Meskipun laporan HIA terbaru menyoroti booming lokal di beberapa wilayah Australia, wilayah lain mengalami stagnasi yang signifikan.
Untuk memberikan gambaran tentang kompleksitas ini, SBS Radio Indonesia mewawancarai veteran real estat, Hendra Wijaya dari Richardson & Wrench Maroubra, untuk memberikan analisis ahli tentang lanskap properti saat ini.
Hendra Wijaya menjelaskan bahwa pasar properti Australia saat ini dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global. Secara umum, harga properti dengan nilai tanah masih stabil, sementara pasar apartemen cenderung stagnan.
Meskipun Sydney dan Melbourne mengalami stagnasi, kota-kota seperti Brisbane justru menunjukkan potensi peningkatan karena faktor pembangunan infrastruktur menjelang Olimpiade.
Terkait kebijakan pemerintah mengenai negative gearing dan pajak modal, Hendra menyarankan para investor untuk tetap memantau arah kebijakan tersebut karena sangat berpengaruh pada minat jual-beli.

Bagi calon pembeli, periode ini dianggap sebagai "pasar pembeli" (buyer’s market) yang menguntungkan karena harga sedang tidak terlalu kompetitif, sehingga peluang mendapatkan harga wajar lebih terbuka sebelum pasar kembali melonjak di masa depan.
Hendra juga menekankan pentingnya mempertimbangkan lokasi dengan rencana pembangunan infrastruktur pemerintah, seperti jalur Metro, Light Rail, serta area di sekitar bandara baru di wilayah Barat Sydney (seperti Leppington).
Bagi mereka yang ingin menjual atau melakukan downsizing, ia mengingatkan bahwa metode lelang (auction) hanyalah salah satu cara penjualan di mana pemilik tetap memegang kendali penuh atas harga.
Saran utamanya bagi masyarakat adalah segera melakukan transaksi jika sudah memiliki persetujuan pinjaman dari bank dan menemukan properti yang harganya masuk akal.
*Penafian: Informasi ini bersifat umum dan bukan merupakan nasihat hukum.*
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.



