Jadi pendengar, saya sempat menginterview
anak Mbak Lenny yaitu Peter Susanto yang
merupakan mahasiswa kedokteran termuda
saat dia mulai masuk, yaitu waktu itu umur
Peter lima belas tahun bukan ya di
Northern Territory?
Iya, dia lulus umur empat belas terus
masuk kuliah pada waktu
-dia umur lima belas.
-Waduh, luar biasa sekali itu. Dan Peter
sempat menyebutkan bahwa Mbak Lenny dan
suami sangat berperan dalam mengadvokasi
akselerasi pendidikan Peter begitu ya. Ini
gimana nih, boleh ceritain nih, gimana ya
Mbak Lenny dan suami bisa berhasil
membesarkan anak-anak yang sangat
berprestasi seperti ini? Oh, mungkin
sebelumnya saya sebutkan dulu kepada
pendengar, karena Mbak Lenny juga
mempunyai anak adiknya Peter, yaitu Eva,
-yang juga sama berprestasinya begitu.
-Iya, itu sebenarnya juga
anugerah Tuhan. Jadi kita juga menerapkan
budaya Indonesia
yang kita percaya sangat baik ya, karena
membesarkan anak di Australia itu juga
tidak gampang, banyak pengaruh-pengaruh
dari kebudayaan setempat juga. Jadi kita
pilih-pilih lah, kita pilah-pilah mana
yang baik, mana yang tidak baik menurut
kita, terus kita gabung. Tapi intinya
masih budaya Indonesia lebih
besar daripada budaya setempat. Kita
seperti orang-orang Indonesia jaman dulu,
kita menghabiskan banyak waktu dengan
anak-anak. Kita juga ada kesempatan
sebenarnya untuk posisi di kerjaan yang
lebih tinggi, tapi kita memutuskan untuk
tidak mengambil itu, fokus ke anak-anak.
Dan di rumah saya ada mama saya juga, jadi
ya samalah seperti di Indonesia
-begitulah.
-Jadi budaya Indonesia ini justru membantu
ibu dan suami membesarkan anak-anak
seperti Peter dan Eva ya?
Iya, karena pada intinya yang kita
kerjakan dalam hidup ini sebenarnya semua
udah ada dalam budaya Indonesia. Menurut
saya, ya kan? Seperti hidup bersama dengan
kakek nenek, beberapa keturunan, mungkin
juga tidak perlu dalam satu rumah, tapi
seperti sekarang banyak orang yang oh oke
anaknya di rumah sebelah, [tertawa]
mamanya di sini, tapi mereka kita bisa
saling membantu kan? Terus menerapkan
budaya-budaya yang saling menghormati,
saling membantu, gotong
royong, ya kan? Seperti itu. Semuanya yang
kita dulu tumbuh dan besar dengan
budaya-budaya itu kita jalankan juga.
Anak-anak saya diajarin bahasa
Indonesia itu sejak lahir. Kita sebelum
lahir pun kita sudah selalu berbicara
Indonesia ya, karena kan menurut
penelitian, anak-anak itu sudah bisa
dengar sebelum mereka lahir juga. Jadi
kita sudah menggunakan bahasa Indonesia,
mendengarkan musik bahasa Indonesia,
pokoknya semua Indonesia lah begitu.
Terus, he'eh terus waktu mereka sudah
sekitar umur dua tahun lewat
seperempat begitu, Peter sudah mulai saya
ajarin untuk belajar membaca.
Tapi ini saya penasaran juga kan tadi Mbak
Lenny bilang kalau budaya Indonesia
itu sangat membantu, tapi membantu dalam
hal kok bisa sih mereka sangat berprestasi
gitu? Memang kita ada budaya gotong
royongnya, ada segala macamnya, tapi dari
segi mananya apakah karena dengan budaya
Indonesia itu jadi Mbak Lenny juga
mendapatkan bantuan dari mamanya Mbak
Lenny untuk menjaga anak-anak bersama atau
-bagaimana nih?
