Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Tragedi Tual: Gugatan Keadilan Atas Kekerasan Aparat Terhadap Anak di Maluku

site_1_image_870x_699ea2e0c0b57.jpg

The Indonesian National Police Public Relations Division conveyed the latest developments regarding the law enforcement process in the case of violence against children that occurred in Tual, Maluku. Credit: tribratanews/Mabes Polri

Kasus kekerasan yang mengakibatkan meninggalnya seorang remaja berusia 14 tahun di Kota Tual telah memicu gelombang simpati sekaligus desakan keadilan secara nasional.


Seorang anak berusia 14 tahun di Tual, Maluku, menjadi korban kekerasan petugas polisi. Ia meninggal setelah dipukul menggunakan helm taktikal oleh seorang anggota polisi.

Tual adalah sebuah kota di pulau kecil gugusan kepulauan Maluku, yang tidak nampak di peta.

Kasus kekerasan ini menggugah emosi dan simpati masyarakat secara nasional, sehingga muncul desakan agar polisi menanangani serius insiden tersebut.

Kepala Kepolisian RI, sudah menjanjikan bahwa kasus ini akan ditangani secara transparan sesuai hukum.

Oknum itu kini telah ditangkap dan resmi dipecat secara tidak hormat setelah menjalani pemeriksaan intensif selama 13 jam.

Guna menjaga kondusivitas wilayah dan menghindari eskalasi massa, proses hukum terhadap pelaku kini dialihkan ke Ambon untuk diproses melalui sistem peradilan sipil di bawah pengawasan ketat berbagai elemen masyarakat.

Boy Lekipiouw, pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Universitas Pattimura menyebut, situasi di Tual saat ini cukup kondusif setelah sebelumnya pihak keluarga korban mendatangi kepolisian setempat, agar ada pertanggungjawaban secara hukum.

Boy Lekipiouw
Boy Lekipiouw, a lawyer from the Legal Aid Institute (LBH) at Pattimura University, Ambon, Maluku. Credit: Boy Lekipiouw

Lembaga Bantuan Hukum Universitas Pattimura bersama tokoh lintas sektoral terus mengawal kasus ini demi memastikan transparansi dan mencegah terulangnya represi aparat terhadap warga sipil, terutama kelompok rentan.

Situasi di Tual berangsur kondusif seiring langkah responsif kepolisian dalam memenuhi tuntutan keluarga korban, meski catatan kelam kekerasan aparat terhadap masyarakat adat di Maluku tetap menjadi sorotan tajam bagi penegakan HAM di wilayah tersebut.

Harapan besar kini tertumpu pada pengadilan di Ambon agar mampu memberikan keadilan sejati bagi keluarga yang ditinggalkan sekaligus menjadi momentum evaluasi total bagi institusi keamanan.

====================

Nurhadi Sucahyo

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now