Ya, perkenalkan nama saya Patriot Mukmin.
Saya bisa dibilang sekarang main
occupation-nya ya visual artist, seniman,
sambil
pursuing PhD di Victorian College of the
Arts, University of Melbourne udah tahun
ketiga. Tapi di Indonesia saya juga
mengajar di almamater saya, yaitu di
-Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.
-Nah, ini Mas Patriot ikut berpartisipasi
di Pasar Senja. Ini bisa diceritakan
tentang workshop yang dibawakan
-peserta ngapain nih?
-Sebenarnya ini tuh workshop yang sudah
berapa kali. Kalau di Melbourne ini yang
kedua kalinya. Saya sempat ngasih workshop
juga tahun lalu itu bareng project
namanya Air Means Water, itu project
tiga, tiga kurator dari tiga negara yang
berbeda, Australia, Indonesia, dan
Singapura. Waktu itu dari Indonesia ada
Nadhila Zakira, itu ngajak saya bikin
workshop. Nah, workshop-nya itu sendiri
bisa disebut menganyam foto atau photo
weavings. Nah, sebenarnya si menganyam
foto ini beneran mirip kayak
kalau saya ingat dulu jaman 90-an SD itu
kita diajarin menganyam kertas warna. Nah,
pada prinsipnya si workshop yang kita
lakukan nanti yang bareng para pengunjung
di Pasar Senja ini adalah menganyam kayak
gitu juga, menganyam yang bikin komposisi,
bikin pattern, bikin pola, tapi bedanya
kalau dulu menggunakan kertas berwarna,
yang ini menggunakan kertas yang udah ada
gambarnya dalam konteks ini foto. Nah,
saya pikir pada prinsipnya mungkin sama,
tapi dia akan ngasih pengalaman yang
berbeda karena ada elemen tambahan di
visualitasnya. Kalau dalam menganyam
kertas warna itu kita menggabungkan dua
warna berbeda sehingga jadi pattern yang
menarik misalnya, kalau yang ini kita
menggabungkan dua lembar kertas yang udah
ada gambarnya dan si gambar itu kan punya
meaningnya masing-masing dan kemudian kita
gabungin lewat praktik menganyam,
sehingga lahirlah satu image baru yang
bukan cuma pattern-nya, tapi juga
penggabungan antara si foto yang kita
pilih. Jadi keputusan nanti para peserta
untuk memilih gambar itu juga jadi menarik
karena ada ketertarikan personal, ada
kemudian simbolis-simbolis tertentu yang
mungkin para audiens itu suka atau para
peserta workshop itu mempunyai kedekatan
personal. Nah, pilihan-pilihan yang
kemudian keputusan untuk menggabungkan
itulah yang saya pikir akan memberi warna
tersendiri di hasil karya-karya yang nanti
akan dikerjakan. Kira-kira itu sih, Mbak.
Jadi saya juga ingat nih waktu SD dulu
menganyam kertas warna itu ya. Nah, terus-
ini dipilihnya foto karena ada makna
tersendiri disimpulkan untuk seluruh
-peserta yang melakukan begitu ya?
-Betul.
Ini harapan Mas sendiri untuk karya ini
apa?
