Dibesarkan di Indonesia, seniman visual Jayanto Tan - lahir sebagai Tan Seng Lie pada tahun 1969 - harus mengganti namanya agar dapat diterima di sekolah dasar.
Ketika Suharto berkuasa pada tahun 1965 setelah terjadinya kudeta, ia memberlakukan sejumlah kebijakan yang mendiskriminasi etnis Tionghoa Indonesia yang telah tinggal di negara itu selama beberapa generasi.
"Saya tidak boleh di-spotlight di sekolah," ujar Jayanto.

"Saya tidak boleh menaikkan bendera. Yang boleh hanya yang mayoritas saja,” kenang Jayanto, menambahkan bahwa penampilan fisik membuat dirinya terhitung sebagai minoritas.
“Saya dipanggil ‘Cina’, dipanggil ‘banci’".
Tetapi setelah lari ke Australia dua dasawarsa lalu, Jayanto telah memahat jati dirinya yang ‘asli’.

Dengarkan cerita selengkapnya di sini.




