How Indonesian-French trilingual family in Australia preserves their children's mother tongue

 Arini Suryokusumo Alliod, an Indonesian living in Sydney with her French husband.

Arini Suryokusumo Alliod, an Indonesian mother living in Sydney with her French husband. Credit: Supplied/Arini Suryokusumo Alliod

Arini Suryokusumo Alliod, an Indonesian living in Sydney with her French husband, shares what it is like to raise two children across three languages: Indonesian, French and English, and why the mother tongue remains a priority in the midst of life abroad.


On 21 February, the world marks International Mother Language Day, a moment to celebrate linguistic diversity and the importance of preserving our mother tongues. For Indonesian diaspora families living overseas, the occasion carries a personal weight.

For families raising children in multilingual environments, keeping the mother tongue alive is no small feat. The challenge is real when the language of school, friendships and everyday life is different from the one spoken at home.

SBS Indonesian spoke with Arini Suryokusumo Alliod, an Indonesian living in Sydney with her French husband, about her experience raising children in three languages and why Bahasa Indonesia remains a priority in her household.

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Pendengar, topik obrolan kita kali ini adalah Hari Bahasa Ibu Internasional yang

jatuh pada tanggal 21 Februari. Dan saat ini saya berbincang dengan Mbak Arini

Suryokusumo, diaspora Indonesia yang tinggal di Sydney. Halo Mbak Arini, apa

-kabar? -Oh, baik, Mbak Anne. Apa kabar? [tertawa]

Nah, ini nih pendengar, ada keunikan dari keluarga Mbak Arini, di mana Anda

berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan anak-anak, sementara suami

berbahasa Prancis, karena suami Mbak Arini adalah orang Prancis dan anak-anak pun

bersekolah di sekolah berbahasa Prancis di Sydney. Betul begitu?

-Ya, betul, betul. -Nah, apa yang memotivasi Mbak Arini dan

suami untuk mengutamakan anak-anak mendalami bahasa ibu masing-masing

dibandingkan bahasa Inggris yang lebih internasional dan jelas-jelas banyak

digunakan di berbagai negara, termasuk tentunya di Australia ya?

Sebenarnya sih awalnya kita sebenarnya enggak-- kan suami saya itu kan kerja di

Kementerian Luar Negeri Prancis, jadi tiap berapa tahun sekali kita pindah-pindah

negara. Nah, jadi sebenarnya tadinya kita inginnya Prancis dengan bahasa Indonesia.

Kenapa? Karena aku sebenarnya yang ngotot ya, pokoknya anak-anak harus bisa bahasa

Indonesia, karena saya juga lebih nyaman ngomongnya, terus juga anak-anak kan

sering aku bawa pulang gitu supaya dia bisa ngobrol sama sepupu-sepupunya, om

tantenya, dan itu kan bahasa ibu ya, bahasa Indonesia itu. Jadi aku sama suami

sepakat, oke, kita bahasa Prancis dari sisi suami, bahasa Indonesia dari sisi

aku, supaya mereka ya karena mereka mix Prancis Indonesia kan, jadi kita pengennya

ada lah mereka harus bisa. Dan kami pikirnya juga kalau udah besar ketika

mereka memilih tinggal di mana mungkin akan lebih gampang. Nah, suami kemudian

kan dapat kerjaan di Australi, jadi anak-anak itu dimasukkan ke sekolah

Prancis. Cuma di sekolah Prancis itu kan emang diharuskan bisa bahasa Inggris, jadi

mereka juga dipaksa untuk bahasa Inggris lah. Cuma itu kami, eh setuju juga ya,

meskipun mereka perlu waktu juga untuk belajar bahasa Inggris dengan lancar.

Sekarang sih alhamdulillah udah rada lumayan lancar gitu, karena ya kita

tinggal di Australi ya you have to speak English, right? Terus kami juga sebenarnya

saya dan suami juga kan bicaranya pakai bahasa Inggris dan kita tadinya juga

sempat mikir anak-anak diajarin bahasa Inggris gak ya? Awalnya ya waktu masih

kecil, cuma kok kebanyakan bahasa, tapi setelah dipikir-pikir bahasa Inggris itu

kan bahasa yang mendunia, jadi pasti kepakai kan. Alhamdulillah dapat Australi

ya udah, jadi sekarang mereka ber-- tiga bahasa sih, cuma ya gitu sekarang karena

lama di Australi kebanyakan ngomongnya Inggris. Nanti kalau di Indonesia mudik

gitu ya tiga minggu gitu, ngomongnya langsung bahasa Indonesia. [tertawa] Jadi

kayak kebawa suasana aja gitu, di Prancis juga ngomongnya Prancis gitu. [tertawa]

