SKIP TO MAIN CONTENT

Tokoh Adat Berbicara soal Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan

Indonesia Forest Fires
A woman covers her face as she rides on a road amid the thick haze from forest fires in Mempawah, West Kalimantan, Indonesia, Thursday, Sept. 10, 2026. Source: AP / Tatan Syuflana/AP Photo/AAP Image

Sudah berminggu-minggu kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Timur, belum bisa diatasi sepenuhnya. Ada banyak isu yang melingkupi peristiwa ini, seperti apakah itu kebakaran yang disengaja, misalnya ada aksi korporasi di belakangnya. Atau karena praktik berladang masyarakat setempat.


Published

By Nurhadi Sucahyo

Presented by SBS Indonesian

Source: SBS



Skip to podcast episode content

Sudah berminggu-minggu kebakaran lahan dan hutan di Kalimantan, khususnya di Kalimantan Timur, belum bisa diatasi sepenuhnya. Ada banyak isu yang melingkupi peristiwa ini, seperti apakah itu kebakaran yang disengaja, misalnya ada aksi korporasi di belakangnya. Atau karena praktik berladang masyarakat setempat.


Margarita Seting Tekwan Beraan, seorang tokoh adat masyarakat Dayak di Kutai Barat, mengabarkan bahwa tiga hari yang lalu terjadi hujan local di sana. Meski tidak terlalu besar, setidaknya mampu meredam suhu panas yang menyengat.

"Cuma kita enggak tahu ini hujannya karena hujan buatan, karena kan lagi gencar-gencarnya tuh, katanya pemerintah menyiapkan hujan buatan. Apakah ini karena hujan buatan, atau mungkin menjelang musim hujan," kata dia.

Jadi, secara umum, kondisinya tidak banyak berubah. Kawasan yang cukup baik hanya sedikit, misalnya pusat kabupaten, di kota Barong, Sendawar.

Terkait narasi yang banyak beredar soal pembakaran lahan, Margaretha menyebut dia justru mempercayai bahwa situasi ini adalah konsekuensi dari kemarau.

Masyarakat adat di Kalimantan tidak pernah berniat membakar lahan dan hutan. Jika kemarau ekstrim, mau tidak mau kebakaran pasti akan muncul, dipicu oleh lapisan batu bara kering di bawah permukaan tanah.

Penyebab kedua adalah memang kawasan yang terbakar saat ini, merupakan wilayah yang sebelumnya telah terbakar. Hutan di sana belum memiliki pelindung alami untuk tanah. Di tengah cuaca yang kering, hutan mudah sekali terbakar.

Yang ketiga, kata Margaretha, karena ini kawasan perusahaan.Hampir setengah tanah di Kutai Barat berada dalam status Hak Guna Usaha (HGU) atau dalam penguasaan perusahaan. Data terakhir menyebutkan, setengah dari kawasan yang terbakar adalah kawasan perusahaan.

"Saya mendampingi delapan kampung di Kecamatan Silukmurai.

Delapan kampung yang kami dampingi ini, hampir semua kawasannya adalah kawasan perusahaan. Jadi kawasan milik masyarakat itu sedikit aja," ujar Margaretha.

Kampung-kampung yang menjadi pusat kebakaran, dalam kondisi sudah sangat terbuka. Dalam arti, akses kendaraan ke dalam kampung-kampung di hutan ini telah tersedia, dan kawasan mereka memang sudah ditebang dan tidak lagi menjadi hutan.

"Masyarakat ini kan dulunya ada di kawasan hutan, kemudian lahannya jadi kebun atau jadi tambang," ujarnya.

Wilayah ada yang tersisa tingga lahan-lahan kecil yang sudah berkali-kali ditanami. Artinya hampir semua lahan yang tersisa adalah kawasan bekas ladang. Kawasan-kawasan bekas ladang ini jika terkena panas, kering, dengan sedikit pemicu akan menyebabkan kebakaran.

Dalam situasi kering, masyarakat adat Dayak di Kalimantan memiliki kebijakan untuk tidak membuka ladang. Karena itu, menurut pengamatan Margaretha, tahun ini mereka menunda berladang.

Mereka tidak mau, membakar lahannya, bisa melebar ke lahan orang lain. Dalam budaya Dayak atau peladang, mereka biasanya membuat sekat bakar dan disiplin memilih hari dengan hitungan berdasar perputaran bulan.

Bulan ini, dalam posisi seperti ini, warga sama sekali dilarang berladang atau membakar ladang.

"Jadi itu pilihan secara tradisional sudah ada. Dan juga orang kan kalau bakar itu biasanya mereka berkelompok. Mereka tidak membakar sendiri. Karena pasti harus ada orang lain yang ikut menjaga, supaya dia tidak menyebar," tambah Margaretha.

Sudah menjadi tradisi, masyarakat adat membuat ladang di akhir musim kemarau, agar ketika menanam padi, langsung ada hujan dan tumbuh gitu. Terkait video atau foto-foto yang beredar tentang penanaman sawit di lahan yang baru terbakar, menurut Margaretha hal itu hanya bisa dilakukan perusahaan besar. Alasannya sederhana, ladang sedang tidak memiliki cadangan air, dan untuk memenuhi kebuhan air bagi sawit muda, air harus dibawa dari jauh.

Kebakaran lahan dalam skala besar tidak terjadi setiap tahun. Margaretha mengingat, setidaknya kebakaran besar terjadi pada tahun 1982. Kemudian tahun 1997 dan 1998. Satu lagi terjadi belasan tahun setelahnya, dan kemudian saat ini.

Margaretha mendorong kerjasama lebih erat antara masyarakat dan pemerintah. Di kampung-kampung itu sudah dibentuk masyarakat peduli api yang dilatih memadamkan api. Pemerintah semestinya menyediakan tangki, dan masyarakat bertindak sebagai pemadam. Alat pemadan api juga harus dilengkapi, termasuk patroli rutin dari warga untuk daerah berisiko tinggi.

Selain itu, di Kalimantan ada tanaman khusus yang jika tumbuh di sebuah area, kawasan itu cenderunng tidak mudah terbakar.

"Nah tanaman-tanaman itu kenapa tidak dibudidayakan di kawasan-kawasan yang rawan kebakaran itu," kata dia.

Dengarkan podcast selengkapnya.

Dengarkan SBS Indonesian setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu jam 3 sore.

Ikuti kami di Facebook dan Instagram, serta jangan lewatkan podcast kami.

Latest podcast episodes

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Stream now