Pendengar SBS Indonesian, sampah sachet
yang dikonsumsi jutaan warga Indonesia
setiap harinya ternyata menjadi salah satu
tantangan terbesar dalam pengelolaan
sampah plastik. Apa alasan di balik
sulitnya mendaur ulang kemasan sachet? Apa
yang membuat format ini begitu dominan di
pasar Indonesia? Dan apa yang bisa
dipelajari dari sistem pengelolaan sampah
di Australia? Simak perbincangan kami
dengan Alfin Nurul Firdaus, pendiri Waste
Reform Indonesia.
Nama aku Alfin Nurul Firdaus, biasa
dipanggil Alfin. Kalau kemarin kuliah di
University of Melbourne, itu sebenarnya
aku ambil spesialisasinya dua Master of
Environment, tapi aku tailored
specialisation gabungan antara waste
management sama governance policy and
market. Sebelumnya aku kerja di Plastic
Bank Indonesia, itu kayak social
enterprise, memang fokus di sampah plastik
Indonesia, khususnya recycling
industry-nya, para pemulung dan pengepul.
Lalu aku juga aktif juga di organisasi
lingkungan. Saat ini aku mendirikan Waste
yang di mana kita fokusnya di training dan
awareness terkait sampah di Indonesia.
Nah, untuk pendengar kami di Australia
yang mungkin belum punya gambaran,
seberapa besar masalah sampah plastik
kemasan di Indonesia saat ini dan seberapa
-besar porsi sachet di dalamnya?
-Kalau untuk sampah keseluruhan di
Indonesia, mungkin aku mulai dari yang
paling luas dulu Mbak ya, karena memang
isu sampah di Indonesia ini benar-benar
critical saat ini. Dalam per tahunnya, di
tahun 2024 itu ada sekitar hampir 36 juta
ton sampah di Indo-- dan
untuk sampah plastiknya sendiri itu 6,8
juta ton atau sekitar 20%.
Dan yang paling parahnya lagi adalah
hampir setengahnya atau mungkin lebih dari
setengahnya karena kita tidak memiliki
alat hitung yang precisely, itu mismanage.
Dan untuk sachet, kalau dirata-ratakan
per orang di Indonesia, per tahunnya bisa
generate sachet, sampah plastik sachet itu
sampai empat kilo per tahun. Dan itu
silahkan dikali dengan jutaan masyarakat
-di Indonesia.
-Iya ini sangat-
-Jadi banyak banget memang.
-Iya sangat banyak sekali ini. Kita lihat
ya produk sachet kopi, sampo, kecap,
macam-macam lah ya, di mana-mana begitu di
Indonesia. Kalau kita bicara soal daur
ulang sachet, seberapa realistis
sebenarnya sachet bisa didaur ulang? Dan
kalau tidak, ini ke mana sampahnya
-berakhir?
-Nah, ini aku juga belajar dari
pengalamanku kerja Mbak ya, di Plastic
Bank Indonesia, kami tidak menerima sampah
multi layer. Itu maksudnya ke jenis
sampah multi layer atau beberapa lapisan.
Kenapa? Karena sampah sachet itu tidak
hanya terdiri dari plastik satu jenis
saja, tapi ada beberapa jenis. Contohnya
itu di lapisan luar. Itu ada kayak PET
atau polypropylen. Belum lagi banyak
layer-layer di dalamnya, Mbak. Dan nggak
hanya lapisan luar, ada lapisan metalik.
Biasanya itu diisi dengan aluminium foil,
lalu lapisan tengahnya, lapisan adhesif
yang jadi lemnya, baru lapisan dalam. Nah,
adanya berbagai lapisan ini, Mbak, sangat
menyusahkan teman-teman pemulung dan
pengepul, bahkan industri sekalipun untuk
mendaur ulang. Kenapa? Karena memiliki
titik leleh yang berbeda-beda. Apabila
kita memaksa untuk melelehkan sampah
plastik multi layer ini, hasilnya tidak
akan maksimal dan malah bisa merusak si
mesin itu sendiri. Kalau ditanya realistis
atau tidak, jawabannya masih belum.
