.jpg

Lenny and her husband Henry with their children Peter (second from left) and Eva Susanto. Credit: Supplied/Lenny

Lenny berbagi tentang perjuangannya mendorong sistem pendidikan di Northern Territory (NT) hingga kemudian anaknya dapat lulus menjadi dokter termuda di wilayah itu, serta bagaimana nilai-nilai budaya Indonesia berperan penting dalam pendidikan karakter anak-anaknya.


'Padi semakin berisi semakin merunduk'. Pepatah inilah yang dipegang Lenny dalam membesarkan kedua anaknya, Peter dan Eva Susanto, yang sama-sama berprestasi.

Peter lulus SMA di usia 14 tahun dan masuk kuliah kedokteran di usia 15 tahun sebagai mahasiswa termuda di Northern Territory. Ia didaulat sebagai NT Young Australian of the Year tahun 2024 dan NT UNICEF Australia Young Ambassador 2025.

Kini, meski Peter telah lulus menjadi dokter, pencapaian akademik bukanlah segalanya bagi Lenny.

Perempuan asal Jawa Timur ini memiliki latar belakang pendidikan yang kuat: Sarjana Pendidikan dengan predikat kehormatan, Magister Pendidikan, dan sertifikasi pascasarjana di bidang pendidikan anak berbakat yang ia ambil khusus untuk mendukung perkembangan anak-anaknya.

Kita juga menerapkan budaya Indonesia--yang kita percaya sangat baik.
Lenny

Ia menerapkan pola asuh seperti keluarga Indonesia zaman dulu. Ia tinggal bersama ibunya, menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak, dan bahkan menolak posisi kerja yang lebih tinggi demi fokus pada keluarga.

Sejak lahir, anak-anaknya dibesarkan dengan bahasa Indonesia, Jawa, Mandarin, dan Hokkien. Setiap kali pulang ke Indonesia, Lenny membawa anak-anak mengunjungi panti asuhan dan melihat kehidupan orang-orang kurang mampu agar mereka belajar bersyukur.

Dengarkan perbincangan SBS Indonesian dengan Lenny selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Jadi pendengar, saya sempat menginterview anak Mbak Lenny yaitu Peter Susanto yang

merupakan mahasiswa kedokteran termuda saat dia mulai masuk, yaitu waktu itu umur

Peter lima belas tahun bukan ya di Northern Territory?

Iya, dia lulus umur empat belas terus masuk kuliah pada waktu

-dia umur lima belas. -Waduh, luar biasa sekali itu. Dan Peter

sempat menyebutkan bahwa Mbak Lenny dan suami sangat berperan dalam mengadvokasi

akselerasi pendidikan Peter begitu ya. Ini gimana nih, boleh ceritain nih, gimana ya

Mbak Lenny dan suami bisa berhasil membesarkan anak-anak yang sangat

berprestasi seperti ini? Oh, mungkin sebelumnya saya sebutkan dulu kepada

pendengar, karena Mbak Lenny juga mempunyai anak adiknya Peter, yaitu Eva,

-yang juga sama berprestasinya begitu. -Iya, itu sebenarnya juga

anugerah Tuhan. Jadi kita juga menerapkan budaya Indonesia

yang kita percaya sangat baik ya, karena membesarkan anak di Australia itu juga

tidak gampang, banyak pengaruh-pengaruh dari kebudayaan setempat juga. Jadi kita

pilih-pilih lah, kita pilah-pilah mana yang baik, mana yang tidak baik menurut

kita, terus kita gabung. Tapi intinya masih budaya Indonesia lebih

besar daripada budaya setempat. Kita

seperti orang-orang Indonesia jaman dulu, kita menghabiskan banyak waktu dengan

anak-anak. Kita juga ada kesempatan sebenarnya untuk posisi di kerjaan yang

lebih tinggi, tapi kita memutuskan untuk tidak mengambil itu, fokus ke anak-anak.

Dan di rumah saya ada mama saya juga, jadi ya samalah seperti di Indonesia

-begitulah. -Jadi budaya Indonesia ini justru membantu

ibu dan suami membesarkan anak-anak seperti Peter dan Eva ya?

