Verdi Sulaeman, Anda sudah sangat lama ya
di dunia perfilman. Salah satu film yang
Anda bintangi adalah The Raid yang sampai
saat ini masih tayang di SBS On Demand dan
banyak lagi nih film lainnya. Salah satu
juga yang terkenal adalah Gadis Kretek.
Mungkin bisa ceritakan terlebih dahulu
kepada pendengar sudah berapa film yang
Anda bintangi kalau Anda masih ingat nih
ya.
Oke [tertawa] sudah berapanya ya? Oke saya
sambil bantu cek di IMDb ya [tertawa].
Jadi gini, waktu pertama kali masuk ke
dunia film itu ayah kan sudah dari tahun
70-an ya, udah tiga puluh tahun. Jadi
waktu saya iseng search di Google ternyata
ayah tuh udah enam puluh empat, enam
puluh lima film gitu. Jadi waktu itu saya
cuman targetin, oke saya mesti nyusul ayah
saya nih jumlah filmnya gitu. Tapi kan
pada saat saya masuk ke dunia film, ayah
juga masih aktif gitu, jadi dia jumlahnya
nambah terus. Jadi waktu itu saya sempat
ngitung pada saat saya udah sama atau
melewati ayah enam puluh, tujuh puluh
judul gitu. Itu udah be-berapa tahun lalu.
Kalau sekarang mungkin udah seratusan ya
kira-kira.
Itu banyak sekali. Dan kita tahu nih Anda
bermain kan di film The Raid, terus ada
Gadis Kretek, terus ada Buya Hamka, terus
ada juga Susana ya?
-He eh.
-Ini genrenya sangat beragam. Apakah ini
sengaja nih untuk tidak terjebak di satu
kotak genre atau bagaimana?
Ini menarik karena memang salah satu
strategi saya pada saat masuk ke industri
adalah tidak terstereotype gitu. Karena
waktu saya masuk itu tahun
2004, 2005 saya baru mulai tertarik kepada
dunia acting, itu saya udah terlambat
hitungannya udah mau tiga puluh tahun
gitu. Jadi dengan
di awal tahun 2000-an dengan wajah Asia
seperti ini, Chinese look seperti ini itu
sebenarnya agak sulit untuk mendapatkan
karakter-karakter di film Indonesia atau
series karena pada saat itu belum ada
drakor, belum ada K-pop, belum ada apa,
jadi masih dianggap kayak bukan warga
negara Indonesia gitu. Kalau ada film
Indonesia yang mau dibuat dianggap yang,
"Oh ini nggak ada peran Chinese atau nggak
ada peran Asia", jadi nggak ada gitu.
Muka saya nggak dianggap muka Indonesia
[tertawa]. Rasanya kayak African American
kalau lagi di Amerika, "Oh ini nggak ada
peran orang hitam" gitu. Itu yang saya
rasakan di awal tahun 2000. Jadi pada saat
itu karena umur saya udah hampir tiga
puluh, saya menentukan bahwa sebagai
produk jangan sampai saya hanya bermain di
peran-peran yang mencari karakter Chinese
Saya harus mencari karakter yang orang
Indonesia apapun itu gitu. Tapi saya sadar
karena wajah saya juga bukan yang ada
bulenya, nggak ganteng dan ini saya harus
belajar untuk mempunyai leverage. Jadi
saya belajar acting itu dan pada saat itu
emang institusi pendidikan acting di
Indonesia belum terlalu besar. Jadi saya
pikir, oh itu saya punya leverage gitu
bahwa dari sekian sepuluh aktor misalnya
mencoba satu karakter, paling nggak saya
bisa menerapkan ilmu acting di situ
dibanding mereka yang mungkin tidak
belajar gitu. Dan akhirnya dengan saya
tidak mau di stereotipe kan dalam tiap
cast saya malah mencari karakter-karakter
yang aneh, karakter-karakter yang orang
tidak mau, karakter-karakter yang memang
membutuhkan ilmu untuk memerankannya
seolah-olah seperti itulah. Eh yang ada
itu saya jadi terjebak di peran yang
sangat beragam akhirnya. Entar jadi
antagonis di sini, entar jadi komedi di
sini, entar di sini juga jadi action, ada
yang bilang saya aktor action, ada yang
bilang saya aktor komedi, ada yang bilang
saya aktor antagonis gitu. Jadi akhirnya
terjebak di film-film yang nggak sama
gitu. Jadi ya sengaja nggak sengaja sih,
tapi termasuk strategi itu.