-Kalau untuk potensinya itu ya dari Tuhan.
Kita nggak bisa apa-apa itu. [tertawa] Ya
kan, tapi kayak orang Australia bilang ada
nature versus nurture ya, nature versus
nurture. Jadi dari alami kita
menggabungkan itu karena ya anak-anak ada
potensi dari Tuhan dan kita juga
mengembangkannya begitu. Kita membantu
mereka kayak ini ya, kita membuat mereka
bisa berpikir, bertanggung jawab seperti
itu. Waktu kecil contohnya, ya kan mereka
kecil, kita kasih dua pilihan, hari ini
kita mau keluar ke pantai, mau
saya ambilkan bajunya, tapi cuma dua
karena mereka masih kecil kan, masih kecil
nggak bisa milih banyak-banyak bingung
ntar. Jadi he'eh menurut kamu mana yang
lebih cocok untuk ke pantai? Terus mereka
pilih baju yang menurut mereka bagus untuk
ke pantai lah, cocok untuk ke pantai.
Kalau umpamanya mereka waktu itu ada
salahnya, umpamanya oh ke pantai mereka
pakai celana panjang apa-apa ya, ya nggak
apa-apa, tapi cuman kita tanya aja loh,
kok mau pakai celana panjang kenapa? Oh,
ada alasannya mereka, oh ya karena di
pantai nanti kena matahari apa-apa. Jadi
terus ada percakapan, oh ya, kok kena
matahari kan ndak apa-apa. Oh ndak, nanti
bisa kena kanker kulit atau apa, seperti
itulah pokoknya kira-kiranya loh ya.
Wah, ini informasi yang sangat berguna.
Jadi anak-anak dilatih untuk berpikir
-secara logika dari kecil ya?
-Iya.... begitu, karena semua itu harus
dilatih lah. Kita ya kalau kebiasaan kita
semua kan dari kehidupan kita sehari-hari.
Kalau tidak dilatih, kan mereka juga belum
bisa milih kan mana yang baik, mana yang
jelek, mana yang bagus, mana yang tidak
bagus, mereka tidak tahu itu. Jadi kita
harus memberi arahan. Jadi orang Indonesia
itu sebenarnya juga pinter-pinter loh,
waktu yang leluhur-leluhur kita itu bagus
mereka, ya anak-anak dibolehin naik pohon,
apa-apa supaya mereka bisa mikir sendiri.
Mungkin ya ada yang interakan biasanya
ma-mamanya tinggal di rumah kalau di
Indonesia dulu, apalagi kalau di desa ya,
saya kan agak besarnya juga di desa
begitu. Iya, terus nanti bersama
temen-temen juga, tapi kan orang tuanya,
mamanya biasanya selalu ada gitu loh. Ya
seperti itulah, kalau di sini kan ndak
boleh naik pohon, ndak boleh, ndak boleh,
ndak boleh nanti jatuh, nanti kita
dimarahin sama ini sana-sana, halo.
Iya, dan ini di umur kapan nih waktu Mbak
Lenny nyadar, Oh Peter nih
butuh tantangan akademik yang lebih
tinggi?
Saya babysitter gitu juga waktu kuliah,
saya juga kerja di childcare, saya kerja
di before after school care. Jadi saya
lihat anak ini kok lain daripada anak-anak
-yang lain itu, terus ya saya sudah tahu-
-Hmm.
-waktu dia masih kecil sekali, saya sudah
tahu, saya sudah bilang sama suami, "Ini
kayaknya anak kita ini lain loh ya
daripada yang lainnya." [tertawa]
-Lainnya gimana itu?
-Ya...
-Lebih lancar bicaranya atau bagaimana?
-Iya cepet nangkepnya begitu.
-Hmm.
