Pendengar saat ini saya sedang bersama
dengan salah satu perwakilan dari PPIA dan
salah satu perwakilan dari Mata Garuda.
Halo-halo, apa kabar?
Aku Puspita Seruni, aku bisa dipanggil
Runi.
Aku dari, perwakilan dari Mata Garuda
sebagai Head of Partnership and Main Event
untuk kerjasama bareng Pak Atdag yang
sekarang.
Namaku Ridho, aku Presiden Perhimpunan
Pelajar Indonesia di Australia. Di sini
juga aku kemarin incharge juga bareng Kak
Runi, bareng teman-teman PPIA lainnya
dalam acara Indo Haus Pop-up Market
Melbourne.
Baik, terima kasih Mbak Runi dan Mas Ridho
ya. Jadi, sekarang di Melbourne sedang
ada Indo Haus Market, pop-up market yang
menampilkan produk-produk UMKM
Indonesia. Mungkin boleh diceritakan
singkat acaranya itu seperti apa, dari
-tanggal berapa saja, bagaimana?
-Acara Indo Haus ini udah kita mulai kurang
lebih satu bulan ya Kak Runi ya terkait
dengan rangkaian acaranya karena ini
sebenarnya Indo Haus Pop-up Market
Melbourne ini merupakan acara akhir.
Sebelumnya ini kami juga sudah ada acara
yaitu terkait dengan kompetisi perlombaan
UMKM-nya. Jadi kita, PPIA dan Mata Garuda
serta Atase Perdagangan itu mengkurasi
UMKM-UMKM di Indonesia untuk bisa ikut di
acara Indo Haus Pop-up Market sendiri. Ini
sendiri juga selain kami juga ada
beberapa pihak membantu kurasi dari
Kementerian Perdagangan, dari Jakpreneur,
-dari LPI juga.
-Sebelumnya mungkin aku tambahin sebelumnya
kan dari Atase Perdagangan, Kan Bera
sendiri sebenarnya udah pernah bikin
pop-up nih di bulan November kemarin gitu.
Jadi
di pop-up yang sekarang itu memang dari
Pak Haris sendiri sebagai Atase
Perdagangan di Canberra tuh pengennya
lebih membangun kolaborasi sama
teman-teman mahasiswa juga gitu. Ini
pertama kalinya Atase Perdagangan di Canb
erra juga bikin acara bareng mahasiswa
yaitu dari PPIA sama Mata Garuda gitu.
Jadi harapannya Pak Haris juga ini bisa
mulai menumbuhkan rasa entrepreneurship
dari teman-teman mahasiswa,
mulai dari organisasi mahasiswa Indonesia
yang bergerak di Australia.
Awalnya bagaimana bisa kepikiran untuk
membawa produk Indonesia ke Melbourne ya?
Jadi sebenarnya ini adalah acara lanjutan
ya Kak Anne. Sebelumnya kami bersama Mata
Garuda juga sudah pernah mengadakan satu
acara sebelum Indo Haus ini, yaitu acara
Seminar Ekspor. Nah, di situ kami bersama
PPIA, bersama Mata Garuda itu mengedukasi
nih teman-teman mahasiswa Indonesia di
Australia
untuk bisa menjadi agen atau bisa menjadi
penghubung hub dari UMKM-UMKM di Indonesia
nih untuk bisa berkontribusi di Australia
tentunya. Nah, dari acara itulah akhirnya
Pak Atdag mengajak kami untuk
berkolaborasi di lebih lanjut lagi gimana
caranya kita bisa secara langsung
memperkenalkan produk-produk Indonesia
atau produk-produk UMKM ke Australia
terutama di kota Melbourne secara langsung
dan di mana nanti mahasiswa juga bisa
berperan aktif tuh di acara tersebut.
