Di Indonesia banyak lahir media-media alternatif dan independen, di tengah kepungan media yang semakin dikhawatirkan mengalami penurunan kualitas.
Sejak berdiri pada 2014, media daring independen Floresa berkomitmen menjalankan jurnalisme publik di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengawal pembangunan, memperjuangkan demokratisasi, serta menyuarakan hak warga rentan, masyarakat adat, isu lingkungan, dan korban kekerasan seksual.
Di bawah kepemimpinan Herry Kabut, Floresa memegang teguh kode etik jurnalistik dan memilih menjaga jarak dari kekuasaan dengan menolak iklan atau kerja sama dari pemerintah daerah demi menghindari sensor serta intervensi redaksi.
Meskipun menghadapi situasi ekonomi yang sulit, mereka tetap menjaga keberlangsungan operasional melalui iklan komunitas literasi dan UMKM, kolaborasi liputan, fellowship, serta donasi publik.
Herry menegaskan bahwa investasi pada media independen melalui hibah tanpa intervensi sangat penting untuk merawat demokrasi agar aspirasi rakyat dapat didengar oleh pemerintah.
Namun, ia merasa pesimis terhadap rezim saat ini yang cenderung mengintimidasi dan mencap suara kritis sebagai antek asing, sehingga membuat ruang kerja bagi media independen menjadi tidak aman meskipun mereka mampu bertahan.
Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Minggu jam 3 sore. Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcasts kami.
Gunakan SBS Audio, dapat diunduh dari App Store atau Google Play.





