Dalam minggu ini beberapa gunung berapi di Indonesia menampakkan kegiatannya, dan beberapa erupsi terjadi. Seperti apa yang terjadi pada hari Minggu 6 dan Senin 7 September 2026, gunung Anak Krakatau di selat Sunda, gunung Semeru di Jawa Timur, gunung Ibu di Maluku Utara dan gunung Ili Lewotok di NTT memuntahkan kolom abu. Walau jarak gunung-gunung itu cukup berjauhan, namun karena waktu erupsi yang hampir bersamaan maka dampaknya pun menjadi lebih terasa. Seperti misalnya kolom abu gunung Semeru yang mencapai 1.000 meter misalnya. Semua ini dikarena posisi Indonesia yang berada di zona Cincin Api Pasifik. Sekarang masalahnya apa yang terjadi di lapangan? Artinya bagaimana masyarakat menanggapi semuanya ini?
Dr Ayuning Budiarti adalah seorang dosen senior di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang mempunyai beberapa kampus di luar kampus utamanya yang berada di Serang, Banten.
Kebetulan beberapa hari belakangan ini Dr Ayuning karena tugasnya, berada di beberapa kota yang sempat terkena dampak abu vulkanik. Ditanya bagaimana reaksi masyarakat terhadap erupsi gunung berapi itu? Menurutnya, masyarakat cukup mengetahui situasinya, tetap waspada namun tidak terjadi keresahan. Bagi universitasnya sendiri, selama terjadinya erupsi gunung berapi itu ada beberapa mata kuliah yang dialihkan ke pembelajaran secara daring. Demikian pula ada sekolah yang sempat diliburkan namun banyak pula yang tetap berjalan seperti biasa. Dan pemakaian masker pun sangat dianjurkan, sebab jika terhirup debu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernafasan.
Sementara itu beberapa bandara udara pun juga ditutup.