Kalau saya ngelihat sih, saya pengen
pertama memperkenalkan lebih jauh metode
berkarya ini, karena metode fotografi itu
adalah metode yang saya pikir secara luas
sudah dipraktikkan, maksudnya baik itu
secara profesional maupun oleh orang
sehari-hari lewat gadget yang mereka
miliki, handphone atau kamera digital yang
mereka miliki. Yang kedua, praktik anyam
menganyam ini kan itu ada di roots kita
ya. Saya pikir dengan mengintroduksi dua
metode ini tapi digabung jadi satu, jadi
ini kayak teknik yang hybrid gitu, saya
pikir ini adalah peluang bagi paraaa calon
peserta nanti untuk merasakan pengalaman
kreatif yang berbeda. Mungkin dia mereka
pernah memfoto, mungkin mereka pernah
menganyam, tapi mereka belum pernah
menganyam foto. Jadi saya pengen
memberikan pengalaman atau extension dari
pengalaman-pengalaman yang udah pernah
dirasakan, ini dengan hibriditas yang
sekarang ada di metode ini, ini bisa
memperkaya pengalaman mereka. Dan saya
pikir dari workshop yang sudah-sudah suka
ada kejutan-kejutan yang bahkan yang saya
udah mempraktikkan teknik ini, misalnya
beberapa tahun gitu ya, ternyata saya
masih surprise juga karena biasanya ketika
melakukan proses workshop ini yang
belajar bukan cuma peserta, tapi juga
sayanya sendiri biasanya juga mempelajari
sesuatu. Oh, ini dari pilihan-pilihan
orang, dari keputusan-keputusan
teknis orang, itu saya pikir kita bisa
saling belajar dan kemudian saling
-menginspirasi. Itu sih kira-kira paling-
-Istimewa sekali sih ini kalau dari diri
Mas juga bisa mempelajari sesuatu gitu ya,
atas hasil karya orang dan-
-Betul, betul.
-Ini sebenarnya bisa diikuti siapa saja
atau bagaimana ya kegiatan menganyam foto
seperti ini? Kalau misalnya pendengar di
rumah mungkin, ah mau coba-coba nih,
kira-kira semua bisa coba belajar sendiri
-atau bagaimana?
-Kalau saya lihat ya, ini adalah metode
yang nggak susah karena terutama misalnya
orang Indonesia ya, maksudnya kita
walaupun praktik menganyam itu saya pikir
di mana pun di dunia, saya rasa lumayan
banyak dipraktikkan gitu ya. Tradisi
weaving di dunia Barat juga ada, lewat
tapestry dan sebagainya. Bahkan kalau di
Australia, First Nation juga weavings itu
juga prominent. Nah, buat orang-orang yang
di rumah, misalnya saya pikir menganyam
yang kemudian menggabungkan dua serat
secara vertikal, horizontal, over, under,
itu sangat mungkin dipraktikkan di rumah.
Dan enaknya juga teman-teman kemudian juga
bisa mencoba itu nggak usah pakai-- untuk
mulai gitu ya, nggak usah pakai fotografi
yang diambil sendiri juga bisa. Misalnya,
ambil aja gambar yang ada di sekitar,
misalnya ada brosur, ada koran, ada
majalah, ada leaflet, dan
sebagainya, ambil aja, terus kemudian
imajinasikan ini digabungkan dengan
lembaran yang satunya lagi, terus entah
itu potret, entah itu benda, entah itu
landscape, diimajinasikan, oh ini kalau
bergabung ini jadi seperti apa visualnya,
dan ketika kemudian dilakukan dan biasanya
setelah selesai itu saya pikir suka
ngasih pengalaman yang bikin happy dan
juga memperkaya sih, kalau kata saya
-seperti itu, Mbak.
-Dan tadi kan Mas Patriot mengatakan Anda
juga sedang melakukan PhD di sini. Jadi
saya juga penasaran nih-
-Ya, ya.
-ini menganyam foto ini ada hubungannya
tidak dengan misalnya riset PhD Anda atau
bagaimana?
... Betul. Jadi ada di satu chapter yang
saya kerjakan itu benar-benar tentang
menganyam foto. Jadi memang sangat
membahas dalam teknik ini. Jadi karena
saya sebagai seniman telah menggunakan
praktik ini, metode ini dalam berkarya itu
bisa dibilang dari tahun dua ribu empat
belas dan saya sudah mencoba berbagai
medium, misalnya pakai kertas HVS, pakai
kertas paper, pakai kertas
professional photography paper, pakai
kertas art paper, craft paper, terus juga
pernah pakai kain, pernah pakai kanvas,
pernah pakai lukisan dulu, saya lukis dulu
baru saya anyam. Jadi saya pikir udah
melakukan beberapa eksperimen yang
kemudian ketika dibawa ke PhD itu lumayan
bisa diulik dan di
apa ya, dianalisis lebih dalam. Jadi
ibaratnya ketika nanti teman-teman itu
i-ikut menganyam bareng saya gitu,
ibaratnya ikut mencicipi sedikit dari
project yang sedang saya lakukan, gitu
sih, Mbak.
