Pendengar, topik obrolan kita kali ini
adalah Hari Bahasa Ibu Internasional yang
jatuh pada tanggal 21 Februari. Dan saat
ini saya berbincang dengan Mbak Arini
Suryokusumo, diaspora Indonesia yang
tinggal di Sydney. Halo Mbak Arini, apa
-kabar?
-Oh, baik, Mbak Anne. Apa kabar? [tertawa]
Nah, ini nih pendengar, ada keunikan dari
keluarga Mbak Arini, di mana Anda
berbicara menggunakan bahasa Indonesia
dengan anak-anak, sementara suami
berbahasa Prancis, karena suami Mbak Arini
adalah orang Prancis dan anak-anak pun
bersekolah di sekolah berbahasa Prancis di
Sydney. Betul begitu?
-Ya, betul, betul.
-Nah, apa yang memotivasi Mbak Arini dan
suami untuk mengutamakan anak-anak
mendalami bahasa ibu masing-masing
dibandingkan bahasa Inggris yang lebih
internasional dan jelas-jelas banyak
digunakan di berbagai negara, termasuk
tentunya di Australia ya?
Sebenarnya sih awalnya kita sebenarnya
enggak-- kan suami saya itu kan kerja di
Kementerian Luar Negeri Prancis, jadi tiap
berapa tahun sekali kita pindah-pindah
negara. Nah, jadi sebenarnya tadinya kita
inginnya Prancis dengan bahasa Indonesia.
Kenapa? Karena aku sebenarnya yang ngotot
ya, pokoknya anak-anak harus bisa bahasa
Indonesia, karena saya juga lebih nyaman
ngomongnya, terus juga anak-anak kan
sering aku bawa pulang gitu supaya dia
bisa ngobrol sama sepupu-sepupunya, om
tantenya, dan itu kan bahasa ibu ya,
bahasa Indonesia itu. Jadi aku sama suami
sepakat, oke, kita bahasa Prancis dari
sisi suami, bahasa Indonesia dari sisi
aku, supaya mereka ya karena mereka mix
Prancis Indonesia kan, jadi kita pengennya
ada lah mereka harus bisa. Dan kami
pikirnya juga kalau udah besar ketika
mereka memilih tinggal di mana mungkin
akan lebih gampang. Nah, suami kemudian
kan dapat kerjaan di Australi, jadi
anak-anak itu dimasukkan ke sekolah
Prancis. Cuma di sekolah Prancis itu kan
emang diharuskan bisa bahasa Inggris, jadi
mereka juga dipaksa untuk bahasa Inggris
lah. Cuma itu kami, eh setuju juga ya,
meskipun mereka perlu waktu juga untuk
belajar bahasa Inggris dengan lancar.
Sekarang sih alhamdulillah udah rada
lumayan lancar gitu, karena ya kita
tinggal di Australi ya you have to speak
English, right? Terus kami juga sebenarnya
saya dan suami juga kan bicaranya pakai
bahasa Inggris dan kita tadinya juga
sempat mikir anak-anak diajarin bahasa
Inggris gak ya? Awalnya ya waktu masih
kecil, cuma kok kebanyakan bahasa, tapi
setelah dipikir-pikir bahasa Inggris itu
kan bahasa yang mendunia, jadi pasti
kepakai kan. Alhamdulillah dapat Australi
ya udah, jadi sekarang mereka ber-- tiga
bahasa sih, cuma ya gitu sekarang karena
lama di Australi kebanyakan ngomongnya
Inggris. Nanti kalau di Indonesia mudik
gitu ya tiga minggu gitu, ngomongnya
langsung bahasa Indonesia. [tertawa] Jadi
kayak kebawa suasana aja gitu, di Prancis
juga ngomongnya Prancis gitu. [tertawa]
-Gitu sih.
-Tapi itu luar biasa sih Mbak Arini. Nah,
ini kan anak-anak nih aktif nih dalam tiga
bahasa ini nih. Menurut Mbak Arini dan
mungkin juga menurut suami, tapi
diwakilkan oleh Mbak Arini nih, ini mana
yang lebih penting bahasa ibu mereka,
yaitu Indonesia dan Prancis atau Indonesia
saja atau Prancis atau bahasa Inggris
yang penting sekali untuk anak-anak
-mendalami atau semuanya?
