Bagi anak muda jaman sekarang, mereka akan cenderung memilih MUA ( Make Up Artist) dari pada Tukang Paes ( Perias pengantin tradisional). Yang menurut Dr Dewi Cahya Ambarawati, seorang dosen, budayawan dan pemain dari Jogya, para MUA itu lebih fokus pada pencapaian wajah yang bersinar. Bahkan tidak jarang pula mereka menggunakan lensa mata agar memberi berbeda, bagi pengantin perempuan.
Menurut Dr Dewi, selain corak yang berbeda dalam riasan ada semacam falsafah yang diikuti dibalik riasan Tukan Paes. Bahkan bagi Tukang Paesnya sendiri ada hal-hal yang bersifat spiritual yang perlu dijalani sebelum merias pengantin.
Selain itu untuk riasan pengantin ada pola atau corak tertentu yang harus diikuti, karena pola tersebut juga mengandung filosofi. Seperti ranbut dikening yang harus dikerik misalnya yang dimaksudkan untuk membuang sial atau Nasib buruk di kemudian hari. D
Dalam wawancaranya dengan SBS Indonesian, Dr Dewi menjelaskan bahwa dalam riasan pengantin adat Jawa, juga dikenal dua aliran, yaitu gagrak Jogyakarta atau gagrak Surakarta. Dua gaya tata rias dan busana pengantin tradisional Jawa yang bersumber dari tradisi dua keraton berbeda, yaitu Keraton Yogyakarta (Jogja) dan Keraton Surakarta (Solo). Masih ada beberapa hal lainnya yang menyangkut falsafah dan tradisi yang dijelaskan oleh Dr Dewi dalam wawancaranya itu.





