Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

Indonesian students help bringing local SME products to Australian market

Indonesian brands showcased at Indo Haus Market, Hawker Spaces, Collins Street, Melbourne.

Indonesian brands showcased at Indo Haus Market, Hawker Spaces, Collins Street, Melbourne. Credit: SBS Indonesian/Anne Parisianne

Two Indonesian student organisations in Australia played an active role in organising Indo Haus Market, a four-day pop-up showcasing Indonesian small business products in Melbourne.


A total of 46 Indonesian small and medium enterprise brands were featured at Indo Haus Market, held at Hawker Spaces on Collins Street, Melbourne, from 30 March to 2 April 2026. Products on display ranged from clothing, footwear and jewellery to coffee, and packaged food and beverages.

The event was a collaboration between the Indonesian Trade Attaché in Canberra, the Indonesian Students' Association in Australia (PPIA), Mata Garuda Australia-New Zealand (MGANZ), Indonesia Eximbank, the Indonesian Embassy in Canberra, and the Indonesian Consulate General in Melbourne.

What stood out was the role of the two student organisations, which went well beyond attendance. Both were actively involved in selecting brands through a social media-based curation process. Muhammad Hadiyan Ridho, President of PPIA and a student in Melbourne, told SBS Indonesian that his team was responsible for assessing which products were suitable for the Australian market through digital platforms.

Ridho added that Indo Haus promotional content, amplified through collaborations with influencers, attracted significant attention, with views reaching into the thousands.

Seruni Ridho
L-R: Puspita Seruni, Head of Partnerships and Main Event for Indo Haus and representative of Mata Garuda Australia-New Zealand (MGANZ); Muhammad Hadiyan Ridho, President of the Indonesian Students' Association in Australia (PPIA). Credit: Supplied/Puspita Seruni/Muhammad Hadiyan Ridho

Puspita Seruni, Head of Partnerships and Main Event for Indo Haus and a representative of MGANZ who is also a student in Sydney, said the curation process involved judges drawn from influencers and digital practitioners. She said the approach is a fresh method that gives young people a voice in evaluating the market potential of Indonesian products.

For the students involved, the event also served as a hands-on experience. Several volunteers studying communications and marketing had the opportunity to practise their skills by promoting Indonesian products directly to Australian consumers.

Listen to the full conversation between SBS Indonesian and Muhammad Hadiyan Ridho from PPIA and Puspita Seruni from MGANZ.

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Pendengar saat ini saya sedang bersama dengan salah satu perwakilan dari PPIA dan

salah satu perwakilan dari Mata Garuda. Halo-halo, apa kabar?

-Halo. -Halo, baik.

Aku Puspita Seruni, aku bisa dipanggil Runi.

Aku dari, perwakilan dari Mata Garuda sebagai Head of Partnership and Main Event

untuk kerjasama bareng Pak Atdag yang sekarang.

Namaku Ridho, aku Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia. Di sini

juga aku kemarin incharge juga bareng Kak Runi, bareng teman-teman PPIA lainnya

dalam acara Indo Haus Pop-up Market Melbourne.

Baik, terima kasih Mbak Runi dan Mas Ridho ya. Jadi, sekarang di Melbourne sedang

ada Indo Haus Market, pop-up market yang menampilkan produk-produk UMKM

Indonesia. Mungkin boleh diceritakan singkat acaranya itu seperti apa, dari

-tanggal berapa saja, bagaimana? -Acara Indo Haus ini udah kita mulai kurang

lebih satu bulan ya Kak Runi ya terkait dengan rangkaian acaranya karena ini

sebenarnya Indo Haus Pop-up Market Melbourne ini merupakan acara akhir.

Sebelumnya ini kami juga sudah ada acara yaitu terkait dengan kompetisi perlombaan

UMKM-nya. Jadi kita, PPIA dan Mata Garuda serta Atase Perdagangan itu mengkurasi

UMKM-UMKM di Indonesia untuk bisa ikut di acara Indo Haus Pop-up Market sendiri. Ini

sendiri juga selain kami juga ada beberapa pihak membantu kurasi dari

Kementerian Perdagangan, dari Jakpreneur,

-dari LPI juga. -Sebelumnya mungkin aku tambahin sebelumnya

kan dari Atase Perdagangan, Kan Bera sendiri sebenarnya udah pernah bikin

pop-up nih di bulan November kemarin gitu. Jadi

di pop-up yang sekarang itu memang dari Pak Haris sendiri sebagai Atase

Perdagangan di Canberra tuh pengennya lebih membangun kolaborasi sama

teman-teman mahasiswa juga gitu. Ini pertama kalinya Atase Perdagangan di Canb

erra juga bikin acara bareng mahasiswa yaitu dari PPIA sama Mata Garuda gitu.

