Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

'Education unlocks opportunities': How DJAMU works with Indonesian waste pickers for better life

Djamu waste pickers

Djamu works with waste picker communities in Jakarta in collecting bottle caps to be repurposed, providing jobs and delivering opportunities for dignified work that can raise individuals, families and potentially communities out of poverty. Credit: Courtesy of Djamu/Instagram: the.djamu

DJAMU's founder Elizabeth McCLean shares her story of empowering Indonesia's waste picker communities to create impactful upcycled products.


Following her husband's assignment in Indonesia, Elizabeth McClean moved to Jakarta with her children in late 2012. Ms McClean said she learned many new things and found life-changing experiences upon her staying in Indonesia.

Over time, the former Australia's teacher developed a special interest in the waste-picking community, which is often overlooked by the public.

"Every day for five years, I watched a man pushing a cart with rubbish out of my car;s window," she told SBS Indonesian. "I wanted to know about his life and his dreams."

DJAMU's products
Some of the products that were made out of DJAMU's recycled plastic lids. Credit: Courtesy of DJAMU/Instagram: the.djamu

That's where the idea for DJAMU emerged — a social enterprise aimed at empowering waste pickers through recycled products. Ms McClean then got connected with an NGO that introduced her to the waste picker community in Cireundeu and launched a pilot program.

Djamu's material.jpg
DJAMU's material is made from upcycled bottle caps that then can be used to weave. Credit: Courtesy of DJAMU/Instagram: the.djamu

As a foreigner and previously unfamiliar with the world of waste picking in Indonesia, Ms McClean's journey to introduce this project was not easy. However, her belief that education would create beneficial opportunities for the community kept her going.

"I believe that every human being deserves opportunity and a voice," Ms McClean said. "I believe everyone can learn something new."

I believe that education unlocks opportunities.
Elizabeth McClean - Founder of DJAMU

How does Ms McClean's journey transform challenges into opportunities for Indonesia's waste-picking communities? What are her next targets and how will she achieve them?

Elizabeth McClean DJAMU
DJAMU's Elizabeth McClean (second from left) partnered up with Australia’s National Science Agency CSIRO and their Indonesian counterpart Amandina Bumi Nusantara. Credit: Courtesy of DJAMU/Instagram: the.djamu

Listen to the full podcast.

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Kali ini sudah hadir di studio SBS, founder DJAMU,

-ada Ibu Elizabeth McCLean. Ibu apa kabar? -Ah terima kasih Tia,

kabar baik.

Kita panggilnya Liz atau Elizabeth atau gimana?

-Liz baik. -Liz ya.

Ibu Liz, saya mungkin kenal Ibu Liz ini pendengar ketika ada acara AIBC, Australia

Indonesia Business Council.

Pada saat itu di New South Wales di Sydney dan kemudian salah satu yang hadir di

situ ada Ibu Liz dan di situ awal pertemuan, perjumpaan kami begitu. Tapi

kemudian mungkin bisa menyampaikan juga kepada pendengar SBS Indonesian: Ibu Liz,

-Anda itu siapa? -Ah terima kasih. Ya saya

dulu guru sekolah tinggi hukum, edukasi vokasi, agama,

kepala edukasi untuk kesejahteraan siswa selama lebih dari

dua puluh tahun di kota Sydney dan Melbourne.

Right. Tapi yang menarik juga pendengar ketika saya bertemu dengan Ibu Liz adalah

kemampuan beliau bicara bahasa Indonesia. Karena kalau pendengar melihat beliau ini

sangat bule gitu kan ya, Aussie gitu mukanya. Tapi kok bahasa Indonesianya pada

-saat saya ketemu juga lancar sekali. -Yeah. So, itu hari Minggu, 23 Desember

2012. Saya pindah ke Jakarta sama anak-anak saya untuk

adventure baru yang seru di ibu kota Indonesia.

Sesudah pamit sama keluarga, pekerjaan saya dan kucing kami,

kami naik pesawat GA713

jam sebelas siang.

Suami saya Grant sudah kerja di Jakarta lima bulan sebelum kami

datang.

Pas sampai di sana saya belajar banyak sesuatu baru. Itu mengubah hidup saya.

Saya belajar adaptasi dengan culture baru dan belajar bahasa Indonesia

juga.

