Kali ini sudah hadir di studio SBS,
founder DJAMU,
-ada Ibu Elizabeth McCLean. Ibu apa kabar?
-Ah terima kasih Tia,
Kita panggilnya Liz atau Elizabeth atau
gimana?
Ibu Liz, saya mungkin kenal Ibu Liz ini
pendengar ketika ada acara AIBC, Australia
Indonesia Business Council.
Pada saat itu di New South Wales di Sydney
dan kemudian salah satu yang hadir di
situ ada Ibu Liz dan di situ awal
pertemuan, perjumpaan kami begitu. Tapi
kemudian mungkin bisa menyampaikan juga
kepada pendengar SBS Indonesian: Ibu Liz,
-Anda itu siapa?
-Ah terima kasih. Ya saya
dulu guru sekolah tinggi hukum, edukasi
vokasi, agama,
kepala edukasi untuk kesejahteraan siswa
selama lebih dari
dua puluh tahun di kota Sydney dan
Melbourne.
Right. Tapi yang menarik juga pendengar
ketika saya bertemu dengan Ibu Liz adalah
kemampuan beliau bicara bahasa Indonesia.
Karena kalau pendengar melihat beliau ini
sangat bule gitu kan ya, Aussie gitu
mukanya. Tapi kok bahasa Indonesianya pada
-saat saya ketemu juga lancar sekali.
-Yeah. So, itu hari Minggu, 23 Desember
2012. Saya pindah ke Jakarta sama
anak-anak saya untuk
adventure baru yang seru di ibu kota
Indonesia.
Sesudah pamit sama keluarga, pekerjaan
saya dan kucing kami,
Suami saya Grant sudah kerja di Jakarta
lima bulan sebelum kami
Pas sampai di sana saya belajar banyak
sesuatu baru. Itu mengubah hidup saya.
Saya belajar adaptasi dengan culture baru
dan belajar bahasa Indonesia
Oke, jadi Ibu ceritanya mengikuti suami
kemudian memindahkan keluarga ini untuk
tinggal di sana semua. Kemudian berarti
selama berapa lama Ibu tinggal di
-Indonesia, Jakarta?
-Ya, delapan tahun. Ya.
Pada saat itu suami berarti bekerja di
sana. Tetapi kemudian Ibu
-tidak bekerja dong di Indonesia.
-Ya, betul, betul.
Nah, apakah ini kemudian yang menjadi
ujung dan berarah ke berdirinya DJAMU, Ibu?
Kami sama-sama suka Indonesia.
Kami sama-sama suka kopi Indonesia.
Terus kami buat blog namanya A Journey
Bespoke.
Lima tahun kami tulis tentang orang-orang
Indonesia, makanan Indonesia,
lifestyle, dan home and design Indonesia.
Orang-orang yang saya temui adalah
guru paling terbaik untuk saya.
Cerita mereka jauh lebih bagus daripada
Google atau buku-buku.
Tahun 2019 kami berhenti menulis blog.
Sesudah itu saya mulai tertarik tentang
polusi plastik dan
informal waste picker atau pemulung.
Setiap hari selama lima tahun saya lihat
bapak dorong gerobak
sampah dari jendela mobil saya.
Saya ingin tahu tentang hidup dan
mimpinya.
Lalu NGO Access Project menjalankan saya
dengan komunitas
di Cireundeu, Jakarta Selatan.
Kami mulai pilot program bersama
pahlawan pemulung ini, Waste Heroes,
-dan dari garasi saya.
-How did you meet the NGO ini gitu ya?
-Perkenalannya dari mana?
-Jadi karena saya
menulis blog A Journey Bespoke,
Jadi saya sudah ketemu komunitas di
Cireundeu.
lupa ya ikut komunitas dan bicara tentang
hidup dan mimpinya komunitas.
Berarti kalau boleh disampaikan lagi, Ibu
berarti awalnya kan sebelum ini tidak
sampah atau lingkungan. Ini kan tidak
berhubungan dengan itu begitu ya
pekerjaannya. Tapi kemudian karena mungkin
melihat
si bapak yang mendorong gerobak sampah ini
setiap harinya, jadi akhirnya Ibu ada
untuk kemudian mencari tahu lebih lanjut
begitu. Ibu, saya juga harus tanya bahkan
Cireundeu ini pun saya belum pernah ke
Cireundeu. I've never been there gitu kan.
-Ibu sudah pernah ke sana?