Kenapa? Karena barusan sangat sulit Mbak
untuk mendaur ulangnya. Hanya bisa
di-downgrade, kayak kita cacah, lalu kita
jadikan ecobrick seperti itu. Tapi kalau
dijadikan sampah daur ulang kembali,
plastik daur ulang kembali, itu masih
-belum memungkinkan untuk saat ini.
-Berarti sebagian besar dibuang gitu dengan
-sampah waste yang dibuang begitu?
-Betul Mbak, dan pembuangannya itu hampir
selalu mismanage. Yang pertama langsung ke
TPA,
hampir 50% itu ke TPA, lalu porsi yang
sama banyaknya juga itu pembakaran, Mbak.
Biasanya kan kalau Mbak lihat di
perkampungan dan masyarakat yang
mengkonsumsi majority plastik yang kita
konsumsi di Indonesia itu kan sampah
plastik sachet. Kalau nggak dibuang ke TPA
ya dibakar, lalu dibuang ke waterways,
sungai, kali, dipendam ke tanah, dan hanya
sangat sedikit Mbak yang akhirnya
di-downgrade atau dijadikan ecobrick.
Hampir semua dari sampah sachet tersebut
-tidak terkelola atau mismanage.
-Berapa persen tuh ya Mbak yang kira-kira
akhirnya bisa didaur ulang? Tadi kan
sangat sedikit gitu.
Kenapa kok aku bilang ini estimate? Karena
memang sekali lagi pendataan sampah di
Indonesia ini masih kurang. Tidak ada data
yang precisely karena memang kita itu
bertumpuh pada informal sector atau sektor
informal, di mana bukan dari sektor
informal, itu juga kurang bagus seperti
itu. Tapi untuk persentasenya sendiri
-kurang dari 3%.
-Kan kalau di Indonesia sachet bukan cuma
untuk sampel ya. Orang beli yang tadi kita
sebutkan sampo, kopi, bumbu gitu. Untuk
kebutuhan sehari-hari termasuk ketika
berlibur ya. Sementara di Australia kan
sachet itu lebih banyak dipakai untuk
sampel gitu, bukan untuk konsumsi harian,
untuk travel mungkin. Kenapa format sachet
bisa jadi sebegitu dominannya di pasar
Pertanyaan yang sangat menarik dan
jawabannya itu tidak sederhana. Karena
ketika kita ngomong masalah isu sampah
plastik itu intertwined Mbak dengan
masalah-masalah yang lain. Contoh seperti
yang Mbak bilang barusan, sachet di
Indonesia. Itu tidak hanya jadi sampah,
tapi ada hal-hal yang men-trigger, salah
Kalau dibandingkan dengan Australia, tentu
saja daya beli kita itu lebih rendah.
Bahkan kalau menurut-- ini aku pakai
datanya World Bank ya Mbak ya. Di
pertengahan tahun 2025, 60% masyarakat
Indonesia dengan standar World Bank itu
masuk ke dalam kategori masyarakat miskin,
di mana mereka akan sangat-sangat strict
dengan pengeluaran mereka. Nah, dengan
adanya kemasan-kemasan sachet yang
memungkinkan mereka untuk membeli dengan
harga lebih murah, tentu saja ini adalah
pilihan yang sangat, sangat, sangat
affordable, malah yang paling masuk akal
yang bisa kita beli gitu. Berbeda halnya
ketika kita membeli kemasan yang langsung
besar. Itu akan mengambil porsi yang
banyak dari katakanlah gaji bulanan kita
seperti itu. Meskipun setelah dihitung
lebih lanjut ya Mbak ya, dikalkulasi,
diakumulasi di belakang, sebenarnya ketika
kita membeli sachet itu lebih mahal
daripada kita membeli langsung besar atau
bulky. Karena ya tadi, karena memang kita
mampu belinya saat itu segitu, ya kita
hanya itu pilihan yang kita punya. Selain
-supply chain juga, eh, sini Mbak.
-Sorry, Mbak Alfin-
-Di Indonesia ada-
-Hilang lagi itu suaranya.
