Watch FIFA World Cup 2026™ LIVE, FREE and EXCLUSIVE

New tool ensures digital health innovation benefitting Indonesian communities including those in remote areas

The Monash University research team with the nine senior Indonesian health professionals involved in developing the VDHIC.

Monash University research team with nine senior Indonesian health professionals involved in developing the Value-Based Digital Health Innovation Canvas (VDHIC). Credit: Supplied/Juliana Sutanto

A new toolkit has been developed to ensure that digital health innovations in Indonesia truly meet the needs of patients and communities, including those living in remote areas.


Monash University researchers along with nine senior Indonesian health experts have collaborated to develop a digital health innovation tool.

The new tool, VDHIC or the Value-Based Digital Health Innovation Canvas, is intended to ensure that digital health innovation in Indonesia delivers real benefits to communities, including those living in remote areas.

Professor Juliana Sutanto, a researcher at Monash University's Faculty of Information Technology who led the collaboration, said the VDHIC changes how digital health innovation is approached in Indonesia. "We start with what the challenge is, what the need is, rather than starting with the technology," Prof. Sutanto said.

For example, Prof. Sutanto said that the tool could be used to design solutions to communication gaps between health workers and the families of premature babies after discharge from the hospital.

Juliana Sutanto - Ahmad Hidayat
Professor Juliana Sutanto, researcher at Monash University's Faculty of Information Technology (L); Ahmad Hidayat, Chair of the SATUSEHAT Technical Working Group at Indonesia's Ministry of Health. Credit: Supplied/Juliana Sutanto/Ahmad Hidayat

Ahmad Hidayat, Chair of the SATUSEHAT Technical Working Group at Indonesia's Ministry of Health and one of nine participants in the programme, explained another example: how digital solutions could support stroke patient care by getting critical information to hospitals before the patient arrives.

The development of the VDHIC was funded by the Australian Government through the Australia Awards Fellowship programme. The process took four months and included hospital visits in Melbourne as well as visits by the Monash team to Indonesia.

The VDHIC has five core goals: population health, patient experience, health worker satisfaction, cost efficiency, and health equity. Not every innovation needs to cover all five, Prof. Sutanto said, but what matters most is that innovation is grounded in real value for communities.

Health equity is a particular focus. Hidayat said the availability of technology and internet connectivity in remote, outermost, and disadvantaged regions must be considered in every innovation. "We have to see Indonesia as a vast archipelago. We have to take all of that into account," Hidayat said.

Data security and personal data protection have also been built into the VDHIC from the outset through its governance framework, Hidayat added.

Indonesia's Ministry of Health is currently running three sandbox programmes: the Innovation Sandbox, the Industrial Sandbox, and the Regulatory Sandbox. The VDHIC will be used as a supporting tool within these programmes.

Listen to the full conversation with Professor Juliana Sutanto and Mr Ahmad Hidayat in the podcast.

Listen to SBS Indonesian on Mondays, Wednesdays, Fridays and Sundays at 3pm.
Follow us on Facebook and Instagram, and don't miss our podcasts.

Pendengar, sebuah kolaborasi antara Australia dan Indonesia di bidang

kesehatan digital telah dilangsungkan. Sembilan tenaga ahli kesehatan senior

Indonesia melalui program Australia Awards Fellowship telah bekerja sama dengan para

peneliti dari Monash University untuk mengembangkan sebuah toolkit baru bernama

VDHIC atau Value Based Digital Health Innovation Canvas. Nah, sebelum kita

membahas tentang apa toolkit atau alat digital yang telah dibuat ini dan apa

fungsinya, mari saya perkenalkan dulu dua narasumber yang sedang bersama saya, yaitu

Profesor Juliana Sutanto dan Bapak Ahmad Hidayat. Halo-halo, apa kabar?

-Baik, baik, Mbak. -Baik, baik, Bu.

Nah, sebelum kita masuk ke topik utama, saya ingin pendengar SBS Indonesian

mengenal dulu nih Profesor Juliana dan Pak Ahmad. Jadi boleh diceritakan sedikit

tentang latar belakang dan peran Anda masing-masing saat ini?

