Dua seniman diaspora Indonesia di Australia, Aisyah Kirana dan Addin Sugarda, membawa wayang ke ranah kontemporer melalui lokakarya yang terbuka untuk semua kalangan.
Wayang selama ini identik dengan seni tradisional Jawa. Namun dua seniman diaspora Indonesia di Australia mencoba membawa kesenian ini ke ruang yang lebih kontemporer melalui lokakarya wayang bayangan yang terbuka untuk semua kalangan.
Lokakarya gratis ini merupakan bagian dari ‘Gerhana’, sebuah acara seharian penuh yang digelar oleh Nongkrong Festival pada 22 Agustus 2026 di Melbourne untuk merayakan seni musik eksperimental dan budaya Indonesia.
Aisyah Kirana, seniman multidisipliner yang berpengalaman dalam fasilitasi lokakarya dan seni pertunjukan, berkolaborasi dengan Addin Sugarda, seniman keramik yang banyak mengeksplorasi pusaka dan cerita warisan Jawa.

Lokakarya ini bukan sekadar membuat wayang dalam bentuk tradisional. Keduanya merancang wayang dengan mengambil inspirasi dari motif dan simbol berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan suku Dayak, ujar Sugarda.
Sebenarnya [wayang dalam lokakarya ini] bukan berdasarkan wayang dari Dayak atau Bali, tapi kami itu mengambil inspirasi motif-motif [dan] simbol Dayak dan Bali [untuk dipergunakan sebagai motif membuat wayang].Addin Sugarda
Banyak warga Australia yang sudah mengenal wayang, tetapi hanya dalam satu atau dua bentuk saja, kata Kirana. Oleh karena itu, ia dan Addin ingin memperkenalkan wayang dengan cara yang lebih mudah dijangkau oleh berbagai kalangan, ujar Kirana. Lokakarya ini dirancang agar bisa diikuti oleh siapa saja, dari segala usia dan latar belakang, tanpa perlu memiliki pengalaman seni sebelumnya, tambahnya.
Dalam lokakarya ini, peserta membuat wayang sendiri dari desain yang telah disiapkan kedua seniman. Peserta memotong bentuk wayang menggunakan gunting dan cutter pen, lalu menempelkan mika berwarna pada wayang agar bayangan yang dihasilkan tidak hanya hitam, melainkan juga berwarna-warni, jelas Kirana.

[Lokakarya] wayang bayangan ini bisa jadi kontemporer karena memang ide baru - kita memang pengen bawa representasi [budaya dari berbagai daerah] kayak gini... Jadi orang bukan mikir wayangnya itu [identik] dengan Jawa terus, jadi bisa mikir alternatif ke motif-motif daerah lain.Aisyah Kirana
Penggunaan mika berwarna ini merupakan salah satu inovasi yang membedakan lokakarya ini dari wayang tradisional, ujar Sugarda. Ini adalah cara untuk membangun sesuatu yang baru di atas seni tradisional yang sudah ada, bukan menggantikannya, tambahnya.
Menariknya, kedua artis tersebut mengaku belum pernah menyaksikan pertunjukan wayang tradisional secara utuh. Addin Sugarda yang tumbuh besar di Jakarta mengatakan bahwa pengalaman menonton wayang secara keseluruhan memang langka, bahkan bagi warga Indonesia sendiri.
Dengarkan perbincangan selengkapnya, termasuk tentang tantangan menjadi seniman diaspora Indonesia di Australia, di podcast SBS Indonesian.