Oke, jadi Ibu ceritanya mengikuti suami kemudian memindahkan keluarga ini untuk

tinggal di sana semua. Kemudian berarti selama berapa lama Ibu tinggal di

-Indonesia, Jakarta? -Ya, delapan tahun. Ya.

Pada saat itu suami berarti bekerja di sana. Tetapi kemudian Ibu

-tidak bekerja dong di Indonesia. -Ya, betul, betul.

Nah, apakah ini kemudian yang menjadi ujung dan berarah ke berdirinya DJAMU, Ibu?

Tahun 2014

saya ketemu Jo Stevens.

Jo asli dari Melbourne.

Kami sama-sama suka Indonesia.

Kami sama-sama suka kopi Indonesia.

Terus kami buat blog namanya A Journey Bespoke.

Lima tahun kami tulis tentang orang-orang Indonesia, makanan Indonesia,

lifestyle, dan home and design Indonesia. Orang-orang yang saya temui adalah

guru paling terbaik untuk saya.

Cerita mereka jauh lebih bagus daripada Google atau buku-buku.

Tahun 2019 kami berhenti menulis blog.

Sesudah itu saya mulai tertarik tentang polusi plastik dan

komunitas

informal waste picker atau pemulung.

Setiap hari selama lima tahun saya lihat bapak dorong gerobak

sampah dari jendela mobil saya.

Saya ingin tahu tentang hidup dan mimpinya.

Lalu NGO Access Project menjalankan saya dengan komunitas

di Cireundeu, Jakarta Selatan.

Kami mulai pilot program bersama

pahlawan pemulung ini, Waste Heroes,

-dan dari garasi saya. -How did you meet the NGO ini gitu ya?

-Perkenalannya dari mana? -Jadi karena saya

menulis blog A Journey Bespoke,

NGO Access Project,

Ibu Jo sudah interview.

Jadi saya sudah ketemu komunitas di Cireundeu.

Saya tidak

lupa ya ikut komunitas dan bicara tentang

hidup dan mimpinya komunitas.

Berarti kalau boleh disampaikan lagi, Ibu berarti awalnya kan sebelum ini tidak

ada ketertarikan dengan

sampah atau lingkungan. Ini kan tidak berhubungan dengan itu begitu ya

pekerjaannya. Tapi kemudian karena mungkin melihat

si bapak yang mendorong gerobak sampah ini setiap harinya, jadi akhirnya Ibu ada

ketertarikan

untuk kemudian mencari tahu lebih lanjut begitu. Ibu, saya juga harus tanya bahkan

Cireundeu ini pun saya belum pernah ke Cireundeu. I've never been there gitu kan.

-Ibu sudah pernah ke sana? -Ya,

ya.

Saya harus tanya juga ketika Ibu ke sana ya kan, Ibu Australia ini ke sana dengan

komunitas yang di sana, bagaimana mereka melihat Ibu begitu?

Iya

jadi waktu saya ah lihat ah bapak dorong gerobak sampah

setiap hari

saya pikir saya perlu saya, saya mau, saya perlu ah dekat, dekat

komunitas, komunitas ah bapak. Be-- ah karena bagaimana saya tahu kalau

saya bicara ah dengan bapak dari Cireundeu. Dan ah untuk saya,

saya percaya bahwa edukasi membuka opportunity. Jadi

itu link, link dari ah experience saya guru dan

situasi saya lihat di Jakarta. Ah so saya bicara-- percaya bahwa

setiap manusia

berhak mendapatkan dignitus, opportunity dan suara. Saya

percaya semua orang bisa belajar sesuatu yang baru. Sama di

sekolah, sama di Sydney, sekolah saya di Sydney.

Situasi

sedikit sama.

Saya percaya

ah untuk semuanya ah bahwa edukasi membum-membuka

opportunity.

Apakah ah anak atau um orang tua? Ya sama. Iya.