-Gitu sih. -Tapi itu luar biasa sih Mbak Arini. Nah,

ini kan anak-anak nih aktif nih dalam tiga bahasa ini nih. Menurut Mbak Arini dan

mungkin juga menurut suami, tapi diwakilkan oleh Mbak Arini nih, ini mana

yang lebih penting bahasa ibu mereka, yaitu Indonesia dan Prancis atau Indonesia

saja atau Prancis atau bahasa Inggris yang penting sekali untuk anak-anak

-mendalami atau semuanya? -Kami sih sebenarnya pengennya yang paling

utama Prancis sama Indonesia sih. Inggris itu meskipun kita sadari juga itu bahasa

internasional dan sangat penting, tapi itu mungkin yang nomor dua ya. Dan kalau

bahasa Prancis mungkin karena kita tinggalnya kan base camp-nya kita kan di

Paris kan, jadi ya mungkin yang nomor pertama Prancis, kedua Indonesia, baru

-ketiga Inggris. -Dan ini mana nih yang sebenarnya bisa

disebut bahasa ibu anak-anaknya Mbak Arini nih, kalau menurut Mbak Arini?

Mungkin lebih ke Prancis kali ya. Awalnya sih Indonesia ya, karena saya kan yang

ngebesarin, maksudnya suami kan kerja ya, saya ngebesarin. Waktu mereka

balita-balita tuh masih ngomongnya Indonesia, tapi setelah masuk TK, terus

udah sekolah Prancis, terus kita terus kemudian tinggal di Paris, ya udah

Indonesianya jarang dipakai, cuma sama aku aja.

-Dan ini- -Atau kalau pas mudik, he eh.

Dan ini dua-duanya, kan anak Mbak Arini ada dua ya sebelumnya pendengar saya kasih

tahu lebih dahulu. Dan ini dua-duanya lebih condong ke Prancis atau dua-duanya

-atau salah satunya lebih ke Prancis? -Dua-duanya ke Prancis sih.

Dan gimana nih ba, perasaan Mbak Arini kayaknya bahasa Indonesia agak tersisih

sedikit begitu dibandingkan Prancis? [tertawa]

Ya, maksudnya kan ayo aku sih pada akhirnya kan kita mikir anak ya, kalau

misalnya tinggalnya di Paris ya lebih diutamain bahasa Prancis lah, karena dia

kan teman-temannya, lingkungannya, semuanya. Dan pada kenyataannya aku nggak

terlalu khawatir juga ya, karena tiap kali aku pulang juga mereka bisa-bisa aja tuh

bahasa Indonesianya oke, mungkin nggak lancar kayak kita lagi ngobrol begini ya,

tapi bisa gitu. Jadi makin, namanya anak-anak kali ya, makin lama tuh ya udah

jadi ngomongnya pakai bahasa Indonesia, apalagi sama sepupu-sepupunya yang gak

pada bisa bahasa Inggris kan, lancar-lancar aja tuh, jadi aku nggak

-terlalu khawatir ya. -Hm, baik. Dan ini apakah ini tuh diajarkan

kedua bahasa ini terutama, tentu bahasa Inggris karena memang kebutuhan, ini untuk

-identitas mereka begitu? -Sebenarnya nggak kepikir ke situ ya, tapi

anak-anak itu kayaknya udah otomatis gitu kalau orang nanya gitu, "Kamu orang mana?"

gitu. "Oh, saya orang Indonesia, Prancis," gitu. Otomatis mereka nyebut.

Aku sih nggak ngajarin gitu, mereka otomatis aja karena mereka kan mungkin

karena sering aku bawa pulang ya, terus lama gitu ya, mereka merasa Indonesianya

tuh lumayan, lumayan kuat gitu. "Saya anak Indonesia," gitu, "soalnya ibu saya

Indonesia, tapi bapak saya Prancis," gitu. Jadi mereka kalau ditanya orang mana

pasti disebut dua-duanya, udah otomatis, he eh.

Berarti ini memperkaya jati diri mereka ya, karena kan dari bahasa juga

berkelanjutan ke yang lain-lain begitu ya?