Jadi harapannya Pak Haris juga ini bisa mulai menumbuhkan rasa entrepreneurship

dari teman-teman mahasiswa,

mulai dari organisasi mahasiswa Indonesia yang bergerak di Australia.

Awalnya bagaimana bisa kepikiran untuk membawa produk Indonesia ke Melbourne ya?

Jadi sebenarnya ini adalah acara lanjutan ya Kak Anne. Sebelumnya kami bersama Mata

Garuda juga sudah pernah mengadakan satu acara sebelum Indo Haus ini, yaitu acara

Seminar Ekspor. Nah, di situ kami bersama PPIA, bersama Mata Garuda itu mengedukasi

nih teman-teman mahasiswa Indonesia di Australia

untuk bisa menjadi agen atau bisa menjadi penghubung hub dari UMKM-UMKM di Indonesia

nih untuk bisa berkontribusi di Australia tentunya. Nah, dari acara itulah akhirnya

Pak Atdag mengajak kami untuk berkolaborasi di lebih lanjut lagi gimana

caranya kita bisa secara langsung memperkenalkan produk-produk Indonesia

atau produk-produk UMKM ke Australia terutama di kota Melbourne secara langsung

dan di mana nanti mahasiswa juga bisa berperan aktif tuh di acara tersebut.

Betul. Jadi kayak mungkin awalnya memang kita itu kolaborasi sama Pak Atdag tuh

lebih ke arah edukasinya gitu. Dari Pak Haris banyak mengundang, eh,

praktisi-praktisi entrepreneur dan ekspor impor Indonesia ke Australia gitu. Nah,

ini sebuah wujud kelanjutan dari kolaborasi tersebut di mana Pak Haris tuh

pengennya teman-teman mahasiswa tuh bisa lebih terlibatnya tuh bukan cuma dari sisi

edukasinya aja tapi kayak gimana sih cara membuka dan gimana sih caranya kita

melihat potensi pasar dari barang-barang Indonesia untuk bisa dipasarkan di

Australia gitu. Salah satunya kita kemarin banyak terlibatnya di salah satu bentuk

kurasi baru yang diusung sama Pak Haris itu adalah kurasi lewat jalur sosial media

gitu. Jadi Pak Haris tuh pengen kayak membawa gimana nih gitu. Biasanya kan

kurasi cuma di-di-handle-nya langsung sama internalnya, eh, atase perdagangan gitu.

Pengennya tuh kayak ada cara yang lebih modern dong, ada yang quick-nya sedikit

lah gitu dari teman-teman mahasiswa gitu. Jadi kemarin kita dikasih kesempatan untuk

menghandle kurasi lewat sosial media. Kita cari potensial brand-nya dari sosial

media. Mereka yang, mereka itu daftar sendiri, mereka mengkomunikasikan itu.

Kitanya itu membantu kurasinya dari sisi oh ini tuh exposure-nya seperti apa. Terus

kita juga mengundang beberapa juri yang memang lumayan terkenal di bidang sosial

media juga gitu. Salah satunya Kak Vale sama Kak Vero, mantan Asia's Next Top

Model Indonesia. Terus habis itu ada Mas Parchan, itu salah satu penggiat sosial

media juga, kenalan dari teman-teman PPIA sama satu Ibu Dewi Herlas gitu, eh,

praktisi UMKM yang diundang sama Pak Haris. Jadi memang ini kolaborasinya

-sebenarnya unik banget. -Tadi sudah jelas dari pihak atase

perdagangan kenapa menginginkan mahasiswa. Tapi bagaimana dari sisi PPIA dan Mata

Garuda sendiri, mengapa dari organisasi mahasiswa jadi tergerak untuk membantu

memperkenalkan UMKM Indonesia ke Australia?