Iya tapi ini sebagai aktor keturunan
Tionghoa di industri film Indonesia nih
seperti yang tadi Anda bilang, apakah
identitas ini sebenarnya malah jadi
-kekuatan sekarang nih?
-Mungkin ya sekarang akhirnya wajah-wajah
yang agak-agak ke Korea-Koreaan dicari ya.
Tapi pada saat itu, itu menjadi suatu
kesulitan. Bahkan even sekarang pun ada
beberapa pihak produksi atau casting
director atau sutradara yang masih melihat
itu gitu. Misalnya, "Aduh sorry nih
kemarin gua syuting nggak ngajak lu
soalnya nggak ada peran Chinese", gitu.
Saya kadang-kadang bingung sama pertanyaan
itu. Film, film Anda film Indonesia kan
ya. Ini, ini muka Indonesia kayak gini
gitu. Indonesia itu beragam mukanya ada
yang kayak orang Timur, ada yang kayak
matanya sipit, ada yang kulitnya putih,
ada yang kulitnya coklat sawo matang, itu
tuh semua Indonesia gitu. Jadi aneh kalau
ada masih jaman sekarang yang merasa oh
orang Indonesia tuh bentuknya cuman satu
gitu. Sama aja kayak being politically
correct in America gitu. Oh kalau dia
mukanya Asian atau Indian seolah-olah dia
bukan orang Amerika. Kan udah nggak
Amerika sekarang malah kalau di
film-filmnya itu kayak semua ras harus ada
gitu. Harus ada African American-nya,
harus ada Asian-nya, harus ada Indian
American-nya gitu. Nggak bisa semuanya
whitewash putih semua gitu kan. Nah
Indonesia tuh lumayan sudah mulai beragam
tapi masih ada satu dua [tertawa] orang
yang merasa kalau Indonesia tuh yang dari
Pulau Jawa aja ya, lebih dari itu enggak,
-itu masih ada.
-Apa yang Anda katakan itu betul sekali
karena kita Indonesia memang sangat
beragam tidak sama semua. Jadi itu harus
direpresentasikan kalau dibilang tidak ada
satu peran etnis tertentu sepertinya
gimana ya [tertawa] kenyataannya kita
semua beragam.
Karena yang lucu seperti ini pada saat di
jaman even di awal ya, kalau muka kamu
misalnya Jawa dan Melayu gitu, oke orang
Indonesia. Begitu Chinese atau Timor
mereka harus berpikir, aduh saya perlu
nggak ya karakter yang ada Timornya atau
ada Asian-nya gitu. Tapi pada saat mukanya
bleket-blek bule Jerman gitu, bleket-blek
bule Inggris gitu, itu orang Indonesia
gitu, gapapa gitu. Kan aneh ya [tertawa].
Sangat bermanfaat informasi dari Anda.
Jadi kita bisa melihat semua bagaimana
perjuangan Anda di jaman dahulu ya.
-Betul.
-Dan ini mari nih kita coba nih kita mundur
sedikit nih. Kan Anda dulu menghabiskan
sepuluh tahun di Amerika ya kuliah dan
bekerja di bidang desain periklanan betul?
Di Columbus, Ohio.
Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan
pulang ke Indonesia? Apakah ketika sebelum
pulang sudah kepengen menjadi aktor
seperti almarhum ayah Anda, aktor
-legendaris Henky Solaiman?
-Tidak sih, jadi sama sekali waktu itu
tidak ada rencana untuk menjadi aktor atau
bekerja di dunia film.
Pada saat saya lulus tahun '97
itu saya langsung kecemplung di
advertising industri. Saya kerja di
advertising agency, terus setelah tujuh
tahun, perang Irak 2003, sehingga saya
harus pulang ke Indonesia dan Amerikanya
sendiri juga 2003 perang. Padahal tahun
2000 ke 2001 saya bikin company sama
temen-temen advertising agency di Chicago
pada saat itu. Sempat kena 9/11 turun
dikit tapi udah naik, tapi 2003 begitu
perang Irak udah kita kayak perusahaan
semua langsung menurun. Jadi saya
memutuskan untuk pulang. Nah, sampai di
Indonesia saya masih di advertising
awalnya, lalu saya diperkenalkan dengan
dunia film karena saya memegang creative
director untuk kampanye promo film,
pertama di situ.
