Kecelakaan Lion Air: Indikator Kecepatan Udara 4 Penerbangan Terakhir Bermasalah

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Indonesia mengatakan perekam data "kotak hitam" dari jet Lion Air yang jatuh menunjukkan keempat penerbangan terakhirnya memiliki masalah indikator kecepatan udara.

Soerjanto Tjahjono, Chief of the National Transportation Safety Committee, at a meeting with relatives of the Lion Air crash victims.

Soerjanto Tjahjono, Chief of the National Transportation Safety Committee, at a meeting with relatives of the Lion Air crash victims. Source: AAP

Sebuah jet Lion Air Indonesia yang jatuh ke Laut Jawa pekan lalu, menewaskan semua 189 penumpangnya, memiliki masalah indikator kecepatan udara pada penerbangan yang fatal dan pada tiga perjalanan sebelumnya, ungkap pengawas transportasi negara itu pada hari Senin.

Rincian data baru - yang dikumpulkan dari perekam data penerbangan yang berhasil ditemukan - diketahui setelah pemerintah mengatakan pihaknya melakukan "audit khusus" terhadap operasi maskapai 'budget' tersebut.

Seminggu setelah bencana, masih belum ada jawaban mengenai apa yang menyebabkan kecelakaan itu.

Lion - yang telah lama dirundung masalah keamanan - mengatakan bahwa Boeing 737-Max 8 mengalami masalah teknis pada penerbangan sesaat sebelum kecelakaan pada hari Senin (29/10) tersebut terjadi, dan sudah diperbaiki.

Namun KNKT pada Senin kemarin mengatakan data kotak hitam menunjukkan bahwa pesawat memiliki masalah indikator kecepatan udara pada setidaknya dua penerbangan sebelumnya.

"Ada empat penerbangan yang mengalami masalah dengan indikator kecepatan udara," kata kepala KNKT Soerjanto Tjahjono kepada wartawan.

"Ketika ada masalah, pilot akan mencatatnya dan montir akan melakukan (perbaikan) ... Kemudian pesawat itu akan dinyatakan layak terbang."

Badan itu mengatakan akan menyelidiki apa yang menyebabkan masalah indikator dan apakah perbaikan yang tepat telah dilakukan - termasuk mengganti komponen yang rusak, tambahnya.

KNKT tidak memberikan rincian lebih lanjut dan tidak berspekulasi tentang kemungkinan masalah indikator berperan dalam kecelakaan itu, karena mereka masih terus mengumpulkan informasi dari perekam penerbangan itu - yang dilihat sebagai kunci untuk menjawab mengapa pesawat yang masih baru itu jatuh dari langit.

Wheels recovered from crashed Lion Air flight JT-610
Tyres and turbines from the crashed Indonesian Lion Air jet have been found, but not the fuselage. (AAP) Source: AAP

'Audit khusus'

Pengakuan pihak Lion Air sebelumnya bahwa pesawat itu mengalami masalah teknis - juga permintaan kapten untuk kembali ke bandara beberapa menit sebelum pesawat akhirnya jatuh - telah menimbulkan pertanyaan apakah kesalahan ada pada salah satu pesawat penumpang komersial terbaru dan paling canggih di dunia.

Penyelam masih terus mencari perekam suara kokpit pesawat.

"Kami akan ... melakukan audit khusus terhadap kualifikasi crew dan komunikasi staf," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi kepada wartawan, Senin, ketika ia mengumumkan penyelidikan terhadap operasi Lion.

"Langkah iini merupakan tindakan pencegahan... (Kecelakaan) menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kami."

Otoritas Penerbangan Sipil di Amerika Serikat dan Eropa juga dimintai konsultasi untuk bantuan mereka dalam penyelidikan, tambahnya.

Investigasi Lion Air dilakukan setelah pemerintah Indonesia memerintahkan pemeriksaan atas semua pesawat Boeing 737 Max 8 di negara tersebut.

Semua dinyatakan layak terbang meskipun dua pesawat memerlukan perbaikan atas masalah "kecil".

Kementerian Perhubungan sebelumnya telah menonaktifkan beberapa eksekutif dan teknisi Lion Air, mengatakan mereka diperlukan untuk membantu pihak berwenang dalam upaya penyelidikan.

Selengkapnya baca di sini.


Share

3 min read

Published

Source: AFP, SBS




Share this with family and friends


Follow SBS Indonesian

Download our apps

Listen to our podcasts

Get the latest with our exclusive in-language podcasts on your favourite podcast apps.

Watch on SBS

SBS Indonesian News

Watch it onDemand

Watch now