Dari aku, jadi sebenarnya kalau melihat animo dari kemarin kami coba buka itu

ternyata beberapa mahasiswa itu ternyata banyak juga nih yang ternyata setelah

lulus kuliah dari Australia itu ingin berbisnis juga di Aussie. Nah, kebetulan

bahkan beberapa mahasiswa itu udah punya semacam produk sendiri nih yang mereka

bawa dari Indonesia. Nah, dari situ kami tangkap bahwa ternyata pengembangan karir

pasca studi ke arah entrepreneurship itu terbuka lebar. Dan yang kita lihat juga

banyak nih resto-resto Indonesia, banyak usaha-usaha Indonesia di Australia itu

juga cukup banyak. Berarti kan kita bisa lihat kalau ternyata market-nya itu ada

nih. Nah, dari kami sih PPIA pengen kayak oh ternyata kita bisa loh import langsung

di sini dan mumpung ada perantaranya, mumpung ada siklusnya, jadi oh kita bisa

paham nih gimana sih produk itu diekspor, gimana nanti itu dijual. Jadi dari PPIA

sendiri kebetulan ada volunteer-volunteer yang bergabung dalam proses soft

selling-nya. Jadi kami juga belajar nih bagaimana sih me-market-kan produk

Indonesia di Australia yang justru akan berbeda nih dengan ketika kita market

produk Indonesia di Indonesia sendiri

bahkan.Bisa

malah bisa jadi praktek langsung nih gimana cara marketing produk Indonesia di

Australia Kak. Kalau jadi lebih ke chance buat terjun langsungnya itu sudah yang

kami manfaatkan dari tawaran

-market. -Kalau aku boleh tambahin juga Kak, kalau

misalkan Mata Garuda sendiri kan mungkin kalau PPIA kan ada salah satu organisasi

yang lumayan besar dan lumayan lama ya di Australia. Itu in contrast sama Mata

Garuda, Mata Garuda ini baru tahun kedua gitu. Jadi memang kita masih banyak

mengeksplor apa sih gitu yang menjadi interest dari anggota komunitas kita gitu.

Nah kemarin kita dapat tawaran dari untuk ikutan programnya si pop-up sendiri, kita

coba join untuk

memformulasi bentuk kurasi baru yang istilahnya lebih diterima sama market-nya

anak muda lah ya gitu. Nah, makanya kemarin akhirnya kita coba pursue itu

sekalian kita coba mau mapping nih gitu. Sebenarnya banyak sih potensi dari

teman-teman anggota Mata Garuda sendiri yang memang mungkin kita nggak mau

membatasi habis S2 itu harus kerja di kantor, harus apa gitu kan yang namanya

kita nanti balik ke Indonesia untuk berkontribusi kan mungkin kita bisa

berkontribusi dari sisi entrepreneurship gitu. Makanya di situlah sebenarnya tujuan

awalnya dari Mata Garuda ikut biar kita bisa memberikan exposure yang lebih banyak

untuk anggota komunitas kita salah satunya di bidang entrepreneurship gitu.

Nah kemarin juga sebenarnya menariknya adalah ternyata benar kata Mas Ridho gitu

pas kita coba post di akun social media kita di Mata Garuda dan PPIA ternyata ada

beberapa teman-teman mahasiswa di Australia ataupun alumni yang memang di

Australia ternyata udah punya bisnis juga nih dan mereka kayak ada yang udah membawa

produknya, ada yang belum membawa produknya gitu. Jadi ini jadi salah satu

kesempatan buat mereka untuk bisa punya kesempatan membawa produknya dari

Indonesia ke Australia tanpa harus mikirin dulu nih misalkan kayak oh bakal susah

nggak nih nanti perizinannya dan segala macam mana kan kita perizinannya itu dalam

satu payungnya Atase Perdagangan yang memang udah memiliki izin bisnis di

Australia gitu. Dan ini kan memang untuk satu expo aja bukan untuk kayak long term

ininya mereka gitu. Jadi ini lebih kayak untuk melihat pasarnya sendiri dan melihat

apakah produk mereka tuh fit di market-nya Australia gitu. Jadi memang ini

sebuah kesempatan yang oke sih gitu dan kita sebagai organisasi pengen memberikan

exposure dan memberikan jalan baru itulah untuk anggota komunitas kita gitu.

