Australia dikenal sebagai negara multikultural dengan keberagaman agama, budaya, dan latar belakang etnis. Di tengah keberagaman ini, menanamkan nilai puasa kepada anak bukan hanya menjadi bagian dari pendidikan agama, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan identitas diri. Nilai puasa seperti kesabaran, empati, disiplin, dan rasa syukur memiliki relevansi universal yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari anak, baik di sekolah maupun juga di rumah.
Guru memiliki peran strategis dalam membantu anak memahami makna puasa secara kontekstual dan inklusif. Kali ini kita berkesempatan untuk mewawancarai Rina Febrina Sarie yaitu pengajar di salah satu sekolah islam di Australia, Minaret Collage. Rina juga seorang guru madrasah di Tahsin for Kids, South East. Nilai puasa seperti empati dan kepedulian sosial dapat dihubungkan dengan pelajaran tentang keberagaman, toleransi, dan kehidupan bermasyarakat.
Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak. Di rumah, nilai puasa diajarkan melalui keteladanan dan pengalaman langsung. Sebagai orang tua, Aya Nuzli juga menerapkan bahwa anak dapat dilatih berpuasa secara bertahap agar memahami prosesnya tanpa merasa terpaksa.
Keberhasilan penanaman nilai ini sangat bergantung pada sinergi antara guru di sekolah dan orang tua di rumah.