Iya, karena pada intinya yang kita kerjakan dalam hidup ini sebenarnya semua

udah ada dalam budaya Indonesia. Menurut saya, ya kan? Seperti hidup bersama dengan

kakek nenek, beberapa keturunan, mungkin juga tidak perlu dalam satu rumah, tapi

seperti sekarang banyak orang yang oh oke anaknya di rumah sebelah, [tertawa]

mamanya di sini, tapi mereka kita bisa saling membantu kan? Terus menerapkan

budaya-budaya yang saling menghormati, saling membantu, gotong

royong, ya kan? Seperti itu. Semuanya yang kita dulu tumbuh dan besar dengan

budaya-budaya itu kita jalankan juga. Anak-anak saya diajarin bahasa

Indonesia itu sejak lahir. Kita sebelum lahir pun kita sudah selalu berbicara

Indonesia ya, karena kan menurut penelitian, anak-anak itu sudah bisa

dengar sebelum mereka lahir juga. Jadi kita sudah menggunakan bahasa Indonesia,

mendengarkan musik bahasa Indonesia, pokoknya semua Indonesia lah begitu.

Terus, he'eh terus waktu mereka sudah sekitar umur dua tahun lewat

seperempat begitu, Peter sudah mulai saya ajarin untuk belajar membaca.

Tapi ini saya penasaran juga kan tadi Mbak Lenny bilang kalau budaya Indonesia

itu sangat membantu, tapi membantu dalam hal kok bisa sih mereka sangat berprestasi

gitu? Memang kita ada budaya gotong royongnya, ada segala macamnya, tapi dari

segi mananya apakah karena dengan budaya Indonesia itu jadi Mbak Lenny juga

mendapatkan bantuan dari mamanya Mbak Lenny untuk menjaga anak-anak bersama atau

-bagaimana nih? -Kalau untuk potensinya itu ya dari Tuhan.

Kita nggak bisa apa-apa itu. [tertawa] Ya kan, tapi kayak orang Australia bilang ada

nature versus nurture ya, nature versus nurture. Jadi dari alami kita

menggabungkan itu karena ya anak-anak ada potensi dari Tuhan dan kita juga

mengembangkannya begitu. Kita membantu mereka kayak ini ya, kita membuat mereka

bisa berpikir, bertanggung jawab seperti itu. Waktu kecil contohnya, ya kan mereka

kecil, kita kasih dua pilihan, hari ini kita mau keluar ke pantai, mau

saya ambilkan bajunya, tapi cuma dua karena mereka masih kecil kan, masih kecil

nggak bisa milih banyak-banyak bingung ntar. Jadi he'eh menurut kamu mana yang

lebih cocok untuk ke pantai? Terus mereka pilih baju yang menurut mereka bagus untuk

ke pantai lah, cocok untuk ke pantai. Kalau umpamanya mereka waktu itu ada

salahnya, umpamanya oh ke pantai mereka pakai celana panjang apa-apa ya, ya nggak

apa-apa, tapi cuman kita tanya aja loh, kok mau pakai celana panjang kenapa? Oh,

ada alasannya mereka, oh ya karena di pantai nanti kena matahari apa-apa. Jadi

terus ada percakapan, oh ya, kok kena matahari kan ndak apa-apa. Oh ndak, nanti

bisa kena kanker kulit atau apa, seperti itulah pokoknya kira-kiranya loh ya.

Wah, ini informasi yang sangat berguna. Jadi anak-anak dilatih untuk berpikir

-secara logika dari kecil ya? -Iya.... begitu, karena semua itu harus

dilatih lah. Kita ya kalau kebiasaan kita semua kan dari kehidupan kita sehari-hari.

Baik.

