Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Modern women: Balancing career, family and self

pexels-vlada-karpovich-7434017(1).jpg

Modern women at work Credit: Vlada Karpovich on pexels

Two Indonesian women in Jakarta and Sydney share their stories of juggling motherhood and career, and what it means to be a Kartini in today's world.


For a mother, being a Kartini in today's world also means having a career and finding balance for yourself.

Anastasia Savira is a civil servant at Indonesia's Ministry of Energy and Mineral Resources in Jakarta, a field dominated by men. Determined to prove that women can compete in this space, she pursued her master's and doctoral degrees in public policy at Nagoya University in Japan. She did so, Savira said, while raising her child, who was still a toddler at that time.

Anastasia Savira with her daughter on her graduation day. Credit_ Supplied_Anastasia Savira.jpg
Anastasia Savira with her daughter on her graduation day. Credit: Anastasia Savira

When people questioned her decision, Savira noticed something. Those questions, she said, are only ever directed at women and never at men.

Even so, Savira has proven that all these roles can work together. Savira holds a full-time job, runs a business, and still manages the household and looks after her child, she said.

As a mother of a daughter, it’s important to show that women have their own choices in life, Savira said. She wants her daughter to see that this is no longer an era where women wait to be provided for, she added.

For Savira, a Kartini in today's world is a woman who dares to be herself, speaks up against injustice, and cares for those around her. More than that, Savira said, a modern-day Kartini also paves the way for other women to grow.

women office
Credit: Anna Shvets/Pexels

In Sydney, Shelly Rizky runs several businesses while raising two sons. Without extended family nearby, she keeps her life tightly structured, she said. Each day has its own business focus, and weekends belong entirely to the children, she added.

For Rizky, who runs businesses in food & beverages and online shopping, being a modern-day Kartini means knowing when to stop. No matter how busy she gets with work and the household, Rizky said, she always makes time for herself. Because in her view, everything runs well when she herself is in a good place.

Shelly Rizky with her husband and two children. Credit_ Supplied_Shelly Rizky.jpeg
Shelly Rizky with her husband and two children. Credit: Shelly Rizky

Listen to SBS Indonesian's full conversation with Anastasia Savira and Shelly Rizky to find out more.

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini untuk mengenang sosok

perempuan yang memperjuangkan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia.

Tapi di zaman sekarang, seperti apa sebenarnya perjuangan itu? Buat banyak

perempuan Indonesia, salah satu tantangan terbesar adalah menjalani karir sekaligus

menjadi ibu. Bagaimana mereka menjalankannya? Saya berbincang dengan dua

perempuan Indonesia di dua kota berbeda, satu di Jakarta dan satu di Sydney, yang

keduanya sukses di karir sambil membesarkan anak-anak mereka. Berikut

perbincangan saya dengan Anastasia Savira di Jakarta. Mbak Anas, boleh Anda

perkenalkan kepada pendengar tentang diri Anda?

Nama saya Anastasia Savira. Saya kelahiran Jakarta empat puluh dua tahun yang lalu.

Saat ini saya aktif bekerja sebagai salah satu ASN di Kementerian Energi dan Sumber

Daya Mineral, spesifiknya di Unit Pusat Strategi Kebijakan.

Dan Anda berarti sekarang tinggal di Jakarta?

Sebenarnya lebih tepatnya di Bekasi sih.

Cuma waktu dan kerja itu habis di Jakarta sehari-harinya. [tertawa]

Nah, ini untuk tema kita hari ini adalah mengenai Hari Kartini. Buat Anda pribadi,

apakah sosok Kartini mempunyai makna tersendiri?

