DJAMU's founder Elizabeth McCLean shares her story of empowering Indonesia's waste picker communities to create impactful upcycled products.
Following her husband's assignment in Indonesia, Elizabeth McClean moved to Jakarta with her children in late 2012. Ms McClean said she learned many new things and found life-changing experiences upon her staying in Indonesia.
Over time, the former Australia's teacher developed a special interest in the waste-picking community, which is often overlooked by the public.
"Every day for five years, I watched a man pushing a cart with rubbish out of my car;s window," she told SBS Indonesian. "I wanted to know about his life and his dreams."

That's where the idea for DJAMU emerged — a social enterprise aimed at empowering waste pickers through recycled products. Ms McClean then got connected with an NGO that introduced her to the waste picker community in Cireundeu and launched a pilot program.

As a foreigner and previously unfamiliar with the world of waste picking in Indonesia, Ms McClean's journey to introduce this project was not easy. However, her belief that education would create beneficial opportunities for the community kept her going.
"I believe that every human being deserves opportunity and a voice," Ms McClean said. "I believe everyone can learn something new."
I believe that education unlocks opportunities.Elizabeth McClean - Founder of DJAMU
How does Ms McClean's journey transform challenges into opportunities for Indonesia's waste-picking communities? What are her next targets and how will she achieve them?

Listen to the full podcast.
Kali ini sudah hadir di studio SBS, founder DJAMU,
-ada Ibu Elizabeth McCLean. Ibu apa kabar? -Ah terima kasih Tia,
kabar baik.
Kita panggilnya Liz atau Elizabeth atau gimana?
-Liz baik. -Liz ya.
Ibu Liz, saya mungkin kenal Ibu Liz ini pendengar ketika ada acara AIBC, Australia
Indonesia Business Council.
Pada saat itu di New South Wales di Sydney dan kemudian salah satu yang hadir di
situ ada Ibu Liz dan di situ awal pertemuan, perjumpaan kami begitu. Tapi
kemudian mungkin bisa menyampaikan juga kepada pendengar SBS Indonesian: Ibu Liz,
-Anda itu siapa? -Ah terima kasih. Ya saya
dulu guru sekolah tinggi hukum, edukasi vokasi, agama,
kepala edukasi untuk kesejahteraan siswa selama lebih dari
dua puluh tahun di kota Sydney dan Melbourne.
Right. Tapi yang menarik juga pendengar ketika saya bertemu dengan Ibu Liz adalah
kemampuan beliau bicara bahasa Indonesia. Karena kalau pendengar melihat beliau ini
sangat bule gitu kan ya, Aussie gitu mukanya. Tapi kok bahasa Indonesianya pada
-saat saya ketemu juga lancar sekali. -Yeah. So, itu hari Minggu, 23 Desember
2012. Saya pindah ke Jakarta sama anak-anak saya untuk
adventure baru yang seru di ibu kota Indonesia.
Sesudah pamit sama keluarga, pekerjaan saya dan kucing kami,
kami naik pesawat GA713
jam sebelas siang.
Suami saya Grant sudah kerja di Jakarta lima bulan sebelum kami
datang.
Pas sampai di sana saya belajar banyak sesuatu baru. Itu mengubah hidup saya.
Saya belajar adaptasi dengan culture baru dan belajar bahasa Indonesia
juga.
Oke, jadi Ibu ceritanya mengikuti suami kemudian memindahkan keluarga ini untuk
tinggal di sana semua. Kemudian berarti selama berapa lama Ibu tinggal di
-Indonesia, Jakarta? -Ya, delapan tahun. Ya.
Pada saat itu suami berarti bekerja di sana. Tetapi kemudian Ibu
-tidak bekerja dong di Indonesia. -Ya, betul, betul.
Nah, apakah ini kemudian yang menjadi ujung dan berarah ke berdirinya DJAMU, Ibu?
Tahun 2014
saya ketemu Jo Stevens.
Jo asli dari Melbourne.
Kami sama-sama suka Indonesia.
Kami sama-sama suka kopi Indonesia.
