Setiap tanggal 21 April, kita memperingati
Hari Kartini untuk mengenang sosok
perempuan yang memperjuangkan kemajuan dan
pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia.
Tapi di zaman sekarang, seperti apa
sebenarnya perjuangan itu? Buat banyak
perempuan Indonesia, salah satu tantangan
terbesar adalah menjalani karir sekaligus
menjadi ibu. Bagaimana mereka
menjalankannya? Saya berbincang dengan dua
perempuan Indonesia di dua kota berbeda,
satu di Jakarta dan satu di Sydney, yang
keduanya sukses di karir sambil
membesarkan anak-anak mereka. Berikut
perbincangan saya dengan Anastasia Savira
di Jakarta. Mbak Anas, boleh Anda
perkenalkan kepada pendengar tentang diri
Anda?
Nama saya Anastasia Savira. Saya kelahiran
Jakarta empat puluh dua tahun yang lalu.
Saat ini saya aktif bekerja sebagai salah
satu ASN di Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral, spesifiknya di Unit Pusat
Strategi Kebijakan.
Dan Anda berarti sekarang tinggal di
Jakarta?
Sebenarnya lebih tepatnya di Bekasi sih.
Cuma waktu dan kerja itu habis di Jakarta
sehari-harinya. [tertawa]
Nah, ini untuk tema kita hari ini adalah
mengenai Hari Kartini. Buat Anda pribadi,
apakah sosok Kartini mempunyai makna
tersendiri?
Kalau menurut saya secara objektif ya,
selain sebagai sosok penting dalam sejarah
di Indonesia, karena perjuangan era
Kartini itu sendiri yang membuka akses
pendidikan dan kesetaraan bagi kami
sebagai sosok gender perempuan,
secara pribadi saya sendiri sih merasa
terinspirasi oleh keberanian, pemikiran,
sehingga menurut saya menjadi sosok yang
spesial karena menurut saya ini
merupakan-- dia merupakan salah satu sosok
yang membuka jalan untuk kita perempuan
bisa berada di level atau stage yang
sekarang ini. Jadi, saya sangat menghargai
nilai-nilai yang pernah dibawa Kartini di
masanya sehingga perempuan bisa semandiri
dan memiliki kesetaraan gender dengan
para pria di masa sekarang.
Tadi Anda menyebutkan berkat ibu kita
Kartini, perempuan sekarang bisa mempunyai
kesetaraan gender dengan gender laki-laki
begitu ya. Nah, Anda sendiri sekarang
adalah perempuan yang berkarir yang
seperti Anda sebutkan di awal dan juga
kebetulan Anda adalah seorang ibu nih dari
anak Anda berusia berapa?
-Sepuluh tahun.
-Mungkin boleh ceritakan sedikit perjalanan
karir Anda. Bagaimana nih Anda bisa
sampai di posisi sekarang?
Kebetulan seperti yang tadi saya sebutkan,
saya kan salah satu ASN di Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral yang di
mana sebenarnya bidang energi ini adalah
bidangnya para lelaki. Jadi mayoritas ASN
pun di kementerian ini diisi oleh para
pria karena bidang-bidang pertambangan
energi itu memang lebih ke gender maskulin
gitu. Jadi ketika saya memulai berkarir
di kementerian ini, kami tuh perempuan
memang sedikit susah untuk saya merasakan
ada sedikit pandangan yang bukan
merendahkan, tapi lebih kayak
membandingkan bahwa energi perempuan dan
pria itu beda gitu dan kualitas pria dan
perempuan itu berbeda di field ini, gitu.