-Kami sih sebenarnya pengennya yang paling
utama Prancis sama Indonesia sih. Inggris
itu meskipun kita sadari juga itu bahasa
internasional dan sangat penting, tapi itu
mungkin yang nomor dua ya. Dan kalau
bahasa Prancis mungkin karena kita
tinggalnya kan base camp-nya kita kan di
Paris kan, jadi ya mungkin yang nomor
pertama Prancis, kedua Indonesia, baru
-ketiga Inggris.
-Dan ini mana nih yang sebenarnya bisa
disebut bahasa ibu anak-anaknya Mbak Arini
nih, kalau menurut Mbak Arini?
Mungkin lebih ke Prancis kali ya. Awalnya
sih Indonesia ya, karena saya kan yang
ngebesarin, maksudnya suami kan kerja ya,
saya ngebesarin. Waktu mereka
balita-balita tuh masih ngomongnya
Indonesia, tapi setelah masuk TK, terus
udah sekolah Prancis, terus kita terus
kemudian tinggal di Paris, ya udah
Indonesianya jarang dipakai, cuma sama aku
aja.
-Dan ini-
-Atau kalau pas mudik, he eh.
Dan ini dua-duanya, kan anak Mbak Arini
ada dua ya sebelumnya pendengar saya kasih
tahu lebih dahulu. Dan ini dua-duanya
lebih condong ke Prancis atau dua-duanya
-atau salah satunya lebih ke Prancis?
-Dua-duanya ke Prancis sih.
Dan gimana nih ba, perasaan Mbak Arini
kayaknya bahasa Indonesia agak tersisih
sedikit begitu dibandingkan Prancis?
[tertawa]
Ya, maksudnya kan ayo aku sih pada
akhirnya kan kita mikir anak ya, kalau
misalnya tinggalnya di Paris ya lebih
diutamain bahasa Prancis lah, karena dia
kan teman-temannya, lingkungannya,
semuanya. Dan pada kenyataannya aku nggak
terlalu khawatir juga ya, karena tiap kali
aku pulang juga mereka bisa-bisa aja tuh
bahasa Indonesianya oke, mungkin nggak
lancar kayak kita lagi ngobrol begini ya,
tapi bisa gitu. Jadi makin, namanya
anak-anak kali ya, makin lama tuh ya udah
jadi ngomongnya pakai bahasa Indonesia,
apalagi sama sepupu-sepupunya yang gak
pada bisa bahasa Inggris kan,
lancar-lancar aja tuh, jadi aku nggak
-terlalu khawatir ya.
-Hm, baik. Dan ini apakah ini tuh diajarkan
kedua bahasa ini terutama, tentu bahasa
Inggris karena memang kebutuhan, ini untuk
-identitas mereka begitu?
-Sebenarnya nggak kepikir ke situ ya, tapi
anak-anak itu kayaknya udah otomatis gitu
kalau orang nanya gitu, "Kamu orang mana?"
gitu. "Oh, saya orang Indonesia,
Prancis," gitu. Otomatis mereka nyebut.
Aku sih nggak ngajarin gitu, mereka
otomatis aja karena mereka kan mungkin
karena sering aku bawa pulang ya, terus
lama gitu ya, mereka merasa Indonesianya
tuh lumayan, lumayan kuat gitu. "Saya anak
Indonesia," gitu, "soalnya ibu saya
Indonesia, tapi bapak saya Prancis," gitu.
Jadi mereka kalau ditanya orang mana
pasti disebut dua-duanya, udah otomatis,
he eh.
Berarti ini memperkaya jati diri mereka
ya, karena kan dari bahasa juga
berkelanjutan ke yang lain-lain begitu ya?
... tadi sih sebenarnya nggak mikir, cuma
aku yang sebagai ibu waktu anak-anak lahir
aku udah bilang sama suami, pokoknya saya
mau ngomong sama mereka harus pakai
bahasa Indonesia. Ada sih yang bilang,
"Ngapain sih lu ngajarin bahasa Indonesia?