Betul. Jadi kayak mungkin awalnya memang
kita itu kolaborasi sama Pak Atdag tuh
lebih ke arah edukasinya gitu. Dari Pak
Haris banyak mengundang, eh,
praktisi-praktisi entrepreneur dan ekspor
impor Indonesia ke Australia gitu. Nah,
ini sebuah wujud kelanjutan dari
kolaborasi tersebut di mana Pak Haris tuh
pengennya teman-teman mahasiswa tuh bisa
lebih terlibatnya tuh bukan cuma dari sisi
edukasinya aja tapi kayak gimana sih cara
membuka dan gimana sih caranya kita
melihat potensi pasar dari barang-barang
Indonesia untuk bisa dipasarkan di
Australia gitu. Salah satunya kita kemarin
banyak terlibatnya di salah satu bentuk
kurasi baru yang diusung sama Pak Haris
itu adalah kurasi lewat jalur sosial media
gitu. Jadi Pak Haris tuh pengen kayak
membawa gimana nih gitu. Biasanya kan
kurasi cuma di-di-handle-nya langsung sama
internalnya, eh, atase perdagangan gitu.
Pengennya tuh kayak ada cara yang lebih
modern dong, ada yang quick-nya sedikit
lah gitu dari teman-teman mahasiswa gitu.
Jadi kemarin kita dikasih kesempatan untuk
menghandle kurasi lewat sosial media.
Kita cari potensial brand-nya dari sosial
media. Mereka yang, mereka itu daftar
sendiri, mereka mengkomunikasikan itu.
Kitanya itu membantu kurasinya dari sisi
oh ini tuh exposure-nya seperti apa. Terus
kita juga mengundang beberapa juri yang
memang lumayan terkenal di bidang sosial
media juga gitu. Salah satunya Kak Vale
sama Kak Vero, mantan Asia's Next Top
Model Indonesia. Terus habis itu ada Mas
Parchan, itu salah satu penggiat sosial
media juga, kenalan dari teman-teman PPIA
sama satu Ibu Dewi Herlas gitu, eh,
praktisi UMKM yang diundang sama Pak
Haris. Jadi memang ini kolaborasinya
-sebenarnya unik banget.
-Tadi sudah jelas dari pihak atase
perdagangan kenapa menginginkan mahasiswa.
Tapi bagaimana dari sisi PPIA dan Mata
Garuda sendiri, mengapa dari organisasi
mahasiswa jadi tergerak untuk membantu
memperkenalkan UMKM Indonesia ke
Australia?
Dari aku, jadi sebenarnya kalau melihat
animo dari kemarin kami coba buka itu
ternyata beberapa mahasiswa itu ternyata
banyak juga nih yang ternyata setelah
lulus kuliah dari Australia itu ingin
berbisnis juga di Aussie. Nah, kebetulan
bahkan beberapa mahasiswa itu udah punya
semacam produk sendiri nih yang mereka
bawa dari Indonesia. Nah, dari situ kami
tangkap bahwa ternyata pengembangan karir
pasca studi ke arah entrepreneurship itu
terbuka lebar. Dan yang kita lihat juga
banyak nih resto-resto Indonesia, banyak
usaha-usaha Indonesia di Australia itu
juga cukup banyak. Berarti kan kita bisa
lihat kalau ternyata market-nya itu ada
nih. Nah, dari kami sih PPIA pengen kayak
oh ternyata kita bisa loh import langsung
di sini dan mumpung ada perantaranya,
mumpung ada siklusnya, jadi oh kita bisa
paham nih gimana sih produk itu diekspor,
gimana nanti itu dijual. Jadi dari PPIA
sendiri kebetulan ada volunteer-volunteer
yang bergabung dalam proses soft
selling-nya. Jadi kami juga belajar nih
bagaimana sih me-market-kan produk
Indonesia di Australia yang justru akan
berbeda nih dengan ketika kita market
produk Indonesia di Indonesia sendiri
malah bisa jadi praktek langsung nih
gimana cara marketing produk Indonesia di
Australia Kak. Kalau jadi lebih ke chance
buat terjun langsungnya itu sudah yang
kami manfaatkan dari tawaran
-market.