Terus kami buat blog namanya A Journey Bespoke.
Lima tahun kami tulis tentang orang-orang Indonesia, makanan Indonesia,
lifestyle, dan home and design Indonesia. Orang-orang yang saya temui adalah
guru paling terbaik untuk saya.
Cerita mereka jauh lebih bagus daripada Google atau buku-buku.
Tahun 2019 kami berhenti menulis blog.
Sesudah itu saya mulai tertarik tentang polusi plastik dan
komunitas
informal waste picker atau pemulung.
Setiap hari selama lima tahun saya lihat bapak dorong gerobak
sampah dari jendela mobil saya.
Saya ingin tahu tentang hidup dan mimpinya.
Lalu NGO Access Project menjalankan saya dengan komunitas
di Cireundeu, Jakarta Selatan.
Kami mulai pilot program bersama
pahlawan pemulung ini, Waste Heroes,
-dan dari garasi saya. -How did you meet the NGO ini gitu ya?
-Perkenalannya dari mana? -Jadi karena saya
menulis blog A Journey Bespoke,
NGO Access Project,
Ibu Jo sudah interview.
Jadi saya sudah ketemu komunitas di Cireundeu.
Saya tidak
lupa ya ikut komunitas dan bicara tentang
hidup dan mimpinya komunitas.
Berarti kalau boleh disampaikan lagi, Ibu berarti awalnya kan sebelum ini tidak
ada ketertarikan dengan
sampah atau lingkungan. Ini kan tidak berhubungan dengan itu begitu ya
pekerjaannya. Tapi kemudian karena mungkin melihat
si bapak yang mendorong gerobak sampah ini setiap harinya, jadi akhirnya Ibu ada
ketertarikan
untuk kemudian mencari tahu lebih lanjut begitu. Ibu, saya juga harus tanya bahkan
Cireundeu ini pun saya belum pernah ke Cireundeu. I've never been there gitu kan.
-Ibu sudah pernah ke sana? -Ya,
ya.
Saya harus tanya juga ketika Ibu ke sana ya kan, Ibu Australia ini ke sana dengan
komunitas yang di sana, bagaimana mereka melihat Ibu begitu?
Iya
jadi waktu saya ah lihat ah bapak dorong gerobak sampah
setiap hari
saya pikir saya perlu saya, saya mau, saya perlu ah dekat, dekat
komunitas, komunitas ah bapak. Be-- ah karena bagaimana saya tahu kalau
saya bicara ah dengan bapak dari Cireundeu. Dan ah untuk saya,
saya percaya bahwa edukasi membuka opportunity. Jadi
itu link, link dari ah experience saya guru dan
situasi saya lihat di Jakarta. Ah so saya bicara-- percaya bahwa
setiap manusia
berhak mendapatkan dignitus, opportunity dan suara. Saya
percaya semua orang bisa belajar sesuatu yang baru. Sama di
sekolah, sama di Sydney, sekolah saya di Sydney.
Situasi
sedikit sama.
Saya percaya
ah untuk semuanya ah bahwa edukasi membum-membuka
opportunity.
Apakah ah anak atau um orang tua? Ya sama. Iya.
Dan di situlah Ibu ada gagasan, ada ide untuk apa yang mungkin ini bisa
dilakukan begitu untuk mendidik ke komunitas ini menjadi added valuenya
-kembali ke mereka. Apakah demikian? -Iya, iya, iya. So ah idenya
saya sudah lihat Indonesia ah membuat banyak tutup botol
dan ah juga saya sudah tahu di Jakarta three hundred and fifty
thousand informal waste workers. Jadi saya pikir
bagaimana saya bisa ah
unlock,
unlock opportunity untuk waste picker communities
yang banyak orang-orang yang ada opportunity untuk ah
upskilling income baru,
income yang dignified, income yang ah meaningful. Jadi
saya
kerja sama
product developer di Indonesia bersama bicara tentang bagaimana
ah membuat tutup botol
ke ah tali plastik untuk mebel dan keranjang.