-Kalau lihat apa langsung bisa juga, terus
waktu belum umur dua sudah bisa translasi
dari bahasa Indonesia ke bahasa
Inggris. Padahal kita kan waktu itu kita
ke rumah orang juga, kayak Oma dan Opa,
yang waktu di Adelaide itu, tapi ini juga
kan mama saya nggak bisa bahasa Inggris.
Nah, mereka ngomong-ngomong bahasa
Inggris, terus tahu-tahu diterjemahkan
sama si Peter, belum umur dua tahun dia
sudah bisa terjemahkan.
-Wow.
-Dan kita di rumah bahasa Indonesia, bahasa
Jawa, bahasa Mandarin, bahasa Hokkien,
gado-gado, tapi tahu-tahu dia bisa,
mungkin dari TV ya belajarnya, [tertawa]
nggak tahu lebih.
Tapi juga jarang kok lihat TV, mereka
nggak, nggak lihat TV, jarang sekali lihat
-Jadi selalu ada interaksi antara kita.
-Baik, nah ini sangat menarik nih soal TV
juga nih. Kan ini sekarang nih banyak
sekali media sosial, teknologi, dan lain
sebagainya ya. Ini bagaimana Mbak Lenny
menyeimbangkan antara mendorong prestasi
akademik dengan, dengan segala inilah di
era modern ini kan ada tekanan dan
distraksi gitu, bagaimana ya? Apa
dibatasin TV-nya atau bagaimana awal
-mulanya?
-Enggak, enggak dibatasin, karena kita
kalau nonton TV ya nonton bareng gitu. He
eh, nonton bareng, waktu kecil juga nonton
Thomas The Tank Engine ya nonton, Postman
Pat ya nonton, tapi kan selalu
sama kita gitu. Terus waktu nonton kita
juga ngomong-ngomong gitu loh, nggak cuma
nonton saja, kita ada pembicaraan, kayak
umpamanya, oh, Thomas-nya lagi
begini, umpamanya loh, Thomas-nya lagi
ngapain. Eh, oh, kadang-kadang ya saya
ngomong satu ini aja. Oh, karena
kadang-kadang kan kalau udah nonton bisa
fokusnya ke nonton, tapi ya saya tetap aja
ngomong. Terus nanti bilang, "Oke," saya
panggil dia kan Keka kan, older brother
begitu. "Kah, itu ya menurut mama ya,
Thomas itu baik sekali atau gimana karena
begini," gitu. Tapi kadang-kadang juga ada
yang pertanyaan, "Oh, kalau menurut Keka
bagaimana?" Begitu. Pokoknya kita kan ada
-waktu sama anak, kita gunakan aja.
-Jadi intinya di-guide terus anaknya ya?
Iya, he eh, tapi juga dikasih lah tanggung
jawab, dikasih itu salah, kalau salah ya
kita kasih tahu. Karena kalau salah nggak
dikasih tahu, selamanya salah, karena
-mereka pikir bener kan.
-Oh, iya.
-Ada saatnya juga kita marahin.
-[tertawa]
Jadi tahu tergantung kesalahannya kalau
besar sekali kayak waktu itu mau nyebrang
jalan udah dikasih tahu, kalau nyebrang,
stop dulu, lihat kanan, kiri, ya kan?
Belakang, depan, belakang dilihat. Pernah
satu kali masih, masih umur satu setengah
atau berapa itu, lari aja di jalan. Wuih,
kita marah-marahin lah. Jadi bisa tahu
itu karena itu bahaya sekali. Kita mending
marahin daripada, ya kan, ada apa-apa
-lain kali.
-Baik, dan ini setahu aku juga nih, Mbak
Lenny sempat mengambil Post Graduate
Certificate, ada salah satunya yaitu
Gifted Education. Ini apa yang mendorong
Mbak Lenny mengambil pendidikan lanjutan
ini? Apakah karena untuk perkembangan
Peter dan Eva atau bagaimana?
