Bisnis hospitalitas milik masyarakat Indonesia di luar kota Melbourne kembali bergeliat sejak lockdown dicabut

Masyarakat Indonesia di daerah regional Victoria yang menjalankan bisnis terkait wisata mulai mengalami dampak positif pelunakan lockdown di Melbourne yang menghapus pembatasan bepergian. Mereka terpukul dua kali tahun ini oleh kebakaran semak lalu pandemi virus corona.

Ida Ayu Putu Desi (left), Nur Harefa, and Martina Manalu McGinty

Indonesians who own hospitality business in regional Victoria; Ida Ayu Putu Desi, Bright; Nur Harefa, Port Campbell; and Martina McGinty, Lakes Entrance. Source: Supplied

Pemerintah Victoria mencabut aturan batas bepergian 25 kilometer mulai 9 November, dan langkah itu langsung membuat daerah destinasi wisata di Victoria kembali bergeliat dengan kedatangan warga Melbourne. 

Pengelola bisnis hospitalitas seperti kafe, restoran, dan penginapan di daerah Victoria juga menanggung dampak langsung lockdown di kota Melbourne selama delapan bulan, salah satu yang terpanjang di dunia.

Beberapa masyarakat Indonesia menjalankan bisnis hospitalitas di kota destinasi wisata di Victoria seperti Port Campbell, Bright dan Lakes Entrance.

Nur Harefa yang mengelola Eastern Reef Cottages di Port Campbell, kota pesisir di jalur Great Ocean Road, kembali sibuk setelah lima bulan sejak Mei akomodasinya tanpa tamu. 

"Mulai November ada tamu dari perusahaan, untuk Desember sudah banyak booking yang masuk," kata Nur yang berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.
Twelve Apostles
Twelve Apostles in Great Ocean Road. Source: SBS/Alfred Ginting
Sebagai kota terdekat dengan Twelve Apostles, destinasi wisata utama Victoria, Port Campbell bergantung pada turisme sehingga sangat terpukul dengan penutupan perbatasan maupun lockdown berkepanjangan di Melbourne.

Pelaku bisnis hospitalitas di Port Campbell mulai bernapas lega, meski masih hanya mengharapkan pengunjung dari Victoria, sebab penutupan perbatasan antarnegara bagian lain masih berlaku.

Selama bisnisnya hibernasi, Nur bersama suaminya Ronald "Smiley" Jacobs dan kedua anaknya Leroy dan Peter tetap sibuk melakukan perawatan dan pembenahan fasilitas akomodasi mereka.
Nur Harefa and Ronald "Smiley" Jacobs
Nur Harefa and Ronald "Smiley" Jacobs run Eastern Reef Cottages in Port Campbell, Victoria. Source: Supplied
Nur mulai mengelola Eastern Reef sejak tahun 2016 setelah Smiley menghentikan aktivitas penangkapan udang karang (crayfish)  dan menjual kapal serta semua peralatan kerjanya.

Sebagai pemegang lisensi penangkapan udang karang, Smiley masih memiliki kuota tangkap yang dijual kepada nelayan lainnya.
Eastern Reef memiliki lima unit cottage berkapasitas 34 tempat tidur dan kebun yang ditanami sayuran dan hewan peliharaan.

"Di properti selalu ada pekerjaan untuk mengisi waktu, bersih-bersih, perbaikan ini itu. Jadi tidak stres. Merawat kebun saja menghabiskan banyak waktu," kata Nur.

Nur dan keluarganya memaksimalkan lahan properti untuk kebutuhan pangan mereka sebab di kota kecil yang sangat bergantung pada wisata seperti Port Campbell, ketersediaan sayuran dan daging segar untuk rumah tangga sangat terbatas.

Jeda antara reservasi

Tinggal di pedesaan dengan lahan yang cukup luas juga menciptakan kesibukan dan manfaat ekonomi bagi Ida Ayu Putu Desi, pemilik akomodasi The Umah di Bright.