Dan karena memang saya suka nonton film,
jadi saya pada saat itu suka sekali
memegang kampanye-kampanye promo film
Indonesia pada saat itu khususnya yang
diproduksi oleh Sinemart Pictures. Nah, di
situlah saya ditawarkan sama salah satu
teman SD saya, "Eh ada sekolah acting nih,
mau
jadi aktor nggak?" Seolah-olah ayah saya
aktor, anaknya juga mau jadi aktor. Pada
saat itu saya menolak gitu, ngapain saya
mau jadi aktor. Tapi dia bilang, "Udah
coba aja dulu, siapa tahu suka", gitu. Dan
benar aja waktu saya cobain ternyata
kelasnya yang diarahkan oleh Bang Eka
Sitorus yang juga sekolah lulusan dari
American Academy of Dramatic Arts San
Francisco, jadi kita nyambung tuh western
minded-nya. Dan akhirnya saya jatuh cinta
dengan acting dan saya langsung diam-diam
akhirnya belajar acting sambil tetap
bekerja di advertising gitu sebelum
-akhirnya fully pivot ke aktor.
-Jadi ini dari keinginan Verdi sendiri dan
kebetulan saja ayah adalah aktor ya. Dan
tapi akhirnya tidak pengaruh terbesar
-almarhum terhadap Anda di dunia film?
-Nah, justru sebenarnya pada saat itu
karena saya kuliah di luar dan istilahnya
dibiayai sekolahnya dengan jurusan yang
berbeda, saya tuh agak nggak enak sama
ayah saya pada saat saya mau jadi aktor
karena udah sekolah yang jauh-jauh ngapain
jadi aktor juga gitu. Jadi saya waktu itu
belajar acting tuh backstrip dari ayah
sebenarnya, jadi diam-diam saya
belajarnya. Ada tiga pilihan waktu itu di
tempat Bang Eka, di Safir Actor Studio, di
Teater Populer tempat Om Slamet Rahardjo,
sama di tempat Ratu Sarumpaet di Teater
Merah Putih. Nah, Om Slamet, Teater
Populer itu kan tempat asalnya ayah ya,
jadi pasti itu saya ketahuan, pasti, "Oh
ini anaknya Hengky, ini anaknya Hengky".
Teater Merah Putih juga Ratu Sarumpaet
kenal ayah juga, jadi saya memilih oke
saya masuk di Bang Eka aja deh, nggak ada
temen ayah atau siapapun yang kenal saya
di situ, jadi saya benar-benar bisa
belajar. Dan pada saat empat bulan pertama
saya harus ujian, baru saya ngomong,
"Pap, saya belajar acting, mau nonton
nggak?", gitu. "Ujiannya nih ada, ada lima
belas menit short play". Dia nonton, tapi
habis itu dia tidak marah atau tidak
komentar gitu, diam aja gitu. Ya saya
anggap, oh gapapa nih, saya teruskan lagi
ambil intermediate enam bulan, terus saya
mentas lagi dua jam, naskah dua jam bahasa
Inggris, Max Peal. Terus saya undang
lagi, "Mau nonton gak nih, ini naskah dua
jam nih, kita jual tiket". Ternyata ayah
saya bawa temen pada saat itu nonton
bareng Garin Nugroho. Nah, itu saya anggap
sebagai simbol, oh udah boleh nih
kayaknya
bekerja sebagai aktor. Nah, akhirnya
itulah yang habis itu saya mencoba jalur
path saya sendiri di dunia film gitu,
tetap nggak mau pakai nama bokap atau
tidak mau menggunakan koneksi dari ayah,
jadi saya coba cari jalur sendiri.
Aduh itu ceritanya unik sekali karena
justru kebalikan.
Dan sekarang selain menjadi aktor, Anda
adalah juga sutradara. Dan ini apa nih,
kok bisa sih jadi beralih gitu, jadi
sutradara?
Jadi sebenarnya menjadi sutradara itu
malah keinginan pertama. Pada saat saya
memegang kampanye promosi film, itu kan
saya sebagai creative director, creative
director untuk promo filmnya. Tapi
sebenarnya pada saat itu waktu di
Sinemart, saya sudah sempat ditawarkan
untuk menjadi sutradara film gitu, karena
mungkin kecintaan saya sama dunia filmnya
itu sendiri dan mungkin mereka juga
ngelihat latar belakang saya, ayah saya
itu sebenarnya yang paling diturunkan
adalah ilmu directing-nya sebenarnya,
bukan acting-nya, acting-nya kita beda
guru gitu ya. Pada saat itu cuman mungkin
ya pengalaman saya juga belum banyak, jadi
beberapa kali mencoba mau jadi sutradara
tuh masih gagal-gagal gitu ya, belum,
belum ketemu ininya. Tapi mungkin itu ada
baiknya juga karena saya butuh
pengalamannya. Jadi setelah dua puluh
tahun kemudian, saya sempat bukan menjadi
sutradara dulu, sebenarnya jadi produser
dulu untuk film Anak Garuda yang
diproduksi oleh Butterfly Pictures dan
Lingkar Merah. Itu sebenarnya saya tadinya
tidak mau jadi produser, saya maunya jadi
co-director, saya ingin belajar jadi
sutradara dari sutradara Fauzan Rizal.
