-kalau melihat backgroundnya bukan kesenian, begitu
-ya?
-Betul, background saya teknik industri.
-Kenapa kemudian
-menjadi pendiri grup Muhibah ini? Apa ceritanya? S
-ingkat, boleh.
-Ceritanya dulu saya pernah
S2 di Jerman. Kemudian waktu itu ada
International Evening, terus student
harus perform dari negaranya. Waktu itu saya belum
pernah main angklung sama sekali. Terus kemudian
kita
bawain apa ya di Indonesia yang gampang gitu
karena enggak ada yang bisa nari, enggak ada yang
bisa music gitu. Akhirnya udah kita main
angklung aja. Nah itu untuk pertama kalinya saya
main angklung
di luar negeri dan waktu itu sambutannya luar
biasa gitu. Jadi waktu itu mungkin untuk pertama
kalinya saya
diberikan standing applause sama penonton itu
seumur hidup. Ya akhirnya itu terasa sampai
sekarang, gitu.
-Sehingga dari situ kemudian tergerak untuk
-membentuk kelompok ini? Bagaimana tuh?
-Iya, jadi saya
merasakan, ee, pertama mungkin belum pernah ya
diapresiasi oleh begitu banyak penonton. Ee,
kemudian
juga-- kita juga menjalani latihannya
menyenangkan. Jadi menyenangkan buat kita,
menyenangkan buat penonton. Dan mungkin untuk
pertama
kalinya saya bisa bilang I
-did something for my country, gitu. Walaupun
-sedikit tapi kita bisa promosiin Indonesia,
-begitu.
-Kemudian akhirnya
-membentuklah kelompok ini yang terdengar cukup
-besar sebenarnya anggotanya. Gimana tuh?
-Ya jadi waktu itu,
ee, saya sempat, ee, melakukan istilahnya namanya
journey misi budaya. Saya waktu itu sempat
membantu teman-teman tim angklung dari Bandung,
ee, Keluarga Paduan Angklung SMA 3. Saya ke
beberapa festival di sana dan saya banyak belajar
dan saya inspire gitu. Oh,
ternyata ini banyak merubah bukan cuma kita
promosi Indonesia tapi juga youth development
gitu. Jadi temen-temen itu banyak, ee, mendapatkan
pelajaran pengalaman berharga yang kalau mereka
mungkin
tidak pernah promosikan angklung ke luar negeri,
mungkin mere-- mereka tidak akan berkembang
seperti sekarang ini, begitu.
-Berarti bisa dibilangkah secara spesifik memang
-tujuannya adalah untuk promosi luar negeri?
-Eh, betul,
perjalanan luar negeri itu punya dampak yang besar
ya bagi anak-anak muda. Makanya saya selalu
berusaha kalau saya
diminta advice untuk anak muda, harus pergi
keluar, harus ngeliat dunia. Dan itu banyak sekali
anak-anak yang
berubah. Jadi sebetulnya selain tadi promosi
budaya Indonesia, promosi kultur Indonesia, tapi
juga itu self
development buat mereka. Membuka wawasan cakrawala
sehingga mereka kembali ke Indonesia jadi
seseorang yang baru, yang lebih luas wawasannya,
lebih kaya, lebih punya cita-cita, banyak
inspirasi yang
-bisa dibagi ke teman-teman di Indonesia gitu.
-Mulia sekali tujuannya tapi harus, pasti tanya,
-dana dari mana?
Nah, ini yang selalu jadi kendala ya dari
satu misi budaya ke misi budaya lainnya. Jujur aja
waktu ki-- kita juga di sini lagi kesulitan
sebenarnya.
Jadi dari sekian dana mungkin yang baru masuk baru
setengahnya
tapi waktu itu ya saya nggak mungkin nggak
berangkat karena sudah dijadwalkan di sini di
Sydney kemudian di
Brisbane, di Brisbane Festival juga itu largest
international art festival di Australia, kemudian
oleh Pak Dubes di
Albert Hall. Jadi waktu itu saya, uang gak ada
udah saya beli tiket one way. Jadi kita belum
punya tiket
-pulang.
-Sampai sekarang?
-Sekarang akhirnya kita mendapatkan pinjaman
yang harus kita bayar gitu ya. Tapi minimal waktu
itu anak-anak berangkat dulu
terus, ee, kemudian ya udahlah sampai sini dulu
terus kemudian kita cari travel agent yang bisa
covering. Akhirnya ada yang mau cuman di DP satu
juta, saya berterima kasih katanya udah nanti
sisanya setelah pulang aja. Nah,
-saya sekarang lagi masih mencari nih, masih
-mencari gimana nutupin itu semua gitu.
-Apa yang mengerakkanmu Mas?
Maksudnya bukan perjalanan yang mudah ya kan, ee,
misi budaya kemudian untuk pemberdayaan anak
kemudian
untuk pengembangan untuk self development tentu
semuanya mulia gitu ya tanda kutip ya. Tapi kan
kemudian kita juga
ditubruk oleh realita seperti misalnya tadi yang
disebut dananya dari mana nih gitu kan ya? Jadi
kalau dipikir pikir pikir
lagi sebenarnya ngapain gitu kan Kang Maulana
repot banget gitu?
Iya jadi mungkin salah satu-- itu pertanyaan
banyak orang sebetulnya apalagi background saya
juga engineering sebetulnya. Jadi sebenarnya yang
membuat saya tetap di sini itu saya itu sangat
bahagia melihat anak-anak itu berkembang,
anak-anak itu
tumbuh. Yang tadinya, apa namanya pemalu, pendiam,
nggak punya public speaking, nggak
bisa berorgi-- organisasi atau bahkan anak-anak
yang tadinya abis SMA tuh mau langsung
kerja atau anak-anak yang tadinya tidak punya
sejarah jadi sarjana atau kuliah di keluarganya.