Sangat menarik sekali Mas Patriot. Nah,
ngomong-ngomong nih, kan tadi Anda juga
bilang Anda mengajar di ITB ya, boleh dong
kasih kisi-kisi nih kepada pendengar, apa
sih bedanya suasana akademi seni di
Indonesia dan Australia?
[tertawa] Wah, pertanyaan yang sulit ini.
[tertawa] Saya mungkin menjawabnya dari
sudut pandang akademi seni ya, karena
saya belajarnya tentang seni,
mempraktikkannya tentang seni, sekarang
PhD-nya juga di program studi Fine Arts,
jadi perbandingannya mungkin adalah saya
pikir dalam hal seni rupa yang saya
pelajari di Bandung, kita udah punya
tradisi yang panjang juga karena kalau di
ITB sendiri prodi itu udah dari tahun
empat tujuh, jadi bisa dibilang sekolah
seni rupa tertua karena ya itu masih
awalnya soalnya orang-orang Belanda yang
buka sekolah itu, jadi saya pikir kalau di
Bandung sendiri udah ada tradisi visual
arts-nya yang kemudian secara dekade gitu,
secara waktu, maksudnya dari waktu demi
waktu itu berkembang dan kemudian
mempengaruhi pola pikir pengajaran yang
kemudian diwariskan dari generasi ke
generasi. Dan masing-masing school itu
kalau bisa dibilang kalau school itu punya
tradisinya sendiri. Jadi kalau saya pikir
kalau di ITB itu tradisinya memang karena
dulu dari tahun empat puluh tujuhan itu
dan dibawa, maksudnya diperkenalkan oleh
orang-orang Belanda memang berangkat dari
tradisi formal atau abstrak yang kemudian
berkembang, berkembang, berkembang dari
orde lama, orde baru, reformasi yang
mempengaruhi sampai apa di generasi
sekarang. Nah, kalau yang di school ini
ya, di VCA, saya pikir tradisi konseptual
art-nya itu sangat kuat ya, maksudnya
orang-orang di sini itu
seniman-senimannya sangat-- pertama
eksperimennya gila-gilaan, yang kedua
sangat unconventional, maksudnya nggak
lagi mengejar medium-medium yang sudah
mapan, yang mapan tuh kayak lukisan,
sculpture, atau kemudian mungkin
fotografi. Jadi memang studio-studio
painting, sculpture, grafis, dan fotografi
itu ada, tapi ketika itu keluar jadi
dalam bentuk project, kalau saya lihat
eksperimentatifnya itu luar biasa. Jadi
anak-anak lukis bikinnya patung, anak-anak
fotografi bikinnya instalasi, anak-anak
grafis bikinnya performance. Jadi dia
mungkin pola pikirnya masih studio, pakai
studio based gitu, tapi ketika udah keluar
dan jadi pameran, persoalan
eksperimentatif dan konseptualnya itu
keluar banget. Kalau, kalau di kita, saya
pikir pertama ada tradisi formal yang
diwariskan, tapi memang pasca reformasi,
persoalan sosio-kultural itu juga kuat ya
di, di school kita, sehingga banyak
karya-karya itu juga merepresentasikan
problematika sosial. Mungkin secara
singkat yang dipraktikkan banyak di
Indonesia atau Bandung atau Indonesia
secara umum memang refleksi keadaan sosial
dan problematika sosial itu sangat kuat
sekarang, tapi di Melbourne yang saya
tangkap mungkin persoalan itu ada, tapi
bagaimana kemudian karyanya mempertanyakan
seni dan mendorong lebih jauh
batasan-batasan seni itu di sini terasa
banget seperti itu.