-Kalau aku boleh tambahin juga Kak, kalau
misalkan Mata Garuda sendiri kan mungkin
kalau PPIA kan ada salah satu organisasi
yang lumayan besar dan lumayan lama ya di
Australia. Itu in contrast sama Mata
Garuda, Mata Garuda ini baru tahun kedua
gitu. Jadi memang kita masih banyak
mengeksplor apa sih gitu yang menjadi
interest dari anggota komunitas kita gitu.
Nah kemarin kita dapat tawaran dari untuk
ikutan programnya si pop-up sendiri, kita
memformulasi bentuk kurasi baru yang
istilahnya lebih diterima sama market-nya
anak muda lah ya gitu. Nah, makanya
kemarin akhirnya kita coba pursue itu
sekalian kita coba mau mapping nih gitu.
Sebenarnya banyak sih potensi dari
teman-teman anggota Mata Garuda sendiri
yang memang mungkin kita nggak mau
membatasi habis S2 itu harus kerja di
kantor, harus apa gitu kan yang namanya
kita nanti balik ke Indonesia untuk
berkontribusi kan mungkin kita bisa
berkontribusi dari sisi entrepreneurship
gitu. Makanya di situlah sebenarnya tujuan
awalnya dari Mata Garuda ikut biar kita
bisa memberikan exposure yang lebih banyak
untuk anggota komunitas kita salah
satunya di bidang entrepreneurship gitu.
Nah kemarin juga sebenarnya menariknya
adalah ternyata benar kata Mas Ridho gitu
pas kita coba post di akun social media
kita di Mata Garuda dan PPIA ternyata ada
beberapa teman-teman mahasiswa di
Australia ataupun alumni yang memang di
Australia ternyata udah punya bisnis juga
nih dan mereka kayak ada yang udah membawa
produknya, ada yang belum membawa
produknya gitu. Jadi ini jadi salah satu
kesempatan buat mereka untuk bisa punya
kesempatan membawa produknya dari
Indonesia ke Australia tanpa harus mikirin
dulu nih misalkan kayak oh bakal susah
nggak nih nanti perizinannya dan segala
macam mana kan kita perizinannya itu dalam
satu payungnya Atase Perdagangan yang
memang udah memiliki izin bisnis di
Australia gitu. Dan ini kan memang untuk
satu expo aja bukan untuk kayak long term
ininya mereka gitu. Jadi ini lebih kayak
untuk melihat pasarnya sendiri dan melihat
apakah produk mereka tuh fit di
market-nya Australia gitu. Jadi memang ini
sebuah kesempatan yang oke sih gitu dan
kita sebagai organisasi pengen memberikan
exposure dan memberikan jalan baru itulah
untuk anggota komunitas kita gitu.
Dan tadi juga disebutkan ada yang menjadi
juri. Memangnya di sini ada kompetisinya
-kah?
-Jadi kami kan diberi amanat sebagai
mengkurasi yang jalur online. Jadi banyak
Kak yang, yang pameran ini dari berbagai
macam jalur. Nah, salah satu jalurnya itu
adalah jalur sosial media. Nah, kami di
sini ditugaskan bagaimana membantu atase
dalam mengkurasi jalur sosial media. Nah,
ini kan yang daftar pasti banyak ya Kak ya
dan yang spot yang bisa buka di Melbourne
itu terbatas. Nah, untuk itulah kita
adakan semacam penjurian produk-produk
mana yang mungkin bisa diekspor dan bisa
ditampilkan di Australia. Karena kemarin
contoh salah satu kami menyeleksi salah
satu produk seperti kalau nggak salah
kemarin es krim pancake ya. Nah, itu kan
mungkin terlihat menarik namun kan tidak
bisa nih kita ekspor dan kita tampilkan di
Melbourne, nggak visible-lah. Nah, itu
sih salah satu tugas kami dalam memfilter
dan menyeleksi kira-kira mana aja produk
yang bisa ditampilkan atau bisa kita bawa
ke Melbourne dari Jakarta. Namun itu juga
kita dibantu tidak hanya PPIA dan Mata
Garuda aja, tadi sudah dibilang juga sama
Kak Arini, kita dibantu oleh teman-teman
yang udah handal di bidangnya ada tiga
-juri.
