Definisi Kemenangan: Hidup adalah Memilih
Bagi Jabo, kemenangan bukanlah tentang seberapa besar karya itu meledak di pasar. Ia mendefinisikan hidup sebagai serangkaian pilihan yang harus dihadapi dengan keberanian untuk "hadir".
"Kemenangan? Saya tidak pernah berpikir untuk menilai kemenangan. Hidup itu harus memilih, dan setelah memilih, kita harus hadir. Setiap karya yang saya buat adalah untuk berbagi bahwa hidup ini tidak bisa sendiri," ungkapnya dengan lugas.
Prinsip inilah yang menjaga api kreativitasnya tetap menyala. Baginya, rahasia energi yang ia miliki sangatlah sederhana: terus bergerak. Ia mengutip liriknya sendiri sebagai filosofi hidup yang absolut—bahwa proses manusia baru akan selesai saat detak jantung terakhir berhenti.
Yogyakarta dan Perjalanan "Si Jabo"
Menengok ke belakang, 50 tahun lalu, Sawung Jabo adalah seorang pemuda yang mencari jati diri di Yogyakarta.
Meski lahir di Surabaya, ia merasa "lahir kembali" secara artistik di kota gudeg tersebut.
Ia mengenang masa-masa sulit saat harus hidup berpindah-pindah (ngumbara) karena pilihannya menjadi seniman sempat tidak dipercaya oleh orang tua.
Di Yogyakarta, ia belajar satu nilai penting: Kerendahan hati.
Ia bertemu seniman besar yang tetap bersahaja dan makan "ngemper", bersama intelektual yang tidak sombong dan belajar dari mereka.

Sekolah Jalanan dan Kolektivitas Sirkus Barok
Sirkus Barok, kolektif seni yang ia pimpin, berhasil melampaui berbagai zaman—mulai dari era Orde Baru, Reformasi, hingga masa kini. Jabo meyakini bahwa kekuatan kolektif ini adalah karunia, namun juga hasil dari keterbukaan pikiran.
Jabo adalah penganut "Sekolah Jalanan". Ia tidak membatasi diri pada institusi formal. Baginya, guru bisa datang dari mana saja: tukang bakso, ustadz, bahkan pencopet dan pelacur.
"Sekolah itu tidak harus di gedung dan tidak harus bayar administrasi. Kesenian adalah mengolah yang sudah ada menjadi bermakna," tuturnya. Di Sirkus Barok, ia menerapkan prinsip kejujuran: "Datang bersih, pulang bersih."

Warisan SWAMI dan Kantata Takwa
Ketika ditanya mengenai lagu-lagu legendaris seperti Bento dan Bongkar yang masih relevan hingga kini, Jabo mengaku tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi.
Sawung Jabo juga mengenang masa-masa kolaborasi ikonik dalam proyek Swami dan Kantata Takwa sebagai sebuah "perjodohan" takdir.
Di sana ia bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti WS Rendra dan Iwan Fals.
Saat proses kreatif bersama Iwan Fals, WS Rendra, dan Setiawan Djody, ia hanya fokus pada satu hal: Kejujuran.
Ia mengenang masa-masa sulit saat rekaman lagunya ditolak oleh label karena dianggap tidak laku dan "tidak ada cinta-cintanya". Namun, ia tidak menyerah. Ia menggunakan strategi mengundang "superstar" untuk berkolaborasi tanpa bayaran, hanya demi memperkenalkan karyanya kepada publik.
Pesan untuk Generasi Muda
Menjelang usia 75 tahun, Sawung Jabo tidak memberikan tips teknis yang rumit bagi musisi muda.
"Jangan berhenti bergerak sebelum jantungmu berhenti berdetak."Sawung Jabo

Di akhir refleksinya, ia berpesan kepada generasi muda untuk berani menjadi diri sendiri, terus memberi, dan pantang menyerah dalam menjalani jatuh bangun kehidupan.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore. Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.