Bahasa Inggris aja karena internasional."
Ya, tapi kan gue ibunya gitu. Aku
pengennya karena aku sering pulang ya, aku
pengennya anak-anak kalau di Indonesia
nggak, nggak terlalu apa sih, nggak
bungong-bungong, nggak nyambung gitu loh.
-Karena sepupunya banyak banget. [tertawa]
-Iya-
Itu aja sih, cuma kan emang bagus juga
buat masa depan ya, kalau mereka misalnya
pengen tinggal di Indonesia atau mau
tinggal di Prancis ada pilihan lah. Karena
aku perhatiin temen-temen aku tuh yang
diaspora, yang tinggal di Paris,
anak-anaknya mix juga kan. Banyak yang
anak-anak mereka tuh internship-nya tuh di
Jakarta atau di Solo atau di Jogja, dan
mereka juga cukup bisa berbaur lah gitu.
Jadi aku pikir oh ini mungkin ada bagusnya
juga buat masa depan mereka ya, jadi
-lebih banyak pilihan.
-Dan ini boleh nggak sih dikasih kisi-kisi
kepada pendengar, ini bagaimana sih awal
mulanya itu mengajarkan bahasa ibunya tuh
bagaimana awal mulanya? Terus ada
tantangannya kah atau bagaimana?
Kisinya pokoknya terus aja ngomong pakai
bahasa Indonesia. Cuma tantangannya
begini, karena aku kan sama suami kan
ngomongnya pakai bahasa Inggris. Nah,
terus anak-anak itu karena terutama
tantangannya sih pas di Australi ya,
karena mereka dapat bahasa ketiga kan,
bahasa Inggris. Nah, itu mereka karena
temen-temennya kebanyakan Australi,
Australi gitu mereka dan mereka pengen
banget belajar bahasa Inggris, ya mereka
kadang-kadang kalau ngomong sama aku gitu
selalu Inggris gitu, kalau udah
mepet-mepet, kalau enggak aku ingetin,
"Eh, kok ngomong Inggris melulu? Ini
Indonesia ntar lupa loh." "Oh iya, Mama,"
gitu. Baru dia berusaha lagi, tapi emang
harus kitanya yang ngotot, kalau enggak
sih ngomong Inggris terus. Karena kan
mereka pengen latihan, latihan, latihan
terus kan. Nah, itu yang tantangan yang
paling susah untuk mempertahankan bahasa
-Indonesianya. [tertawa]
-Baik, dan ini apa makna terbesar dari Hari
Bahasa Ibu Internasional ini nih? Ada
tidak untuk Mbak Arini sebagai seorang ibu
dan sebagai perempuan Indonesia yang
membesarkan anak di perantauan?
Aku sih pokoknya intinya gini, kan namanya
bahasa ibu ya, aku kan ibu mereka, aku
pengennya mereka harus bisa lah bahasa
Indonesia, karena ibunya orang Indonesia
kok. Kalau ada yang nanya juga, kok pilih
diajarin bahasa Indonesia? Ya kan ibunya
orang Indonesia, sepatutnya bisa lah,
paling enggak pasif, bisa mengerti gitu.
Aku sih emang dari awal udah pengennya
begitu, karena supaya mereka tuh
akar-akarnya masih, oh ya ibu aku
Indonesia gitu. Jadi aku emang sengaja
-ditekenin sih di situ.
-Biar mereka juga merasa Indonesia begitu
-ya?
-Ya, pada akhirnya emang beneran semakin
besar mereka juga, "Aku orang Indonesia",
gitu. Terus pakai baju merah putih, kayak
gitu-gitu masih sudah mulai pengen pulang,
"Mama pengen pulang ke Bogor, Mama pengen
ini," gitu. Jadi sama orang-orang juga
bilangnya aku orang Indonesia, orang
Prancis Indonesia, pasti disebutin
dua-duanya gitu. Jadi ya berarti tujuan
-aku dari awal emang kesampaian lah.
-Baik. Mbak Arini, terima kasih ya atas
waktunya sudah berbincang dengan SBS
Indonesian.
END OF TRANSCRIPT