... tadi sih sebenarnya nggak mikir, cuma aku yang sebagai ibu waktu anak-anak lahir

aku udah bilang sama suami, pokoknya saya mau ngomong sama mereka harus pakai

bahasa Indonesia. Ada sih yang bilang, "Ngapain sih lu ngajarin bahasa Indonesia?

Bahasa Inggris aja karena internasional." Ya, tapi kan gue ibunya gitu. Aku

pengennya karena aku sering pulang ya, aku pengennya anak-anak kalau di Indonesia

nggak, nggak terlalu apa sih, nggak bungong-bungong, nggak nyambung gitu loh.

-Karena sepupunya banyak banget. [tertawa] -Iya-

Itu aja sih, cuma kan emang bagus juga buat masa depan ya, kalau mereka misalnya

pengen tinggal di Indonesia atau mau tinggal di Prancis ada pilihan lah. Karena

aku perhatiin temen-temen aku tuh yang diaspora, yang tinggal di Paris,

anak-anaknya mix juga kan. Banyak yang anak-anak mereka tuh internship-nya tuh di

Jakarta atau di Solo atau di Jogja, dan mereka juga cukup bisa berbaur lah gitu.

Jadi aku pikir oh ini mungkin ada bagusnya juga buat masa depan mereka ya, jadi

-lebih banyak pilihan. -Dan ini boleh nggak sih dikasih kisi-kisi

kepada pendengar, ini bagaimana sih awal mulanya itu mengajarkan bahasa ibunya tuh

bagaimana awal mulanya? Terus ada tantangannya kah atau bagaimana?

Kisinya pokoknya terus aja ngomong pakai bahasa Indonesia. Cuma tantangannya

begini, karena aku kan sama suami kan ngomongnya pakai bahasa Inggris. Nah,

terus anak-anak itu karena terutama tantangannya sih pas di Australi ya,

karena mereka dapat bahasa ketiga kan, bahasa Inggris. Nah, itu mereka karena

temen-temennya kebanyakan Australi, Australi gitu mereka dan mereka pengen

banget belajar bahasa Inggris, ya mereka kadang-kadang kalau ngomong sama aku gitu

selalu Inggris gitu, kalau udah mepet-mepet, kalau enggak aku ingetin,

"Eh, kok ngomong Inggris melulu? Ini Indonesia ntar lupa loh." "Oh iya, Mama,"

gitu. Baru dia berusaha lagi, tapi emang harus kitanya yang ngotot, kalau enggak

sih ngomong Inggris terus. Karena kan mereka pengen latihan, latihan, latihan

terus kan. Nah, itu yang tantangan yang paling susah untuk mempertahankan bahasa

-Indonesianya. [tertawa] -Baik, dan ini apa makna terbesar dari Hari

Bahasa Ibu Internasional ini nih? Ada tidak untuk Mbak Arini sebagai seorang ibu

dan sebagai perempuan Indonesia yang membesarkan anak di perantauan?

Aku sih pokoknya intinya gini, kan namanya bahasa ibu ya, aku kan ibu mereka, aku

pengennya mereka harus bisa lah bahasa Indonesia, karena ibunya orang Indonesia

kok. Kalau ada yang nanya juga, kok pilih diajarin bahasa Indonesia? Ya kan ibunya

orang Indonesia, sepatutnya bisa lah, paling enggak pasif, bisa mengerti gitu.

Aku sih emang dari awal udah pengennya begitu, karena supaya mereka tuh

akar-akarnya masih, oh ya ibu aku Indonesia gitu. Jadi aku emang sengaja

-ditekenin sih di situ. -Biar mereka juga merasa Indonesia begitu

-ya? -Ya, pada akhirnya emang beneran semakin

besar mereka juga, "Aku orang Indonesia", gitu. Terus pakai baju merah putih, kayak

gitu-gitu masih sudah mulai pengen pulang, "Mama pengen pulang ke Bogor, Mama pengen

ini," gitu. Jadi sama orang-orang juga bilangnya aku orang Indonesia, orang

Prancis Indonesia, pasti disebutin dua-duanya gitu. Jadi ya berarti tujuan

-aku dari awal emang kesampaian lah. -Baik. Mbak Arini, terima kasih ya atas

waktunya sudah berbincang dengan SBS Indonesian.

Oke, sama-sama.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now