-Ya,
Saya harus tanya juga ketika Ibu ke sana
ya kan, Ibu Australia ini ke sana dengan
komunitas yang di sana, bagaimana mereka
melihat Ibu begitu?
jadi waktu saya ah lihat ah bapak dorong
gerobak sampah
saya pikir saya perlu saya, saya mau, saya
perlu ah dekat, dekat
komunitas, komunitas ah bapak. Be-- ah
karena bagaimana saya tahu kalau
saya bicara ah dengan bapak dari Cireundeu.
Dan ah untuk saya,
saya percaya bahwa edukasi membuka
opportunity. Jadi
itu link, link dari ah experience saya
guru dan
situasi saya lihat di Jakarta. Ah so saya
bicara-- percaya bahwa
berhak mendapatkan dignitus, opportunity
dan suara. Saya
percaya semua orang bisa belajar sesuatu
yang baru. Sama di
sekolah, sama di Sydney, sekolah saya di
Sydney.
ah untuk semuanya ah bahwa edukasi
membum-membuka
Apakah ah anak atau um orang tua? Ya sama.
Iya.
Dan di situlah Ibu ada gagasan, ada ide
untuk apa yang mungkin ini bisa
dilakukan begitu untuk mendidik ke
komunitas ini menjadi added valuenya
-kembali ke mereka. Apakah demikian?
-Iya, iya, iya. So ah idenya
saya sudah lihat Indonesia ah membuat
banyak tutup botol
dan ah juga saya sudah tahu di Jakarta
three hundred and fifty
thousand informal waste workers. Jadi
saya pikir
unlock opportunity untuk waste picker
communities
yang banyak orang-orang yang ada
opportunity untuk ah
income yang dignified, income yang ah
meaningful. Jadi
product developer di Indonesia bersama
bicara tentang bagaimana
ke ah tali plastik untuk mebel dan
keranjang.
Jadi i-itu idea, itu ah idea saya. Jadi um
karena
ah DJAMU business social, saya perlu
product yang
bagus, yang bisa jual dan komunitas
Cireundeu bisa
Saya tidak membayangkan tantangan ya kalau
kita bicara tantangannya pada saat itu
apa saja yang ditemui Ibu untuk awal-awal
mulai itu?
Ada banyak [tertawa] Tia, ada banyak
challenges. Ah
tantangan paling besar adalah pandemi
Covid. Ah keluarga saya
harus pulang dan tinggal lagi di Sydney.
Iya. Um
ah keluarga saya kembali Australia.
Selain itu, bangun kepercayaan dengan
komunitas pemulung juga
jadi tantangan besar untuk saya.
Saya rasa DJAMU terlalu penting untuk
berhenti.
Bekerja jarak jauh bisa terasa sepi,
tapi apa saya bisa bangun DJAMU dari jauh?
-Ya pasti bisa maju dari Sydney.
-Tadi dibilang bahwa bagaimana
membangun trust, ah kepercayaan dengan
komunitas pemungut sampah ini ya,
pengumpul sampah ini. Nah
-pada saat itu bagaimana Ibu?
-Iya, iya. So
pelan-pelan idenya saya harus pelan-pelan
komunikasi sama
komuni-komunitas di Indonesia. Saya harus
ah show
komitmen saya ke komunitas di Indonesia.
Um saya
ah membuat ah grup WhatsApp, um saya
selalu
komunikasikan ah di, di chat WhatsApp.
Saya selalu
ah apa kabar Pak? Um semoga keluarga Pak
ah selalu baik
dan sehat. Paling penting untuk saya
komunitas di Cireundeu
dan tim di, di Depok ah DJAMU selalu tahu
saya ah tertarik tentang semua Pak, Pak
Sanan di
ah komunitas ah Cireundeu, Ibu Oni.
Saya tertarik tentang mereka, keluarga
mereka,
apakah ah mereka sehat? Iya, iya. Jadi
pelan-pelan
sayaLanjut komunikasikan dengan komunitas
ah Tirunda.
-Ya, ya.
-Tapi kemudian juga dengan support ini dari
tantangannya kemudian sulit membangun ah
kepercayaannya juga butuh waktu. Bagaimana
untuk menemukan dukungan yang tepat
begitu Ibu?
Iya. So, untuk mengatasi rasa sepi itu,
bantuan dari orang lain. Saya ikut program
Asialink
bergabung dengan Australia Indonesia
Business Council, Indonesia Business
Council Australia, dan tetap connect
dengan jaringan saya di Indonesia.
Saya tidak bisa maju untuk DJAMU tanpa
bantuan itu. Ya.
Berarti ini kan around 2019, dua tahun
sebelumnya 2017 Ibu pertama kali muncul
-ide dan membentuk DJAMU? Is it 2017?
-A-a.
