Two Indonesian women in Jakarta and Sydney share their stories of juggling motherhood and career, and what it means to be a Kartini in today's world.
For a mother, being a Kartini in today's world also means having a career and finding balance for yourself.
Anastasia Savira is a civil servant at Indonesia's Ministry of Energy and Mineral Resources in Jakarta, a field dominated by men. Determined to prove that women can compete in this space, she pursued her master's and doctoral degrees in public policy at Nagoya University in Japan. She did so, Savira said, while raising her child, who was still a toddler at that time.

When people questioned her decision, Savira noticed something. Those questions, she said, are only ever directed at women and never at men.
Even so, Savira has proven that all these roles can work together. Savira holds a full-time job, runs a business, and still manages the household and looks after her child, she said.
As a mother of a daughter, it’s important to show that women have their own choices in life, Savira said. She wants her daughter to see that this is no longer an era where women wait to be provided for, she added.
For Savira, a Kartini in today's world is a woman who dares to be herself, speaks up against injustice, and cares for those around her. More than that, Savira said, a modern-day Kartini also paves the way for other women to grow.

In Sydney, Shelly Rizky runs several businesses while raising two sons. Without extended family nearby, she keeps her life tightly structured, she said. Each day has its own business focus, and weekends belong entirely to the children, she added.
For Rizky, who runs businesses in food & beverages and online shopping, being a modern-day Kartini means knowing when to stop. No matter how busy she gets with work and the household, Rizky said, she always makes time for herself. Because in her view, everything runs well when she herself is in a good place.

Listen to SBS Indonesian's full conversation with Anastasia Savira and Shelly Rizky to find out more.
Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini untuk mengenang sosok
perempuan yang memperjuangkan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia.
Tapi di zaman sekarang, seperti apa sebenarnya perjuangan itu? Buat banyak
perempuan Indonesia, salah satu tantangan terbesar adalah menjalani karir sekaligus
menjadi ibu. Bagaimana mereka menjalankannya? Saya berbincang dengan dua
perempuan Indonesia di dua kota berbeda, satu di Jakarta dan satu di Sydney, yang
keduanya sukses di karir sambil membesarkan anak-anak mereka. Berikut
perbincangan saya dengan Anastasia Savira di Jakarta. Mbak Anas, boleh Anda
perkenalkan kepada pendengar tentang diri Anda?
Nama saya Anastasia Savira. Saya kelahiran Jakarta empat puluh dua tahun yang lalu.
Saat ini saya aktif bekerja sebagai salah satu ASN di Kementerian Energi dan Sumber
Daya Mineral, spesifiknya di Unit Pusat Strategi Kebijakan.
Dan Anda berarti sekarang tinggal di Jakarta?
Sebenarnya lebih tepatnya di Bekasi sih.
Cuma waktu dan kerja itu habis di Jakarta sehari-harinya. [tertawa]
Nah, ini untuk tema kita hari ini adalah mengenai Hari Kartini. Buat Anda pribadi,
apakah sosok Kartini mempunyai makna tersendiri?
Kalau menurut saya secara objektif ya, selain sebagai sosok penting dalam sejarah
di Indonesia, karena perjuangan era Kartini itu sendiri yang membuka akses
pendidikan dan kesetaraan bagi kami sebagai sosok gender perempuan,
secara pribadi saya sendiri sih merasa terinspirasi oleh keberanian, pemikiran,
dan perjuangannya,
sehingga menurut saya menjadi sosok yang spesial karena menurut saya ini
merupakan-- dia merupakan salah satu sosok yang membuka jalan untuk kita perempuan
bisa berada di level atau stage yang sekarang ini. Jadi, saya sangat menghargai
nilai-nilai yang pernah dibawa Kartini di masanya sehingga perempuan bisa semandiri
dan memiliki kesetaraan gender dengan para pria di masa sekarang.
Tadi Anda menyebutkan berkat ibu kita Kartini, perempuan sekarang bisa mempunyai
kesetaraan gender dengan gender laki-laki begitu ya. Nah, Anda sendiri sekarang
adalah perempuan yang berkarir yang seperti Anda sebutkan di awal dan juga
kebetulan Anda adalah seorang ibu nih dari anak Anda berusia berapa?
-Sepuluh tahun. -Mungkin boleh ceritakan sedikit perjalanan
karir Anda. Bagaimana nih Anda bisa sampai di posisi sekarang?