Itu ceritanya karena waktu si Peter itu
sekolah di
prep school ya. Waktu dia masuk sekolah
itu, sebelum dia masuk sekolah sebenarnya
saya sudah ke mana-mana ini, termasuk ke
Department of Education yang di NT ini,
bilang kalau anak saya ini masih muda umur
tiga waktu itu, dan saya mau
masukkan dia sekolah untuk prep, tapi
ditolak karena di NT itu
ada policy-nya yang bilang tidak, tidak
bisa, nggak, pokoknya nggak ada lah,
akselerasi itu ndak ada, ndak bisa, ndak
boleh. Aku bilang tapi anak ini sudah
siap, tetap tidak boleh, jadi kita harus
tunggu sampai dia umur lima baru masukkan.
Dari situ saya sudah tahu kalau saya
harus challenge dia lah, maksudnya kasih,
kasih tantangan-tantangan supaya dia tetap
tertarik begitu sama belajar kan, nggak
cuman sekolah loh ya, tapi belajar,
belajar tentang apa-apa lah. Terus sesudah
itu dia masuk ke prep school. Nah, saya
udah bilang sama gurunya, anak ini sudah
bisa, ini lifestyle aja udah, pokoknya
anak ini kira-kira udah untuk masuk
sekolahnya, untuk membaca, menulis,
matematika, apa-apa itu udah setara kelas
-lima mungkin atau kelas enam.
-Hmm.
Tapi gurunya kan merasa saya menggurui
dia, jadi anak saya malah ndak
diapa-apakan. Untungnya di rumah kan tetap
saya ada, ada bimbing gitu kan. Terus
setelah itu, masuk kelas satu saya juga
ada ngomong sama gurunya lagi, kalau anak
ini perlu tantangan yang lebih banyak di
sekolah, tapi sama saja. Terus akhirnya
saya membantu di kelas untuk kalau pagi
ada orang tua yang boleh datang membantu
anak-anak membaca kan, nah terus saya ke
kepala sekolah, saya bilang loh, "Saya
sudah ngomong sama gurunya tahun kemarin,
tahun ini, kalau anak saya itu-...
membacanya aja udah ini dan dia di atas
rata-rata sekali. Kepala sekolah bilang
semua orang tua ya bilang anaknya itu
paling pintar seluruh dunia. Tidak ada
orang tua bilang anaknya tidak pintar.
Itu, terus saya tidak boleh datang ke
sekolahan untuk membantu lagi. Terus
akhirnya saya putuskan untuk, karena
meskipun saya punya sarjana di pendidikan,
tapi itu tidak cukup karena saya bukan
expert. Jadi itu saya memutuskan untuk
belajar Gifted Education. Jadi saya kan
lebih dari cuma seorang guru, padahal
sebenarnya guru itu sudah tahu sebenarnya,
sudah ada belajarnya cuman perlu
detailnya saja. Jadi saya ambil itu. Terus
saya kembali lagi ke kepala sekolah, saya
bilang menurut penelitian ini, ini, ini,
menurut studi saya, ini, ini, ini, ini,
tapi tetap saja dia tidak mau menerima.
Jadi terus saya ke ini, menggunakan ilmu
saya itu untuk waktu itu approach untuk
ke Catholic at officenya. Untungnya orang
yang di sana itu mengerti karena dia juga
punya detail Gifted Education juga dari
Prancis kayaknya kalau nggak salah.
Terus akhirnya dia kirim orang untuk
assess si Peter untuk IQ test itu.
Hmm, akhirnya Peter berhasil akselerasi
ya?
Diakselerasi, iya heeh. Terus kepala
sekolahnya tidak bisa apa-apa kan, karena
itu datang dari atas. Jadi nggak gampang
untuk akselerasi itu.
-Baik.
-Penuh perjuangan dengan tetesan darah dan
-air mata. [tertawa]
-Iya, dan Peter sempat mengalami
perundungan saat masih di primary school
sebagai siswa termuda. Tapi kalau kita
bicara soal bullying ya, ini tuh bisa
terjadi kepada siapa saja sih sebenarnya?