Dan di situlah Ibu ada gagasan, ada ide untuk apa yang mungkin ini bisa

dilakukan begitu untuk mendidik ke komunitas ini menjadi added valuenya

-kembali ke mereka. Apakah demikian? -Iya, iya, iya. So ah idenya

saya sudah lihat Indonesia ah membuat banyak tutup botol

dan ah juga saya sudah tahu di Jakarta three hundred and fifty

thousand informal waste workers. Jadi saya pikir

bagaimana saya bisa ah

unlock,

unlock opportunity untuk waste picker communities

yang banyak orang-orang yang ada opportunity untuk ah

upskilling income baru,

income yang dignified, income yang ah meaningful. Jadi

saya

kerja sama

product developer di Indonesia bersama bicara tentang bagaimana

ah membuat tutup botol

ke ah tali plastik untuk mebel dan keranjang.

Jadi i-itu idea, itu ah idea saya. Jadi um karena

ah DJAMU business social, saya perlu product yang

bagus, yang bisa jual dan komunitas Cireundeu bisa

bermanfaat. Iya.

Saya tidak membayangkan tantangan ya kalau kita bicara tantangannya pada saat itu

apa saja yang ditemui Ibu untuk awal-awal mulai itu?

Ada banyak [tertawa] Tia, ada banyak challenges. Ah

so

tantangan paling besar adalah pandemi Covid. Ah keluarga saya

harus pulang dan tinggal lagi di Sydney. Iya. Um

so

ah keluarga saya kembali Australia.

Selain itu, bangun kepercayaan dengan komunitas pemulung juga

jadi tantangan besar untuk saya.

Saya rasa DJAMU terlalu penting untuk berhenti.

Bekerja jarak jauh bisa terasa sepi,

tapi apa saya bisa bangun DJAMU dari jauh?

-Ya pasti bisa maju dari Sydney. -Tadi dibilang bahwa bagaimana

membangun trust, ah kepercayaan dengan komunitas pemungut sampah ini ya,

pengumpul sampah ini. Nah

-pada saat itu bagaimana Ibu? -Iya, iya. So

pelan-pelan idenya saya harus pelan-pelan komunikasi sama

komuni-komunitas di Indonesia. Saya harus ah show

komitmen saya ke komunitas di Indonesia. Um saya

ah membuat ah grup WhatsApp, um saya selalu

komunikasikan ah di, di chat WhatsApp. Saya selalu

tanya,

ah apa kabar Pak? Um semoga keluarga Pak ah selalu baik

dan sehat. Paling penting untuk saya komunitas di Cireundeu

dan tim di, di Depok ah DJAMU selalu tahu

saya ah tertarik tentang semua Pak, Pak Sanan di

ah komunitas ah Cireundeu, Ibu Oni.

Saya tertarik tentang mereka, keluarga mereka,

apakah ah mereka sehat? Iya, iya. Jadi pelan-pelan

sayaLanjut komunikasikan dengan komunitas ah Tirunda.

-Ya, ya. -Tapi kemudian juga dengan support ini dari

tantangannya kemudian sulit membangun ah kepercayaannya juga butuh waktu. Bagaimana

untuk menemukan dukungan yang tepat begitu Ibu?

Iya. So, untuk mengatasi rasa sepi itu,

saya mencari

bantuan dari orang lain. Saya ikut program Asialink

Leaders,

bergabung dengan Australia Indonesia Business Council, Indonesia Business

Council Australia, dan tetap connect dengan jaringan saya di Indonesia.

Saya tidak bisa maju untuk DJAMU tanpa bantuan itu. Ya.

Berarti ini kan around 2019, dua tahun sebelumnya 2017 Ibu pertama kali muncul

-ide dan membentuk DJAMU? Is it 2017? -A-a.

Dan kalau bicara sekarang 2026,

adakah progres atau kemajuan yang bisa dibagikan?

Umm terima kasih. Ah sekarang DJAMU lagi partneran dengan

lembaga science Australia, CSIRO. Kami sedang

mengembangkan tali plastik

dalam proyek itu. Kama-kami bangga ada bekerja ah

waste worker informal, scientist, partner industri,

dan pabrik mebel dalam proyek itu. Iya senang sekali tentang

progres karena ada partners, ah CSIRO Australia,

tapi paling penting ada, ada partner-partner di Indonesia, ya. Ada

partner industri plastik, ada um mesin ah plastik daur

ulang, ada,

-ada partner juga penenun. -Para penganyamnya juga ya begitu ya.

Berikutnya apa untuk DJAMU Ibu? Apa ke depannya? What's next?