Kebetulan seperti yang tadi saya sebutkan, saya kan salah satu ASN di Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral yang di mana sebenarnya bidang energi ini adalah
bidangnya para lelaki. Jadi mayoritas ASN pun di kementerian ini diisi oleh para
pria karena bidang-bidang pertambangan energi itu memang lebih ke gender maskulin
gitu. Jadi ketika saya memulai berkarir di kementerian ini, kami tuh perempuan
memang sedikit susah untuk saya merasakan ada sedikit pandangan yang bukan
merendahkan, tapi lebih kayak membandingkan bahwa energi perempuan dan
pria itu beda gitu dan kualitas pria dan perempuan itu berbeda di field ini, gitu.
Jadi untuk menunjukkan bahwa sebenarnya saya tuh nggak kalah loh dengan para pria
yang ada di sini, di field, saya tuh berusaha meningkatkan kualitas diri saya
dengan bersekolah lagi gitu. Karena memang di sinilah kita berkompetensi nggak bisa
cuma sekedar kita tahu ilmu pengetahuan atau ilmu pengetahuan umum hanya dengan
membaca berita, tapi kita juga harus meningkatkan banyak knowledge lainnya. Ya
mau nggak mau kan dengan cara kuliah. Nah, di sini akhirnya saya memutuskan untuk
mengambil S2 dan S3 di bidang public policy khususnya berkaitan dengan energi
panas bumi. Saya kebetulan mendapatkan beasiswa dari-- baik dari Kementerian ESDM
sendiri dan juga dari PBB saat itu untuk menempuh
pendidikan master saya. Lalu, dilalahnya ketika saya merasa oh ternyata ini tidak
cukup ya dan belum lagi umur kan di sini kalau kita sering cari beasiswa saat itu
kita tahulah namanya mau dapat beasiswa itu ada range umurnya gitu. Jadi ketika
saya menempuh pendidikan S2 itu,
saya lihat lagi nih oh kayaknya kalau memang mau meneruskan sekolah dengan pakai
beasiswa, saya nggak bisa menunda-nunda lagi gitu, karena umurnya sudah tidak muda
lagi kan. Ya di situlah pada saat saya masih berada di Jepang, waktu itu saya
menempuh pendidikan master dan PhD saya di Nagoya University,
Jepang. Di tengah-tengah saya menempuh S2 saya, saya
berusaha mencari beasiswa untuk S3. Akhirnya saya mengikuti beberapa tes dan
dapatlah beasiswa dari Monbukagakusho atau MEXT, yang di mana MEXT itu merupakan
Kementerian Pendidikan di Jepang. Dan laginya kebetulan saat saya mendapatkan
beasiswa S2 saya yang di PBB itu memang kontraknya sebenarnya saya harus
menyelesaikan
S3 juga. Jadi kontrak untuk beasiswa dari PBB itu adalah lima tahun, dua tahun untuk
master dan tiga tahun untuk PhD. Jadi akhirnya saya melanjutkan. 2017 sampai
2019 saya menempuh pendidikan S2 di Nagoya University, lalu saya lanjut dari
2019 sampai 2023 di universitas yang sama dan di fakultas yang sama, yaitu di
Graduate School of International Development.
Itu sepertinya panjang karir Anda. Sekarang juga Anda tetap berkarir dengan
karir yang terus berkembang dan juga mempunyai anak kecil di rumah. Ini dari
perjalanan karir Anda, perjalanan kuliah Anda, siapa yang paling membantu Anda
-sehingga keduanya bisa berjalan? -[tertawa] Kalau...Kalau misalkan ditanya
siapa yang paling berperan membantu,
saya nggak bisa membohongi, apa ya maksudnya,
sebagian besar yang saya dapati sekarang itu benar-benar usaha saya sendiri ya
dan minim support gitu. Bukan berarti tidak ada family support, cuman saat itu
memang kedua orang tua saya kan sudah
sakit-sakitan lah ya. Cuman saya juga tidak bisa menghilangkan bantuan dan
support dari kedua orang tua saya yang di mana ketika saya membutuhkan bantuan untuk
menjaga anak saya. Kan jadi waktu saya memulai kuliah saya itu anak saya masih
bayi
dan pada saat saya pergi ke Jepang itu enam bulan pertama itu saya tidak boleh
membawa siapa pun dari keluarga saya. Otomatis saya meninggalkan anak saya yang
masih bayi itu di orang tua saya saat itu, di keluarga saya. Jadi mereka yang
merawat sampai pada akhirnya saya diperbolehkan, saya mendapatkan izin untuk
membawa anak saya ke Jepang,
ya saya bawa. Jadi bisa dibilang kalau support untuk bisa berada di posisi ini,
kedua orang tua saya. Tapi terlepas dari siapa pun
yang membantu saya saat itu, tetap saja tekad dari diri sendiri sebenarnya yang
paling mendorong saya untuk bisa mendapatkan semuanya dan menyelesaikan
semuanya. Karena siapa pun yang menolong saya, saya rasa saat itu tidak akan bisa
berjalan kalau tidak ada tekad yang kuat untuk menyelesaikan dari diri sendiri.