"Di kebun kami punya banyak tanaman sayur, tomat, capsicum, timun, ada ayam dan domba yang bisa disembelih. Enaknya hidup di desa bisa menghemat," kata Ayu yang rajin menjelajahi pegunungan dan lintas hutan di dataran tinggi sekitar Bright.
Ida Ayu Putu Desi.
Ida Ayu Putu Desi listed The Umah on Airbnb in 2011. Source: Supplied
Ayu mengalami pesanan di The Umah mulai tinggi sejak awal November, namun dia tidak serta merta memanfaatkan lonjakan tingkat hunian.

Dia memberi jarak dua atau tiga hari kosong di antara pesanan untuk memastikan proses sanitasi akomodasinya berlangsung maksimal sebelum menerima tamu berikutnya.

"Dulu di hari yang sama tamu keluar, tamu baru masuk. Situasi sekarang belum normal. Kalau tamu keluar, semua seprei dicuci, semua disterilisasi. Pembersihan sekarang lebih ekstra," kata Ayu.

Ayu mengatakan meski di Melbourne sudah 14 hari tidak ada kasus positif baru, akan ada saatnya situasi benar-benar aman baginya untuk mengoperasikan akomodasinya seperti di saat sebelum pandemi.

"Saya merasa lebih aman kalau ada jeda beberapa hari antara booking. Uang bisa dicari. Saya tidak ingin, secara tidak sengaja, membuat orang lain menjadi sakit. Meski bukan sepenuhnya kesalahan saya, tapi kalau terjadi pasti rasanya menyesal sekali," kata Ayu.
Ayu membuka rumahnya sebagai akomodasi sejak tahun 2011 ketika ia baru memiliki bayi dan harus lebih banyak di rumah.

"Anak saya masih enam bulan, mulai gelisah mau mengerjakan apa. Karena di Indonesia saya selalu bekerja," kata Ayu.

"Suami saya punya rumah yang kosong karena penyewa keluar, teman saya kasih inspirasi untuk disewakan harian. Ketika itu Airbnb baru muncul, jadi ada platform yang memudahkan."

Ayu pun mendaftarkan rumah yang dibangun tahun 1950an dengan tiga kamar tidur itu ke Airbnb.

"Saya pasang harga murah meriah, setiap akhir pekan ada saja tamu. Tapi Bright 10 tahun lalu belum seramai belakangan ini."
Ayu mengatakan Bright mulai sangat ramai dikunjungi turis sejak tahun enam tahun lalu, seiring banyaknya peristiwa yang digelar di sana, seperti balap sepeda, marathon, lari lintas alam, paragliding, dan hajatan penggemar mobil dan sepeda motor klasik.

Kini Bright telah menjadi destinasi utama di dataran tinggi Victoria dan Bright Festival menjadi salah satu hajatan publik paling menyedot pengunjung.

Queen Victoria Loop sepanjang 250 kilometer di Bright disebut sebagai jalur bersepeda paling menantang di dunia, mendekati kondisi bersepeda di Pegunungan Alpen di Eropa

"Setiap bulan ada saja event di sekitar Bright. Jadi kedatangan turis merata, tidak musiman," kata Ayu.

Bencana kebakaran semak

Di bulan April dan Mei, Bright paling ramai pengunjung karena suasana musim gugur di sana dianggap paling indah untuk Instagram, dengan pepohonan menguning dalam beragam spektrum warna.
Namun keramaian yang sama tidak terjadi pada musim gugur tahun ini karena pandemi melanda, dan sebelum itu Bright terdampak bencana kebakaran semak yang parah sejak awal tahun.

"Mulai tahun baru bushfire sudah parah, minggu pertama Januari kami evakuasi ke Wangaratta. Asap tebal sampai 100 kilometer, karena dari kebakaran di New South Wales juga," kata Ayu.

"Di minggu ketiga Januari turis mulai boleh datang ke Bright. Kami punya waktu sebulan, sebelum pandemi mulai masuk di Australia dan lockdown di bulan Maret. Bulan Juni dan Juli lockdown dicabut, turis datang lagi, lalu lockdown lagi."