Kalau tidak dilatih, kan mereka juga belum bisa milih kan mana yang baik, mana yang

jelek, mana yang bagus, mana yang tidak bagus, mereka tidak tahu itu. Jadi kita

harus memberi arahan. Jadi orang Indonesia itu sebenarnya juga pinter-pinter loh,

waktu yang leluhur-leluhur kita itu bagus mereka, ya anak-anak dibolehin naik pohon,

apa-apa supaya mereka bisa mikir sendiri. Mungkin ya ada yang interakan biasanya

ma-mamanya tinggal di rumah kalau di Indonesia dulu, apalagi kalau di desa ya,

saya kan agak besarnya juga di desa begitu. Iya, terus nanti bersama

temen-temen juga, tapi kan orang tuanya, mamanya biasanya selalu ada gitu loh. Ya

seperti itulah, kalau di sini kan ndak boleh naik pohon, ndak boleh, ndak boleh,

ndak boleh nanti jatuh, nanti kita dimarahin sama ini sana-sana, halo.

Iya, dan ini di umur kapan nih waktu Mbak Lenny nyadar, Oh Peter nih

butuh tantangan akademik yang lebih tinggi?

Saya babysitter gitu juga waktu kuliah, saya juga kerja di childcare, saya kerja

di before after school care. Jadi saya lihat anak ini kok lain daripada anak-anak

-yang lain itu, terus ya saya sudah tahu- -Hmm.

-waktu dia masih kecil sekali, saya sudah tahu, saya sudah bilang sama suami, "Ini

kayaknya anak kita ini lain loh ya daripada yang lainnya." [tertawa]

-Lainnya gimana itu? -Ya...

-Lebih lancar bicaranya atau bagaimana? -Iya cepet nangkepnya begitu.

-Hmm. -Kalau lihat apa langsung bisa juga, terus

waktu belum umur dua sudah bisa translasi dari bahasa Indonesia ke bahasa

Inggris. Padahal kita kan waktu itu kita ke rumah orang juga, kayak Oma dan Opa,

yang waktu di Adelaide itu, tapi ini juga kan mama saya nggak bisa bahasa Inggris.

Nah, mereka ngomong-ngomong bahasa Inggris, terus tahu-tahu diterjemahkan

sama si Peter, belum umur dua tahun dia sudah bisa terjemahkan.

-Wow. -Dan kita di rumah bahasa Indonesia, bahasa

Jawa, bahasa Mandarin, bahasa Hokkien, gado-gado, tapi tahu-tahu dia bisa,

mungkin dari TV ya belajarnya, [tertawa] nggak tahu lebih.

Tapi juga jarang kok lihat TV, mereka nggak, nggak lihat TV, jarang sekali lihat

-TV. -Hmm.

-Jadi selalu ada interaksi antara kita. -Baik, nah ini sangat menarik nih soal TV

juga nih. Kan ini sekarang nih banyak sekali media sosial, teknologi, dan lain

sebagainya ya. Ini bagaimana Mbak Lenny menyeimbangkan antara mendorong prestasi

akademik dengan, dengan segala inilah di era modern ini kan ada tekanan dan

distraksi gitu, bagaimana ya? Apa dibatasin TV-nya atau bagaimana awal

-mulanya? -Enggak, enggak dibatasin, karena kita

kalau nonton TV ya nonton bareng gitu. He eh, nonton bareng, waktu kecil juga nonton

Thomas The Tank Engine ya nonton, Postman Pat ya nonton, tapi kan selalu

sama kita gitu. Terus waktu nonton kita juga ngomong-ngomong gitu loh, nggak cuma

nonton saja, kita ada pembicaraan, kayak umpamanya, oh, Thomas-nya lagi

begini, umpamanya loh, Thomas-nya lagi ngapain. Eh, oh, kadang-kadang ya saya

ngomong satu ini aja. Oh, karena kadang-kadang kan kalau udah nonton bisa

fokusnya ke nonton, tapi ya saya tetap aja ngomong. Terus nanti bilang, "Oke," saya

panggil dia kan Keka kan, older brother begitu. "Kah, itu ya menurut mama ya,

Thomas itu baik sekali atau gimana karena begini," gitu. Tapi kadang-kadang juga ada

yang pertanyaan, "Oh, kalau menurut Keka bagaimana?" Begitu. Pokoknya kita kan ada

-waktu sama anak, kita gunakan aja. -Jadi intinya di-guide terus anaknya ya?