Karena PhD apalagi ya, kalau kita nggak bisa ngatur waktu mau dibantu keluarga,
diboyong semua ke sana atau banyak orang di samping kita yang ngebantu kita, kalau
kita nggak bisa manage waktu ya nggak bakalan bisa kelar juga. Apalagi saya
menempuh S3 itu di tengah-tengah Covid. Sampai saya nggak bisa pulang, nggak bisa
mencari data, itu semua ini sih benar-benar struggle banget saat itu.
Berarti kan terinspirasi oleh Ibu Kartini memang terbawa sampai sekarang. Nah ini-
-Iya benar. -Apakah Anda pernah merasa harus memilih
bukan masalah Anda menyelesaikan studi, tapi sekarang apakah Anda merasa harus
memilih antara karir dan keluarga?
Atau mungkin ada orang di sekitar Anda yang mempertanyakan pilihan Anda?
Jujur ya kalau misalkan mempertanyakan pilihan itu bahkan bukan sekarang aja.
Dari sejak saya mau memutuskan melanjutkan kuliah ke luar negeri pun,
itu sudah banyak yang ibaratnya sudah banyak yang berkata negatif gitu dan
menganggap saya sebagai seorang ibu yang tega gitu kok meninggalkan anak bayi demi
mengejar sesuatu yang dianggap sangat egois dan ambisius saat itu sebagai
seorang perempuan. Kok tidak mengurus keluarga, tidak mengurus anak sendiri
malah ditinggalkan gitu. Tapi balik lagi saya selalu melihat bahwa gimana ya
Kartini itu kan kalau kita sebagai perempuan kita nggak usah ngomong
Kartininya dulu deh ya.
Kita sebagai perempuan ini kan kita punya hidup sendiri yang selalu saya tanamkan di
diri saya kenapa pilihan-pilihan atau pertanyaan itu hanya dihadirkan kepada
seorang perempuan gitu, tidak pernah dihadirkan kepada seorang laki-laki.
Padahal di zaman sekarang ini
banyak banget kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, kemungkinan-kemungkinan yang
kita tidak bisa prediksi bahwa sebenarnya perempuan ketika dia punya sesuatu, punya
value, punya aktualisasi diri,
jika terjadi sesuatu pada keluarganya, dia bisa support loh keluarganya. Dan di situ
sebenarnya yang kita harus mulai tanamkan ke generasi mendatang bahwa berkarir atau
meneruskan pendidikan itu bukan suatu pilihan negatif di tengah-tengah fase
hidup kita yang sudah bukan muda lagi, bukan single lagi, bahkan sudah punya
keluarga. Bahkan menurut saya kita harus meng-encourage sesama perempuan bahwa kita
harus mempunyai pendidikan yang tinggi atau mempunyai karir atau pendapatan untuk
saling mensupport gitu, untuk membuktikan bahwa kita bukan sekedar individu yang
hanya bisa bekerja di rumah dan selalu dipandang sebelah mata gitu.
Anda kan kebetulan anak Anda adalah perempuan ya.
-He eh. -Apakah penting untuk Anda bahwa anak Anda
melihat ibunya nih menjadi wanita mandiri dan wanita karir?
Absolutely, yes, penting banget.
Karena ya itu dia sebenarnya berkarir itu kan tidak harus kita pergi ke kantor atau
menempuh perjalanan untuk bekerja eight to five gitu. Menurut saya yang penting kita
punya sesuatu yang memang bisa kita banggakan sebagai seorang perempuan bahwa
kita nih punya pilihan hidup sendiri gitu, tidak takut untuk menggunakan atau
mengembangkan skill-skill yang sebenarnya kita punya, kemampuan yang kita punya di
publik gitu. Jadi saya mau nunjukin ke dia bahwa ini bukan lagi zaman atau era di
mana perempuan hanya menunggu laki-laki untuk menghidupi dia tanpa kita
nggak ngapa-ngapain gitu.
Kan kadang sekarang suka ada yang membanding-bandingkan bahwa perempuan ibu
rumah tangga itu lebih baik daripada ibu yang bekerja atau sebaliknya.
