Melemahnya rupiah sepanjang 2026 menguji ketahanan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Australia. Raga Zoelya menceritakan bagaimana ia menyiasati biaya hidup di Melbourne agar bisa menyelesaikan S2-nya.
Ketika Raga Zoelya menukarkan rupiahnya ke dolar Australia pada Mei 2025 untuk membiayai program Master of Management (Human Resources) di University of Melbourne, kursnya masih di kisaran IDR 10.600 per AUD, ujar Zoelya. Dana yang ia dan keluarganya siapkan saat itu diperhitungkan cukup untuk dua tahun, tambahnya.
Pelemahan rupiah memang terus memburuk sepanjang 2026. Pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, rupiah berada di posisi IDR 12.700 per AUD dan IDR 18.096 per USD. Bagi mahasiswa Indonesia yang membawa dana dari tanah air, setiap kenaikan kurs berarti daya beli mereka di Australia semakin menyusut.

Untuk bertahan di Australia sambil tetap menikmati hidup, Raga kini memasak hampir setiap hari dan memangkas kebiasaan makan di luar dari seminggu sekali menjadi sebulan sekali. Di akhir pekan, ia menghabiskan waktu dengan berjalan kaki belasan kilometer (urban trekking) menyusuri kota dan area hijau Melbourne, kegiatan yang tidak membutuhkan biaya dan sebenarnya sangat ia gemari. Ia juga tengah mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah penghasilan sambil menyelesaikan sisa studinya.
Yang terdampak dengan nilai tukar kan banyak sekali, dan salah satunya mungkin myself atau teman-teman international student lainnya yang datang ke sini dengan membawa rupiah.Raga Zoelya - Mahasiswa di Australia
Apa strategi Raga agar dananya tetap cukup hingga wisuda, dan apakah ia pernah berpikir untuk menyerah?
Dengarkan selengkapnya di podcast SBS Indonesian.





