Halmahera di Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang mengalami perubahan sosial maupun lingkungan cukup besar karena industri ekstraktif yang begitu masif datang ke kawasan itu.
Masyarakat bereaksi dan mengkoordinasi diri dalam berbagai organisasi atau lembaga maupun gerakan-gerakan yang mencoba menahan laju rusaknya lingkungan dan kehidupan sosial di Halmahera, Maluku Utara, khususnya di Sagea.
Sulastri Mahmud, adalah aktivis perempian di Save Sagea, sebuah kelompok masyarakat yang mencoba mengampanyekan kesadaran tentang bagaimana perubahan sosial yang terjadi di masyarakat akibat industri ekstraktif yang datang ke Halmahera atau Maluku Utara secara umum.
Dia menceritakan, Save Sagea pertama kali dibentuk pada 2022, tetap embrionya telah ada melalui sebuah organisasi para mahasiswa bernama Gemuruh.
“Latar belakang persoalannya terkait izin usaha pertambangan yang semakin marak dan semakin banyak izinnya. Jadi mengancam ruang hidup orang-orang Halmahera,” kata dia memberi alasan pembentukan Save Sagea.
Sulastri ingat, tambang mulai masuk ke kawasan itu sekitar 2007, ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Tahun demi tahun, perusahaan tambang yang datang makin banyak dan kerusakan lingkungan terus terjadi. Di tengah kerusakan itu, kehidupan sosial masyarakat mulai berubah. Warga yang berprofesi sebagai petani atau nelayan mulai berkurang. Mereka menjual tanah yang dimiliki dan kemudian membuka usaha baru, seperti penyewaan kamar kos. Namun banyak pula yang tidak memiliki sumber pendapata, dan menjual tanahnya sedikit demi sedikit untuk membiayai hidupnya.
Cara hidup masyarakat juga berubah.
“Yang awalnya kita kalau tidak ada ikan, kita mancing, terus kalau tidak ada pasokan makanan seperti sagu kita cari di hutan. Itu sekarang sudah tidak ada, sudah hilang,” ujarnya.
Kehidupan yang konsumtif menghapus tradisi lama yang dekat dengan hutan dan laut. Berkebun semakin ditinggalkan.
Sungai yang tercemar juga menjauhkan hidup warga dari aliran air. Dulu ketika sungai dialiri air jernih, dia menjadi salah satu pusat kehidupan. Warga mencuci, mengambil air bersih, memancing di kawasan sungai. Sekarang setelah tercemar, sungai ditinggalkan dan ikan serta kerang menghilang.
“Sampai sekarang kita masih berjuang mempertahankan wilayah kita itu ada tiga. Yang pertama, Buku Legalol. Yang kedua, danau Yonelo. Sama yang ketiga, goa Bokimaruru,” papar Sulastri lagi.
Save Sagea dibentuk karena warga setempat meyakini, bentang karst di kawasan mereka tinggal harus diselamatkan. Tiga lokasi yang dipertahankan saling terkait, sehingga jika satu dihancurkan, maka yang lain akan ikut terdampak.
Selain itu warga juga memiliki kepercayaan terhadap para leluhur dan itu terkait dengan tempat-tempat yang masih tersisa. Jika wilayah itu rusak oleh industri ekstrajktif, sama saja dengan menghapus kepercayaan lokal yang diwariskan.
Save Sagea juga membentuk Perkumpulan Pakawele, yang rutin menggelar diskusi kecil dengan para ibu dan bapak yang di kampung. Kegiatannya adalah dari surabi ke surabi, yang dalam bahasa Indonesia berarti dari dapur ke dapur. Para aktivis bertamu ke dapur para warga satu persatu dan mendiskusikan perubahan hidup mereka setelah industri ekstraktif merusah wilayah itu. Diskusi kecil diadakan sambil memakan sirih pinang, yang juga menjadi tradisi setempat.
Mereka juga memiliki komunitas lain yang disebut sebagai Sekolah Perempuan Pesisir. Salah satu kegiatannya adalah pencegahan pernikahan dini, yang belakangan kerap dilakukan anak-anak remaja setempat dengan laki-laki pendatang pekerja di industri ekstraktif. Ada pula Sanggar Bokimoruru yang fokusnya di pemulihan tradisi dan budaya.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