Jadi i-itu idea, itu ah idea saya. Jadi um karena
ah DJAMU business social, saya perlu product yang
bagus, yang bisa jual dan komunitas Cireundeu bisa
bermanfaat. Iya.
Saya tidak membayangkan tantangan ya kalau kita bicara tantangannya pada saat itu
apa saja yang ditemui Ibu untuk awal-awal mulai itu?
Ada banyak [tertawa] Tia, ada banyak challenges. Ah
so
tantangan paling besar adalah pandemi Covid. Ah keluarga saya
harus pulang dan tinggal lagi di Sydney. Iya. Um
so
ah keluarga saya kembali Australia.
Selain itu, bangun kepercayaan dengan komunitas pemulung juga
jadi tantangan besar untuk saya.
Saya rasa DJAMU terlalu penting untuk berhenti.
Bekerja jarak jauh bisa terasa sepi,
tapi apa saya bisa bangun DJAMU dari jauh?
-Ya pasti bisa maju dari Sydney. -Tadi dibilang bahwa bagaimana
membangun trust, ah kepercayaan dengan komunitas pemungut sampah ini ya,
pengumpul sampah ini. Nah
-pada saat itu bagaimana Ibu? -Iya, iya. So
pelan-pelan idenya saya harus pelan-pelan komunikasi sama
komuni-komunitas di Indonesia. Saya harus ah show
komitmen saya ke komunitas di Indonesia. Um saya
ah membuat ah grup WhatsApp, um saya selalu
komunikasikan ah di, di chat WhatsApp. Saya selalu
tanya,
ah apa kabar Pak? Um semoga keluarga Pak ah selalu baik
dan sehat. Paling penting untuk saya komunitas di Cireundeu
dan tim di, di Depok ah DJAMU selalu tahu
saya ah tertarik tentang semua Pak, Pak Sanan di
ah komunitas ah Cireundeu, Ibu Oni.
Saya tertarik tentang mereka, keluarga mereka,
apakah ah mereka sehat? Iya, iya. Jadi pelan-pelan
sayaLanjut komunikasikan dengan komunitas ah Tirunda.
-Ya, ya. -Tapi kemudian juga dengan support ini dari
tantangannya kemudian sulit membangun ah kepercayaannya juga butuh waktu. Bagaimana
untuk menemukan dukungan yang tepat begitu Ibu?
Iya. So, untuk mengatasi rasa sepi itu,
saya mencari
bantuan dari orang lain. Saya ikut program Asialink
Leaders,
bergabung dengan Australia Indonesia Business Council, Indonesia Business
Council Australia, dan tetap connect dengan jaringan saya di Indonesia.
Saya tidak bisa maju untuk DJAMU tanpa bantuan itu. Ya.
Berarti ini kan around 2019, dua tahun sebelumnya 2017 Ibu pertama kali muncul
-ide dan membentuk DJAMU? Is it 2017? -A-a.
Dan kalau bicara sekarang 2026,
adakah progres atau kemajuan yang bisa dibagikan?
Umm terima kasih. Ah sekarang DJAMU lagi partneran dengan
lembaga science Australia, CSIRO. Kami sedang
mengembangkan tali plastik
dalam proyek itu. Kama-kami bangga ada bekerja ah
waste worker informal, scientist, partner industri,
dan pabrik mebel dalam proyek itu. Iya senang sekali tentang
progres karena ada partners, ah CSIRO Australia,
tapi paling penting ada, ada partner-partner di Indonesia, ya. Ada
partner industri plastik, ada um mesin ah plastik daur
ulang, ada,
-ada partner juga penenun. -Para penganyamnya juga ya begitu ya.
Berikutnya apa untuk DJAMU Ibu? Apa ke depannya? What's next?
Yeah, what's next? Sekarang DJAMU ingin partneran dengan produser mebel
keranjang di Indonesia untuk menggunakan bahan kami. Kami ingin
kasih lihat
ah apa yang mungkin terjadi ketika orang bekerja sama untuk people dan
planet.
Tapi sebenarnya tujuan paling
ujung begitu ya, the ultimate goal-nya dari DJAMU ini apa sih Ibu?