Iya, he eh, tapi juga dikasih lah tanggung jawab, dikasih itu salah, kalau salah ya

kita kasih tahu. Karena kalau salah nggak dikasih tahu, selamanya salah, karena

-mereka pikir bener kan. -Oh, iya.

-Ada saatnya juga kita marahin. -[tertawa]

Jadi tahu tergantung kesalahannya kalau besar sekali kayak waktu itu mau nyebrang

jalan udah dikasih tahu, kalau nyebrang, stop dulu, lihat kanan, kiri, ya kan?

Belakang, depan, belakang dilihat. Pernah satu kali masih, masih umur satu setengah

atau berapa itu, lari aja di jalan. Wuih, kita marah-marahin lah. Jadi bisa tahu

itu karena itu bahaya sekali. Kita mending marahin daripada, ya kan, ada apa-apa

-lain kali. -Baik, dan ini setahu aku juga nih, Mbak

Lenny sempat mengambil Post Graduate Certificate, ada salah satunya yaitu

Gifted Education. Ini apa yang mendorong Mbak Lenny mengambil pendidikan lanjutan

ini? Apakah karena untuk perkembangan Peter dan Eva atau bagaimana?

Itu ceritanya karena waktu si Peter itu sekolah di

prep school ya. Waktu dia masuk sekolah itu, sebelum dia masuk sekolah sebenarnya

saya sudah ke mana-mana ini, termasuk ke Department of Education yang di NT ini,

bilang kalau anak saya ini masih muda umur tiga waktu itu, dan saya mau

masukkan dia sekolah untuk prep, tapi ditolak karena di NT itu

ada policy-nya yang bilang tidak, tidak bisa, nggak, pokoknya nggak ada lah,

akselerasi itu ndak ada, ndak bisa, ndak boleh. Aku bilang tapi anak ini sudah

siap, tetap tidak boleh, jadi kita harus tunggu sampai dia umur lima baru masukkan.

Dari situ saya sudah tahu kalau saya harus challenge dia lah, maksudnya kasih,

kasih tantangan-tantangan supaya dia tetap tertarik begitu sama belajar kan, nggak

cuman sekolah loh ya, tapi belajar, belajar tentang apa-apa lah. Terus sesudah

itu dia masuk ke prep school. Nah, saya udah bilang sama gurunya, anak ini sudah

bisa, ini lifestyle aja udah, pokoknya anak ini kira-kira udah untuk masuk

sekolahnya, untuk membaca, menulis, matematika, apa-apa itu udah setara kelas

-lima mungkin atau kelas enam. -Hmm.

Tapi gurunya kan merasa saya menggurui dia, jadi anak saya malah ndak

diapa-apakan. Untungnya di rumah kan tetap saya ada, ada bimbing gitu kan. Terus

setelah itu, masuk kelas satu saya juga ada ngomong sama gurunya lagi, kalau anak

ini perlu tantangan yang lebih banyak di sekolah, tapi sama saja. Terus akhirnya

saya membantu di kelas untuk kalau pagi ada orang tua yang boleh datang membantu

anak-anak membaca kan, nah terus saya ke kepala sekolah, saya bilang loh, "Saya

sudah ngomong sama gurunya tahun kemarin, tahun ini, kalau anak saya itu-...

membacanya aja udah ini dan dia di atas rata-rata sekali. Kepala sekolah bilang

semua orang tua ya bilang anaknya itu paling pintar seluruh dunia. Tidak ada

orang tua bilang anaknya tidak pintar. Itu, terus saya tidak boleh datang ke

sekolahan untuk membantu lagi. Terus akhirnya saya putuskan untuk, karena

meskipun saya punya sarjana di pendidikan, tapi itu tidak cukup karena saya bukan

expert. Jadi itu saya memutuskan untuk belajar Gifted Education. Jadi saya kan

lebih dari cuma seorang guru, padahal sebenarnya guru itu sudah tahu sebenarnya,

sudah ada belajarnya cuman perlu detailnya saja. Jadi saya ambil itu. Terus

saya kembali lagi ke kepala sekolah, saya bilang menurut penelitian ini, ini, ini,

menurut studi saya, ini, ini, ini, ini, tapi tetap saja dia tidak mau menerima.

