Erupsi Anak Krakatau telah memicu ditutupnya beberapa bandara utama di Indonesia. Di saat yang sama, beberapa gunung api lain juga terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan aktivitas gunung api merupakan bagian dari dinamika alam Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire dan memiliki 127 gunung api aktif. Sepanjang 2026, PVMBG mencatat setidaknya delapan gunung api mengalami erupsi, termasuk Anak Krakatau, Semeru, Merapi, Gunung Ibu, Dukono, Lewotobi, dan Lewotolok.
Per Senin pagi, 7 September, PVMBG mencatat erupsi terjadi di Gunung Ibu, Gunung Semeru, dan Gunung Illi Lewotolok. Sementara itu, Anak Krakatau belum terpantau erupsi sejak tengah malam, dengan erupsi terakhir tercatat pada sekitar pukul 22.00 malam sebelumnya.
Perhatian khusus saat ini masih tertuju pada Anak Krakatau. Erupsi yang terjadi sejak 4 September dinilai tidak biasa karena berlangsung terus-menerus selama sekitar 25 jam. Berbeda dengan pola erupsi normal yang bersifat berselang, letusan kali ini menghasilkan semburan lava dan abu vulkanik secara berkelanjutan, sehingga berdampak lebih luas terhadap kualitas udara dan penerbangan.

PVMBG bekerja sama dengan BMKG untuk memantau pergerakan abu vulkanik dan memberikan informasi kepada otoritas penerbangan. Data menunjukkan abu vulkanik Anak Krakatau masih bergerak ke arah barat dan barat daya, sementara informasi terkini mengenai sebaran abu dan status gunung dapat diakses masyarakat melalui aplikasi Magma Indonesia, situs Badan Geologi, serta kanal media sosial resmi PVMBG.
Meski aktivitas vulkanik meningkat dalam beberapa hari terakhir, PVMBG menyatakan tidak ada korban jiwa yang tercatat. Masyarakat, khususnya pendaki dan wisatawan, diimbau untuk mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan demi menghindari risiko saat beraktivitas di sekitar gunung api aktif.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