Ya, kalau saya sekarang di Faculty of IT di Monash University di

Australia. Saya profesor di bidang Information Systems, departemen saya Human

Center Computing dan saya sebagai researcher itu Sociotechnical dan untuk

posisi administrasi saya sekarang Associate Dean of International dari

-Faculty of IT. -Kalau saya sendiri adalah sehari-hari saya

adalah konsultan manajemen kesehatan.

Kebetulan saya juga adalah ketua dari Technical Working Group Satu Sehat di mana

Technical Working Group ini dibentuk oleh Kementerian Kesehatan yang terdiri dari

para ahli, akademisi, profesional, kemudian asosiasi profesi, juga lembaga

internasional yang memfasilitasi implementasi dan pengembangan sistem

-informasi kesehatan nasional. -Jadi nih, apa itu sebenarnya VDHIC itu ya?

Jadi VDHIC itu kependekan dari Value Based

Digital Health Innovation Canvas. Ini adalah canvas atau blueprint yang bisa

digunakan oleh inovator ataupun oleh pemerintah dan vendor untuk pemetaan dari

pathway atau perjalanan dari Digital Health Innovation dan starting point dari

perjalanan ini di Canvas adalah health challenge atau health needs. Jadi

perbedaannya dengan pendekatan Digital Health Inovasi yang saat ini adalah kita

bertumpu ke challenge-nya apa dulu, needs-nya apa dulu, bukan bertumpu ke

teknologi karena pendekatan yang selama ini dilakukan biasanya tuh tumpuannya

-teknologi. -Jadi challenge yang ada atau tantangan

yang ada selama ini di Indonesia itu apa ya?

Di Indonesia saat ini Kementerian Kesehatan itu sudah menerapkan apa yang

disebut dengan sandbox. Sandbox itu adalah lingkungan yang aman

yang diberikan kepada para innovator untuk mengembangkan solusi digital

kesehatannya. Namun demikian, kami melihat bahwa sandbox yang sudah disiapkan oleh

Kementerian Kesehatan ini perlu untuk mendapatkan dukungan, yaitu bagaimana para

innovator itu bisa lebih lagi mendapatkan satu blueprint yang tadi sudah

disampaikan oleh Prof Juliana agar inovasinya itu bisa mendapatkan panduan

atau arah sehingga nanti bisa memberikan satu inovasi yang benar-benar bermanfaat

yang sesuai dengan health challenge yang tadi disampaikan oleh Prof Juliana.

Mungkin bisa dijelaskan terlebih dahulu siapa saja yang terlibat dalam

-pengembangan toolkit ini? -Yang terlibat di pengembangan toolkit ini

adalah para fellows dari Australia Awards Fellowship, sembilan orang fellows dan

juga mentors dari Faculty of IT Monash University. Jadi kami sebagai mentors

memberikan materi, memfasilitasi kunjungan-kunjungan ke rumah sakit atau ke

dinasnya Victoria di sini dan kemudian para fellows ini brainstorm together untuk

menciptakan Value Based Digital Health Innovation Canvas ini yang sesuai dengan

-kebutuhan di Indonesia. -Saya tambahkan sembilan fellows ini

terdiri dari lima orang dari di level pemerintah pusat di Technical Working

Group Satu Sehat dan juga ada representasi dari Kementerian Kesehatan dua orang,

satu orang dari Pusat Data dan Teknologi Informasi dan satu orang lagi dari Badan

Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Dan empat orang fellows adalah para klinisi yang

berasal dari Indonesia Timur, tiga orang dari Manado dan satu orang dari Gorontalo,

-Sulawesi. -Berarti ini toolkit-nya khusus akan

-digunakan di Indonesia begitu ya? -Saat ini iya. Memang ini adalah satu

bentuk kolaborasi dari Australian Awards Fellowship di mana kami mengikuti program

masterclass dilakukan oleh Faculty of IT Monash University. Kemudian kami melakukan

kunjungan-kunjungan tadi seperti Prof Juliana sampaikan. Kemudian kami

mensintesis dan mengkontekstualisasi apa yang menjadi kebutuhan di Indonesia dan

Value Based Digital Health Innovation Canvas ini memang diharapkan spesifik

-untuk kebutuhan Indonesia. -Dan ini siapa yang mendanai?