Kalau menurut saya secara objektif ya, selain sebagai sosok penting dalam sejarah

di Indonesia, karena perjuangan era Kartini itu sendiri yang membuka akses

pendidikan dan kesetaraan bagi kami sebagai sosok gender perempuan,

secara pribadi saya sendiri sih merasa terinspirasi oleh keberanian, pemikiran,

dan perjuangannya,

sehingga menurut saya menjadi sosok yang spesial karena menurut saya ini

merupakan-- dia merupakan salah satu sosok yang membuka jalan untuk kita perempuan

bisa berada di level atau stage yang sekarang ini. Jadi, saya sangat menghargai

nilai-nilai yang pernah dibawa Kartini di masanya sehingga perempuan bisa semandiri

dan memiliki kesetaraan gender dengan para pria di masa sekarang.

Tadi Anda menyebutkan berkat ibu kita Kartini, perempuan sekarang bisa mempunyai

kesetaraan gender dengan gender laki-laki begitu ya. Nah, Anda sendiri sekarang

adalah perempuan yang berkarir yang seperti Anda sebutkan di awal dan juga

kebetulan Anda adalah seorang ibu nih dari anak Anda berusia berapa?

-Sepuluh tahun. -Mungkin boleh ceritakan sedikit perjalanan

karir Anda. Bagaimana nih Anda bisa sampai di posisi sekarang?

Kebetulan seperti yang tadi saya sebutkan, saya kan salah satu ASN di Kementerian

Energi dan Sumber Daya Mineral yang di mana sebenarnya bidang energi ini adalah

bidangnya para lelaki. Jadi mayoritas ASN pun di kementerian ini diisi oleh para

pria karena bidang-bidang pertambangan energi itu memang lebih ke gender maskulin

gitu. Jadi ketika saya memulai berkarir di kementerian ini, kami tuh perempuan

memang sedikit susah untuk saya merasakan ada sedikit pandangan yang bukan

merendahkan, tapi lebih kayak membandingkan bahwa energi perempuan dan

pria itu beda gitu dan kualitas pria dan perempuan itu berbeda di field ini, gitu.

Jadi untuk menunjukkan bahwa sebenarnya saya tuh nggak kalah loh dengan para pria

yang ada di sini, di field, saya tuh berusaha meningkatkan kualitas diri saya

dengan bersekolah lagi gitu. Karena memang di sinilah kita berkompetensi nggak bisa

cuma sekedar kita tahu ilmu pengetahuan atau ilmu pengetahuan umum hanya dengan

membaca berita, tapi kita juga harus meningkatkan banyak knowledge lainnya. Ya

mau nggak mau kan dengan cara kuliah. Nah, di sini akhirnya saya memutuskan untuk

mengambil S2 dan S3 di bidang public policy khususnya berkaitan dengan energi

panas bumi. Saya kebetulan mendapatkan beasiswa dari-- baik dari Kementerian ESDM

sendiri dan juga dari PBB saat itu untuk menempuh

pendidikan master saya. Lalu, dilalahnya ketika saya merasa oh ternyata ini tidak

cukup ya dan belum lagi umur kan di sini kalau kita sering cari beasiswa saat itu

kita tahulah namanya mau dapat beasiswa itu ada range umurnya gitu. Jadi ketika

saya menempuh pendidikan S2 itu,

saya lihat lagi nih oh kayaknya kalau memang mau meneruskan sekolah dengan pakai

beasiswa, saya nggak bisa menunda-nunda lagi gitu, karena umurnya sudah tidak muda

lagi kan. Ya di situlah pada saat saya masih berada di Jepang, waktu itu saya

menempuh pendidikan master dan PhD saya di Nagoya University,

Jepang. Di tengah-tengah saya menempuh S2 saya, saya

berusaha mencari beasiswa untuk S3. Akhirnya saya mengikuti beberapa tes dan

dapatlah beasiswa dari Monbukagakusho atau MEXT, yang di mana MEXT itu merupakan

Kementerian Pendidikan di Jepang. Dan laginya kebetulan saat saya mendapatkan

beasiswa S2 saya yang di PBB itu memang kontraknya sebenarnya saya harus

menyelesaikan

S3 juga. Jadi kontrak untuk beasiswa dari PBB itu adalah lima tahun, dua tahun untuk

master dan tiga tahun untuk PhD. Jadi akhirnya saya melanjutkan. 2017 sampai

2019 saya menempuh pendidikan S2 di Nagoya University, lalu saya lanjut dari

2019 sampai 2023 di universitas yang sama dan di fakultas yang sama, yaitu di

Graduate School of International Development.