Bencana kebakaran semak juga sangat berdampak pada Martina Manalu McGinty yang mengelola kafe Bloody Good Coffee di Lakes Entrance, kota pesisir di East Gippsland.

"Biasanya Natal dan Tahun Baru di sini sangat ramai, tapi itu tidak terjadi musim panas lalu. Jalan diblokir jadi dari Melbourne tidak bisa masuk," kata Martina.

"Tapi kami tetap buka, untuk membantu membuat suasana senormal mungkin, agar orang tetap terhibur. Kami menyediakan kopi gratis untuk petugas pemadam kebakaran, polisi dan ambulance."

Hingga kini Bloody Good Coffee pun masih mendukung kerja petugas darurat yang menangani bencana dengan memberi potongan harga 50 persen untuk mereka.
Martina Manalu McGinty
Martina Manalu McGinty in Bloody Good Coffee, Lakes Entrance. Source: Supplied
Menurut Martina, Lakes Entrance berangsur normal sejak dua bulan lalu sejak pembatasan bepergian bagi warga regional dicabut terlebih dahulu daripada di Melbourne.

"Sejak Senin kemarin begitu lockdown Melbourne dicabut, pelanggan membeludak. Orang Melbourne sudah lama menunggu untuk bisa datang ke sini," kata Martina.
Lakes Entrance sering disebut sebagai ibukota aktivitas memancing di Victoria dan sangat populer di kalangan turis terutama dari China untuk menangkap kepiting lumpur.

"Tahun ini karena belum akan ada penerbangan internasional jadi bisnis di Lakes Entrance sangat mengharapkan turis dari Melbourne dan semoga perbatasan antar negara bagian segera dibuka," kata Martina.

Ketegangan dagang dengan China

Terpaksa tutupnya akomodasi akibat pandemi sebenarnya tidak terlalu menjadi tekanan bagi Nur Harefa. Dia dan keluarganya masih mendapatkan pembayaran Jobkeeper selama bisnis tanpa pendapatan.

Pandemi virus corona mendatangkan persoalan baru bagi industri di Australia karena munculnya ketegangan perdagangan dengan China.

Negara itu menghambat ekspor Australia dengan menambah tarif masuk untuk komoditas mulai dari jelai dan daging sapi sejak bulan Mei.

Ada spekulasi China menerapkan hambatan perdagangan itu untuk membalas seruan Australia tentang pembentukan penyelidikan independen untuk menyelidiki asal muasal virus corona.

Sejak saat itu China langsung menyelidiki tudingan dumping produk wine Australia, dan industri pemintalan mulai berhenti membeli kapas Australia. Ini berlanjut ke komoditas lain seperti gula, papan, batu bara dan tembaga.

Pekan lalu dikabarkan komoditas lobster Australia senilai $ 2 juta dibiarkan teronggok di landasan bandara Shanghai. 

Gejalan penghambatan ekspor ke China berdampak bagi Smiley sebagai pemegang lisensi penangkapan udang karang yang menjual kuotanya ke nelayan lain.

"Kami membayar cicilan pinjaman untuk cottage dari penghasilan menjual kuota tangkap crayfish. Ada yang mengembalikan kuotanya, karena mereka tidak bisa jual hasil tangkapnya." kata Nur.

"Karena corona turis China enggak bisa masuk sini, dan kita jadi susah. Tapi daripada soal corona, masalah (dagang) dengan China belakangan ini lebih jadi tekanan buat kami," kata Nur.

"Sekarang ini belum ada ada solusi. Pemerintah Australia harusnya cari jalan kemana jual hasil nelayan Australia selain ke China."


Share

7 min read

Published

Updated

By Alfred Ginting



Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps
SBS Audio
SBS On Demand

Listen to our podcasts
Independent news and stories connecting you to life in Australia and Indonesian-speaking Australians.
Ease into the English language and Australian culture. We make learning English convenient, fun and practical.
Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS
SBS Indonesian News

SBS Indonesian News

Watch it onDemand