-Dan ini ada lebih dari empat puluh brand
ya yang dipilih. Ini boleh disebutkan
kira-kira jenis-jenisnya apa saja?
Nah untuk jenisnya sendiri ada banyak sih
Kak. Memang paling banyak itu di bidang
fashion karena itu yang paling gampang ya
untuk dibawa dari sana. Tapi sekarang itu
bidangnya makin banyak lagi nih. Kemarin
aku lihat ada beberapa F&B -- F&B yang
memang praktis gitu, yang memang udah
package dan package-nya pun lolos
kualifikasi untuk dijual di Australia.
Terus ada jewelry juga, ada kemarin
footwear juga makin banyak. Jadi untuk di
pop-up yang sekarang itu jenisnya jauh
lebih banyak karena memang balik lagi tadi
kata Mas Ridho juga metode kurasinya itu
ada banyak banget, nggak cuma dari
internalnya atase perdagangan sendiri,
tapi ada juga yang dari Jakpreneur, ada
juga yang dari Pak Budi Santoso, itu yang
merekomendasikan dan mengurasikan
brand-brand yang bisa masuk di sini gitu.
Jadi sekarang kesempatannya jauh lebih
gede dibandingkan November kemarin.
Berarti ini Indo Haus ini acara tahunan
atau bukan acara tahunan baru pertama kali
-ini ada diadakan?
-Kemarin di bulan November itu ada acara
serupa tapi memang sepertinya masih
skalanya lebih kecil karena itu memang
dari jenis kurasinya pun dari Pak Atase
Perdagangan sendiri. Tapi memang
sepertinya karena dari success story yang
kemarin itu dari satu jenis kurasi aja itu
udah lumayan banyak attract perhatian
dari orang-orang di Melbourne, pasar di
Melbourne, akhirnya dari atase perdagangan
sendiri pengennya di
April ini pengen lebih banyak lagi dan
memang sebenarnya belum ada informasi
apakah ini akan menjadi acara tahunan atau
acara per dua kali dalam setahun gitu.
Tapi sepertinya ini akan menjadi acara
yang lumayan tetap sih dari atase
perdagangan gitu karena melihat dari
antusiasme pasar dan antusiasme dari
pemilik brand sendiri itu ternyata banyak
banget yang pengen ikutan memasarkan itu
-di Melbourne.
-Dan ini menurut Anda berdua seberapa besar
sih pengaruh media sosial atau influencer
ya untuk membantu UMKM Indonesia masuk ke
pasar internasional terutama pasar
Australia?
Kalau dari saya sih sepertinya
sangat-sangat besar apalagi Kak Vero dan
Kak Vale juga sebagai mahasiswa Indonesia
di Australia yang mana dia pasti akan
memiliki banyak jejaring juga di Australia
selain teman-teman Indonesianya. Nah,
dari algoritma sendiri kalau menurut saya
kemarin seluruh postingan publikasi Indo
Haus juga berkolaborasi dengan para
influencer ini sehingga amplifikasi
kontennya itu cukup besar dan dari jumlah
like juga, kita juga jumlah view dan like
juga menembus di angka ribuan kemarin
kalau saya tidak salah dan itu juga
menunjukkan bahwa ternyata market sosial
media ini bekerja.