Jadi untuk menunjukkan bahwa sebenarnya
saya tuh nggak kalah loh dengan para pria
yang ada di sini, di field, saya tuh
berusaha meningkatkan kualitas diri saya
dengan bersekolah lagi gitu. Karena memang
di sinilah kita berkompetensi nggak bisa
cuma sekedar kita tahu ilmu pengetahuan
atau ilmu pengetahuan umum hanya dengan
membaca berita, tapi kita juga harus
meningkatkan banyak knowledge lainnya. Ya
mau nggak mau kan dengan cara kuliah. Nah,
di sini akhirnya saya memutuskan untuk
mengambil S2 dan S3 di bidang public
policy khususnya berkaitan dengan energi
panas bumi. Saya kebetulan mendapatkan
beasiswa dari-- baik dari Kementerian ESDM
sendiri dan juga dari PBB saat itu untuk
menempuh
pendidikan master saya. Lalu, dilalahnya
ketika saya merasa oh ternyata ini tidak
cukup ya dan belum lagi umur kan di sini
kalau kita sering cari beasiswa saat itu
kita tahulah namanya mau dapat beasiswa
itu ada range umurnya gitu. Jadi ketika
saya menempuh pendidikan S2 itu,
saya lihat lagi nih oh kayaknya kalau
memang mau meneruskan sekolah dengan pakai
beasiswa, saya nggak bisa menunda-nunda
lagi gitu, karena umurnya sudah tidak muda
lagi kan. Ya di situlah pada saat saya
masih berada di Jepang, waktu itu saya
menempuh pendidikan master dan PhD saya di
Nagoya University,
Jepang. Di tengah-tengah saya menempuh S2
saya, saya
berusaha mencari beasiswa untuk S3.
Akhirnya saya mengikuti beberapa tes dan
dapatlah beasiswa dari Monbukagakusho
atau MEXT, yang di mana MEXT itu merupakan
Kementerian Pendidikan di Jepang. Dan
laginya kebetulan saat saya mendapatkan
beasiswa S2 saya yang di PBB itu memang
kontraknya sebenarnya saya harus
S3 juga. Jadi kontrak untuk beasiswa dari
PBB itu adalah lima tahun, dua tahun untuk
master dan tiga tahun untuk PhD. Jadi
akhirnya saya melanjutkan. 2017 sampai
2019 saya menempuh pendidikan S2 di Nagoya
University, lalu saya lanjut dari
2019 sampai 2023 di universitas yang sama
dan di fakultas yang sama, yaitu di
Graduate School of International
Development.
Itu sepertinya panjang karir Anda.
Sekarang juga Anda tetap berkarir dengan
karir yang terus berkembang dan juga
mempunyai anak kecil di rumah. Ini dari
perjalanan karir Anda, perjalanan kuliah
Anda, siapa yang paling membantu Anda
-sehingga keduanya bisa berjalan?
-[tertawa] Kalau...Kalau misalkan ditanya
siapa yang paling berperan membantu,
saya nggak bisa membohongi, apa ya
maksudnya,
sebagian besar yang saya dapati sekarang
itu benar-benar usaha saya sendiri ya
dan minim support gitu. Bukan berarti
tidak ada family support, cuman saat itu
memang kedua orang tua saya kan sudah
sakit-sakitan lah ya. Cuman saya juga
tidak bisa menghilangkan bantuan dan
support dari kedua orang tua saya yang di
mana ketika saya membutuhkan bantuan untuk
menjaga anak saya. Kan jadi waktu saya
memulai kuliah saya itu anak saya masih
dan pada saat saya pergi ke Jepang itu
enam bulan pertama itu saya tidak boleh
membawa siapa pun dari keluarga saya.
Otomatis saya meninggalkan anak saya yang
masih bayi itu di orang tua saya saat itu,
di keluarga saya. Jadi mereka yang
merawat sampai pada akhirnya saya
diperbolehkan, saya mendapatkan izin untuk
membawa anak saya ke Jepang,
ya saya bawa. Jadi bisa dibilang kalau
support untuk bisa berada di posisi ini,
kedua orang tua saya. Tapi terlepas dari
siapa pun
yang membantu saya saat itu, tetap saja
tekad dari diri sendiri sebenarnya yang
paling mendorong saya untuk bisa
mendapatkan semuanya dan menyelesaikan
semuanya. Karena siapa pun yang menolong
saya, saya rasa saat itu tidak akan bisa
berjalan kalau tidak ada tekad yang kuat
untuk menyelesaikan dari diri sendiri.
Karena PhD apalagi ya, kalau kita nggak
bisa ngatur waktu mau dibantu keluarga,
diboyong semua ke sana atau banyak orang
di samping kita yang ngebantu kita, kalau
kita nggak bisa manage waktu ya nggak
bakalan bisa kelar juga. Apalagi saya
menempuh S3 itu di tengah-tengah Covid.
Sampai saya nggak bisa pulang, nggak bisa
mencari data, itu semua ini sih
benar-benar struggle banget saat itu.
