Banyak diaspora Indonesia yang mulai karier dari nol di Australia, dan Nirmala Nadia adalah salah satunya. Ia berbagi pengalamannya menempuh sertifikasi di sektor perawatan lansia dan disabilitas meski harus berjuang dengan keterbatasan bahasa Inggris.
Sektor perawatan lansia dan disabilitas merupakan salah satu bidang yang masih membutuhkan tenaga kerja di Australia. Bagi sebagian pendatang, sektor ini menjadi jalur karier yang menjanjikan.
Nirmala Nadia, 58, adalah salah satunya. Selama dua tahun tinggal di Sydney, Nadia terbiasa berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, ujarnya. Pengecatan, perbaikan rumah, kebersihan, berkebun, katanya.
Lalu datang kesempatan yang mengubah arahnya. Diaspora Indonesia ini memutuskan mengambil Sertifikat III dalam Dukungan Individu untuk Lansia dan Disabilitas melalui Macquarie Community College di Canterbury City Community Centre, Lakemba.
Namun, ujar Nadia, keputusan itu bukan semata soal mencari penghasilan yang lebih baik. Sepanjang hidupnya ia selalu ingin menolong orang lain. Prinsip itulah yang ia bawa ke setiap pekerjaannya, dan yang akhirnya membawanya ke sektor perawatan, ujar Nadia.
Ketika menjelaskan tentang tantangan terbesar selama menempuh kursusnya, Nadia mengatakan itu adalah bahasa Inggris. Ia kemudian membagi waktunya antara belajar di kelas dan belajar bahasa Inggris, dan hingga kini masih terus mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya, tambahnya.
Kemampuan berkomunikasi, kata Nadia, menjadi hal yang sangat penting di bidang ini karena pekerja harus mampu memahami klien dengan penuh kesabaran.
Bagaimana Nirmala Nadia menyeimbangkan waktu antara belajar dan mengurus anak remajanya? Dan apa yang membuat diaspora Indonesia yang pernah menjadi kontraktor selama 15 tahun di Indonesia ini tetap optimistis memulai dari nol?
Dengarkan selengkapnya di podcast SBS Indonesian.





