Lewat film pendek Bulan di Tepian Surga, aktris asal Yogyakarta Sekar Sari memerankan seorang penari Bali yang menghadapi dilema antara bertahan di kampung halaman atau merantau. Sebuah kisah yang punya kedekatan dengan Sekar sendiri, yang kini merantau di Melbourne.
Di layar, namanya Bulan, seorang penari Bali yang juga bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket. Ia berdiri di sebuah persimpangan, antara meninggalkan Bali untuk bekerja di kapal pesiar atau mempertahankan hidup yang selama ini ia jalani.
Perempuan yang memerankannya, Sekar Sari, mengenali persimpangan itu dengan baik. Sebab ia sendiri pernah berdiri di sana.
Aktris kelahiran Yogyakarta itu kini sudah sekitar tiga tahun tinggal di Melbourne, menempuh studi doktoral di Faculty of Arts, School of Culture and Communication, Universitas Melbourne. Pilihan untuk merantau, ujarnya, bukanlah keputusan yang ringan. Ada tarikan kuat untuk tetap tinggal di tempat yang sudah ia kenal, tempat ia lahir dan tumbuh, namun ada pula tarikan yang sama kuatnya untuk pergi.
Justru karena itulah peran Bulan terasa begitu dekat. Bulan di Tepian Surga, film pendek tempat ia berperan, baru saja diputar di Festival Sinema Australia Indonesia 2026.
Saat memerankan Bulan, saya jadi banyak berefleksi tentang diri saya sendiri. Saya mengalami dilema untuk tinggal di tempat yang sudah familiar, tempat saya lahir dan besar, tapi ada juga tarikan yang sangat kuat untuk merantau.Sekar Sari - Aktor dan Penari
Namun menjelma menjadi Bulan menuntut lebih dari sekadar berakting. Sebagai perempuan Jawa yang lebih akrab dengan tari Jawa, Sekar harus menghadirkan sosok penari Bali secara utuh, lengkap dengan ketubuhan dan olah rasanya, hingga ke gerak-gerik terkecil dalam keseharian. Untuk itu, ia menjalani lokakarya bersama para penari profesional, termasuk dari komunitas Bumi Bajra.
Tantangan itu sedikit lebih ringan karena tari bukan dunia asing baginya. Sekar sudah belajar menari sejak kecil, ujarnya.

Jalan menuju peran ini sebenarnya telah dirintis jauh sebelumnya, lewat riset. Ketertarikan Sekar pada Bali tumbuh sejak studi magister, ketika ia meneliti pulau itu beserta tarian-tariannya, dan terus berlanjut hingga studi doktoralnya kini.
Pada awal 2024, ia kembali ke Bali untuk kerja lapangan terkait produksi film Samsara karya Garin Nugroho. Di sanalah ia bertemu Rai Pendet, sineas Bali asal Ubud yang menulis dan menyutradarai Bulan di Tepian Surga. Film pendek itu kemudian diproduseri Yuh Rohana Meliala, dan Sekar pun diajak bergabung.
Sejauh ini, film tersebut telah singgah di sejumlah kota di Indonesia, termasuk di Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Sekar sendiri mengaku belum sempat menontonnya, dan berharap suatu hari film itu sampai ke layar di Australia, tempatnya kini merantau.
Simak perbincangan lengkap SBS Indonesian dengan Sekar Sari untuk mengetahui selengkapnya.