Jadi begitu mereka masuk, ee, ke mana, ke tim
Muhibah ini
mereka jadi lihat dunia gitu. Yang pulang-pulang
itu yang tadinya mungkin habis SMA udah
saya mau kerja apa. Nggak, itu, "Kang, saya mau
jadi diplomat. Saya pengen S2 di Berlin." Padahal
tadinya S1 aja nggak kepikir gitu kan
dan itu kejadian gitu. Akhirnya selama satu, dua,
tiga, pulang. Akhirnya masuk ke kampus-kampus
yang bagus
dan akhirnya bisa kerja dan bisa jadi game
changer buat keluarganya gitu. Bahkan beberapa itu
mereka itu sarjana pertama di keluarganya gitu
yang tadinya mungkin gak ada kultur itu gitu dan
yang bikin itu adalah
angklung gitu. Jadi sebetulnya angklung itu cuman
alat aja sih sebenarnya tapi dibalik itu saya
melihat
angklung itu bisa merubah hidup seseorang dan itu
kebahagiaan yang saya tidak bisa lukiskan dengan
kata-kata walaupun saya harus
bersusah-susah sekarang tapi kalau ingat
pengalaman itu oke.Hahaha. Semua terbayarkan.
Harus tanya juga tapi karena kan nggak punya
background seni begitu kan ya apalagi angklung
gitu kan. Berarti temen-temen ini dilatihnya oleh
harus kerjasama gitu ya sama, ee, temen-temen yang
ahli lah ya. Jadi waktu itu saya sih cuma punya
passionnya gitu
ya. Angklung bisa main sedikit-sedikit. Dulu
saya-- kalau saya mendirikan di luar negeri ya,
dulu saya memang pelatihnya
juga gitu ya konduktornya juga, tapi itu
aliran-aliran yang mungkin ya istilahnya otodidak
lah. Tapi
sampai di Bandung saya ketemu dengan Teh Irma,
dulunya senior saya di SMA 3 dan di ITB juga.
Beliau pengalamannya udah dua puluh lima tahun
lebih, salah satu female a
ngklung prominence-lah di
Jawa Barat. Alhamdulillah dia bersedia untuk
gabung di tim Muhibah dan sampai sekarang tadi
masih jadi konduktor
dia yang istilahnya mentraining
anak-anak ini bahkan konduktor-konduktor baru.
Juga saya yang ngeguide temen-temen dari seni tari
UPI untuk bergabung jadi
itu juga temen-temen dari UPI dulu yang
mengajarkan mereka dan Alhamdulillah anak-anak ini
banyak yang
masuk seni tari UPI, seni musik UPI jadi
berkelanjutan gitu dan akhirnya sekarang lumayan
udah bagus
-kaderisasinya gitu.
-Jadi kalau untuk Kang Maulana ini kan full time
-job atau sampingan atau casual
Sejujurnya, ee, ini secara status saya ini dosen.
Dosen Teknik
Industri di pascasarjana Universitas Pasundan.
Cuman, ee, de facto ini
jauh lebih menyita waktu saya gitu ya, ee,
dibanding dengan mungkin saya ngajar atau apapun
gitu, ya kan. Seperti
kemarin, ee, saya lagi pentas di Brisbane hari
Jumat, saya juga harus ngajar juga via zoom gitu
ya,
anak-anak-- mahasiswa S2 gitu kan istilahnya.
Tapi ya tadi, ee, apa-- saya pikir karena mungkin,
ya, ini sesuatu yang buat
saya meaningful buat saya impactful dan itu bikin
kebahagiaan tersendiri lah. Dan
-itu pastinya majority of my time spend, ee, there,
-gitu.
-Kampus menyetujui? Tahu ya?
-Kampus
tahu, ee, menyetujui kampus juga-- saya juga kalau
bikin visa harus ada surat dari Pak Direktur,
jadi Pak Direktur
tau dan mereka juga support gitu ya. Bahkan juga
kita pernah tampil juga di
-ulang tahun yayasan nya, begitu.
-Berarti kalau pertanyaan terakhir nih,
-ke depannya, harapan, gong
terbesarnya untuk Muhibah, apa?
Sebenarnya Muhibbah itu satu, ee, tentu pengen
punya, ee, financial sustainability gitu.
kalau bisa perjalanan itu jangan terus
berdarah-darah, jangan terus ini ya istilahnya
kesulitan gitu ya.
Udah sepuluh tahun kita-- tapi kita masih belum
bisa punya
sistem bisnis yang bisa membiayai diri sendiri.
Mungkin saya juga
kurang dari sisi bisnisnya mudah-mudahan bisa
berpartner dengan siapa yang lebih mengerti
bisnis. Jadi Muhibah itu sustain juga secara
finansial
seperti itu. Mudah-mudahan juga bisa punya tempat
sendiri, bisa punya Angklung Centre sendiri.
Kalau sekarang kan masih
ngontrak, masih dikejar-kejar sana-sini dan
mudah-mudahan juga, ee, temen-temen yang masuk
Muhibah juga, ee, bisa dapat
beasiswa gitu. Kita sekarang mungkin baru sekitar
yah mungkin sepuluh dua puluh persen, kita kasih
temen-temen yang
mahasiswa beasiswa. Impian saya sih semua
temen-temen yang masuk Muhibah
karena mereka adalah anak-anak terpilih dan banyak
berkorban itu se-sebenernya semuanya harus dapet
beasiswa begitu masuk.
END OF TRANSCRIPT