Maaf, maaf. Nah, selain dari tadi daya
beli kita, di Indonesia itu ada empat juta
warung, Mbak. Dan itu adalah market yang
sangat besar. Untuk penetrasi ke
warung-warung, ke masyarakat kelas bawah
seperti itu, tentu saja perusahaan FMCG
pertama ya tadi, salah satu yang mereka
tawarkan adalah sachet dengan harga yang
lebih murah dan juga dengan mereka pakai
sachet itu supply chain-nya lebih
memungkinkan. Kenapa? Karena di
warung-warung di Indonesia khususnya yang
rural area, mereka tidak memiliki rak atau
jarang sekali memiliki rak. Ketika mereka
pakai sachet, gampang aja kita tinggal
bikin apa gitu cantolan, tinggal
rencengannya dicantol gitu. Tidak memi--
tidak perlu rak-rak yang banyak atau
rak-rak yang besar gitu sih Mbak. Jadi
memang intertwine each other dan salah
satu faktor yang paling besar adalah ya
ekonomi tadi sih Mbak.
Memang faktornya ada banyak begitu ya.
Tapi kan kemasan sachet memang sebegitu
sulitnya gitu ya didaur ulang. Sebenarnya
siapa yang punya tanggung jawab atas
sampah-sampahnya itu sendiri? Konsumen
yang membuang, pemerintah daerah yang
mengelola, atau perusahaan yang
memproduksi, atau bagaimana?
-Kalau di Indonesia sendiri-
-Apakah ada hukumnya?
Sebagian besar tanggung jawab itu di kita
Mbak, di konsumen, lalu pemerintah, dan
sedikit sekali porsi dari perusahaan.
Sedangkan di Australia sebaliknya,
perusahaan itu harus menaati regulasi yang
ada dan itu strict, benar-benar
diimplementasikan. Bahkan ketika sebuah
perusahaan tersebut sesederhana tidak
menjawab pertanyaan dari pihak otoritas,
itu mereka bisa didenda hingga ribuan
Australian dollar, Mbak. Sedangkan di
Indonesia sudah ada regulasinya di tahun
2019 tentang EPR, Extended Producer
Responsibility, tapi dalam enforcement-nya
itu masih sangat lemah. Bahkan hingga
tahun 2026 itu masih sekitar 16.000 dari
berapa juta ton gitu Mbak yang seharusnya
me-- bisa mereka selamatkan tapi ya nggak
terselamatkan atau nggak terdaur ulang
karena enforcement yang kurang dari
-pemerintahnya sendiri.
-Berarti perusahaan yang sama bisa
memproduksi kemasan dengan standar yang
berbeda untuk pasar Australia dan pasar
-Indonesia begitu ya?
-Exactly, Mbak. Salah satu contohnya
Unilever. Di Indonesia barang-barang
Unilever itu banyak yang bentuk rencengan.
Kenapa? Untuk penetrasi pasar dan
affordability dari masyarakat kita.
Sedangkan di Australia, salah satunya ya
karena mereka bisa membeli dengan harga
award-- ini yang aku lihat benar-benar,
awareness masyarakat di Australia mengenai
sampah plastik itu lebih tinggi daripada
kita di Indonesia.
Jadi kenapa regulasi di kedua negara ini
sepertinya berbeda? Berarti tadi
tergantung dari marketnya. Dan bagaimana
dengan pemerintahnya sendiri? Tidak adakah
dari pemerintah Indonesia berusaha
mem-push gitu para produsen khusus
perusahaan itu khusus untuk menghasilkan
produk-produk jangan di sachet begitu?
Tidak ada ya seperti itu atau bagaimana
Mbak?