Menurut saya ibu rumah tangga juga tidak salah, tapi alangkah baiknya ke depannya
di masa yang apa-apa serba sulit ini ada baiknya menurut saya perempuan juga
mempunyai aktualisasi diri, mempunyai pendapatan sendiri terlepas dia harus
menjadi ibu rumah tangga juga. Saya walaupun kerja juga saya ibu rumah tangga
gitu. Saya kerja, saya punya usaha, saya juga ibu rumah tangga, saya masih ngurus
anak, saya ngurus rumah, semuanya saya urus dan semua bisa berjalan lancar dan
balance dan semuanya baik-baik aja kok tidak ada yang terbengkalai.
Input yang luar biasa dari Mbak Anas ya.Mungkin ini pertanyaan terakhir saya.
Sebagai ibu yang juga sukses di karir, menurut Anda apa artinya menjadi Kartini
-di zaman sekarang? -Menurut saya kan, seingat saya waktu di
zaman dulu kan hari lahir Kartini itu merupakan suatu ceremony. Tapi kalau di
zaman sekarang ini menurut saya menjadi Kartini itu bukan tentang keberanian untuk
menunjukkan bahwa kita perempuan yang bisa berdiri sendiri di atas kaki sendiri,
tapi juga
menjadi satu individu yang bisa berpikir sendiri, berdiri di atas pilihan hidup
sendiri,
terus tidak takut bersuara ketika ada yang tidak adil, tidak takut untuk memilih
jalan hidupnya sendiri di saat banyak omongan negatif bahwa seorang perempuan
harus seperti A, B, C, D.
Menurut saya Kartini di zaman era modern sekarang ini adalah perempuan yang terus
harus belajar, yang berani mengejar mimpi tanpa harus meminta izin loh untuk menjadi
dirinya sendiri.
Karena kita ini bertanggung jawab untuk diri kita sendiri.
Seorang perempuan saya rasa saat ini harus bisa bekerja, berkarya, terus tetap
menjadi pribadi yang hangat dan peduli kepada lingkungan sekitar. Jadi yang
paling penting kita tidak hanya tumbuh untuk diri sendiri, tapi kita juga bisa
membuka jalan agar perempuan lain juga bisa ikut tumbuh, ikut maju, terus kita
bisa menjadi inspirasi buat perempuan-perempuan lain untuk terus
berkembang, tidak takut untuk berkompetisi dengan para pria, gitu sih.
Demikian tadi pendengar pendapat dari Anastasia Safira dan simak percakapan saya
berikut dengan Shelly Marzuki di Sydney. Topik pembicaraan kali ini mengenai Hari
Kartini,
-begitu ya Mbak Shelly? -Iya.
Sebagai perempuan Indonesia walaupun sudah jauh merantau di Australia sekarang,
apakah sosok ibu kita Kartini tetap memiliki sosok berarti untuk diri Anda?
Iya banget dong, karena dia kan suri
tauladan ya buat wanita-wanita Indonesia yang kita walaupun tinggal di culture
bule, tapi kita masih Indonesia banget, terutama di rumah saya gitu ya.
Dan dulu kan Kartini berjuang ya supaya perempuan bisa maju. Anda sendiri sekarang
sudah membuktikan begitu, membangun bisnis di Australia sambil membesarkan
anak-anak. Anak Mbak Shelly ada dua ya, benar ya?
Iya benar, ada dua. Satu udah gede, udah ABG, dia di year twelve umur tujuh belas
tahun, yang satu lagi umur sebelas tahun di year five.
Nah, ini apa sih hal terberat yang Anda hadapi sebagai ibu sekaligus pebisnis di
-Australia? -Oh, every day is another day. Istilahnya
every day itu
kalau semua mau dikerjain nggak bakal kejadian ya. Karena kan seperti tahu di
Australi kita ngurusin rumah, ngurusin masak, nganter anak sekolah, apa segala.
Aku take it-nya day by day aja Mbak. Jadi aku bikin struktur karena aku ada beberapa
company yang aku running. Misalnya hari Senin adalah harinya Shelly khusus untuk
ngurusin si administrasi nih. Hari Selasa harinya Shelly untuk ngurusin restoran A,
yang ini restoran B. Nah, untuk anak-anak saya conclude di hari weekend. Hari
weekend itu saya nggak boleh diganggu. Istilahnya yang telepon juga saya silent.
Kalau penting banget cuman orang-orang yang bisa nge-reach out saya adalah
orang-orang yang benar-benar butuh saya jawab gitu. Kalau enggak, akan collapse,
semuanya akan terus-terusan aja gitu loh. Kita nggak ada waktu buat yang lain-lain.
