Inspirasi - Dari nol hingga aplikasi OPAPER

Joanathan McIntosh participating in Street Food Festival held by the Indonesian Culinary Association of Victoria, Melbourne – March 2025. Photo courtesy SPD/Melb.

Joanathan McIntosh participating in Street Food Festival held by the Indonesian Culinary Association of Victoria, Melbourne – March 2025. Photo courtesy SPD/Melb.

Berbekal dengan kemampuannya membuat kue, kerja keras serta kepercayaan terhadap diri sendiri yang kuat, terbentuklah OPAPER APP yang banyak membantu pebinis kecil di Indonesia.


Joanathan McIntosh adalah pendiri dan CEO dari OPAPER APP. Yaitu suatu layanan jasa untuk mengelola administrasi dari suatu bisnis. Tanpa modal yang signifikan Joanathan, kawula muda Indonesia yang pada waktu itu berdomisili di Amerika Serikat memanfaatkan jaringan yang dia punyai untuk mengembangkan usahanya

Kepada SBS Indonesian, Joanathan McIntosh menceritakan bagaimana awal mulanya dia merintis usahanya mendirikan OPAPER APP.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.
 

Speaker 1

Kita mengalir ke acara yang selanjutnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang

kawalan muda Indonesia yang pada waktu itu mengunjungi

Melbourne.

Dan rupanya dia adalah seorang pengusaha.

Dan pada pertemuan kami yang pertama itu, saya

begitu tertarik dengan cerita beliau.

Berikut ada sekelumit dari bagaimana Mbak, saya panggil

Mbak karena masih muda sekali, bagaimana Mbak Jonathan

McIntosh itu yang hidupnya katakanlah di Amerika dan

di Indonesia itu merintis usahanya dalam mendirikan OPAPER

App itu untuk membantu para pengusaha terutama pengusaha

kecil di Indonesia.

Nah, apa tadinya atau bagaimana tadinya dia dapat

sukses dalam usahanya itu?

Berikut wawancara kami.

Tadinya apa sih yang mendorong Mbak Joanathan membentuk

atau mendirikan OPAPER App ini?

Speaker 2

Seperti yang aku bilang, aku S1, S2 di

Amerika.

Sebenarnya S2 itu saat-saat aku yang cukup

struggling, Bu.

Karena keluarga aku punya bisnis di Indonesia dan

mamaku yang came from nothing ya, bikin bisnis

yang cukup berhasil di Indonesia.

She took pride in it dan dia pengen

aku nerusin.

Cuma aku pengen jadi perempuan pertama di keluarga

ku yang lulus sekolah dan lulus S2.

Aku bilang ke mamaku, aku gak akan balik,

Ma.

Aku pengen S2 selesain dulu.

Lalu kita berdua karena sama-sama keras ya,

mamaku bilang, yaudah terserah kamu, tapi aku gak

mau bayarin, kamu hidup aja sendiri di negara

orang.

Mungkin aku cuma punya uang 100 dolar apa

berapa, itu yang aku bener-bener kayak, wah

gimana ya aku bayar uang sekolah, gimana ya

aku bayar apartmenku dan lain-lain, gimana ya

aku hidup gitu.

Akhirnya aku punya bakery, Bu, di Amerika.

Aku punya bakery karena aku tau aku bisa

baking dan aku udah berapa kali sebenernya jualan

buat fundraising, karena aku marathon.

Marathon untuk cancer, mamaku ada cancer waktu itu.

Lalu akhirnya mulailah aku berjualan dengan bakery ini

selama setahun lebih yang sangat susah, Bu.

Sangat susah kayak sistemnya juga gak cukup, aku

harus pagi-pagi belanja ke pasar, aku sambil

kuliah, nah itu Bu, bener-bener cuma kayak

ya ada uang berapa aku gulirin, aku PO,

sampai akhirnya aku masukin ke kafe-kafe dan

lain-lain, aku harus rental kitchen, gitu.

Jadi beneran cuma dari situ, itu aku struggling

banget sih, kayak aku gak bisa tidur, cuma

tidur berapa jam gitu kan, karena harus belajar

dan kuliah dan segala macem, gitu.

Itu yang menurut aku kayak, ah aku gak

akan lupain ini, gitu loh.

Tapi aku lulus, dan keuntungan itu bisa bayar

uang sekolahku, cuma aku kayak kayaknya aku gak

pengen deh jalanin bakery lagi, gitu.

Dan karena aku bidangnya finance, dan akhirnya aku

computer science, aku lanjutin kerja di investment, terus

aku kerja di startup.