Berarti kan terinspirasi oleh Ibu Kartini
memang terbawa sampai sekarang. Nah ini-
-Iya benar.
-Apakah Anda pernah merasa harus memilih
bukan masalah Anda menyelesaikan studi,
tapi sekarang apakah Anda merasa harus
memilih antara karir dan keluarga?
Atau mungkin ada orang di sekitar Anda
yang mempertanyakan pilihan Anda?
Jujur ya kalau misalkan mempertanyakan
pilihan itu bahkan bukan sekarang aja.
Dari sejak saya mau memutuskan melanjutkan
kuliah ke luar negeri pun,
itu sudah banyak yang ibaratnya sudah
banyak yang berkata negatif gitu dan
menganggap saya sebagai seorang ibu yang
tega gitu kok meninggalkan anak bayi demi
mengejar sesuatu yang dianggap sangat
egois dan ambisius saat itu sebagai
seorang perempuan. Kok tidak mengurus
keluarga, tidak mengurus anak sendiri
malah ditinggalkan gitu. Tapi balik lagi
saya selalu melihat bahwa gimana ya
Kartini itu kan kalau kita sebagai
perempuan kita nggak usah ngomong
Kita sebagai perempuan ini kan kita punya
hidup sendiri yang selalu saya tanamkan di
diri saya kenapa pilihan-pilihan atau
pertanyaan itu hanya dihadirkan kepada
seorang perempuan gitu, tidak pernah
dihadirkan kepada seorang laki-laki.
Padahal di zaman sekarang ini
banyak banget kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi, kemungkinan-kemungkinan yang
kita tidak bisa prediksi bahwa sebenarnya
perempuan ketika dia punya sesuatu, punya
value, punya aktualisasi diri,
jika terjadi sesuatu pada keluarganya, dia
bisa support loh keluarganya. Dan di situ
sebenarnya yang kita harus mulai tanamkan
ke generasi mendatang bahwa berkarir atau
meneruskan pendidikan itu bukan suatu
pilihan negatif di tengah-tengah fase
hidup kita yang sudah bukan muda lagi,
bukan single lagi, bahkan sudah punya
keluarga. Bahkan menurut saya kita harus
meng-encourage sesama perempuan bahwa kita
harus mempunyai pendidikan yang tinggi
atau mempunyai karir atau pendapatan untuk
saling mensupport gitu, untuk membuktikan
bahwa kita bukan sekedar individu yang
hanya bisa bekerja di rumah dan selalu
dipandang sebelah mata gitu.
Anda kan kebetulan anak Anda adalah
perempuan ya.
-He eh.
-Apakah penting untuk Anda bahwa anak Anda
melihat ibunya nih menjadi wanita mandiri
dan wanita karir?
Absolutely, yes, penting banget.
Karena ya itu dia sebenarnya berkarir itu
kan tidak harus kita pergi ke kantor atau
menempuh perjalanan untuk bekerja eight to
five gitu. Menurut saya yang penting kita
punya sesuatu yang memang bisa kita
banggakan sebagai seorang perempuan bahwa
kita nih punya pilihan hidup sendiri gitu,
tidak takut untuk menggunakan atau
mengembangkan skill-skill yang sebenarnya
kita punya, kemampuan yang kita punya di
publik gitu. Jadi saya mau nunjukin ke dia
bahwa ini bukan lagi zaman atau era di
mana perempuan hanya menunggu laki-laki
untuk menghidupi dia tanpa kita
nggak ngapa-ngapain gitu.
Kan kadang sekarang suka ada yang
membanding-bandingkan bahwa perempuan ibu
rumah tangga itu lebih baik daripada ibu
yang bekerja atau sebaliknya.
Menurut saya ibu rumah tangga juga tidak
salah, tapi alangkah baiknya ke depannya
di masa yang apa-apa serba sulit ini ada
baiknya menurut saya perempuan juga
mempunyai aktualisasi diri, mempunyai
pendapatan sendiri terlepas dia harus
menjadi ibu rumah tangga juga. Saya
walaupun kerja juga saya ibu rumah tangga
gitu. Saya kerja, saya punya usaha, saya
juga ibu rumah tangga, saya masih ngurus
anak, saya ngurus rumah, semuanya saya
urus dan semua bisa berjalan lancar dan
balance dan semuanya baik-baik aja kok
tidak ada yang terbengkalai.
