Hidup di Australia tidak membuat M. Hafidz Al-Furqan, atau yang dikenal dengan akun media sosial “dagucoklat”, lepas dari akarnya. Bagi mahasiswa asal Indonesia ini, bahasa Indonesia tetap jadi ruang nyaman lintas pertemanan, sementara bahasa daerah terus dihidupkan sebagai penanda identitas.
M. Hafidz Al-Furqan, mahasiswa S2 Industri Kreatif dan Media Komunikasi di Macquarie University dan Direktur Komunikasi AIYA Nasional, menyebut Sumpah Pemuda sebagai pengingat yang tetap relevan bagi generasinya, terutama soal butir ketiga Sumpah Pemuda, yaitu “menjunjung bahasa persatuan”.
Bagi Hafidz, bahasa Indonesia adalah bagian dari identitas yang ia pilih untuk diperdalam. Pengalaman kebahasaan sejak 2020, termasuk menjumpai padanan seperti “lantatur” untuk “drive-thru”, membuka kembali kekayaan leksikon dan mendorongnya belajar lebih jauh. Di Australia, ia menindaklanjutinya dengan berbahasa Indonesia saat bertemu sesama perantau, seraya menyesuaikan pilihan bahasa dengan konteks.
Lalu, di media sosial, Hafidz kerap membagikan konten berbahasa Indonesia karena, menurutnya, itu membantu menjaga kedekatan para pengikut dengan bahasa tersebut.
Di Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah… kalau tidak dikenali anak muda, beberapa tahun kemudian bisa hilang.M. Hafidz Al-Furqan

Hafidz merumuskan tiga pilar: melestarikan bahasa daerah, mengutamakan bahasa Indonesia, dan menguasai bahasa asing. Menurutnya, bahasa daerah adalah identitas yang perlu dirawat agar tidak punah, sementara bahasa Indonesia menjadi perekat, dan bahasa asing membuka ruang perkenalan Indonesia di forum global.
Sementara, makna “bertanah air satu” pada Sumpah Pemuda, bagi Gen Z yang satu ini adalah amanah untuk menjaga Indonesia selama tinggal di negara asing, antara lain dengan aktif di komunitas, mengenalkan budaya, dan merawat bahasa Indonesia.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