Kalau menurut Permen LHK tahun 2019 yang
aku sebutkan barusan Mbak, yang tentang
IPR, produsen itu wajib menyusun peta
jalan pengurangan sampah 30% pada tahun
2029. Nah, ini kan sebuah angin segar Mbak
ya bagi kita. Hanya saja sekali lagi
kenyataan di lapangan itu benar-benar
berbeda. Tidak ada regulasi yang cukup
ketat. Nah, untuk kenapanya atau alasannya
kenapa enforcement-nya yang tidak sekuat
ini aku masih belum tahu dan aku juga
tidak berani untuk berasumsi. Tapi sejauh
ini Mbak, dari semua perusahaan di
Indonesia, hanya 27 perusahaan yang mereka
actively generate plastic yang baru
menyerahkan roadmap EPR mereka. Ini kan
sangat sedikit Mbak, dan dari 27 itu hanya
8
yang mulai mengimplementasikan, mulai,
belum yang sepenuhnya. Karena memang di
Indonesia sendiri tidak ada punishment
Mbak, berbeda dengan Australia. Di
Australia selain punishment juga ada
insentif. Sedangkan di Indonesia
dua-duanya tidak ada. Dan kenapa tidak
adanya push? Salah satunya mungkin karena
dana ya Mbak ya, yang dikeluarkan tidak
sebanyak di Australia. Dan ini kalau kita
ngomongin infrastruktur udah sangat lebih
kompleks lagi, karena infrastruktur di
Australia lebih bagus dari di Indonesia
terkait waste-nya. Dan di Australia itu
lebih rely on formal sector. Dan formal
sector ini Mbak bisa diregulasi oleh
pemerintah, kan masuk dalam radarnya
pemerintah. Sedangkan di Indonesia sendiri
sebagian besar dari pemulung pengepul
atau bisnisBukan bisnis yang besar Mbak
ya, kayak recycling skala rumahan itu
informal. Apakah itu bisa termonitor
pemerintah? Kadang-kadang tidak. Itu sih
Mbak yang menurutku keunikan kedua negara
tersebut. Mana yang lebih bagus? Menurutku
kita juga tidak bisa berasumsi karena
dari society-nya juga berbeda. Bisa jadi
memang di Indonesia lebih cocok informal
karena ya tadi society-nya menghendaki
demikian. Dan bagaimana dengan
pemerintahnya? Sekali lagi aku sih pingin
banget pemerintah kita itu lebih tegas.
Tapi sekali lagi kita tidak bisa
mengintervensi terlalu banyak juga sih.
Jadi kan tadi dari sisi kemasan ya,
dan itu kan sachet tidak bisa didaur
ulang, hanya 3% dari keseluruhan gitu
sampah sachet itu. Tapi untuk kemasan
plastik lain nih yang secara teknis bisa
didaur ulang seperti botol atau kemasan
kaku, itu bagaimana sistem daur ulang di
Indonesia menanganinya dan apa bedanya
dengan di Australia?
Nah, kalau di Indonesia itu semuanya rely,
hampir semuanya supply chain-nya itu rely
on informal sector, Mbak. Mulai dari
pemulung, garda yang paling depan yang
mengambil sampahnya keliling lalu ditaruh
di pengepul kecil. Pengepul kecil ini
akan dikirim lagi atau dijual lagi ke
pengepul besar. Oleh pengepul besar, ini
tergantung seberapa panjangnya Mbak ya,
pengepul besar ke pengepul yang lebih
besar lagi hingga akhirnya ke pabrik.
Pabrik inilah yang memiliki
teknologi-teknologinya atau alat-alatnya
sehingga mengubah, katakanlah contoh PET
Mbak ya, ini yang paling mudah didaur
ulang. Mengubah PET tersebut menjadi biji
plastik atau pelet yang akhirnya dijual
kembali menjadi plastik daur ulang.
Sedangkan di Australia semuanya itu sudah
ada pabriknya atau sudah ada instansi
pengelolaannya langsung dan itu di bawah
swasta dan diawasi oleh pemerintah. Jadi
sangat berbeda Mbak dalam proses daur
ulangnya.
Berarti kalau di Australia kan kita memang
ada pemisahan apa ya, sampah gitu ya.
Dari warna-warna ini botol ke ini, ini,
dan dari si botol-botol ini kalau di
-Australia bagaimana tuh?
-Di Australia itu ada yang namanya curbside
ini Mbak, tempat sampah. Kalau di
tempatku ya, aku di bagian di Victoria,
itu ada at least lah satu rumah itu dua
warna, satu recycling, satu organik. Tapi
ada di beberapa suburb itu yang mulai
banyak ada yang gelas, lalu ada yang
karton, dan lain sebagainya. Dan ini
sangat-sangat membantu proses daur ulang.