Jadi terus saya ke ini, menggunakan ilmu saya itu untuk waktu itu approach untuk

ke Catholic at officenya. Untungnya orang yang di sana itu mengerti karena dia juga

punya detail Gifted Education juga dari Prancis kayaknya kalau nggak salah.

-Begitu. -Baik.

Terus akhirnya dia kirim orang untuk assess si Peter untuk IQ test itu.

Hmm, akhirnya Peter berhasil akselerasi ya?

Diakselerasi, iya heeh. Terus kepala sekolahnya tidak bisa apa-apa kan, karena

itu datang dari atas. Jadi nggak gampang untuk akselerasi itu.

-Baik. -Penuh perjuangan dengan tetesan darah dan

-air mata. [tertawa] -Iya, dan Peter sempat mengalami

perundungan saat masih di primary school sebagai siswa termuda. Tapi kalau kita

bicara soal bullying ya, ini tuh bisa terjadi kepada siapa saja sih sebenarnya?

Nah, ini sebagai orang tua, bagaimana nih Mbak Lenny mengatasi situasi ini? Apa yang

Mbak Lenny lakukan untuk membantu Peter mengalami masa-masa sulit tersebut?

Sebenarnya itu ya, waktu di SD itu ternyata waktu di sekolah yang pertama

juga, dia juga sudah di-bully karena dia bawa nasi setiap hari.

-Oh. -Karena itu saja anak-anak, karena dia

minoritas yang waktu itu kayaknya sangat sedikit sekali yang anak-anak Asia itu.

Kayaknya dia satu-satunya yang di kelas. Ada separuh, ada yang separuh begitu kan,

tapi dia kayaknya satu-satunya yang full Asia begitu.

Dan kita selalu bawa nasi kan, karena sisa makan malamnya nasi ya, bawa nasi. Itu

kita tidak tahu juga sampai ada orang tua lain yang waktu datang ke rumah itu bilang

kalau anak-anak mereka itu si kembar itu melindungi Peter, karena Peter itu selalu

di-bully karena bawa nasi. Makanya si Peter kan selalu bilang, "Kakek gak mau

bawa, Kakek gak mau bawa nasi, Kakek gak mau bawa nasi." Nah, kalau kita kan, kita

bilang lah, "Adanya nasi, kamu harus bawa nasi." [tertawa] Nggak tahu, tapi dia

nggak bilang kalau dia karena bawa nasi, di-bully anak-anak lain, itu kita nggak

tahu. Terus sesudah tahu pun kita tetap jelaskan ke dia, kalau roti bolehlah

sesekali ya bawa, kamu mau, boleh sesekali. Tapi kita orang Indonesia

makannya nasi dan adanya ya kita siapkan malam itu nasi. Nggak apa-apa, kamu

jelasin ke temen-temenmu, kalau perlu kamu bawa lagi satu kontainer lagi buat

temen-temenmu coba supaya mereka tahu nasi itu enak sebenarnya. Terus waktu dia

nggak bisa, dia kan nggak bisa ini juga main olahraga, nggak bisa, dia nendang

bola itu nggak bisa juga. Jadi orang-orang juga nggak mau, anak-anak nggak mau dia

main bola. Jadi kasihan juga sebenarnya saya, tapi saya juga nggak tahu kalau

tidak dari orang tua lain kan saya sudah nggak, waktu itu udah nggak boleh ke

sekolah ya, maksudnya untuk membantu membaca tetaplah boleh sebagai orang tua,

tapi untuk membantu membaca, ya udahlah saya juga, saya cuma membantu kok dibilang

begitu. Terus akhirnya orang tua lain juga datang ke rumah dan bilang katanya,

"Oh, sekarang Peter sudah bisa nendang bola, heeh diajarin sama Nicholas," gitu.