Apakah hal tersebut sempat mengurungkan niat Anda untuk terus bekerja?
Sempat banget. Seakan-akan mikirnya gini,
"Kok hidup cuman bangun, tidur, kerja, bisnis, bangun, tidur, kerja, bisnis."
Sedangkan saya lihat kan namanya di dunia lain gitu ya kayak ngelihat di media
sosial, kok enak-enak ya yang jadi istri di luar sana cuman duduk-duduk, bikin
konten, foto-foto gitu. Tapi ya namanya lagi hidup ya sawang sinawang ya Mbak.
I don't think aku juga bisa kayak gitu. Aku senangnya seperti sekarang. Aku
senangnya aktif, aku senangnya berorganisasi, ketemu orang, habis itu
berkarya di yang aku sukain ini environment-nya. Jadi I'm okay [tertawa].
Berarti suami Anda juga sangat mendukung karir Anda begitu ya?
Betul, alhamdulillah kita yin and yang ya. Istilahnya dia lah suporter pertama saya.
Istilahnya dia terus yang, "Maju terus bun, kalau ada apa-apa hantam aja." Itu
cuman there's another day, there's another challenge, you will get through it, kata
-dia gitu. -Nah, ini kan anak-anak Anda ada yang sudah
besar. Menurut Anda nih, dan anak Anda laki-laki dua-duanya, tapi menurut Anda
apakah mereka melihat dan memahami gitu perjuangan Anda dan apakah penting untuk
Anda melihat ibu mereka ini adalah wanita karir gitu?
Iya, betul. Gini, jadi saya ngerasa sebagai parenting kan kita juga cuman
bukan ngomong aja tapi kasih sample, lead by example kan. Contoh saya tuh kaget
kemarin ditelepon sama sekolah anak yang pertama,
ternyata dia pemenang bahasa Cina terbaik di daerah kita ini. Kaget dong karena anak
saya yang pertama ini kan agak-agak pendiam. Terus aku tanya, "Abang, kok
abang belajar bahasa Cina?" gitu, "Apa yang bikin kamu pengen belajar bahasa
Cina?" Jawaban dia tuh bener-bener bikin saya kaget, Mbak. Jawaban dia adalah,
"Saya mau travel ke Cina, mau bantuin bisnis Bunda yang online shopping, karena
nanti ke depannya akan... Cina yang akan regulate the world," kata dia gitu. "Saya
mesti tahu bahasanya. So I'm gonna help you develop your business," kata dia gitu.
Aku surprise karena aku ngelihat emang dia dari kecil aku besarkan dari bazar ke
bazar ngikutin saya jualan, apa, dan dia bantuin saya packaging, packing apa untuk
bisnis online shopping saya itu. Ternyata mereka observe ya, oh nanti di ke depan
Bundanya butuh ini nih, saya belajar inilah. Itu salah satu contohnya [tertawa]
-. -Berarti kan anak Anda walaupun laki-laki
tidak melihat adanya kesenjangan antara pria dan wanita begitu ya?
-Betul, nggak ada sama sekali. -Dan sebagai ibu yang juga pemilik bisnis,
berarti menurut Anda apa artinya menjadi Kartini di zaman sekarang?
Menjadi Kartini di zaman sekarang, pertama kita mesti tahu dulu value kita, cintai
diri kita sendiri juga, jadi jangan kelibet. Istilahnya kelibet tuh gini, kita
ngasih cinta terus sama semua orang dengan men-serving. Bayangin di Australi
kan kita mesti ngurusin semuanya. Nah, kalau kita nggak happy dengan diri kita
sendiri, habis kan cintanya kita, Mbak. Nah, jadi aku walaupun ada bisnis banyak,
ada ngurusin rumah bla bla bla, tapi aku selalu cari waktu buat diri aku sendiri
untuk me-maintain my mental health juga. Jadi aku away, aku liburan, dan setahun
sekali aku liburan juga sama temen-temen tanpa suami, tanpa anak-anak. Jadi how you
juggle your world tanpa kamunya habis di dalam situ juga gitu loh.
Tetap balance dalam menjalankan peran Anda sebagai ibu dan juga sebagai
pebisnis dan juga sebagai diri Anda sendiri, yaitu Shelly, begitu ya?
Betul. Jadi semuanya bisa ke-handle kalau kitanya happy istilah simplenya gitu ya.
Mbak Shelly, terima kasih ya atas waktunya.
Sama-sama.