Yang mendanai adalah Australia Awards Fellowship. Jadi dari Australia DFAT

-yang mendanai ini. -Sebagai hubungan bilateral begitu ya,

-Prof? -Ini sebenarnya Australia Awards Fellowship

ini dibuka setiap tahun.

Jadi ini adalah funding yang ditawarkan untuk kita apply.

Nah, jadi waktu Australia Awards Fellowship ini dibuka, waktu itu saya

berkomunikasi dengan Pak Ahmad untuk menjabarkan apakah pertama apakah ada

ketertarikan untuk kita masukin proposal ke DFAT untuk Australia Awards Fellowship.

Kemudian kita juga berdiskusi mengenai apa kebutuhan yang dibutuhkan di Indonesia

yang kita bisa jabarkan di proposal ke Australia Awards Fellowship ini. Jadi ini

-prosesnya itu competitive process. -Dan ini kan toolkit ini menyebutkan lima

tujuan utama begitu ya, kesehatan populasi, pengalaman pasien, kepuasan

tenaga kesehatan, efisiensi biaya, dan kesetaraan kesehatan, betul ya?

Iya betulMengapa nih kelima hal ini yang dipilih?

Ya jadi kalau kita lihat di Value Based Digital Health Innovation Canvas itu di

bagian atasnya ada governance spine

yang memberikan arahan kepada para innovator agar ketika memulai inovasi para

innovator sudah mempertimbangkan aspek regulasi, aspek clinical, kemudian

teknologi dan juga data. Tapi yang kita harapkan adalah sebagai output daripada

solusi inovasinya itu adalah memberikan value yang lima yang tadi Ein sudah

sebutkan. Kita harapkan setiap inovasi berdasarkan health challenge yang ada itu

memang mempunyai output yang memang berdasarkan value berbasis nilai. Nah,

kita tidak harapkan adalah inovasi itu hanya berbasis untuk teknologi yang maju

atau canggih tapi kemudian kita kehilangan arah ke mana value yang akan diperoleh

-dari teknologi ini. -Mungkin saya tambahkan ya. Jadi untuk

Digital Health Innovation itu tidak semua Digital Health Innovation itu harus cover

semua lima values tersebut. Jadi bisa aja ada Digital Health Innovation Canvas yang

bertumpu ke dua dari lima values. Gak apa-apa, tapi yang paling penting mereka

tumpuannya adalah value dan itu juga sebenarnya ini canvas-nya juga bisa

digunakan oleh Kemenkes untuk melihat Digital Health Innovation selama ini di

Indonesia dihubungkan dengan value itu ada gaps di mana. Mungkin banyak banget

Digital Health Innovation Canvas yang berkontribusi ke beberapa value tertentu,

tapi mungkin ada beberapa value yang agak kurang untuk di-mapping ke inovasi-inovasi

-sekarang ini. -Ya, sehingga bisa diperkuat lagi kalau

memang ada value yang mungkin bisa dikembangkan atau dieksplor lebih lanjut.

Baik, tapi mungkin saya agak mungkin juga pendengar mungkin agak kurang mengerti

kalau tidak ada contoh konkrit. Boleh tidak nih Profesor Juliana atau Pak Ahmad

menjelaskan misalnya katakanlah ada rumah sakit bisa menggunakan toolkit ini gitu ya

untuk menyelesaikan masalah mereka yang hadapi sehari-hari itu bagaimana ya

bentuknya? Iya mungkin saya bisa memberikan dua contoh konkrit yang tadi

kan Pak Ahmad mengatakan bahwa ada beberapa value yang datang dari Indonesia

bagian timur dan mereka menggunakan canvas ini untuk real health challenge yang

mereka hadapi. Jadi misalnya ada health challenge untuk neonatal, jadi bayi-bayi

yang lahir prematur terus di rumah sakit kemudian balik ke rumah. Nah, itu tuh ada

loss of komunikasi dari bagian dokter kesehatan ya untuk kesehatan bayi ini

begitu dia sudah pulang ke rumah. Jadi itu health challenge-nya di situ. Nah, jadi