-Baik.
-Konseptualnya kuat banget.
Dan Mas Patriot dari dulu memang tertarik
dengan seni atau ada cerita lain di
-baliknya nih?
-Kayaknya mah memang kalau saya suka gambar
dari kecil, satu. Cuma dulu memang punya
asa pengen masuk ITB, tapi dulu tuh saya
karena suka gambarnya itu tentang
otomotif, mobil, dan sebagainya. Saya
pikir, wah, teknik mesin cocok nih. Eh,
ternyata pas SMA masuknya IPS. Nah, di
sanalah saya ngerasa oh kayaknya nggak
mungkin nih masuk ITB, seperti itu.
Ternyata di kelas tiga SMA itulah saya
tahu ternyata ada ITB yang tempatnya
orang-orang kreatif loh, gitu. Nah, FSRD
itu, nah di sanalah saya kemudian jadi
punya asa, oh oke, saya mau ke ITB, tapi
di tempat yang orang-orang yang kreatif
ini, di Fakultas Seni Rupa dan Desain ini.
Ya, singkat kata, akhirnya saya setelah
latihan, drilling, segala macam, lolos dan
jadi kenallah dunia yang namanya seni
rupa. Dari sana saya ngerasa jatuh cinta
dan okelah gaspol, coba diterus
-dipraktikkan aja, gitu sih.
-Oh iya, panjang perjalanan dan passion
berarti nih. [tertawa] Ini kembali lagi
nih ke acara kayak Pasar Senja ini kan ada
seni, makanan, musik. Nih menurut Mas,
kenapa seni itu kan weaving atau
menganyam tadi memang umum, tapi kan ini
juga spesifik Indonesia. Mengapa seni itu
-penting ya untuk komunitas diaspora?
-Saya pikir buat diaspora ya, pertama kan
kalau kita jadi diaspora berarti kan kita
tercerabut dari tempat asal kita gitu.
Maksudnya, kita orang Indonesia, mau baik
maksudnya orang Jawa, orang Sunda, orang
Sumatera, orang Papua, Sulawesi,
Kalimantan, Bali, dan sebagainya, itu udah
nggak lagi di tempat di mana kita
dilahirkan dan dibesarkan gitu. Sekarang
kita di negara orang lain misalnya,
jadilah kita diaspora. Nah, fenomena
tercerabutnya itu kan kadang bikin kita
gamang gitu, bikin kita bingung, bikin
kita mempertanyakan identitas kita. Nah,
di sanalah saya pikir trans seni dan
budaya itu tuh sangat bisa jadi medium
atau cara yang kita
lakukan, kita apresiasi, kita tempuh untuk
menemukan kembali yang tadi hilang,
misalnya identitas, atau sesederhana kita
kangen nih misalnya sama tempat asal kita,
itu bisa sedikit terobati lewat kultur
dan budaya saya pikir. Dan kalau udah
ngomongin kultur dan budaya kan itu kaya
banget, nggak cuma soal karya seni, tapi
juga ada tari, ada juga senandung
misalnya, nyanyian, lagu, ada juga
makanan, rasa, harum-haruman, itu saya
pikir itu penting banget untuk selalu
dijaga karena kita bisa melakukannya di
manapun gitu. Nah, ketika itu bisa
dilakukan, saya pikir itu bisa sedikit
mengobati rasa gamang pencarian identitas
-itu sih bagi para diaspora.
-Baik. Mas Patriot, terima kasih ya atas
waktunya sudah berbincang dengan SBS
Indonesian.
Terima kasih, sama-sama, Mbak.
END OF TRANSCRIPT