Dan setelah 10 tahun aku kerja di startup

sebagai machine learning product lead, terus aku balik

ke Indo, lah kok problemnya masih sama yang

aku alamin, gitu.

Itu mungkin yang bikin aku tuh kayak, kayaknya

it's time for me, untuk bangun sesuatu yang

bisa bantu orang lain.

Jadi di situ.

Hanya satu kata yang dapat saya berikan, hebat.

Ini kan karena kemauan kan, nah apakah pengalaman

ini juga dicantumkan atau diberitakan dalam presentasi, atau

mungkin di OPAPER itu sendiri, sehingga orang

yang membacanya itu mengerti dan terinspirasi, mbak?

Kayaknya kalau di OPAPER sendiri, enggak ya,

Bu, ya.

Tapi aku sering keliling.

Aku tuh kalau ke, karena aku masih tinggal

di Amerika, setengah tahun di Amerika, setengah tahun

di Indonesia.

Tapi aku selalu keliling, dan aku selalu ngobrol

sama mercen-mercenku, kisah mereka tuh gimana, apalagi

yang bisa aku bantu, dan aku juga sharing

kehidupanku, dan lain-lain, gitu.

Mungkin dari situ juga makanya kita grow ya,

Bu, ya.

Yang tadi aku bilang, akhirnya karena sama-sama

berasa, oh kamu ngerti yang aku rasain, akhirnya

dia kenalin ke temennya untuk pakai all paper,

dan lain-lain.

Jadi kita selalu mungkin dari situ sih.

Itu yang dari grassroot-nya ya.

Yang kita pengen, ya emang kita juga ngebantu,

tapi ada sisi bisnisnya, karena kan kita, menurut

aku salah satu benefit yang aku dapatkan juga

adalah aku kerja lama di Amerika, aku juga

banyak koneksi, secara investor, secara lain-lain, dan

investor kita manca negara.

Dari US, dari Eropa, dari Jepang, dan dari

Singapura, gitu.

Itu menurutku sesuatu yang jarang juga didapetin opportunity

seperti itu, gitu kan.

Itu yang aku pengen, mungkin ke depannya kalau

kita udah makin maju, sesuatu yang aku bisa

bantuin ke yang lain, gitu.

Aku juga kadang mentorin founder-founder lain, sih.

Speaker 1

Ini berarti bidang lain ya, Mbak, ya.

Artinya itu bidang motivasi, kan.

Tidak apa-apa.

Tapi tadi dikatakan bahwa investornya itu justru dari

manca negara.

Bagaimana itu caranya merintis dan untuk menarik mereka

-mereka itu?

Speaker 2

Aku kerja di Amerika 10 tahun, ya.

Benar-benar dari bawah banget.

Sampai aku ngelead produk, sampai aku dipercaya, sampai

aku tuh bantu CEO-ku untuk pitching ke

investor, dan lain-lain.

Ini mungkin yang aku ngerasa, aku nggak pernah

mikirin seberapa banyak effort yang aku lakukan pada

saat aku kerja.

Aku cuma ngejalanin aja, karena menurut aku, ya

aku pengen tahu, aku pengen dapat pengalaman.

Jadi aku nggak hitung-hitung gitu loh, kayak

jam kerjaku atau gimana.

Tapi karena semua effort yang aku pelan-pelan

tumpuk selama 10 tahun, itu yang akhirnya orang

tuh tahu, gitu loh.

Kalau Hamadjuan, pasti dia akan mencoba terbaik, gitu.

Jadi investor aku tuh kenalnya dari aku kerja

dulu.

Dari network yang aku udah bangun di Amerika.

Lalu pada saat aku bangun No Paper, mereka

invest, mereka bilang ke temennya, kamu mau masuk

juga nggak, gitu.

Itu sih yang menurut aku nggak ada sesuatu

yang overnight, ya.

Speaker 1

Ini memang, semua ini kan dipersingkat ya tadi

ya, artinya tuh diambil intinya-intinya saja.

Tapi seperti kata Mbak Joanathan sendiri, bahwa semua

itu diritis dari awal.

Sukses untuk OPaper, dan sampai jumpa di

lain kesempatan.

Speaker 2

Thank you.

END OF TRANSCRIPT

Share
Follow SBS Indonesian

Download our apps
SBS Audio
SBS On Demand

Listen to our podcasts
Independent news and stories connecting you to life in Australia and Indonesian-speaking Australians.
Ease into the English language and Australian culture. We make learning English convenient, fun and practical.
Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS
SBS Indonesian News

SBS Indonesian News

Watch it onDemand