Input yang luar biasa dari Mbak Anas
ya.Mungkin ini pertanyaan terakhir saya.
Sebagai ibu yang juga sukses di karir,
menurut Anda apa artinya menjadi Kartini
-di zaman sekarang?
-Menurut saya kan, seingat saya waktu di
zaman dulu kan hari lahir Kartini itu
merupakan suatu ceremony. Tapi kalau di
zaman sekarang ini menurut saya menjadi
Kartini itu bukan tentang keberanian untuk
menunjukkan bahwa kita perempuan yang
bisa berdiri sendiri di atas kaki sendiri,
menjadi satu individu yang bisa berpikir
sendiri, berdiri di atas pilihan hidup
terus tidak takut bersuara ketika ada yang
tidak adil, tidak takut untuk memilih
jalan hidupnya sendiri di saat banyak
omongan negatif bahwa seorang perempuan
harus seperti A, B, C, D.
Menurut saya Kartini di zaman era modern
sekarang ini adalah perempuan yang terus
harus belajar, yang berani mengejar mimpi
tanpa harus meminta izin loh untuk menjadi
Karena kita ini bertanggung jawab untuk
diri kita sendiri.
Seorang perempuan saya rasa saat ini harus
bisa bekerja, berkarya, terus tetap
menjadi pribadi yang hangat dan peduli
kepada lingkungan sekitar. Jadi yang
paling penting kita tidak hanya tumbuh
untuk diri sendiri, tapi kita juga bisa
membuka jalan agar perempuan lain juga
bisa ikut tumbuh, ikut maju, terus kita
bisa menjadi inspirasi buat
perempuan-perempuan lain untuk terus
berkembang, tidak takut untuk berkompetisi
dengan para pria, gitu sih.
Demikian tadi pendengar pendapat dari
Anastasia Safira dan simak percakapan saya
berikut dengan Shelly Marzuki di Sydney.
Topik pembicaraan kali ini mengenai Hari
-begitu ya Mbak Shelly?
-Iya.
Sebagai perempuan Indonesia walaupun sudah
jauh merantau di Australia sekarang,
apakah sosok ibu kita Kartini tetap
memiliki sosok berarti untuk diri Anda?
Iya banget dong, karena dia kan suri
tauladan ya buat wanita-wanita Indonesia
yang kita walaupun tinggal di culture
bule, tapi kita masih Indonesia banget,
terutama di rumah saya gitu ya.
Dan dulu kan Kartini berjuang ya supaya
perempuan bisa maju. Anda sendiri sekarang
sudah membuktikan begitu, membangun
bisnis di Australia sambil membesarkan
anak-anak. Anak Mbak Shelly ada dua ya,
benar ya?
Iya benar, ada dua. Satu udah gede, udah
ABG, dia di year twelve umur tujuh belas
tahun, yang satu lagi umur sebelas tahun
di year five.
Nah, ini apa sih hal terberat yang Anda
hadapi sebagai ibu sekaligus pebisnis di
-Australia?
-Oh, every day is another day. Istilahnya
kalau semua mau dikerjain nggak bakal
kejadian ya. Karena kan seperti tahu di
Australi kita ngurusin rumah, ngurusin
masak, nganter anak sekolah, apa segala.
Aku take it-nya day by day aja Mbak. Jadi
aku bikin struktur karena aku ada beberapa
company yang aku running. Misalnya hari
Senin adalah harinya Shelly khusus untuk
ngurusin si administrasi nih. Hari Selasa
harinya Shelly untuk ngurusin restoran A,
yang ini restoran B. Nah, untuk anak-anak
saya conclude di hari weekend. Hari
weekend itu saya nggak boleh diganggu.
Istilahnya yang telepon juga saya silent.
Kalau penting banget cuman orang-orang
yang bisa nge-reach out saya adalah
orang-orang yang benar-benar butuh saya
jawab gitu. Kalau enggak, akan collapse,
semuanya akan terus-terusan aja gitu loh.
Kita nggak ada waktu buat yang lain-lain.
Apakah hal tersebut sempat mengurungkan
niat Anda untuk terus bekerja?
Sempat banget. Seakan-akan mikirnya gini,
"Kok hidup cuman bangun, tidur, kerja,
bisnis, bangun, tidur, kerja, bisnis."