Yeah, what's next? Sekarang DJAMU ingin partneran dengan produser mebel

keranjang di Indonesia untuk menggunakan bahan kami. Kami ingin

kasih lihat

ah apa yang mungkin terjadi ketika orang bekerja sama untuk people dan

planet.

Tapi sebenarnya tujuan paling

ujung begitu ya, the ultimate goal-nya dari DJAMU ini apa sih Ibu?

Ya, tujuan utama saya adalah menghubungkan orang-orang

melalui cerita mereka dan menciptakan dunia yang lebih inklusif.

Tapi karena ini juga perusahaan for profit, ya kan, ah startup begitu ya

dibilangnya for profit. Jadi ada pertanyaan juga dong begitu. Ini

keuntungannya yang Ibu Liz dapat secara finansial ini sudah sejauh apa atau akan

sej-- banyak apa begitu dan berapa banyak yang akan dikembalikan ke para pemulung

tadi, Ibu?

Umm, ya untuk saya dan, dan DJAMU paling penting ah paling

penting is kalau DJAMU business tetap bisa

lanjut progres-progres, make aware kerja DJAMU

yang um uplifting, upskilling ah informal workers. Sesudah

itu kalau informal worker bisa membuat um income

lebih, bisa kirim anak-anak sekolah, bisa mungkin bisa

ah sesudah um retire bisa kembali

um kampung dan membuat ah rumah untuk keluarga

mereka.

Karena sampah plastik dan opportunity untuk upskilling untuk

informal waste community ah kompleks,

saya harus mengerti ah proyek DJAMU harus

pelan-pelan

dan bukan quick fix.

Ah paling penting is DJAMU bisa membuat DJAMU

ah correct ah with, with ah standards which are high

and, and ensure that Indonesian waste workers receive a fair

pay and, and feel proud of their new skills. Ya. Untuk saya,

um

ya ah sudah saya sudah me-bermanfaat. Ah belum, belum

financial

-um- -Belum kembali financially?

Ya, ya belum kembali financial. Um tapi, tapi saya sudah

bermanfaat

kerja sama ah komunitas Tirunda dan ah CSIRO

dan ah partners in Indonesia juga. Ya untuk saya sekarang itu

cukup.

Boleh nggak tanya begini, can I ask you this then? Sudah berapa banyak dolar,

how much already have you given to this project out of your own pocket, Ibu?

Around one hundred thousand dollars, Australian dollars, yes.

Ibu biasanya kalau misalnya pemulung waste speakers gitu ya mereka they collect the

waste and then bring it to the pengepul kita bilangnya gitu kan kemudian mereka

mendapat uang langsung lah mungkin ya langsung dibawa pulang bisa beli makan

gitu kan bisa langsung dipakai. Kemudian ketika Ibu Liz datang dengan ide Ibu itu

tadi

um more work mungkin untuk mereka karena harus oh you have to find like some

certain kind of tutup botol plastik ini yang sesuai so it's more work on their

side. Kemudian harus dicuci misalnya, harus dipisahkan dan segala macam.

Kemudian uangnya datangnya kapan begitu kan? Is there any resistance from them

from that side?

Resistance

waktu ah

saya um partner ah dengan komunitas Cireundeu, iya resistance

ah pertama. Tapi pelan-pelan ah bersama saya

showing bagaimana pilih tutup botol yang DJAMU perlu. Pak Sanan

ah bilang ke saya, "Ibu Liz kenapa, kenapa saya kerja di-di

sini untuk dua puluh lima tahun, kenapa saya tidak tahu

tentang ah tutup botol jenis lain? Ada-ada nomor di tutup botol."

Ah sesudah itu, "Oke Pak untuk DJAMU kita ambil tutup botol

mungkin biru Aquade None." Ah yeah ada-ada-ada nomor di-

Ada kode tertentu di baliknya yang harus dipilih.

Iya ada banyak. Jadi, jadi Pak Sanan bilang, "Ah Ibu saya ada banyak. Ada, ada

nomor dua saya belum tahu." Sesudah ah DJAMU memulai

membuat produk-produk dari tutup botol dari landfill, saya kembali Pak Sanan.

"Ah Pak Sanan lihat-lihat ada, ada keranjang sepeda dari,

dari banyak tutup botol dari, dari sini ya Pak."

