Produsen coklat asal Bali berbagi pengalamannya mengikuti pameran Fine Food Australia 2026. Sertifikasi menjadi salah satu tantangan utama yang harus dihadapi UMKM Indonesia untuk menembus pasar Australia.
Pameran Fine Food Australia 2026 menjadi ajang bagi pelaku usaha makanan dan minuman Indonesia untuk memahami kebutuhan pasar internasional, kata Ida Bagus Nama Rupa, direktur Junglegold Bali Coklat.
GusDe, sapaan akrabnya, berpartisipasi di Paviliun Indonesia dalam pameran yang berlangsung pada 31 Agustus hingga 3 September 2026 di Melbourne Convention and Exhibition Centre. Pameran tersebut difasilitasi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne.

Pelaku usaha dari berbagai negara menampilkan produk mereka di ajang ini, kata GusDe. Pameran ini bukan semata-mata soal menjual, kata sang direktur. Ajang ini juga dimanfaatkan untuk memahami posisi produk di antara merek-merek dunia serta mempelajari tren makanan dan minuman global lima hingga sepuluh tahun ke depan, tambahnya.
Ada tantangan tersendiri untuk menembus pasar ekspor. Bagi UMKM yang baru berdiri atau yang selama ini nyaman dengan pasar lokal, menembus pasar ekspor tidaklah mudah, kata GusDe.
Bahkan perusahaannya yang sudah beroperasi selama 16 tahun pun masih terus belajar, ujar GusDe.
Bagi UMKM Indonesia yang ingin serius masuk ke pasar Australia, GusDe menekankan pentingnya mempersiapkan perizinan dan sertifikasi produk terlebih dahulu. Setelah aspek legal terpenuhi, kata GusDe, barulah fokus pada kualitas, kemasan, dan pemahaman kebutuhan pasar internasional.
Junglegold, yang didirikan oleh Tobias Garritt pada 2010, sudah melakukan ekspor ke Australia dalam jumlah kecil, khususnya ke Sydney, meski belum memiliki distributor resmi di negara ini, tambah GusDe.
Dengarkan wawancara lengkapnya dalam podcast SBS Indonesian.