health challenge-nya itu dan kemudian value itu menggunakan canvas ini untuk

men-design apa possible solution untuk address health challenge tersebut dan

value-nya dari possible solution itu tentunya adalah dari lima value itu adalah

yang patient health, patient experience dan juga secara besar itu bisa meng-cover

juga population health. Ada juga contoh yang kedua mungkin Pak Ahmad bisa share

-contoh yang kedua. -Ya jadi ini contoh dari kolega dokter

spesialis saraf yang domisilinya di Gorontalo. Mereka melihat ada satu

kebutuhan bagaimana pasien stroke yang misalnya terjadi serangan strokenya di

rumah kemudian bisa segera untuk bisa ditangani di rumah sakit. Penanganan

stroke itu perlu ditangani dengan cepat dan kita harapkan informasi yang diperoleh

ketika pasien diketahui mendapatkan serangan stroke itu sudah bisa disampaikan

ke rumah sakit sedini mungkin sehingga di rumah sakit bisa membantu ketika

mobilisasi pasien dari rumah ke rumah sakit tapi juga di rumah sakit bisa

dipersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk penanganan pasien lebih lanjut

ketika pasiennya sampai di rumah sakit. Nah, hal-hal ini bisa dipenuhi dengan

solusi digital hanya kita perlu betul-betul meletakkan health challenge

ini secara jelas betul sehingga nanti ketika kita mengembangkan teknologinya

kita sudah melihat apa saja yang perlu diperhatikan ketika membangun solusi untuk

-inovasi teknologinya. -Wah ini sepertinya memang sangat penting

sekali ini toolkit ini ya. Ini akan menjadi breakthrough ke depannya. Tapi ada

yang menarik nih, tadi kan Pak Ahmad sempat bilang juga nih ada perwakilan dari

Indonesia Timur. Mengapa penting dari Indonesia Timur itu untuk berada di dalam

-proses kolaborasi? -Ya tadinya kita ini hanya lebih kepada

persyaratan dari fellowship program ini bahwa harus ada representasi daripada

Indonesia Timur. Namun dalam perjalanan kami selama program fellowship kami

melihat ternyata value-nya sangat penting karena kita tidak boleh hanya melihat dari

satu sisi karena Indonesia sangat luas dari pertimbangan geografisnya dan juga

ketersediaan teknologi. Jadi kita harus melihat sejauh mana teknologi yang

tersedia di daerah-daerah yang katakan tiga T gitu ya, terpencil, terluar dan

tertinggal ya. Nah, di mana teknologi di situ mungkin tidak tersedia jaringan

internet yang memadai atau perangkat komputer yang canggih begitu ya. Nah,

semua ini harus menjadi pertimbangan kita dan itu salah satu value daripada Value

Based Digital Health Innovation Canvas adalah health equity ya. Jadi ketika kita

mengembangkan inovasi kita harus mempertimbangkan health equity. Nah, kita

harus melihat Indonesia ini sebagai negara kepulauan yang sangat luas, kita harus

mempertimbangkan itu semua dan keberadaan teman-teman dari Indonesia Timur dan

program fellowship ini sangat membantu kami untuk melihat aspek-aspek pemerataan

health equitykarena digital health di Indonesia ke depannya

Jadi ke depannya yang diharapkan kesehatan masyarakat Indonesia itu bisa meningkat

-lebih jauh ya -Ya kita lihat saat ini mungkin digital

health hanya di daerah-daerah perkotaan gitu. Tapi kita juga dengan melalui

program fellowship ini kemudian kami mau mengembangkan VDHIC ini ada hal-hal yang

perlu kita lihat lebih jauh yaitu health equity dan itu menjadi hal yang sangat

penting untuk bagaimana digital health bisa memberikan manfaat yang lebih luas

-kepada masyarakat di Indonesia -Bagaimana kalau kita berbicara tentang

keamanan dan privasi? Bagaimana memastikan bahwa inovasi digital tetap aman dan

-sesuai regulasi? -Ya itu hal yang sangat penting yang kami

pikirkan dari awal tentang keamanan data dan perlindungan data pribadi yang saat

ini di Indonesia sudah mulai didorong melalui Undang-Undang Perlindungan Data

Pribadi di mana itu harus menjadi perhatian kita sehingga itu menjadi bagian

daripada governance spine yaitu technology governance dan data governance.