Ya, tujuan utama saya adalah menghubungkan orang-orang
melalui cerita mereka dan menciptakan dunia yang lebih inklusif.
Tapi karena ini juga perusahaan for profit, ya kan, ah startup begitu ya
dibilangnya for profit. Jadi ada pertanyaan juga dong begitu. Ini
keuntungannya yang Ibu Liz dapat secara finansial ini sudah sejauh apa atau akan
sej-- banyak apa begitu dan berapa banyak yang akan dikembalikan ke para pemulung
tadi, Ibu?
Umm, ya untuk saya dan, dan DJAMU paling penting ah paling
penting is kalau DJAMU business tetap bisa
lanjut progres-progres, make aware kerja DJAMU
yang um uplifting, upskilling ah informal workers. Sesudah
itu kalau informal worker bisa membuat um income
lebih, bisa kirim anak-anak sekolah, bisa mungkin bisa
ah sesudah um retire bisa kembali
um kampung dan membuat ah rumah untuk keluarga
mereka.
Karena sampah plastik dan opportunity untuk upskilling untuk
informal waste community ah kompleks,
saya harus mengerti ah proyek DJAMU harus
pelan-pelan
dan bukan quick fix.
Ah paling penting is DJAMU bisa membuat DJAMU
ah correct ah with, with ah standards which are high
and, and ensure that Indonesian waste workers receive a fair
pay and, and feel proud of their new skills. Ya. Untuk saya,
um
ya ah sudah saya sudah me-bermanfaat. Ah belum, belum
financial
-um- -Belum kembali financially?
Ya, ya belum kembali financial. Um tapi, tapi saya sudah
bermanfaat
kerja sama ah komunitas Tirunda dan ah CSIRO
dan ah partners in Indonesia juga. Ya untuk saya sekarang itu
cukup.
Boleh nggak tanya begini, can I ask you this then? Sudah berapa banyak dolar,
how much already have you given to this project out of your own pocket, Ibu?
Around one hundred thousand dollars, Australian dollars, yes.
Ibu biasanya kalau misalnya pemulung waste speakers gitu ya mereka they collect the
waste and then bring it to the pengepul kita bilangnya gitu kan kemudian mereka
mendapat uang langsung lah mungkin ya langsung dibawa pulang bisa beli makan
gitu kan bisa langsung dipakai. Kemudian ketika Ibu Liz datang dengan ide Ibu itu
tadi
um more work mungkin untuk mereka karena harus oh you have to find like some
certain kind of tutup botol plastik ini yang sesuai so it's more work on their
side. Kemudian harus dicuci misalnya, harus dipisahkan dan segala macam.
Kemudian uangnya datangnya kapan begitu kan? Is there any resistance from them
from that side?
Resistance
waktu ah
saya um partner ah dengan komunitas Cireundeu, iya resistance
ah pertama. Tapi pelan-pelan ah bersama saya
showing bagaimana pilih tutup botol yang DJAMU perlu. Pak Sanan
ah bilang ke saya, "Ibu Liz kenapa, kenapa saya kerja di-di
sini untuk dua puluh lima tahun, kenapa saya tidak tahu
tentang ah tutup botol jenis lain? Ada-ada nomor di tutup botol."
Ah sesudah itu, "Oke Pak untuk DJAMU kita ambil tutup botol
mungkin biru Aquade None." Ah yeah ada-ada-ada nomor di-
Ada kode tertentu di baliknya yang harus dipilih.
Iya ada banyak. Jadi, jadi Pak Sanan bilang, "Ah Ibu saya ada banyak. Ada, ada
nomor dua saya belum tahu." Sesudah ah DJAMU memulai
membuat produk-produk dari tutup botol dari landfill, saya kembali Pak Sanan.
"Ah Pak Sanan lihat-lihat ada, ada keranjang sepeda dari,
dari banyak tutup botol dari, dari sini ya Pak."