Itu sepertinya panjang karir Anda. Sekarang juga Anda tetap berkarir dengan

karir yang terus berkembang dan juga mempunyai anak kecil di rumah. Ini dari

perjalanan karir Anda, perjalanan kuliah Anda, siapa yang paling membantu Anda

-sehingga keduanya bisa berjalan? -[tertawa] Kalau...Kalau misalkan ditanya

siapa yang paling berperan membantu,

saya nggak bisa membohongi, apa ya maksudnya,

sebagian besar yang saya dapati sekarang itu benar-benar usaha saya sendiri ya

dan minim support gitu. Bukan berarti tidak ada family support, cuman saat itu

memang kedua orang tua saya kan sudah

sakit-sakitan lah ya. Cuman saya juga tidak bisa menghilangkan bantuan dan

support dari kedua orang tua saya yang di mana ketika saya membutuhkan bantuan untuk

menjaga anak saya. Kan jadi waktu saya memulai kuliah saya itu anak saya masih

bayi

dan pada saat saya pergi ke Jepang itu enam bulan pertama itu saya tidak boleh

membawa siapa pun dari keluarga saya. Otomatis saya meninggalkan anak saya yang

masih bayi itu di orang tua saya saat itu, di keluarga saya. Jadi mereka yang

merawat sampai pada akhirnya saya diperbolehkan, saya mendapatkan izin untuk

membawa anak saya ke Jepang,

ya saya bawa. Jadi bisa dibilang kalau support untuk bisa berada di posisi ini,

kedua orang tua saya. Tapi terlepas dari siapa pun

yang membantu saya saat itu, tetap saja tekad dari diri sendiri sebenarnya yang

paling mendorong saya untuk bisa mendapatkan semuanya dan menyelesaikan

semuanya. Karena siapa pun yang menolong saya, saya rasa saat itu tidak akan bisa

berjalan kalau tidak ada tekad yang kuat untuk menyelesaikan dari diri sendiri.

Karena PhD apalagi ya, kalau kita nggak bisa ngatur waktu mau dibantu keluarga,

diboyong semua ke sana atau banyak orang di samping kita yang ngebantu kita, kalau

kita nggak bisa manage waktu ya nggak bakalan bisa kelar juga. Apalagi saya

menempuh S3 itu di tengah-tengah Covid. Sampai saya nggak bisa pulang, nggak bisa

mencari data, itu semua ini sih benar-benar struggle banget saat itu.

Berarti kan terinspirasi oleh Ibu Kartini memang terbawa sampai sekarang. Nah ini-

-Iya benar. -Apakah Anda pernah merasa harus memilih

bukan masalah Anda menyelesaikan studi, tapi sekarang apakah Anda merasa harus

memilih antara karir dan keluarga?

Atau mungkin ada orang di sekitar Anda yang mempertanyakan pilihan Anda?

Jujur ya kalau misalkan mempertanyakan pilihan itu bahkan bukan sekarang aja.

Dari sejak saya mau memutuskan melanjutkan kuliah ke luar negeri pun,

itu sudah banyak yang ibaratnya sudah banyak yang berkata negatif gitu dan

menganggap saya sebagai seorang ibu yang tega gitu kok meninggalkan anak bayi demi

mengejar sesuatu yang dianggap sangat egois dan ambisius saat itu sebagai

seorang perempuan. Kok tidak mengurus keluarga, tidak mengurus anak sendiri

malah ditinggalkan gitu. Tapi balik lagi saya selalu melihat bahwa gimana ya

Kartini itu kan kalau kita sebagai perempuan kita nggak usah ngomong

Kartininya dulu deh ya.