Cuman Fauzan Rizal bilang sama saya, "Fer,
kalau kamu mau produserin, kamu boleh
co-director di samping saya". Jadi
akhirnya saya oke, saya ambil posisi
produsernya supaya saya bisa belajar dari
Om Fau, saya manggilnya Om Fauzan, Om Fau.
Nah, dari situ baru kemudian PH saya
Lingkar Merah bersama Arifin Putra
memproduksi series Code Helix di
video.com. Nah, itu kita mencoba mencari,
tadinya sutradaranya bukan saya gitu,
selama empat bulan waktu habis Covid tuh,
sutradara tuh tiba-tiba langsung sibuk
semua tuh setelah gate-nya dibuka boleh
produksi. Akhirnya gak ada sutradara yang,
udah deh sebagai creative producer, saya
udah paling paham materi nih, mau nggak
nyutradarain? Oh ya udah, itu akhirnya
saya debut penyutradaraan pertama adalah
series Code Helix di video.com. Baru
setelah itu, sebenarnya pas lagi Code
Helix belum mulai pun saya sempat
ditawarin untuk menyutradarai kayak enam
judul
film OTT oleh Pak Sukdev. Nah, salah
satunya adalah Ronggeng Kematian gitu.
Jadi pada saatRonggeng itu ditawarkan
tadinya hanya sebagai film buat di
aplikasi, buat di OTT streaming, tapi pada
saat kita kembangin, eh ini kenapa nggak
jadi layar lebar aja ya gitu dan akhirnya
di situlah kita memutuskan, oke ini akan
tayang bioskop dan akhirnya kita produksi
di Ronggeng ini untuk tayang bioskop.
Jadi nih kalau boleh dibilang nih, apa
bedanya melihat film dari sisi sutradara
-dibanding sebagai aktor?
-Kalau sutradara jadi gini ya, mungkin saya
itu dari, dari mulai dari saya sebagai
advertising designer, creative director
kampanye, promosi dan segala macam,
saya selalu ingin punya kendali di produk
akhirnya gitu, di end product-nya. Dan
pada saat saya menjadi aktor, sayangnya
saya hanya bisa mengontrol performance
saya aja gitu. Dan itu pun nanti setelah
diediting dan segala macam, itu udah bukan
dikontrol saya lagi. Pada saat saya
menjadi sutradara, saya punya kendali itu
benar-benar dari awal sampai akhirnya film
jadi.
Nah, itu yang sangat nikmat. Stressful,
jauh lebih apa ya istilahnya, lebih berat,
tapi kenikmatannya itu bahwa hasil
akhirnya itu kita punya kontrol ceritanya
boring-nya di mana, bisa diedit, mana yang
works, mana yang gak works, itu tuh
benar-benar kita punya kontrol. Pada saat
kita hanya menjadi aktor, kita hanya bisa
bertanggung jawab sama performance kita
aja gitu. Nah, itulah bedanya kalau saya
bilang kalau ditanya apa bedanya jadi
aktor sama sutradara. Kalau aktor pada
saat syuting tidurnya nyenyak gitu. Kalau
sutradara pada saat syuting produksi
tidurnya gak nyenyak [tertawa] karena dia
mikirin keseluruhan produk dari awal
-sampai akhir.
-Dan ini kan
di awal tahun 2025, saya tahu Anda juga
sempat mengikuti Australia Awards Short
Course di Brisbane untuk screen writing
dan directing. Ini kan juga sejalan dengan
menjadi sutradara ya, apa yang paling
berharga dari program itu untuk karir Anda
-ke depan?
-Jadi memang karena saya waktu itu
sekolahnya acting, untuk directing saya
hanya belajar dari ayah saya, terus saya
sempat ada berapa quick course juga gitu
yang sempat waktu itu ada sutradara untuk
para bintang dan segala macamnya. Tapi
saya kayak butuh akademik gitu, sehingga
waktu ada screen directing dari Australian
Award itu saya daftar karena saya ingin
belajar directing secara akademik dan juga
saya pengen belajar screen writing gitu.