Nah, ini sebagai orang tua, bagaimana nih
Mbak Lenny mengatasi situasi ini? Apa yang
Mbak Lenny lakukan untuk membantu Peter
mengalami masa-masa sulit tersebut?
Sebenarnya itu ya, waktu di SD itu
ternyata waktu di sekolah yang pertama
juga, dia juga sudah di-bully karena dia
bawa nasi setiap hari.
-Oh.
-Karena itu saja anak-anak, karena dia
minoritas yang waktu itu kayaknya sangat
sedikit sekali yang anak-anak Asia itu.
Kayaknya dia satu-satunya yang di kelas.
Ada separuh, ada yang separuh begitu kan,
tapi dia kayaknya satu-satunya yang full
Asia begitu.
Dan kita selalu bawa nasi kan, karena sisa
makan malamnya nasi ya, bawa nasi. Itu
kita tidak tahu juga sampai ada orang tua
lain yang waktu datang ke rumah itu bilang
kalau anak-anak mereka itu si kembar itu
melindungi Peter, karena Peter itu selalu
di-bully karena bawa nasi. Makanya si
Peter kan selalu bilang, "Kakek gak mau
bawa, Kakek gak mau bawa nasi, Kakek gak
mau bawa nasi." Nah, kalau kita kan, kita
bilang lah, "Adanya nasi, kamu harus bawa
nasi." [tertawa] Nggak tahu, tapi dia
nggak bilang kalau dia karena bawa nasi,
di-bully anak-anak lain, itu kita nggak
tahu. Terus sesudah tahu pun kita tetap
jelaskan ke dia, kalau roti bolehlah
sesekali ya bawa, kamu mau, boleh
sesekali. Tapi kita orang Indonesia
makannya nasi dan adanya ya kita siapkan
malam itu nasi. Nggak apa-apa, kamu
jelasin ke temen-temenmu, kalau perlu kamu
bawa lagi satu kontainer lagi buat
temen-temenmu coba supaya mereka tahu nasi
itu enak sebenarnya. Terus waktu dia
nggak bisa, dia kan nggak bisa ini juga
main olahraga, nggak bisa, dia nendang
bola itu nggak bisa juga. Jadi orang-orang
juga nggak mau, anak-anak nggak mau dia
main bola. Jadi kasihan juga sebenarnya
saya, tapi saya juga nggak tahu kalau
tidak dari orang tua lain kan saya sudah
nggak, waktu itu udah nggak boleh ke
sekolah ya, maksudnya untuk membantu
membaca tetaplah boleh sebagai orang tua,
tapi untuk membantu membaca, ya udahlah
saya juga, saya cuma membantu kok dibilang
begitu. Terus akhirnya orang tua lain
juga datang ke rumah dan bilang katanya,
"Oh, sekarang Peter sudah bisa nendang
bola, heeh diajarin sama Nicholas," gitu.
Oh, bagus kan. Terus saya tanya sama
Peter waktu sudah malam sebelum kita
membaca bareng gitu, "Oh, Kekek katanya
sekarang sudah bisa nendang bola?" "Oh
iya, Ma, Kekek diajarin sama ini. Dulu
Kekek nggak bisa, jadi terus Kekek di--
nggak boleh main, nggak ada yang mau sama
Kekek." Lah, terus aku jelasin, "Lah,
kalau Kekek nggak bisa nendang, terus
Kekek suicide goal terus, ya [tertawa]
suicide goal kan berarti kamu ngegol ke
timmu sendiri, kan buat itu ya orang nggak
mau main sama Kekek." [tertawa] Dia
bilang, "Lah, tapi kan yang penting Kekek
bikin gol." [tertawa] Ya, tapi orang nggak
mau kalau golnya ke gol kita sendiri. Ya
begitulah. Jadi ada banyak lah sebenarnya,
tapi kita dampingin terus. Sebenarnya
kadang-kadang kita juga nggak tahu, tapi
karena kita juga baik sama orang lain,
orang lain datang dan kasih tahu kita juga
gitu loh. Makanya selalu berbuat baik,
karena ada karma baik juga datang ke kita
kan.