Kita sebagai perempuan ini kan kita punya hidup sendiri yang selalu saya tanamkan di

diri saya kenapa pilihan-pilihan atau pertanyaan itu hanya dihadirkan kepada

seorang perempuan gitu, tidak pernah dihadirkan kepada seorang laki-laki.

Padahal di zaman sekarang ini

banyak banget kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, kemungkinan-kemungkinan yang

kita tidak bisa prediksi bahwa sebenarnya perempuan ketika dia punya sesuatu, punya

value, punya aktualisasi diri,

jika terjadi sesuatu pada keluarganya, dia bisa support loh keluarganya. Dan di situ

sebenarnya yang kita harus mulai tanamkan ke generasi mendatang bahwa berkarir atau

meneruskan pendidikan itu bukan suatu pilihan negatif di tengah-tengah fase

hidup kita yang sudah bukan muda lagi, bukan single lagi, bahkan sudah punya

keluarga. Bahkan menurut saya kita harus meng-encourage sesama perempuan bahwa kita

harus mempunyai pendidikan yang tinggi atau mempunyai karir atau pendapatan untuk

saling mensupport gitu, untuk membuktikan bahwa kita bukan sekedar individu yang

hanya bisa bekerja di rumah dan selalu dipandang sebelah mata gitu.

Anda kan kebetulan anak Anda adalah perempuan ya.

-He eh. -Apakah penting untuk Anda bahwa anak Anda

melihat ibunya nih menjadi wanita mandiri dan wanita karir?

Absolutely, yes, penting banget.

Karena ya itu dia sebenarnya berkarir itu kan tidak harus kita pergi ke kantor atau

menempuh perjalanan untuk bekerja eight to five gitu. Menurut saya yang penting kita

punya sesuatu yang memang bisa kita banggakan sebagai seorang perempuan bahwa

kita nih punya pilihan hidup sendiri gitu, tidak takut untuk menggunakan atau

mengembangkan skill-skill yang sebenarnya kita punya, kemampuan yang kita punya di

publik gitu. Jadi saya mau nunjukin ke dia bahwa ini bukan lagi zaman atau era di

mana perempuan hanya menunggu laki-laki untuk menghidupi dia tanpa kita

nggak ngapa-ngapain gitu.

Kan kadang sekarang suka ada yang membanding-bandingkan bahwa perempuan ibu

rumah tangga itu lebih baik daripada ibu yang bekerja atau sebaliknya.

Menurut saya ibu rumah tangga juga tidak salah, tapi alangkah baiknya ke depannya

di masa yang apa-apa serba sulit ini ada baiknya menurut saya perempuan juga

mempunyai aktualisasi diri, mempunyai pendapatan sendiri terlepas dia harus

menjadi ibu rumah tangga juga. Saya walaupun kerja juga saya ibu rumah tangga

gitu. Saya kerja, saya punya usaha, saya juga ibu rumah tangga, saya masih ngurus

anak, saya ngurus rumah, semuanya saya urus dan semua bisa berjalan lancar dan

balance dan semuanya baik-baik aja kok tidak ada yang terbengkalai.

Input yang luar biasa dari Mbak Anas ya.Mungkin ini pertanyaan terakhir saya.

Sebagai ibu yang juga sukses di karir, menurut Anda apa artinya menjadi Kartini

-di zaman sekarang? -Menurut saya kan, seingat saya waktu di

zaman dulu kan hari lahir Kartini itu merupakan suatu ceremony. Tapi kalau di

zaman sekarang ini menurut saya menjadi Kartini itu bukan tentang keberanian untuk

menunjukkan bahwa kita perempuan yang bisa berdiri sendiri di atas kaki sendiri,

tapi juga

menjadi satu individu yang bisa berpikir sendiri, berdiri di atas pilihan hidup

sendiri,

terus tidak takut bersuara ketika ada yang tidak adil, tidak takut untuk memilih

jalan hidupnya sendiri di saat banyak omongan negatif bahwa seorang perempuan

harus seperti A, B, C, D.

