Ngaben massal menjadi solusi bagi banyak keluarga di Bali untuk menjalankan upacara kremasi adat yang biayanya bisa sangat mahal jika dilakukan sendiri.
Ngaben adalah upacara pembakaran atau kremasi jenazah umat Hindu di Bali, Indonesia. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk menyucikan roh (Atma) orang yang telah meninggal dunia sebelum dikembalikan kepada sang pencipta.
Menurut Jurnal Penelitian Agama Hindu, Ngaben dapat diartikan sebagai sebuah upaya pengabdian dengan jalan memberikan bekal kubur bagi orang yang telah meninggal. Namun biaya yang diperlukan untuk melaksanakan Ngaben perorangan tidak sedikit.
Pelaksanaan Ngaben mandiri bisa menelan biaya hingga ratusan juta rupiah. Hal ini dikarenakan seluruh akomodasi, sarana upacara, hingga konsumsi untuk ratusan orang ditanggung penuh oleh satu keluarga.

Karena tingginya biaya ini, diadakanlah tradisi Ngaben massal, yaitu upacara kremasi yang dilakukan secara kolektif atau bersama-sama oleh banyak keluarga dalam suatu desa adat (Banjar) dengan dukungan finansial dari pemerintah daerah.
Karena diadakannya hanya setiap tiga hingga lima tahun sekali, jenazah warga yang meninggal biasanya dikubur sementara terlebih dahulu di pemakaman desa atau Setra.
Pihak keluarga kemudian akan menunggu hingga jadwal Ngaben Massal di desa mereka tiba. Saat upacara akan dimulai, tulang-belulang mendiang akan digali kembali untuk dikremasi bersama.

Baru-baru ini, Ngaben massal diadakan di Desa Adat Jimbaran, di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali.
Salah seorang warga, I Wayan Yudiana melaksanakan Ngaben bagi mendiang paman dan bibinya yang berpulang beberapa bulan lalu.
“Kemarin kami menggali tulang belulangnya dan hari ini dibakar, sebelum akhirnya abunya dibawa ke laut untuk dihanyutkan,” ujar Yudiana.
Warga lainnya, I Made Sanjaya, melaksanakan ritual Ngaben bagi dua janin yang gugur dalam masa kandungan, adik, serta beberapa anggota keluarga lainnya.
“Ini dua anak saya, laki-laki dan perempuan. Bagi umat Hindu Bali, janin yang gugur itu sudah jadi dan harus diupacarai juga,” ujarnya.

Sementara Dewi Rasti pada hari itu menuntaskan ritual Ngaben bagi sang ayah mertua dan beberapa anggota keluarga lainnya.
“Bapak mertua saya sudah meninggal sekitar delapan bulan lalu. Hari ini kami upacarai dan abunya akan dibawa ke laut untuk dilarung atau dihanyutkan.”
Meskipun ada rasa berduka, Ngaben seringkali dipandang sebagai "perayaan" pelepasan jiwa agar terbebas dari ikatan duniawi menuju proses reinkarnasi dan kebahagiaan abadi (Moksha).
“Perasaan saya campur aduk. Ada rasa sedih tapi juga senang karena sudah bisa melakukan Ngaben untuk anggota keluarga yang sudah pergi jadi tidak ada lagi rasa yang mengganjal,” ujar I Made Sanjaya.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





