Dokter hewan Muhammad Wahyu menuangkan pengalaman 25 tahun merawat gajah Sumatera ke dalam buku, mengungkap tantangan penyakit dan upaya reintroduksi gajah ke habitat aslinya.
Seorang dokter hewan, dokter hewan Muhammad Wahyu, dari Yayasan Ganesa Aksara Sumatera, di Medan, Sumatera Utara, menerbitkan sebuah buku berjudul Reintroduksi.
Kebetulan tanggal 12 Agustus diperingati bersama sebagai Hari Gajah Sedunia. Buku ini menarik, karena selain bertema tentang gajah, juga ditulis seorang dokter hewan dan berisi pengalamannya selama 25 tahun mengabdi untuk kesehatan gajah di Sumatera.

Wahyu mengatakan, buku ini adalah catatan pribadinya, bekerja dengan gajah selama 25 tahun terakhir. Pengalaman itu coba ia tuliskan dalam bentuk novel, agar, kata dia,tidak berkesan menggurui. Kisah di dalamnya adalah tentang kasus-kasus yang pernah dia tangani dalam merawat gajah.
Dia berharap, dokter hewan generasi penerusnya dan juga pemerintah bisa mengambil manfaat dari pengalannya dalam buku ini.
"Reintroduksi itu sebuah peluang, istilahnya salah satu alternatif untuk mempertahankan gajah Sumatra," ujarnya.
Reintroduksi adalah upaya mengenalkan Kembali gajah-gajah yang sudah dirawat atau ditangkarkan, agar kembali hidup di habitat aslinya. Upaya ini tidak mudah, karena banyak gajah yang ditangnkarkan, ternyata memiliki penyakit tertentu yang berbahaya atau bisa menular jika dia dilepaskan kembali ke alam.
Salah satu penyakit yang kerap ditemukan pada gajah adalah Tuberculosis atau TBC. Penyakit ini ternyata bisa ditularkan dari manusia ke gajah maupun sebaliknya. Persoalannya adalah, pada manusia upaya pengobatan lebih mudah dilakukan, dibandingkan pada gajah.
Pengalaman lain yang ditulis Wahyu sebagai dokter hewan adalah penanganan penyakit tetanus. Penyakit ini dia temui pada gajah sejak 2002 hingga kasus terakhir 2026 ini. Salah satu gejala tetanus yang dipaparkan Wahyu adalah terjadinya gejala dispagia, yaitu ketidakmampuan menelan pada gajah yang kena tetanus.
"Dari kematian gajah akibat tetanus tadi, saya berproses untuk melakukan, meminta apa kebijakan pemerintah untuk melakukan vaksinasi pada gajah," kata Wahyu.
Desakan ini tentu saja harus didasarkan pada penelitian. Karena itulah, Wahyu meneliti pemberian vaksin tetanus pada gajah bersama tim dari sebuah lembaga pemerintah. Penelitian ini untuk menguji tingkat kemampuan vaksin membentuk antibodi atau kekebalan kepada gajah terhadap tetanus. Proses ini tidaklah mudah.
Wahyu merinci, tantangan konservasi gajah Sumatera, terutama gajah jinak terkait penyakit, ada tiga. Pertama adalah EEHV atau Elephant Endotheliotropic Herpesvirus, yang merupakan virus herpes khusus dan menginfeksi anak gajah. Kedua, adalah kasus penyakit tuberkulosis yang sampai saat ini masih sulit untuk dideteksi. Ketiga, terkait genetik, dimana setelah melakukan pemetaan terhadap genetik gajah Sumatera, mereka hanya memiliki dua klan atau dua kelompok gajah besar. Gajah di wilayah Riau sampai Lampung, adalah klan bagian selatan dan Sumatera Utara sampai ke Aceh sebagai klan utara.

Karena hanya ada dua klan, maka sistem kesehatan bagi gajah harus dibangun dengan baik. Penyakit yang menimpa gajah jinak di pusat penangkaran, bisa saja berdampak terhadap gajah liar.
Kematian sering terjadi pada gajah muda berumur 2-5 tahun, sedangkan gajah tua sering diserang oleh TBC. "Problemanya adalah, tuberkulosis tadi itu sifatnya latent, tersembunyi, dan diagnosanya sangat sulit," kata Wahyu.
Hingga saat ini, belum ada metode diagnosis bagi gajah yang terserang TBC ketika dia masih hidup. Kasus baru ditemukan setelah Wahyu, sebagai dokter hewan, menelitinya pada gajah yang sudah mati.
Riset, kata Wahyu memang berguna untuk terus memperkaya keilmuan di bidang pelestarian gajah. Tetapi menurut dia, yang lebih penting bagi pemerintah saat ini adalah bagaimana membangun sumber daya manusia. Beberapa bidang yang penting adalah diagnosa penyakit, pengobatan penyakit, dan mahod-nya juga.
"Jadi sekarang ini adalah bagaimana memperkuat sistem perawatan kesehatan gajah di semua pusat latihan gajah di Sumatera dengan potensi sumber daya yang ada, yaitu dokter hewan yang sudah cukup banyak dan mahod yang juga sudah cukup terampil," papar Wahyu.