Nah kita harapkan para innovator sudah mempertimbangkan aspek keamanan data dan

perlindungan data pribadi dari awal. Jadi tidak ketika inovasinya sudah dikembangkan

kemudian baru lihat lagi oh ternyata kami perlu memperbaiki perlindungan data

pribadinya misalnya. Nah itu yang perlu dipertimbangkan dari awal. Mungkin ketika

tahap awal atau saat dini ya dalam bentuk ide mungkin belum terbayang itu apa yang

perlu mereka lakukan. Tapi paling tidak dengan adanya governance spine di VDHIC

ini para innovator dapat terbantu untuk bisa mengantisipasi ada hal-hal yang perlu

mereka pertimbangkan ketika mengembangkan inovasi digital kesehatannya

Nah boleh mungkin diceritakan sedikit nih kepada pendengar bagaimana sih proses

kolaborasinya itu seperti apakah Profesor Juliana terbang ke Indonesia atau Pak

Ahmad terbang ke sini atau bagaimana atau online nih?

Jadi tadi yang saya katakan awalnya juga bahwa Australia Awards Scholarship ini kan

bersifat kompetitif. Jadi kita sudah berkolaborasi dari awal, dari awal

perumusan proposal dan kemudian kami berhasil mendapatkan Fellowship Awards ini

dan kemudian aktivitasnya itu awalnya itu semua fellow itu datang ke

Melbourne. Kami memberikan materi di Melbourne dan juga kami membawa fellows

untuk visiting, visiting hospital-hospitals dan mereka juga visit

juga semacam dinas kesehatannya di Victoria. Jadi mereka bisa mendapatkan

knowledge dan insights dari-- bukan hanya dari kami tapi juga dari orang-orang yang

dari hospital ataupun di government di Victoria sini untuk mengetahui digital

health innovation-nya itu apa dan proses mereka itu apa. Jadi kira-kira seperti itu

-proses dari fellowship tersebut -Tim dari Monash juga datang ke Indonesia

untuk melihat bagaimana perkembangan kesehatan digital di Indonesia dan kami

mengunjungi ke Kementerian Kesehatan kemudian juga ke beberapa fakultas

kesehatan, keperawatan, kedokteran, kemudian beberapa rumah sakit dan juga

mengunjungi BPJS Kesehatan. Nah dari kunjungan itu kami bersembilan bersama

dengan para pakar di Faculty of IT Monash University kita mendiskusikan apa yang

terbaik dan kemudian kami bisa merumuskan tentang Value-Based Digital Health

Innovation Canvas ini sebagai output dari program fellowship

-Berapa lama seluruh prosesnya? -Empat bulan

Jadi ini pertanyaan terakhir saya, apa nih langkah konkret selanjutnya dari

Kementerian Kesehatan untuk bisa mengimplementasikan VDHIC ini?

Kementerian Kesehatan sedang-- saat ini sedang berlangsung program sandbox dalam

beberapa bulan ke depan ini ada tiga sandbox yang saat ini dijalankan oleh

Kementerian Kesehatan yaitu Innovation Sandbox, Industrial Sandbox dan Regulatory

Sandbox

dan Value-Based Digital Health Innovation Canvas ini digunakan sebagai tools untuk

para innovator dan regulator untuk melihat bersama-sama tentang apa inovasi yang

sedang dikembangkan dan juga kemarin kami diberikan kesempatan untuk

mempresentasikan Value-Based Digital Health Innovation Canvas ini kepada para

implementing partner Kementerian Kesehatan yang menjalankan sandbox ini

Profesor Juliana, Pak Ahmad terima kasih ya atas waktunya sudah berbincang dengan

-SBS Indonesian -Sama-sama

Sama-sama senang sekali bisa berdiskusi. Makasih.

END OF TRANSCRIPT

Share

Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now