Oh, bagus kan. Terus saya tanya sama Peter waktu sudah malam sebelum kita

membaca bareng gitu, "Oh, Kekek katanya sekarang sudah bisa nendang bola?" "Oh

iya, Ma, Kekek diajarin sama ini. Dulu Kekek nggak bisa, jadi terus Kekek di--

nggak boleh main, nggak ada yang mau sama Kekek." Lah, terus aku jelasin, "Lah,

kalau Kekek nggak bisa nendang, terus Kekek suicide goal terus, ya [tertawa]

suicide goal kan berarti kamu ngegol ke timmu sendiri, kan buat itu ya orang nggak

mau main sama Kekek." [tertawa] Dia bilang, "Lah, tapi kan yang penting Kekek

bikin gol." [tertawa] Ya, tapi orang nggak mau kalau golnya ke gol kita sendiri. Ya

begitulah. Jadi ada banyak lah sebenarnya, tapi kita dampingin terus. Sebenarnya

kadang-kadang kita juga nggak tahu, tapi karena kita juga baik sama orang lain,

orang lain datang dan kasih tahu kita juga gitu loh. Makanya selalu berbuat baik,

karena ada karma baik juga datang ke kita kan.

Baik, dan mungkin nih, ini kan waktu saya berbicara dengan Peter ini, dia tuh sangat

humble, padahal pencapaiannya luar biasa. Bagaimana caranya Mbak Lenny menanamkan

-nilai-nilai tersebut kepada anak-anak? -Itu, itu kan nilai-nilai budaya kita, ya

kan? ee, padi semakin berisi, semakin merunduk. Heeh, kita ajarin anak-anak itu

semua, anak-anak saya semua saya kasih tahu, iya kan? Iya, kalian memang pintar,

itu anugerah Tuhan. Tapi pintar itu kalau tidak digunakan untuk, untuk membantu

orang lain, termasuk membantu diri sendiri, membantu keluarga, membantu

komunitas, itu ya percuma, ya. Dan kalau, kalau sudah membantu, jangan berharap

apapun.... karena orang membantu itu karena kamu sama Tuhan dikasih lebih gitu

loh. Jadi jangan berharap kalau saya membantu nanti kamu harus membalas budi

saya, nggak boleh itu. Jadi kita ajarin yang kayak begitu-begitulah yang, yang

seperti itu ya. Kita waktu kecil diajarin juga sama orang tua kita, diajarin di

sekolah, PMP begitu, saya ajarkan kembali ke anak-anak, karena itu yang kurang di

dunia ini kayaknya. Sekarang orang-orang terlalu egois kebanyakan, begitulah. Jadi

kita ajarin dan kita kasih tahu memang kamu pintar, tapi di atas orang pintar ada

banyak orang yang lebih pintar lagi, tapi itu nggak penting. Yang paling penting

itu kamu bisa kontribusi ke dunia ini gimana, nggak usah jauh-jauh ini, di

lingkungan aja dulu, lingkungan sendiri bantu diri kamu sendiri. Karena kalau kamu

nggak mandiri, orang lain harus bantu kamu, kamu menjadi beban buat orang lain.

-Baik. -Gitu, kira-kira begitulah.

-Iya. -Tapi saya ini bukan expert loh ya, saya

ini tidak ahli. Cuman saya share saja, karena yang saya percaya itu kayaknya

budaya kita ini kayaknya juga udah mulai luntur.

-Hmm. -Apalagi yang orang-orang, ya yang saya

lihat di Australia ini banyak orang anak-anak yang tidak memegang gitu loh

budaya kita, padahal budaya kita itu bagus sekali, bagus pakai sekali loh menurut

saya. Makanya saya mau share, kalau tidak, buat apa kalau ini... Saya cuma mau

mengingatkan bagi orang-orang tua, ya kan? Pakailah budaya kita yang sudah bagus

itu, tapi juga diadaptasilah. Maksudnya adaptasi ya jangan banyak-banyak

diadaptasi untuk lingkungannya gini. Kan budaya Indonesia ada juga yang nggak

bagus, budaya Australia ada juga yang nggak bagus, kita pilah-pilahlah.

-Baik. -Gitu.

Dan anak-anak suka dibawa ke Indonesia, tetap sekali-sekali?