Menurut saya Kartini di zaman era modern sekarang ini adalah perempuan yang terus

harus belajar, yang berani mengejar mimpi tanpa harus meminta izin loh untuk menjadi

dirinya sendiri.

Karena kita ini bertanggung jawab untuk diri kita sendiri.

Seorang perempuan saya rasa saat ini harus bisa bekerja, berkarya, terus tetap

menjadi pribadi yang hangat dan peduli kepada lingkungan sekitar. Jadi yang

paling penting kita tidak hanya tumbuh untuk diri sendiri, tapi kita juga bisa

membuka jalan agar perempuan lain juga bisa ikut tumbuh, ikut maju, terus kita

bisa menjadi inspirasi buat perempuan-perempuan lain untuk terus

berkembang, tidak takut untuk berkompetisi dengan para pria, gitu sih.

Demikian tadi pendengar pendapat dari Anastasia Safira dan simak percakapan saya

berikut dengan Shelly Marzuki di Sydney. Topik pembicaraan kali ini mengenai Hari

Kartini,

-begitu ya Mbak Shelly? -Iya.

Sebagai perempuan Indonesia walaupun sudah jauh merantau di Australia sekarang,

apakah sosok ibu kita Kartini tetap memiliki sosok berarti untuk diri Anda?

Iya banget dong, karena dia kan suri

tauladan ya buat wanita-wanita Indonesia yang kita walaupun tinggal di culture

bule, tapi kita masih Indonesia banget, terutama di rumah saya gitu ya.

Dan dulu kan Kartini berjuang ya supaya perempuan bisa maju. Anda sendiri sekarang

sudah membuktikan begitu, membangun bisnis di Australia sambil membesarkan

anak-anak. Anak Mbak Shelly ada dua ya, benar ya?

Iya benar, ada dua. Satu udah gede, udah ABG, dia di year twelve umur tujuh belas

tahun, yang satu lagi umur sebelas tahun di year five.

Nah, ini apa sih hal terberat yang Anda hadapi sebagai ibu sekaligus pebisnis di

-Australia? -Oh, every day is another day. Istilahnya

every day itu

kalau semua mau dikerjain nggak bakal kejadian ya. Karena kan seperti tahu di

Australi kita ngurusin rumah, ngurusin masak, nganter anak sekolah, apa segala.

Aku take it-nya day by day aja Mbak. Jadi aku bikin struktur karena aku ada beberapa

company yang aku running. Misalnya hari Senin adalah harinya Shelly khusus untuk

ngurusin si administrasi nih. Hari Selasa harinya Shelly untuk ngurusin restoran A,

yang ini restoran B. Nah, untuk anak-anak saya conclude di hari weekend. Hari

weekend itu saya nggak boleh diganggu. Istilahnya yang telepon juga saya silent.

Kalau penting banget cuman orang-orang yang bisa nge-reach out saya adalah

orang-orang yang benar-benar butuh saya jawab gitu. Kalau enggak, akan collapse,

semuanya akan terus-terusan aja gitu loh. Kita nggak ada waktu buat yang lain-lain.

Apakah hal tersebut sempat mengurungkan niat Anda untuk terus bekerja?

Sempat banget. Seakan-akan mikirnya gini,

"Kok hidup cuman bangun, tidur, kerja, bisnis, bangun, tidur, kerja, bisnis."

Sedangkan saya lihat kan namanya di dunia lain gitu ya kayak ngelihat di media

sosial, kok enak-enak ya yang jadi istri di luar sana cuman duduk-duduk, bikin

konten, foto-foto gitu. Tapi ya namanya lagi hidup ya sawang sinawang ya Mbak.

