Jet Indonesia Terbang dengan Instrumen yang Tidak Dapat Diandalkan Sehari Sebelum Jatuh

Jet Lion Air Boeing 737 MAX yang jatuh di Indonesia pada hari Senin terbang dengan tidak menentu pada malam sebelumnya dan pembacaan kecepatan udaranya tidak dapat diandalkan, menurut seorang penyelidik kecelakaan dan sebuah situs web pelacakan penerbangan.

Personal items recovered from Lion Air flight JT 610.

Personal items recovered from Lion Air flight JT 610. Source: AAP

Menurut data dari FlightRadar24, jet tersebut menampilkan variasi ketinggian dan kecepatan udara yang tidak biasa dalam beberapa menit pertama penerbangan setelah lepas landas dari Denpasar di pulau liburan Bali pada hari Minggu malam, - termasuk turun sebanyak 875 kaki dalam 27 detik saat biasanya naik - sebelum stabil dan melanjutkan penerbangan ke Jakarta.

CEO Lion Air Edward Sirait mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa masalah teknis telah terjadi pada penerbangan Denpasar-Jakarta tetapi telah diselesaikan "sesuai dengan prosedur".

Wakil Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Haryo Satmiko, mengatakan kepada wartawan pada hari Selasa bahwa ada masalah teknis pada penerbangan itu, termasuk pembacaan kecepatan udara yang tidak dapat diandalkan.

"Dugaan penyebab kecelakaan masih diselidiki dan membuat kita semua ingin tahu apa yang bisa menyebabkan kejadian ini," ujarnya. Satmiko tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Penerbangan Denpasar-Jakarta mendarat pada pukul 22.55 waktu setempat pada hari Minggu, memberi para teknisi waktu paling banyak enam setengah jam untuk melakukan pemeriksaan sebelum pesawat diberangkatkan untuk penerbangan Jakarta-Pangkal Pinang yang fatal pada pukul 6:20 pada hari Senin.

Pesawat itu jatuh ke laut beberapa menit setelah lepas landas dari Jakarta dan kesemua 189 orang di dalamnya diyakini tewas. 

FlightRadar24 juga melaporkan kecepatan udara dan ketinggian yang tidak biasa dalam beberapa menit setelah Penerbangan JT610 berada di udara pada hari Senin.

Satmiko mengatakan pihak KNKT belum bertemu dengan teknisi yang menangani pemeliharaan pesawat antara dua penerbangan tersebut.

Para ahli mengatakan penyelidikan kecelakaan masih berada pada tahap yang sangat awal dan terlalu dini untuk berspekulasi tentang penyebabnya.


Share

2 min read

Published

Updated

Source: Reuters




Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now