Ini pertanyaan terakhir ya. Sebagai anak
muda Indonesia yang aktif nih di luar
negeri, di Australia, Anda melihat peran
generasi diaspora muda ini seperti apa
Aku melihatnya sih ternyata antusiasmenya
tuh gede banget Kak gitu karena mungkin
juga melihat di Indonesia itu kan untuk
membuat bisnis itu juga sebenarnya relatif
lebih mudah ya dibanding di Australinya
sendiri gitu. Jadi memang teman-teman
diaspora yang sekarang udah tinggal di
Australi itu ternyata tuh banyak banget
juga yang di Indonesianya itu udah punya
bisnis gitu. Dan ketika mereka melihat
market Australi dan mereka melihat juga
gitu berapa banyak populasi orang
Indonesia, baik itu orang Indonesia
ataupun orang-orang yang tinggal di
Australi itu tertarik dengan produk
Indonesia gitu. Jadinya kesempatan seperti
ini, kesempatan pop-up ini tuh menjadi
seksi banget karena memang mereka
mendapatkan jalan nih gitu, mendapatkan
jalan gimana caranya mereka at least test
the market dulu melihat kayak apa sih yang
di-yang disukain sama market Australi
gitu. Specifically kalau untuk lokal yang
sekarang tuh di Melbourne dan ternyata
banyak banget antusiasmenya gitu dari
mereka yang gak cuma pengen produknya itu
eksis di Indonesia gitu, tapi mereka juga
sebenarnya actively looking untuk ekspansi
pasar ke luar negeri juga gitu. Nah,
makanya sebenarnya besar harapan program
seperti ini, program pop-up mungkin dari
Atase Perdagangan di negara-negara lain
gitu juga bisa menggaet teman-teman
mahasiswa karena mungkin kelihatannya
teman-teman mahasiswa fokusnya itu banyak
di belajar, banyak di kuliah gitu. Tapi
ternyata kan komunitas-komunitas yang
memang mereka tinggali sekarang, komunitas
yang mereka join sekarang itu ternyata
punya banyak banget nih gitu
background-background yang memang sudah
punya usaha dan sudah punya istilahnya
kayak aset-aset yang memang bisa nih
menjadi pengembangan pasar yang bisa juga
memperkenalkan lebih jauh lagi nih tentang
value Indonesia di mata internasional
gitu. Jadi aku sih sebenarnya ngelihatnya
forward looking ini banyak banget sih Kak
gitu, gede banget market-nya apalagi kalau
misalkan itu didukung banget oleh
instansi pemerintah yang memang ada di
luar negeri bisa menggaet teman-teman
mahasiswa dan memberikan aksesnya untuk
menggaet pasar internasional sih menurut
aku ini akan-akan benar-benar amplify the
value dan ini bisa jadi gerbang yang bagus
banget untuk value Indonesia tuh bisa
berkembang luas di internasional gitu.
-Mas Ridho ada tambahan?
-Ternyata setelah kegiatan ini aku juga
menjadi pamer banyak juga yang
alumni-alumni mahasiswa Indonesia di
Australia ternyata udah punya bisnis nih.
Nah, di situ saya juga ingin ke depannya
PPIA atau Mata Garuda itu juga bisa
menjadi jembatan nih transfer knowledge
dari alumni-alumni yang udah punya bisnis
di sini sama yang masih mahasiswa sehingga
nanti terus mereka itu banyak. Nah, itu
yang kadang mungkin masih scattered ya Kak
Runi ya di Australia ini. Ternyata banyak
kok owner-owner start-up produk atau
ternyata banyak kok perusahaan-perusahaan
yang ternyata di sini tuh perusahaannya
orang Indonesia yang kita mungkin tidak
tahu karena belum ada informasi dan
setelah ada acara ini mungkin terbukalah
sedikit apa ya window of opportunity ke
arah sana sih. Nah, diharapannya ke
depannya ada proses apa ya kayak semacam
mentoring gitulah sehingga akan banyak nih
entrepreneur-entrepreneur Indonesia yang
bisa berkarya di Australia juga yang
mungkin masih sedikit banyaknya akan
berpengaruh nih sama UMKM yang bisa ekspor
ke Australia.
Baik. Pendengar, itu tadi perbincangan
saya dengan Mas Ridho dari PPIA dan
Mbak Runi dari Mata Garuda. Mas Ridho dan
Mbak Runi, terima kasih ya atas waktunya
-sudah berbincang dengan SBS Indonesian.
-Ya, terima kasih banyak.
END OF TRANSCRIPT