I don't think aku juga bisa kayak gitu. Aku senangnya seperti sekarang. Aku

senangnya aktif, aku senangnya berorganisasi, ketemu orang, habis itu

berkarya di yang aku sukain ini environment-nya. Jadi I'm okay [tertawa].

Berarti suami Anda juga sangat mendukung karir Anda begitu ya?

Betul, alhamdulillah kita yin and yang ya. Istilahnya dia lah suporter pertama saya.

Istilahnya dia terus yang, "Maju terus bun, kalau ada apa-apa hantam aja." Itu

cuman there's another day, there's another challenge, you will get through it, kata

-dia gitu. -Nah, ini kan anak-anak Anda ada yang sudah

besar. Menurut Anda nih, dan anak Anda laki-laki dua-duanya, tapi menurut Anda

apakah mereka melihat dan memahami gitu perjuangan Anda dan apakah penting untuk

Anda melihat ibu mereka ini adalah wanita karir gitu?

Iya, betul. Gini, jadi saya ngerasa sebagai parenting kan kita juga cuman

bukan ngomong aja tapi kasih sample, lead by example kan. Contoh saya tuh kaget

kemarin ditelepon sama sekolah anak yang pertama,

ternyata dia pemenang bahasa Cina terbaik di daerah kita ini. Kaget dong karena anak

saya yang pertama ini kan agak-agak pendiam. Terus aku tanya, "Abang, kok

abang belajar bahasa Cina?" gitu, "Apa yang bikin kamu pengen belajar bahasa

Cina?" Jawaban dia tuh bener-bener bikin saya kaget, Mbak. Jawaban dia adalah,

"Saya mau travel ke Cina, mau bantuin bisnis Bunda yang online shopping, karena

nanti ke depannya akan... Cina yang akan regulate the world," kata dia gitu. "Saya

mesti tahu bahasanya. So I'm gonna help you develop your business," kata dia gitu.

Aku surprise karena aku ngelihat emang dia dari kecil aku besarkan dari bazar ke

bazar ngikutin saya jualan, apa, dan dia bantuin saya packaging, packing apa untuk

bisnis online shopping saya itu. Ternyata mereka observe ya, oh nanti di ke depan

Bundanya butuh ini nih, saya belajar inilah. Itu salah satu contohnya [tertawa]

-. -Berarti kan anak Anda walaupun laki-laki

tidak melihat adanya kesenjangan antara pria dan wanita begitu ya?

-Betul, nggak ada sama sekali. -Dan sebagai ibu yang juga pemilik bisnis,

berarti menurut Anda apa artinya menjadi Kartini di zaman sekarang?

Menjadi Kartini di zaman sekarang, pertama kita mesti tahu dulu value kita, cintai

diri kita sendiri juga, jadi jangan kelibet. Istilahnya kelibet tuh gini, kita

ngasih cinta terus sama semua orang dengan men-serving. Bayangin di Australi

kan kita mesti ngurusin semuanya. Nah, kalau kita nggak happy dengan diri kita

sendiri, habis kan cintanya kita, Mbak. Nah, jadi aku walaupun ada bisnis banyak,

ada ngurusin rumah bla bla bla, tapi aku selalu cari waktu buat diri aku sendiri

untuk me-maintain my mental health juga. Jadi aku away, aku liburan, dan setahun

sekali aku liburan juga sama temen-temen tanpa suami, tanpa anak-anak. Jadi how you

juggle your world tanpa kamunya habis di dalam situ juga gitu loh.

Tetap balance dalam menjalankan peran Anda sebagai ibu dan juga sebagai

pebisnis dan juga sebagai diri Anda sendiri, yaitu Shelly, begitu ya?

Betul. Jadi semuanya bisa ke-handle kalau kitanya happy istilah simplenya gitu ya.

Mbak Shelly, terima kasih ya atas waktunya.

Sama-sama.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now