Dan tadi juga disebutkan ada yang menjadi juri. Memangnya di sini ada kompetisinya

-kah? -Jadi kami kan diberi amanat sebagai

mengkurasi yang jalur online. Jadi banyak Kak yang, yang pameran ini dari berbagai

macam jalur. Nah, salah satu jalurnya itu adalah jalur sosial media. Nah, kami di

sini ditugaskan bagaimana membantu atase dalam mengkurasi jalur sosial media. Nah,

ini kan yang daftar pasti banyak ya Kak ya dan yang spot yang bisa buka di Melbourne

itu terbatas. Nah, untuk itulah kita adakan semacam penjurian produk-produk

mana yang mungkin bisa diekspor dan bisa ditampilkan di Australia. Karena kemarin

contoh salah satu kami menyeleksi salah satu produk seperti kalau nggak salah

kemarin es krim pancake ya. Nah, itu kan mungkin terlihat menarik namun kan tidak

bisa nih kita ekspor dan kita tampilkan di Melbourne, nggak visible-lah. Nah, itu

sih salah satu tugas kami dalam memfilter dan menyeleksi kira-kira mana aja produk

yang bisa ditampilkan atau bisa kita bawa ke Melbourne dari Jakarta. Namun itu juga

kita dibantu tidak hanya PPIA dan Mata Garuda aja, tadi sudah dibilang juga sama

Kak Arini, kita dibantu oleh teman-teman yang udah handal di bidangnya ada tiga

-juri. -Dan ini ada lebih dari empat puluh brand

ya yang dipilih. Ini boleh disebutkan kira-kira jenis-jenisnya apa saja?

Nah untuk jenisnya sendiri ada banyak sih Kak. Memang paling banyak itu di bidang

fashion karena itu yang paling gampang ya untuk dibawa dari sana. Tapi sekarang itu

bidangnya makin banyak lagi nih. Kemarin aku lihat ada beberapa F&B -- F&B yang

memang praktis gitu, yang memang udah package dan package-nya pun lolos

kualifikasi untuk dijual di Australia. Terus ada jewelry juga, ada kemarin

footwear juga makin banyak. Jadi untuk di pop-up yang sekarang itu jenisnya jauh

lebih banyak karena memang balik lagi tadi kata Mas Ridho juga metode kurasinya itu

ada banyak banget, nggak cuma dari internalnya atase perdagangan sendiri,

tapi ada juga yang dari Jakpreneur, ada juga yang dari Pak Budi Santoso, itu yang

merekomendasikan dan mengurasikan brand-brand yang bisa masuk di sini gitu.

Jadi sekarang kesempatannya jauh lebih gede dibandingkan November kemarin.

Berarti ini Indo Haus ini acara tahunan atau bukan acara tahunan baru pertama kali

-ini ada diadakan? -Kemarin di bulan November itu ada acara

serupa tapi memang sepertinya masih skalanya lebih kecil karena itu memang

dari jenis kurasinya pun dari Pak Atase Perdagangan sendiri. Tapi memang

sepertinya karena dari success story yang kemarin itu dari satu jenis kurasi aja itu

udah lumayan banyak attract perhatian dari orang-orang di Melbourne, pasar di

Melbourne, akhirnya dari atase perdagangan sendiri pengennya di

April ini pengen lebih banyak lagi dan memang sebenarnya belum ada informasi

apakah ini akan menjadi acara tahunan atau acara per dua kali dalam setahun gitu.

Tapi sepertinya ini akan menjadi acara yang lumayan tetap sih dari atase

perdagangan gitu karena melihat dari antusiasme pasar dan antusiasme dari

pemilik brand sendiri itu ternyata banyak banget yang pengen ikutan memasarkan itu

-di Melbourne. -Dan ini menurut Anda berdua seberapa besar

sih pengaruh media sosial atau influencer ya untuk membantu UMKM Indonesia masuk ke

pasar internasional terutama pasar Australia?

Kalau dari saya sih sepertinya sangat-sangat besar apalagi Kak Vero dan

Kak Vale juga sebagai mahasiswa Indonesia di Australia yang mana dia pasti akan

memiliki banyak jejaring juga di Australia selain teman-teman Indonesianya. Nah,

dari algoritma sendiri kalau menurut saya kemarin seluruh postingan publikasi Indo

Haus juga berkolaborasi dengan para influencer ini sehingga amplifikasi

kontennya itu cukup besar dan dari jumlah like juga, kita juga jumlah view dan like

juga menembus di angka ribuan kemarin kalau saya tidak salah dan itu juga

menunjukkan bahwa ternyata market sosial media ini bekerja.