Usahakan setahun sekali, tapi mungkin setahun dua kali, tapi kan anak-anak sudah

besar juga sekarang gitu loh. Kalau dulu kita usahakanlah dan kita kalau ke

Indonesia kita bawa anak-anak lihat orang-orang tinggal di bawah jembatan,

memasak di sana, mandi di sana, kita bawa ke Pati Asuhan, ya kan, ke sana

seharian loh kita di sana, apa sama anak-anak itu nanti dibawa ke lihat

anak-anak apa orang-orang tinggal di yang deket rel kereta api sana,

rumahnya dari ini. Jadi supaya mereka merasa berterima kasih begitu loh. Mereka

tahu, grateful, kalau mereka ini berlebih-lebih, meskipun kita di Australia

bukan berlebih-lebih ya, tapi maksudnya kita udah cukup, cukup gitu loh. Cukup

-untuk bisa memberi lebih ke orang. -Baik, dari mana nih Mbak Lenny berasal

dari Indonesia dan kapan Mbak Lenny bermigrasi ke Australia?

Saya ini berasal dari Jawa Timur, tapi juga pernah tinggal di Jawa Tengah.

Saya datang ke Australia itu untuk sekolah pada

sekitar akhir 1990-an lah, akhir begitu, jadi udah lama juga

-di sini. [tertawa] -Iya, bisa dibilang Mbak Lenny ini lumayan

sibuk mengurus anak, bekerja juga gitu. Ini self care untuk Mbak Lenny sendiri apa

nih, me time-nya? Boleh dong sharing ke kita.

Me time itu saya nggak, nggak percayain me time ya. [tertawa] Kita selalu

-bareng begitu. -Hmm.

Kita kemana-mana mau ngapain juga bareng begitu, karena kita tahu nanti anak-anak

juga pada akhirnya harus mandiri, maksudnya punya keluarga sendiri, apa,

apa. Jadi sebisa mungkin kita spend time bareng sama anak-anak. Meskipun sesibuk

-apapun kita, kita libatkan anak-anak. -Dan ini kalau dengan Mbak Lenny dan suami

sendiri dalam hal pendidikan dan perkembangan anak-anak, pembagian perannya

-bagaimana? Atau sama-sama aja semua? -Sebenarnya sih suami juga ikut peran, tapi

dia lebih mendengarkan sama saya, karena menurut dia saya kan yang punya latar

belakang pendidikan, tapi sebenarnya dia juga sangat terlibat gitu loh.

-Emm, hmm. -Karena dia juga ngajarin kan, karena

belajar kan nggak cuman akademis gitu kan, belajar kan belajar banyak ya.

-Hmm. -Dia yang ngajarin juga. Di rumah kalau

dulu waktu anak-anak kecil begitu, dia juga membaca bareng anak atau mendengarkan

membaca, karena mereka udah cukup muda udah bisa membaca kan. Jadi mereka yang

baca kita dengarkan, nanti terus kita suruh mereka lagi recap, "Itu apa sih tadi

yang dibaca sebenarnya kita kok nggak, nggak mengerti ya, karena susah

dimengerti," umpamanya begitu kan. Ngajarin sekarang udah besar, ngajarin

nyetir mobil, ngajarin apa, jadi kita sama-sama terlibat lah.

Ini pertanyaan terakhir saya, apakah Mbak Lenny bangga dengan pencapaian anak-anak

-sejauh ini? -Tentu saja bangga, semua orang tua bangga

dengan pencapaian anak. Bener nggak? Mbak Anne juga pasti bangga dengan pencapaian

anak, ya kan? Anak-anak Mbak Anne, semua orang tua. Saya rasa semua orang tua itu

bangga lah dengan anak. Akan tetapi yang paling saya syukuri dan juga

bangga itu karena

anak-anak itu punya hati nurani yang baik. Mereka pintar dan mempergunakan

kepintaran itu untuk membuat dunia ini lebih baik, membuat tidak diri mereka saja

lebih baik, tapi orang lain lebih baik, lingkungan lebih baik, semuanya lebih baik

-begitu. -Mbak Lenny, terima kasih atas waktunya

sudah berbincang dengan SBS Indonesian ya.

Makasih ya atas kesempatan untuk berbagi-bagi.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now