Sedangkan saya lihat kan namanya di dunia
lain gitu ya kayak ngelihat di media
sosial, kok enak-enak ya yang jadi istri
di luar sana cuman duduk-duduk, bikin
konten, foto-foto gitu. Tapi ya namanya
lagi hidup ya sawang sinawang ya Mbak.
I don't think aku juga bisa kayak gitu.
Aku senangnya seperti sekarang. Aku
senangnya aktif, aku senangnya
berorganisasi, ketemu orang, habis itu
berkarya di yang aku sukain ini
environment-nya. Jadi I'm okay [tertawa].
Berarti suami Anda juga sangat mendukung
karir Anda begitu ya?
Betul, alhamdulillah kita yin and yang ya.
Istilahnya dia lah suporter pertama saya.
Istilahnya dia terus yang, "Maju terus
bun, kalau ada apa-apa hantam aja." Itu
cuman there's another day, there's another
challenge, you will get through it, kata
-dia gitu.
-Nah, ini kan anak-anak Anda ada yang sudah
besar. Menurut Anda nih, dan anak Anda
laki-laki dua-duanya, tapi menurut Anda
apakah mereka melihat dan memahami gitu
perjuangan Anda dan apakah penting untuk
Anda melihat ibu mereka ini adalah wanita
karir gitu?
Iya, betul. Gini, jadi saya ngerasa
sebagai parenting kan kita juga cuman
bukan ngomong aja tapi kasih sample, lead
by example kan. Contoh saya tuh kaget
kemarin ditelepon sama sekolah anak yang
pertama,
ternyata dia pemenang bahasa Cina terbaik
di daerah kita ini. Kaget dong karena anak
saya yang pertama ini kan agak-agak
pendiam. Terus aku tanya, "Abang, kok
abang belajar bahasa Cina?" gitu, "Apa
yang bikin kamu pengen belajar bahasa
Cina?" Jawaban dia tuh bener-bener bikin
saya kaget, Mbak. Jawaban dia adalah,
"Saya mau travel ke Cina, mau bantuin
bisnis Bunda yang online shopping, karena
nanti ke depannya akan... Cina yang akan
regulate the world," kata dia gitu. "Saya
mesti tahu bahasanya. So I'm gonna help
you develop your business," kata dia gitu.
Aku surprise karena aku ngelihat emang
dia dari kecil aku besarkan dari bazar ke
bazar ngikutin saya jualan, apa, dan dia
bantuin saya packaging, packing apa untuk
bisnis online shopping saya itu. Ternyata
mereka observe ya, oh nanti di ke depan
Bundanya butuh ini nih, saya belajar
inilah. Itu salah satu contohnya [tertawa]
-.
-Berarti kan anak Anda walaupun laki-laki
tidak melihat adanya kesenjangan antara
pria dan wanita begitu ya?
-Betul, nggak ada sama sekali.
-Dan sebagai ibu yang juga pemilik bisnis,
berarti menurut Anda apa artinya menjadi
Kartini di zaman sekarang?
Menjadi Kartini di zaman sekarang, pertama
kita mesti tahu dulu value kita, cintai
diri kita sendiri juga, jadi jangan
kelibet. Istilahnya kelibet tuh gini, kita
ngasih cinta terus sama semua orang
dengan men-serving. Bayangin di Australi
kan kita mesti ngurusin semuanya. Nah,
kalau kita nggak happy dengan diri kita
sendiri, habis kan cintanya kita, Mbak.
Nah, jadi aku walaupun ada bisnis banyak,
ada ngurusin rumah bla bla bla, tapi aku
selalu cari waktu buat diri aku sendiri
untuk me-maintain my mental health juga.
Jadi aku away, aku liburan, dan setahun
sekali aku liburan juga sama temen-temen
tanpa suami, tanpa anak-anak. Jadi how you
juggle your world tanpa kamunya habis di
dalam situ juga gitu loh.
Tetap balance dalam menjalankan peran Anda
sebagai ibu dan juga sebagai
pebisnis dan juga sebagai diri Anda
sendiri, yaitu Shelly, begitu ya?
Betul. Jadi semuanya bisa ke-handle kalau
kitanya happy istilah simplenya gitu ya.
Mbak Shelly, terima kasih ya atas
waktunya.
END OF TRANSCRIPT