Karena posisi saya sekarang selain sebagai
aktor, director, dan producer, saya juga
sebagai pengajar, sebagai acting
instructor lah, acting coach dan
Nah, saya punya kelas itu sangat script
foundation-nya itu sangat script based
banget gitu. Dan saya ingin juga, oke
kalau saya memang bisa memahami script
dari kacamata aktor, saya juga ingin
memahami script dari kacamata
scriptwriter. Dengan begitu ilmunya
jadinya lengkap nih gitu. Saya bisa jagain
script daripada saat sebelum syuting,
saya bisa jagain performance untuk dari
para pemain, dan sebagai sutradara saya
bisa jagain juga kulit produksinya gitu.
Finishing polish-nya itu sampai akhir itu
juga bisa dijagain. Jadi untuk melengkapi
ilmu-ilmu yang udah ada gitu.
Tapi lebih cinta mana nih, jadi aktor atau
jadi sutradara?
[tertawa] Sebenarnya akhirnya saya
menentukan kecintaan saya bukan di salah
satu profesi, tapi kecintaan saya sama
dunia film gitu ya. Karena dari dulu
mungkin hidup saya udah sangat film banget
gitu. Dari kecil ayah bekerja di film,
kadang-kadang rumah dipakai syuting, saya
suka dijadiin figuran dan segala macam
gitu. Terus pada saat saya menikah juga
istri saya juga aktor film gitu kan,
kadang-kadang kita main film bareng, anak
saya kemarin juga tiba-tiba nyemplung ke
short film gitu. Jadi kayak dunia film itu
gak akan pernah pergi dari saya dan saya
akan selalu cinta dunia film sebagai
penikmat atau sebagai filmmakers gitu.
Jadi di mana pun saya berada di situ mau
jadi producer, acting coach, aktor,
sutradara, itu gak masalah yang penting
masih berhubungan dengan film. Gak tahu
juga ya tiba-tiba saya nanti buka restoran
atau [tertawa] atau jualan lele, saya gak
tahu, tapi sebenarnya kalau kecintaan
saya itu udah saya tentuin di industri
-film, jadi di mana pun di industri film.
-The love tentang perfilman itu sudah
-ingrained dari masa kecil berarti ya?
-Betul.
Dan Anda kan berarti sudah lama sekali ya
di dunia perfilman ya, dua dekade lebih
Perubahan apa sih yang paling signifikan
yang Anda rasakan sendiri sebagai aktor
-dan sutradara?
-Sebenarnya jadi kesadaran mungkin di awal
saya melihatnya masih the art side of that
gitu sebagai karya seninya.
Tapi makin kelamaan saya ada di bisnisnya,
terutama waktu itu saya harus memikirkan
bagaimana memasarkan produknya kan,
apalagi saya latar belakangnya
advertising. Dan makin saya pada saat jadi
produser dan sutradara sampai akhirnya
saya menjadi acting coach dan yang lain,
itu saya jadi mulai melihat bahwa film ini
tuh sisi bisnisnya tuh sangat penting
banget khususnya di Indonesia yang memang
secara apa ya istilahnya, industri itu
belum dewasa gitu, belum mature. Kita
masih hitungannya Indonesia tuh jauh lah
kayak sama Hollywood atau Bollywood yang
atau Korea yang sudah ada studios,
investasinya sudah jelas dan segala macam.
Indonesia tuh masih hitungannya kayak
rumahan sebenarnya gitu, karena setiap
kali mau bikin harus baru cari
investasinya, begitu mau produksi baru
cari kekuatan financial-nya gitu. Itu
kadang-kadang belum mikir lagi nanti buat
distribusinya gimana, apalagi dengan
exhibition kita juga yang terbatas ya, di
sini cuman ada tiga apa empat exhibitor
besar. Jadi makin lama itu saya mulai
melihat film gak cuman dari, oh kayaknya
ceritanya bagus atau kita mau bikin film
apa, tapi kita juga jadi ngelihat
pasarnya. Indonesia tuh pasarnya seperti
apa, film Indonesia di dunia tuh pasarnya
seperti apa. Jadi akhirnya menjadi
filmmakers yang lebih mature deh gitu.
Kalau mau bikin film atau bikin produksi,
itu kita udah harus mikir udah jauh dari
apa yang kita mau buat, tujuannya apa,
segmen targetnya apa, gimana nanti
distribusinya, marketingnya, dan segala
macam. Jadi itu sih yang makin lama makin
belajar gitu. Makin lama ternyata makin
-rumit gitu, tapi jadi makin tahu gitu.
-Baik. Verdi, terima kasih ya atas waktunya
-sudah berbincang dengan SBS Indonesian.
-Terima kasih sekali untuk waktunya dan
END OF TRANSCRIPT