Ini pertanyaan terakhir ya. Sebagai anak muda Indonesia yang aktif nih di luar

negeri, di Australia, Anda melihat peran generasi diaspora muda ini seperti apa

untuk ekonomi Indonesia?

Aku melihatnya sih ternyata antusiasmenya tuh gede banget Kak gitu karena mungkin

juga melihat di Indonesia itu kan untuk membuat bisnis itu juga sebenarnya relatif

lebih mudah ya dibanding di Australinya sendiri gitu. Jadi memang teman-teman

diaspora yang sekarang udah tinggal di Australi itu ternyata tuh banyak banget

juga yang di Indonesianya itu udah punya bisnis gitu. Dan ketika mereka melihat

market Australi dan mereka melihat juga gitu berapa banyak populasi orang

Indonesia, baik itu orang Indonesia ataupun orang-orang yang tinggal di

Australi itu tertarik dengan produk Indonesia gitu. Jadinya kesempatan seperti

ini, kesempatan pop-up ini tuh menjadi seksi banget karena memang mereka

mendapatkan jalan nih gitu, mendapatkan jalan gimana caranya mereka at least test

the market dulu melihat kayak apa sih yang di-yang disukain sama market Australi

gitu. Specifically kalau untuk lokal yang sekarang tuh di Melbourne dan ternyata

banyak banget antusiasmenya gitu dari mereka yang gak cuma pengen produknya itu

eksis di Indonesia gitu, tapi mereka juga sebenarnya actively looking untuk ekspansi

pasar ke luar negeri juga gitu. Nah, makanya sebenarnya besar harapan program

seperti ini, program pop-up mungkin dari Atase Perdagangan di negara-negara lain

gitu juga bisa menggaet teman-teman mahasiswa karena mungkin kelihatannya

teman-teman mahasiswa fokusnya itu banyak di belajar, banyak di kuliah gitu. Tapi

ternyata kan komunitas-komunitas yang memang mereka tinggali sekarang, komunitas

yang mereka join sekarang itu ternyata punya banyak banget nih gitu

background-background yang memang sudah punya usaha dan sudah punya istilahnya

kayak aset-aset yang memang bisa nih menjadi pengembangan pasar yang bisa juga

memperkenalkan lebih jauh lagi nih tentang value Indonesia di mata internasional

gitu. Jadi aku sih sebenarnya ngelihatnya forward looking ini banyak banget sih Kak

gitu, gede banget market-nya apalagi kalau misalkan itu didukung banget oleh

instansi pemerintah yang memang ada di luar negeri bisa menggaet teman-teman

mahasiswa dan memberikan aksesnya untuk menggaet pasar internasional sih menurut

aku ini akan-akan benar-benar amplify the value dan ini bisa jadi gerbang yang bagus

banget untuk value Indonesia tuh bisa berkembang luas di internasional gitu.

-Mas Ridho ada tambahan? -Ternyata setelah kegiatan ini aku juga

menjadi pamer banyak juga yang alumni-alumni mahasiswa Indonesia di

Australia ternyata udah punya bisnis nih. Nah, di situ saya juga ingin ke depannya

PPIA atau Mata Garuda itu juga bisa menjadi jembatan nih transfer knowledge

dari alumni-alumni yang udah punya bisnis di sini sama yang masih mahasiswa sehingga

nanti terus mereka itu banyak. Nah, itu yang kadang mungkin masih scattered ya Kak

Runi ya di Australia ini. Ternyata banyak kok owner-owner start-up produk atau

ternyata banyak kok perusahaan-perusahaan yang ternyata di sini tuh perusahaannya

orang Indonesia yang kita mungkin tidak tahu karena belum ada informasi dan

setelah ada acara ini mungkin terbukalah sedikit apa ya window of opportunity ke

arah sana sih. Nah, diharapannya ke depannya ada proses apa ya kayak semacam

mentoring gitulah sehingga akan banyak nih entrepreneur-entrepreneur Indonesia yang

bisa berkarya di Australia juga yang mungkin masih sedikit banyaknya akan

berpengaruh nih sama UMKM yang bisa ekspor ke Australia.

Baik. Pendengar, itu tadi perbincangan saya dengan Mas Ridho dari PPIA dan

Mbak Runi dari Mata Garuda. Mas Ridho dan Mbak Runi, terima kasih ya atas waktunya

-sudah berbincang dengan SBS Indonesian. -Ya, terima kasih banyak.

Thank you, Mbak Anne.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now