SKIP TO MAIN CONTENT

Korban Sipil Berjatuhan akibat Tindakan Organisasi Papua Merdeka

West Papua
Papua Source: Google / Google earth

Seorang sopir yang memberikan jasa pengantaran di Kawasan pegunungan di Papua menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka.


Published

Updated

By Nurhadi Sucahyo

Presented by Nurhadi Sucahyo

Source: SBS


Skip to podcast episode content

Seorang sopir yang memberikan jasa pengantaran di Kawasan pegunungan di Papua menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka.


Ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh masyarakat sipil yang ditangkap dan kemudian dieksekusi oleh sayap militer OPM, hanya karena mereka bukan orang asli Papua. Sopir ini kebetulan dari Tanah Toraja. Sebelum ini korban-korban juga bermunculan, terutama dari masyarakat kecil yang menawarkan jasa di pedalaman, seperti pedagang atau pengendara ojek. Insiden demi insiden terus terjadi dan semua orang khawatir bahwa apa yang diharapkan yaitu perdamaian di Papua tidak akan terwujud.

Ismail Assow, adalah salah satu tokoh masyarakat Papua Pegunungan. Dia menyebut, kekerasan memang banyak terjadi di wilayah Papua Pegunungan, di wilayah Papua Tengah, yang merupakan basis-basis konsentrasi populasi etnis orang asli Papua.

Ismail menyebut, di kota-kota masyarakat meluapkan rasa protes melalui demonstrasi. Di Kawasan pegunungan Papua, mungkin aksi kekerasan dan pembunuhan itu adalah ekspresi serupa. Apalagi, kelompok ini sejak awal hanya memiliki satu aspirasi, yaitu pemisahan atau disintegrasi.

Sayangnya, proses dialog damai tidak pernah dilakukan. Justru tindakan represif pemerintah pusat semakin besar, terutama melalui pendekatan kekerasan militer. Aksi kekerasan demi kekerasan adalah wujud dari situasi semacam itu.

Ismail mengakui, memang ada antipati yang sangat tinggi di wilayah-wilayah konsentrasi, dimana habitat orang asli Papua saat ini bertahan di daerah pegunungan. Ismail mengibaratkan ini dalam situasi dimana Orang Asli Papua ditekan dan diburu, dan pada gilirannya mereka mempertahankan diri dan muncul kekerasan yang menyasar warga etnis-etnis di luar Papua.

"Kota Wamena, ibu kota provinsi Papua Pegunungan, itu dikurung dan dikuasai di seluruh jengkal tanah, dikelilingi, oleh kelompok Agianus Kogoya," tambah Ismail.

Dalam situasi penuh kekerasan, siapapun bisa dianggap sebagai informan pihak keamanan, baik itu Orang Papua sendiri maupun non-Papua. OPM sudah menyebut Kawasan di pegunungan sebagai kawasan perang, dan karena itu mereka bertindak sebagaimana situasi perang.

Ismail mengakui, Orang Asli Papua membutuhkan semua orang, siapa saja, dari etnis apa saja untuk kelangsungan kehidupan. Mereka membutuhkan dokter, perawat, guru, pemberi jasa seperti sopir, dan berbagai profesi lain yang diberikan warga non-Papua. Tetapi dalam situasi penuh tekanan dan ancaman, Orang Papua di Pegunungan cenderung membela diri, mempertahankan diri untuk tetap eksis dan selamat. Dalam posisi semacam ini, kata Ismail, proses dialog justru semakin dibutuhkan. Tetapi sampai saat ini tidak ada upaya diambil, sehingga yang muncul adalah kekerasan demi kekerasan.

Situasi politik di Papua secara umum memang tidak kondusif. Banyak bupati, walikota, dan politisi yang bukan Orang Papua. Aspirasi politik warga setempat juga tidak terakomodasi dengan baik. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), proses penyelesaian serupa di Afrika Selatan yang digagas Nelson Mandela, juga gagal dibentuk di Papua.

Kami butuh. Kami juga saudara. Dan orang-orang Papua itu juga butuh etnis Cina, Arab, etnis Buton, etnis Ambon, itu sudah puluhan tahun sebelum negara Indonesia ada, itu sudah ada di situ. Dan kami itu sebagai orang Papua satu kesatuan. Kenapa hal ini bisa muncul? Karena ada kekerasan negara secara struktural terhadap rakyat Papua.
Ismail Assow

Kemiskinan juga membelit Papua. Ismail memberi contoh, ada wilayah kecil bernama Caledonia di Pasifik yang justru tetap ingin menjadi bagian dari Perancis, karena mereka merasa ada keadilan yang diberikan. Sementara Papua sejak bergabung dengan Indonesia selalu menjadi provinsi termiskin, meski diakui memiliki kekayaan alam luar biasa.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.
Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now