Pada tahun 2025, proporsi pembayaran tunai naik menjadi lima belas persen dibandingkan tiga belas persen pada tahun 2022, menghentikan tren penurunan jangka panjang akibat dominasi dompet digital.
Meskipun Gubernur RBA Michelle Bullock memprediksi uang tunai mungkin hanya bertahan sekitar sepuluh tahun lagi, instrumen ini tetap dianggap krusial sebagai cadangan darurat jika sistem elektronik gagal dan sebagai alat pembayaran utama bagi kelompok lansia, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga di daerah regional.
Masyarakat beralih kembali ke uang tunai karena alasan praktis seperti penganggaran untuk mengontrol pengeluaran, menjaga privasi keamanan, serta menghindari biaya tambahan kartu yang rencananya akan dicabut RBA pada akhir tahun ini.

Mengingat sepertiga warga Australia akan menghadapi hambatan besar tanpa akses fisik ke uang, pemerintah federal mengambil langkah tegas dengan mewajibkan peritel bahan pokok dan bahan bakar untuk menerima uang tunai mulai 1 Januari 2026.
Kebijakan ini diambil untuk melindungi inklusivitas sistem pembayaran bagi kelompok rentan, termasuk komunitas First Nations dan korban penyalahgunaan keuangan, sembari memastikan Australia tetap berfungsi secara efektif dalam transisi menuju masyarakat yang secara fungsional nirkas.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.