Baik, dan mungkin nih, ini kan waktu saya
berbicara dengan Peter ini, dia tuh sangat
humble, padahal pencapaiannya luar biasa.
Bagaimana caranya Mbak Lenny menanamkan
-nilai-nilai tersebut kepada anak-anak?
-Itu, itu kan nilai-nilai budaya kita, ya
kan? ee, padi semakin berisi, semakin
merunduk. Heeh, kita ajarin anak-anak itu
semua, anak-anak saya semua saya kasih
tahu, iya kan? Iya, kalian memang pintar,
itu anugerah Tuhan. Tapi pintar itu kalau
tidak digunakan untuk, untuk membantu
orang lain, termasuk membantu diri
sendiri, membantu keluarga, membantu
komunitas, itu ya percuma, ya. Dan kalau,
kalau sudah membantu, jangan berharap
apapun.... karena orang membantu itu
karena kamu sama Tuhan dikasih lebih gitu
loh. Jadi jangan berharap kalau saya
membantu nanti kamu harus membalas budi
saya, nggak boleh itu. Jadi kita ajarin
yang kayak begitu-begitulah yang, yang
seperti itu ya. Kita waktu kecil diajarin
juga sama orang tua kita, diajarin di
sekolah, PMP begitu, saya ajarkan kembali
ke anak-anak, karena itu yang kurang di
dunia ini kayaknya. Sekarang orang-orang
terlalu egois kebanyakan, begitulah. Jadi
kita ajarin dan kita kasih tahu memang
kamu pintar, tapi di atas orang pintar ada
banyak orang yang lebih pintar lagi, tapi
itu nggak penting. Yang paling penting
itu kamu bisa kontribusi ke dunia ini
gimana, nggak usah jauh-jauh ini, di
lingkungan aja dulu, lingkungan sendiri
bantu diri kamu sendiri. Karena kalau kamu
nggak mandiri, orang lain harus bantu
kamu, kamu menjadi beban buat orang lain.
-Baik.
-Gitu, kira-kira begitulah.
-Iya.
-Tapi saya ini bukan expert loh ya, saya
ini tidak ahli. Cuman saya share saja,
karena yang saya percaya itu kayaknya
budaya kita ini kayaknya juga udah mulai
luntur.
-Hmm.
-Apalagi yang orang-orang, ya yang saya
lihat di Australia ini banyak orang
anak-anak yang tidak memegang gitu loh
budaya kita, padahal budaya kita itu bagus
sekali, bagus pakai sekali loh menurut
saya. Makanya saya mau share, kalau tidak,
buat apa kalau ini... Saya cuma mau
mengingatkan bagi orang-orang tua, ya kan?
Pakailah budaya kita yang sudah bagus
itu, tapi juga diadaptasilah. Maksudnya
adaptasi ya jangan banyak-banyak
diadaptasi untuk lingkungannya gini. Kan
budaya Indonesia ada juga yang nggak
bagus, budaya Australia ada juga yang
nggak bagus, kita pilah-pilahlah.
Dan anak-anak suka dibawa ke Indonesia,
tetap sekali-sekali?