Dan kalau bicara sekarang 2026,
adakah progres atau kemajuan yang bisa
dibagikan?
Umm terima kasih. Ah sekarang DJAMU lagi
partneran dengan
lembaga science Australia, CSIRO. Kami
sedang
mengembangkan tali plastik
dalam proyek itu. Kama-kami bangga ada
bekerja ah
waste worker informal, scientist, partner
industri,
dan pabrik mebel dalam proyek itu. Iya
senang sekali tentang
progres karena ada partners, ah CSIRO
Australia,
tapi paling penting ada, ada
partner-partner di Indonesia, ya. Ada
partner industri plastik, ada um mesin ah
plastik daur
-ada partner juga penenun.
-Para penganyamnya juga ya begitu ya.
Berikutnya apa untuk DJAMU Ibu? Apa ke
depannya? What's next?
Yeah, what's next? Sekarang DJAMU ingin
partneran dengan produser mebel
keranjang di Indonesia untuk menggunakan
bahan kami. Kami ingin
ah apa yang mungkin terjadi ketika orang
bekerja sama untuk people dan
Tapi sebenarnya tujuan paling
ujung begitu ya, the ultimate goal-nya
dari DJAMU ini apa sih Ibu?
Ya, tujuan utama saya adalah menghubungkan
orang-orang
melalui cerita mereka dan menciptakan
dunia yang lebih inklusif.
Tapi karena ini juga perusahaan for
profit, ya kan, ah startup begitu ya
dibilangnya for profit. Jadi ada
pertanyaan juga dong begitu. Ini
keuntungannya yang Ibu Liz dapat secara
finansial ini sudah sejauh apa atau akan
sej-- banyak apa begitu dan berapa banyak
yang akan dikembalikan ke para pemulung
Umm, ya untuk saya dan, dan DJAMU paling
penting ah paling
penting is kalau DJAMU business tetap bisa
lanjut progres-progres, make aware kerja
DJAMU
yang um uplifting, upskilling ah informal
workers. Sesudah
itu kalau informal worker bisa membuat um
income
lebih, bisa kirim anak-anak sekolah, bisa
mungkin bisa
ah sesudah um retire bisa kembali
um kampung dan membuat ah rumah untuk
keluarga
Karena sampah plastik dan opportunity
untuk upskilling untuk
informal waste community ah kompleks,
saya harus mengerti ah proyek DJAMU harus
Ah paling penting is DJAMU bisa membuat
DJAMU
ah correct ah with, with ah standards
which are high
and, and ensure that Indonesian waste
workers receive a fair
pay and, and feel proud of their new
skills. Ya. Untuk saya,
ya ah sudah saya sudah me-bermanfaat. Ah
belum, belum
-um-
-Belum kembali financially?
Ya, ya belum kembali financial. Um tapi,
tapi saya sudah
kerja sama ah komunitas Tirunda dan ah
CSIRO
dan ah partners in Indonesia juga. Ya
untuk saya sekarang itu
Boleh nggak tanya begini, can I ask you
this then? Sudah berapa banyak dolar,
how much already have you given to this
project out of your own pocket, Ibu?
Around one hundred thousand dollars,
Australian dollars, yes.
Ibu biasanya kalau misalnya pemulung waste
speakers gitu ya mereka they collect the
waste and then bring it to the pengepul
kita bilangnya gitu kan kemudian mereka
mendapat uang langsung lah mungkin ya
langsung dibawa pulang bisa beli makan
gitu kan bisa langsung dipakai. Kemudian
ketika Ibu Liz datang dengan ide Ibu itu
um more work mungkin untuk mereka karena
harus oh you have to find like some
certain kind of tutup botol plastik ini
yang sesuai so it's more work on their
side. Kemudian harus dicuci misalnya,
harus dipisahkan dan segala macam.
Kemudian uangnya datangnya kapan begitu
kan? Is there any resistance from them
saya um partner ah dengan komunitas
Cireundeu, iya resistance
ah pertama. Tapi pelan-pelan ah bersama
saya
showing bagaimana pilih tutup botol yang
DJAMU perlu. Pak Sanan
ah bilang ke saya, "Ibu Liz kenapa, kenapa
saya kerja di-di
sini untuk dua puluh lima tahun, kenapa
saya tidak tahu
tentang ah tutup botol jenis lain? Ada-ada
nomor di tutup botol."
Ah sesudah itu, "Oke Pak untuk DJAMU kita
ambil tutup botol
mungkin biru Aquade None." Ah yeah
ada-ada-ada nomor di-
Ada kode tertentu di baliknya yang harus
dipilih.