Pak, Pak Sanan bilang ke saya, "Ibu, Ibu
saya belum tahu
tutup botol saya ambil dari landfill bisa-
-Bisa jadi. -Bisa jadi yang keranjang sepeda yang
cantik sekali Ibu. Saya belum tahu." Pak Sanan hidup
sedikit transformasi ya.
-Ah- -But you have to find the right person Ibu
dan mungkin gak semua not everyone in the community would be happy with you.
-[tertawa] -Betul sekali, betul sekali. So untuk DJAMU
paling penting komunitas Cireundeu and komunitas lain-lain
semua suka sekali kerja dengan DJAMU. Suka sekali karena ada
motivasi untuk ambil um tutup botol, ada motivasi karena
bisa lihat produk-produk yang cantik sekali, ah motivasi dari income
-ekstra- -Ya.
Yang bisa mimpi ten-ten-tentang ah the future. So
sedikit-sedikit ah pilot, DJAMU is demonstrating that.
Iya.
Ibu kalau harus memilih antara
finansial
atau lingkungan
atau mendidik atau sosialnya begitu,
yang mana yang paling besar untuk Ibu Liz? Yang paling dominan mana? Yang didapat
atau yang diinginkan didapat? Which one that you want to get out of this DJAMU
project? Apakah dari sisi finansialnya,
lingkungannya, atau untuk membantu ah these people sebenarnya bisa diberdayakan
lagi we can empower them, do more with what they already doing gitu. Kalau Ibu
Liz bisa pilih salah satu yang mana Ibu? Atau profit-nya untuk Ibu karena melihat
oh in the future
kalau ini teruskan kalau saya sabar kalau if I'm being patient with this project ah
eventually I'll get there financially speaking, gimana Ibu?
Yes, saya percaya DJAMU bisa
semua.
Ah lingkungan, ah social, ah dan profit. Saya percaya saya
bisa belajar dari ah startup-startup yang membuat
sama. Di Indonesia saya sudah lihat startup yang bisa
membuat profit, support komunitas social, lingkungan juga.
Itu susah, susah sekali, susah sekali. Saya,
-saya tidak ah underestimate- -Yep.
-Ah- -The effort behind it.
The effort behind it. Tapi
saya harus stay true.
Saya harus stay true ke vision itu. Saya bisa. We can have all three.
You haven't got any complaint from your
-husband, your kid? -You know keluarga saya um biggest support,
biggest support saya. Yeah, they are my biggest support. So yeah, yeah I think, I
think
they also see a female, ah they see a female working across cultures-
-Yeah. -And they see someone, they s-they see
someone who's doing something that-that's meaningful. And yeah, it-it I think it
also gives back to them because they lived in Indonesia. They also love Indonesia.
Ah so yeah, yeah. I'm also very lucky they are a little older now.
-[tertawa] Yes, they are. -So they don't need me so much.
[tertawa] Ibu. Atau mungkin mereka sadar they realize that oh I have a mother yang
namanya belakangnya saja sudah McClean begitu ya mungkin [tertawa] it's like it's
-destined to be, like that? -[tertawa] Destiny saya.
We all laugh. We are the clean McClean. So-
[tertawa] Right.
Ketika saya pertama juga ketemu Ibu Liz ini ketika beliau menyampaikan tentang
DJAMU, pikiran saya adalah oh ini bisnisnya minuman.
Ini bisnisnya apa obat-obatan, apa nih gitu kan. Mengapa ini DJAMU, Ibu?
Iya, iya terima kasih tanya. Um saya terinspirasi dari filosofi jamu
seperti hubungan antara manusia dan lingkungan mereka.
Selama tinggal di Indonesia, saya terinspirasi oleh
penjual jamu gendong ah perempuan. Produk jamunya bisa memberikan
income untuk keluarganya.
Untuk kami tujuannya adalah supaya penjualan tali plastik bisa
memberikan income untuk komunitas pemulung yang pahlawan sampah.
Ibu Elizabeth McClean, terima kasih waktunya sudah datang ke studio SBS, Ibu.
Oh terima kasih banyak, Tia, untuk opportunity untuk berbagi cerita saya dan
cerita DJAMU. Dan terima kasih semuanya.