Usahakan setahun sekali, tapi mungkin
setahun dua kali, tapi kan anak-anak sudah
besar juga sekarang gitu loh. Kalau dulu
kita usahakanlah dan kita kalau ke
Indonesia kita bawa anak-anak lihat
orang-orang tinggal di bawah jembatan,
memasak di sana, mandi di sana, kita bawa
ke Pati Asuhan, ya kan, ke sana
seharian loh kita di sana, apa sama
anak-anak itu nanti dibawa ke lihat
anak-anak apa orang-orang tinggal di yang
deket rel kereta api sana,
rumahnya dari ini. Jadi supaya mereka
merasa berterima kasih begitu loh. Mereka
tahu, grateful, kalau mereka ini
berlebih-lebih, meskipun kita di Australia
bukan berlebih-lebih ya, tapi maksudnya
kita udah cukup, cukup gitu loh. Cukup
-untuk bisa memberi lebih ke orang.
-Baik, dari mana nih Mbak Lenny berasal
dari Indonesia dan kapan Mbak Lenny
bermigrasi ke Australia?
Saya ini berasal dari Jawa Timur, tapi
juga pernah tinggal di Jawa Tengah.
Saya datang ke Australia itu untuk
sekolah pada
sekitar akhir 1990-an lah, akhir begitu,
jadi udah lama juga
-di sini. [tertawa]
-Iya, bisa dibilang Mbak Lenny ini lumayan
sibuk mengurus anak, bekerja juga gitu.
Ini self care untuk Mbak Lenny sendiri apa
nih, me time-nya? Boleh dong sharing ke
kita.
Me time itu saya nggak, nggak percayain me
time ya. [tertawa] Kita selalu
Kita kemana-mana mau ngapain juga bareng
begitu, karena kita tahu nanti anak-anak
juga pada akhirnya harus mandiri,
maksudnya punya keluarga sendiri, apa,
apa. Jadi sebisa mungkin kita spend time
bareng sama anak-anak. Meskipun sesibuk
-apapun kita, kita libatkan anak-anak.
-Dan ini kalau dengan Mbak Lenny dan suami
sendiri dalam hal pendidikan dan
perkembangan anak-anak, pembagian perannya
-bagaimana? Atau sama-sama aja semua?
-Sebenarnya sih suami juga ikut peran, tapi
dia lebih mendengarkan sama saya, karena
menurut dia saya kan yang punya latar
belakang pendidikan, tapi sebenarnya dia
juga sangat terlibat gitu loh.
-Emm, hmm.
-Karena dia juga ngajarin kan, karena
belajar kan nggak cuman akademis gitu kan,
belajar kan belajar banyak ya.
-Hmm.
-Dia yang ngajarin juga. Di rumah kalau
dulu waktu anak-anak kecil begitu, dia
juga membaca bareng anak atau mendengarkan
membaca, karena mereka udah cukup muda
udah bisa membaca kan. Jadi mereka yang
baca kita dengarkan, nanti terus kita
suruh mereka lagi recap, "Itu apa sih tadi
yang dibaca sebenarnya kita kok nggak,
nggak mengerti ya, karena susah
dimengerti," umpamanya begitu kan.
Ngajarin sekarang udah besar, ngajarin
nyetir mobil, ngajarin apa, jadi kita
sama-sama terlibat lah.
Ini pertanyaan terakhir saya, apakah Mbak
Lenny bangga dengan pencapaian anak-anak
-sejauh ini?
-Tentu saja bangga, semua orang tua bangga
dengan pencapaian anak. Bener nggak? Mbak
Anne juga pasti bangga dengan pencapaian
anak, ya kan? Anak-anak Mbak Anne, semua
orang tua. Saya rasa semua orang tua itu
bangga lah dengan anak. Akan tetapi yang
paling saya syukuri dan juga
anak-anak itu punya hati nurani yang baik.
Mereka pintar dan mempergunakan
kepintaran itu untuk membuat dunia ini
lebih baik, membuat tidak diri mereka saja
lebih baik, tapi orang lain lebih baik,
lingkungan lebih baik, semuanya lebih baik
-begitu.
-Mbak Lenny, terima kasih atas waktunya
sudah berbincang dengan SBS Indonesian ya.
Makasih ya atas kesempatan untuk
berbagi-bagi.
END OF TRANSCRIPT