Iya ada banyak. Jadi, jadi Pak Sanan
bilang, "Ah Ibu saya ada banyak. Ada, ada
nomor dua saya belum tahu." Sesudah ah
DJAMU memulai
membuat produk-produk dari tutup botol
dari landfill, saya kembali Pak Sanan.
"Ah Pak Sanan lihat-lihat ada, ada
keranjang sepeda dari,
dari banyak tutup botol dari, dari sini ya
Pak."
Pak, Pak Sanan bilang ke saya, "Ibu, Ibu
tutup botol saya ambil dari landfill bisa-
-Bisa jadi.
-Bisa jadi yang keranjang sepeda yang
cantik sekali Ibu. Saya belum tahu." Pak
Sanan hidup
-Ah-
-But you have to find the right person Ibu
dan mungkin gak semua not everyone in the
community would be happy with you.
-[tertawa]
-Betul sekali, betul sekali. So untuk DJAMU
paling penting komunitas Cireundeu and
komunitas lain-lain
semua suka sekali kerja dengan DJAMU. Suka
sekali karena ada
motivasi untuk ambil um tutup botol, ada
motivasi karena
bisa lihat produk-produk yang cantik
sekali, ah motivasi dari income
Yang bisa mimpi ten-ten-tentang ah the
future. So
sedikit-sedikit ah pilot, DJAMU is
demonstrating that.
Ibu kalau harus memilih antara
atau mendidik atau sosialnya begitu,
yang mana yang paling besar untuk Ibu Liz?
Yang paling dominan mana? Yang didapat
atau yang diinginkan didapat? Which one
that you want to get out of this DJAMU
project? Apakah dari sisi finansialnya,
lingkungannya, atau untuk membantu ah
these people sebenarnya bisa diberdayakan
lagi we can empower them, do more with
what they already doing gitu. Kalau Ibu
Liz bisa pilih salah satu yang mana Ibu?
Atau profit-nya untuk Ibu karena melihat
kalau ini teruskan kalau saya sabar kalau
if I'm being patient with this project ah
eventually I'll get there financially
speaking, gimana Ibu?
Yes, saya percaya DJAMU bisa
Ah lingkungan, ah social, ah dan profit.
Saya percaya saya
bisa belajar dari ah startup-startup yang
membuat
sama. Di Indonesia saya sudah lihat
startup yang bisa
membuat profit, support komunitas social,
lingkungan juga.
Itu susah, susah sekali, susah sekali.
Saya,
-saya tidak ah underestimate-
-Yep.
-Ah-
-The effort behind it.
The effort behind it. Tapi
Saya harus stay true ke vision itu. Saya
bisa. We can have all three.
You haven't got any complaint from your
-husband, your kid?
-You know keluarga saya um biggest support,
biggest support saya. Yeah, they are my
biggest support. So yeah, yeah I think, I
they also see a female, ah they see a
female working across cultures-
-Yeah.
-And they see someone, they s-they see
someone who's doing something that-that's
meaningful. And yeah, it-it I think it
also gives back to them because they lived
in Indonesia. They also love Indonesia.
Ah so yeah, yeah. I'm also very lucky they
are a little older now.
-[tertawa] Yes, they are.
-So they don't need me so much.
[tertawa] Ibu. Atau mungkin mereka sadar
they realize that oh I have a mother yang
namanya belakangnya saja sudah McClean
begitu ya mungkin [tertawa] it's like it's
-destined to be, like that?
-[tertawa] Destiny saya.
We all laugh. We are the clean McClean. So-
Ketika saya pertama juga ketemu Ibu Liz
ini ketika beliau menyampaikan tentang
DJAMU, pikiran saya adalah oh ini bisnisnya
minuman.
Ini bisnisnya apa obat-obatan, apa nih
gitu kan. Mengapa ini DJAMU, Ibu?
Iya, iya terima kasih tanya. Um saya
terinspirasi dari filosofi jamu
seperti hubungan antara manusia dan
lingkungan mereka.
Selama tinggal di Indonesia, saya
terinspirasi oleh
penjual jamu gendong ah perempuan. Produk
jamunya bisa memberikan
income untuk keluarganya.
Untuk kami tujuannya adalah supaya
penjualan tali plastik bisa
memberikan income untuk komunitas
pemulung yang pahlawan sampah.
Ibu Elizabeth McClean, terima kasih waktunya
sudah datang ke studio SBS, Ibu.
Oh terima kasih banyak, Tia, untuk
opportunity untuk berbagi cerita saya dan
cerita DJAMU. Dan terima kasih semuanya.
END OF TRANSCRIPT