Pak, Pak Sanan bilang ke saya, "Ibu, Ibu

saya belum tahu

tutup botol saya ambil dari landfill bisa-

-Bisa jadi. -Bisa jadi yang keranjang sepeda yang

cantik sekali Ibu. Saya belum tahu." Pak Sanan hidup

sedikit transformasi ya.

-Ah- -But you have to find the right person Ibu

dan mungkin gak semua not everyone in the community would be happy with you.

-[tertawa] -Betul sekali, betul sekali. So untuk DJAMU

paling penting komunitas Cireundeu and komunitas lain-lain

semua suka sekali kerja dengan DJAMU. Suka sekali karena ada

motivasi untuk ambil um tutup botol, ada motivasi karena

bisa lihat produk-produk yang cantik sekali, ah motivasi dari income

-ekstra- -Ya.

Yang bisa mimpi ten-ten-tentang ah the future. So

sedikit-sedikit ah pilot, DJAMU is demonstrating that.

Iya.

Ibu kalau harus memilih antara

finansial

atau lingkungan

atau mendidik atau sosialnya begitu,

yang mana yang paling besar untuk Ibu Liz? Yang paling dominan mana? Yang didapat

atau yang diinginkan didapat? Which one that you want to get out of this DJAMU

project? Apakah dari sisi finansialnya,

lingkungannya, atau untuk membantu ah these people sebenarnya bisa diberdayakan

lagi we can empower them, do more with what they already doing gitu. Kalau Ibu

Liz bisa pilih salah satu yang mana Ibu? Atau profit-nya untuk Ibu karena melihat

oh in the future

kalau ini teruskan kalau saya sabar kalau if I'm being patient with this project ah

eventually I'll get there financially speaking, gimana Ibu?

Yes, saya percaya DJAMU bisa

semua.

Ah lingkungan, ah social, ah dan profit. Saya percaya saya

bisa belajar dari ah startup-startup yang membuat

sama. Di Indonesia saya sudah lihat startup yang bisa

membuat profit, support komunitas social, lingkungan juga.

Itu susah, susah sekali, susah sekali. Saya,

-saya tidak ah underestimate- -Yep.

-Ah- -The effort behind it.

The effort behind it. Tapi

saya harus stay true.

Saya harus stay true ke vision itu. Saya bisa. We can have all three.

You haven't got any complaint from your

-husband, your kid? -You know keluarga saya um biggest support,

biggest support saya. Yeah, they are my biggest support. So yeah, yeah I think, I

think

they also see a female, ah they see a female working across cultures-

-Yeah. -And they see someone, they s-they see

someone who's doing something that-that's meaningful. And yeah, it-it I think it

also gives back to them because they lived in Indonesia. They also love Indonesia.

Ah so yeah, yeah. I'm also very lucky they are a little older now.

-[tertawa] Yes, they are. -So they don't need me so much.

[tertawa] Ibu. Atau mungkin mereka sadar they realize that oh I have a mother yang

namanya belakangnya saja sudah McClean begitu ya mungkin [tertawa] it's like it's

-destined to be, like that? -[tertawa] Destiny saya.

We all laugh. We are the clean McClean. So-

[tertawa] Right.

Ketika saya pertama juga ketemu Ibu Liz ini ketika beliau menyampaikan tentang

DJAMU, pikiran saya adalah oh ini bisnisnya minuman.

Ini bisnisnya apa obat-obatan, apa nih gitu kan. Mengapa ini DJAMU, Ibu?

Iya, iya terima kasih tanya. Um saya terinspirasi dari filosofi jamu

seperti hubungan antara manusia dan lingkungan mereka.

Selama tinggal di Indonesia, saya terinspirasi oleh

penjual jamu gendong ah perempuan. Produk jamunya bisa memberikan

income untuk keluarganya.

Untuk kami tujuannya adalah supaya penjualan tali plastik bisa

memberikan income untuk komunitas pemulung yang pahlawan sampah.

Ibu Elizabeth McClean, terima kasih waktunya sudah datang ke studio SBS, Ibu.

Oh terima kasih banyak, Tia, untuk opportunity untuk berbagi cerita saya dan

cerita DJAMU. Dan terima kasih semuanya.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now