Kenapa? Ketika plastik tersebut tercampur
dengan jenis yang lain atau bahkan dengan
sampah organik seperti yang kita lihat di
Indonesia, kualitas sampah plastik ini
menurun Mbak, dan itu menjadikan nilai
jualnya lebih rendah. That's why di
Australia itu kualitas plastik lebih
bagus.
-Berarti da-
-Karena memang sejak awal sudah terpisah.
Yang mengambil plastik-plastik botol-botol
ini siapa di Australia? Ini pemerintah
daerahnya kah, Victoria-nya gitu, atau
pihak swasta seperti di Indonesia?
Itu ada dua Mbak, memang dari
pemerintahnya ada, ada juga yang dari
swasta yang dibayar untuk mengambil
sampah-sampah tersebut, tergantung
daerahnya. Dan salah satu yang menurutku
yang seharusnya bisa ditiru di Indonesia
selain pemerintahnya yang langsung turun
tangan untuk memberikan regulasi dan juga
bahkan sehingga sampai mengambil
sampahnya, kalau Mbak pernah dengar ada
skema namanya CDS, Container Deposit
Scheme. Pernah dengar nggak ya Mbak?
-Iya.
-Di Victoria. Nah, itu kan enak banget tuh
kita ke warung quote unquote, terus kita
kembalikan plastiknya, terus kita dapat 10
sen. Nah, itu juga salah satu yang
mendorong masyarakat di Australia akhirnya
mau untuk memisahkan sampah-sampahnya.
Sedangkan di Indonesia itu tidak memiliki
sistem insentif seperti itu Mbak, dan
memang tidak ada regulasinya. Jadi ya
sampahnya secara kualitas nggak sebagus
itu.
Berarti penyebab perbedaan ini adalah dari
infrastrukturnya, dari
macam-macam ya berarti ya kenapa itu
sangat berbeda.
-Benar-benar kompleks Mbak.
-Apakah ada yang bisa dipelajari Indonesia
dari Australia dalam hal sampah ini,
sampah plastik ini?
I would say penegakan regulasi. Karena
memang secara regulasi, Indonesia itu
sudah ada regulasi yang menekankan pada
EPR, Extended Producer Responsibility, di
mana perusahaan itu harus bertanggung
jawab terhadap plastik yang dia generate.
Hanya saja tadi regulasinya masih sangat
lemah dan tidak ada proses monitoring
apalagi punishment bagi
perusahaan-perusahaan yang generate too
much, eh, plastik. Itu sih Mbak, aku
benar-benar berharap pemerintah ada robust
regulation dan nggak hanya robust, tapi
juga ada sistem monitoring evaluasi dan
punishment bagi perusahaan yang tidak
menaati regulasi tersebut. Ini benar-benar
kita bisa lihat seperti yang Mbak bilang
tadi, perusahaan yang sama bisa loh buat
packaging yang proper di negara maju, tapi
sachet di negara kita dan mereka tidak
diberikan tanggung jawab yang besar dalam
menyelesaikan masalah itu. Tanggung jawab
paling besar di masyarakat. Sedangkan
masyarakat dengan gaji yang tidak sebesar
di negara maju, kita harus bertanggung
jawab terhadap sampah kita sendiri.
-Berarti dari-
-Dan juga regulasi yang membantu kita untuk
ini sih Mbak, ambil sampah di
kampung-kampung gitu sih.
Berarti dari awal kalau memang mau
mengurangi sampah plastik yang tidak bisa
didaur ulang itu dari perusahaannya itu
harus diatur jangan menghasilkan sachet
-begitu ya?
-I would say yes, karena apa? Karena mereka
punya uangnya, mereka punya R&D, mereka
punya dana, mereka punya tim-tim yang
sangat kompeten dan mungkin bisa membantu
mereka gitu. Dan mungkin mereka bisa come
up dengan inovasi baru, jangan memakai
multilayer plastik.
Mbak Alfin, terima kasih ya atas waktu dan
informasinya.
Terima kasih juga Mbak for having me.
END OF TRANSCRIPT