Kelompok seni asal Bandung, Muhibah Angklung, melakukan misinya untuk tampil keliling dunia. Ini cerita mereka.
Saat menjalani studi S2-nya di Jerman, Maulana M. Syuhada pernah terlibat dalam kelompok komunitas Indonesia yang tampil dalam sebuah acara kebudayaan internasional. Ketika itu, ia ikut memainkan angklung.
"Waktu itu untuk pertama kalinya saya diberikan standing applause sama penonton, seumur hidup, itu terasa sampai sekarang," akunya pada SBS Indonesian, menambahkan bahwa sambutan penonton di luar negeri sangatlah luar biasa terhadap permainan angklung.
Syuhada kemudian memiliki aspirasi agar anak-anak muda Indonesia dapat memiliki pengalaman yang serupa dengan yang dirasakannya melalui keterlibatan mereka dalam kelompok Muhibah Angklung yang dibentuknya.
Dosen Teknik Industri di Universitas Pasundan Bandung ini mengatakan bahwa meski perjalanan kelompok ini tidak mudah, terutama dari sisi pendanaan, ia memiliki kebahagiaan tersendiri saat melihat anak-anak asuhannya ini berkembang karena angklung.
"Yang tadinya pemalu, pendiam, nggak punya public speaking, nggak bisa berorganisasi, atau bahkan anak-anak yang tadinya habis SMA mau langsung kerja, atau yang tadinya tidak punya sejarah jadi sarjana atau kuliah di keluarganya... Mereka jadi lihat dunia," ungkap Syuhada.
Akhirnya [anak-anak Muhibah Angklung] bisa jadi "game changer" buat keluarganya.Maulana Syuhada, Pendiri Muhibah Angklung
Kepada SBS Indonesian, Syuhada menceritakan bagaimana perjalanan kelompok angklung bisa bisa tampil keliling dunia, termasuk tentang penampilan mereka di Australia di tahun ini.
Dengarkan podcast ini selengkapnya.





